
Mizumi segera mandi dan berpakaian rapih, ia menemui Papanya yang memasang muka datar kearahnya.
"Papa.." Ucap Mizumi sembari memamerkan giginya."Apa Papa marah padaku?"
Mizumi berlutut di lantai, ia menggenggam tangan Papanya, ia menatap Papanya dengan wajah bersalah.
"Nak kau taukan keluarga kita adalah keluarga kelas atas, keluarga yang terpandang, mengapa kau membawa rakyat jelata masuk dan menginjakan kaki di kediaman kita??"
Suara Papa terdengar tegas dan cukup menekan, suaranya membuat Mizumi tidak berani menatapnya lagi.
Mizumi membeku di depan Papa nya sambil menunduk.
"Jawablah sayang.." imbuh Mama Mizumi yang berdiri di samping Papanya.
"Maafkan aku, aku hanya ingin mengenalkan teman ku, percayalah pa, ma, dia baik, dia anak yang punya tata krama bagai bangsawan"
Mizumi melirik ke arah Mamanya, ia seperti memohon agar permintaannya di wujudkan.
Melihat wajah Mizumi yang begitu mengharapkan sesuatu, hati Mama Mizumi tergerak, ia mulai membujuk suaminya.
"Pa, biarkanlah, toh dia juga teman dari putri kita, kalau ada apa-apa yang terjadi, biarlah aku yang menanggungnya" Ucap Mama Mizumi sambil mengelus punggung suaminya.
"Kau mulai melawan dengan ku Ma, kau mulai membela putri kita yang salah!"
Usahanya sia², bujukan itu malah membuat Papa Mizumi semakin marah, ia menghempas Mizumi dari hadapannya.
Ahh!...(Mizumi menggigit bibir bawahnya).
"Tenang sayang, Mama akan membantu mu" Ucap Mama Mizumi segera memeluk Mizumi yang terisak."tidak apa Ma, keputusan Papa sudah bulat".
~@~
Kejadian beberapa jam tadi membuat Mizumi melupakan sesuatu.
Oh ya! Perpustakaan negara!
Dengan gesit Mizumi mengambil jas dan berlari keluar dari kediamannya dengan cepat.
~@~
Tiba di tempat yang sudah di janjikan, Mizumi melihat Alexander yang memandang datar dunia.
Ia bersandar di tiang menunggu seseorang, ya...orang yang tengah di tunggunya adalah Mizumi.
"Maaf, aku terlambat" Ucap Mizumi dengan rasa bersalah, Alexander melirik wajah Mizumi."Kau habis nangis ya?".
Mata yang sedikit membengkak serta hidung merah, menyisakan tanda yang mudah untuk di tebak. Mata jeli Alexander menjelaskan semuanya.
"Yaa kau sudah tau, jadi aku tidak perlu menutupinya, lupakan itu, ayo kita pergi"
"Baiklah tuan putri, silahkan naik"
Alexander dan Mizumi menaiki sebuah tremi kecil menuju perpustakaan.
"Kenapa begitu sepi?" Tanya Mizumi penasaran, ia melihat sekitar tidak ada orang selain mereka berdua."Aku sudah memesan tremi ini khusus untuk kita".
Khusus untuk kita?? Hei apa maksudnya?
"Apa perjalanannya jauh?" Mizumi terlihat tidak sabaran.
"Cukup jauh" sahut Alexander cepat. Sebenarnya aku mencari jalan terjauh, jadi aku bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersamamu..
Mengusir rasa bosan, Mizumi terus memandang keluar jendela.
"Pemandangan di luar tidak buruk bukan"
Alexander menunjukan pada Mizumi keindahan pohon maple. Mizumi hanya mengangguk lembut sembari tersenyum sesekali.
~@~
Sampai di perpustakaan, keduanya berpisah untuk memilih buku.
"Oh tuhan...ini surga bagiku, banyak sekali buku buku disini"Mizumi menatap semua rak buku dengan mata bersinar, ia sangat bersemangat.
Diam diam Alexander memperhatikan Mizumi dari kejauhan sambil tersenyum geli.
Tangan kecil Mizumi mencoba membawa banyak buku sekaligus, namun...buku buku yang ia bawa terjatuh satu persatu.
"Biarkan aku membantu mu" Alexander menghampiri Mizumi, ia menawarkan bantuan. "Iya bagus, bawalah ini, sangat berat huhu..." Mizumi memasang wajah imutnya.
"Kau tidak perlu memasang wajah begitu, aku akan membantumu, asal kau tidak nakal"
Alexander mencolek ujung hidung Mizumi, ia tersenyum kecil, membuat wajah Mizumi sedikit memerah.
Damagenya ya ampun....
~@~
Tak terasa keduanya sudah menghabiskan 5 jam bersama di perpustakaan negara. Keduanya segera kembali ke tremi ketika mengetahui mereka sudah melewati batas waktu.
"Naiklah" kata Al, mempersilahkan.
"Tentu"
~@~
Tremi terus berjalan, rasa ngantuk menyerang Mizumi hingga ia tertidur dan tidak sengaja menyandarkan kepalanya di bahu Alexander.
to be continue.....