
Chris sedang berada di makamnya Zarra, dia membawa bunga untuk kekasihnya itu. Dia mengelus salib itu dan menciumnya, dia sangat merindukan Zarra. Tiada hari tanpa mengingat Zarra bahkan dia sudah seperti orang stress sekarang. Chris berharap apa yang terjadi tahun kemarin hanya mimpi, namun saat membuka matanya itulah kenyataan. Seharusnya waktu itu dia selalu menjaga Zarra dan tak keluar dari kamar tempat Zarr di rawat. Chris sangat merasa menyesal di hainya, lalu datanglah Devan yang juga ingin berziarah ke makam adiknya. Devan menepuk pundak Chris, dan Chris menoleh sekilas dengan senyum tipisnya.
“ Terimakasih karena kau selalu datang mengunjungi makam adikku. Dia pasti sangat senang diatas sana karena kekasihnya datang mengunjunginya. “ ujar Devan lalu menaruh bunga di atasa makam adiknya.
“ Sudah lama sekali dia pergi, tapi entah kenapa aku masih belum bisa melupakannya. Maafkan aku kak, tidak bisa menjaga adikmu dengan baik. “ ujar Chris lalu tanpa sengaja dia meneteskan air mata.
Devan mengusap pundak Chris berusaha untuk menenangkannya, “ Sudahlah Chris, itu semua bukan salahmu. Hanya saja si wanita iblis itu yang sudah keterlaluan karena telah membunuh adikku. Kita harus menemukannya dan membalas semuanya. “
“ Benar, kita harus menemukan wanita jahat itu secepatnya. Dia harus merasakan penderitaan seperti kita dan juga harus merasakan seperti apa yang Zarra rasakan. “ ujar Chris dan mulai mengepalkan tinjunya saat mulai mengingat Sinthya.
“ Jangan sampai kau mengotori tanganmu Chris. Aku yakin Zarra juga tidak menginginkan itu dan kau pasti tahu itu. “ ujar Devan mencoba mengingatkan agar Chris jangan sampai melakukan hal yang dapat merugikannya.
“ Aku tidak bisa berjanji bahawa aku tidak akan melakukan hal itu. “ jawab Chris lalu beranjak berdiri dan pergi darisitu, sedangkan Devan hanya menghela nafas kasar, dia tahu bahwa Chris sangat dendam terhadap Sinthya.
Chris mulai menyetir menuju bar yang biasa dia kunjungi, bar itu adalah milik teman SMAnya dulu. Sudah seminggu Chris tidak masuk kerja, karena entah kenapa moodnya semakin turun. Mau tak mau Ares harus kembali ke perusahaan, sebenarnya Ares agak kesal terhadap anaknya namun di saat Chris seperti ini dia tidak bisa terlalu keras karena mungkin akan membuat keadan Chris bertambah buruk.
Chris pun sampai dan langsung masuk ke bar itu dan langsung memesan minuman, dan temannya pun langung membawakan minuman yang biasa Chris pesan. Faldo merasa sedih melihat temennya dengan wajah yang lesuh juga mata yang bengkak. Tidak dia sangka seorang Chris Stanford bisa begini, padahal yang dia kenal temannya ini seperti kutub es dan juga seperti jaguar. Sangat dingin dan sangat galak juga mengerikan.
Faldo mengambil hpnya dan menelpon Ferga untuk segera datng kesini pasti Chris bakal mabuk-mabukkan lagi seperti biasa. Ferga pun langsung on the way menuju bar tempat diaman Chris berada. Ferga juga khawatir bagaimana saat kondisi Chris seperti ini bisa saja Sinthya tiba-tiba datang dan melukai dirinya.
“ Aku tidak menyangka seorang Chris bisa begini hanya karena wanita. “ ujar Ferga yang baru saja sampai dan duduk di samping Chris.
Chris meneguk minumannya tanpa menoleh ke arah Ferga, “ Ngapain kau kesini? “
“ Aku ingin minum, memangnya tidak boleh? “ kata Ferga lalu ,meminta Faldo untuk segera membawakan minuman yang biasa juga dia pesan.
Chris tidak menggubrisnya dan lanjut meneguk birnya itu, sedangkan Ferga menatap sedih terhadap sepupunya ini karena dulu Chris paling pantang minum-minum seperti ini namun sejak kematiannya Zarra, Chris sering sekali datang ke bar untuk menenangkan hatinya dan mencoba melupakan Zarra secara perlahan.
“ Apa kau masih belum bisa melupakan dia? “ kata Ferga sambil meneguk birnya.
Chris tidak menjawab dan mengambil botol menambahkan bir di gelasnya lagi namun dengan cepat tangan Ferga mengambil botol itu dan menaruhnya kembali di meja, Chris hanya menatap tajam sekilas lalu mengusap keningnya yang terasa sangat pening akibat kebanyakan minum.
“ Berhentilah minum-minum seperti ini, jaga kesehatanmu. Apa kau tidak kasian terhadap papamu sampai dia turun ikut mengurus perusahaan karena sikapmu yang tidak karuan bahkan tidak fokus bisa menjatuhkan perusahaan. “ ujar Ferga tanpa menoleh ke Chris.
“ Cih, sekarang kau berlagak menasehatiku. “ jawab Chris dengan senyum miringnya.
“ Chris, sampai kapan kau akan begini? Aku yakin Zarra disana pasti sedih melihatmu begini. Ayolah bangkit jangan jadi pecundang seperti ini, mana sepupuku yang dulu sangat dingin dan tegas. Ah aku merindukan semua itu. “ ujar Ferga sambil menumpangkan wajahnya di kedua tangannya.
Chris menundukkan kepalanya dan memang benar sampai kapan dia harus begini terus membuat orang-orang disekitarnya selalu khawatir. Bahkan perusahaannya sendiri saja hampir hancur karena dia yang tidak fokus dan terus teringat Zarra sampai dia juga meninggalkan beberapa meeting dengan klien pentingnya. Untung saja ayahnya langsung turun kalau tidak habis sudah perusahaan Stanford akan bangkrut.
Chris pun mulai sadar dan bertekad untuk berubah dan berusaha menerima semuanya dengan ikhlas, dia bangkit berdiri dan memasukkan kedua tangannya di saku celananya dan menoleh ke arah Ferga, “ Let’s go bro. “
Ferga mengernyitkan dahinya bingung kenapa Chris yang daritadi berwajah murung memasang wajah yang tersenyum dan bahkan mengajaknya untuk pergi entah kemana itu. Ferga pun ikut berdiri namun dia masih sangat bingung dengan sikap Chris yang tiba-tiba berubah begini.
“ Kemana? “ tanya Ferga.
“ Bukannya kau kesini mau mengajakku pulang kan? “ jawab Chris dan membuat Ferga senang tapi juga heran lalu dia memegang keningnya Chris memastikan Chris tidak sakit. Chris pun yang bingung dengan sikap Ferga langsung menepis tangan Ferga dari keningnya, “ Kenapa kau? “ kata Chris.
“ Kau tidak sakit, lalu…. Apa kau berkepribadian ganda? “ tanya Ferga takut-takut.
Chris menghela nafas dan tersenyum lalu menggelengkan kepalanya karena tidak menangka bahwa sepupunya ini akan berpikiran sampai kesitu. “ Ck kau ini, tidak mungkin lelaki setampan aku berkepribaduan ganda. Aku sehat, kau tenang saja dan lebih baik kita pulang sekarang karena besok aku ada meeting penting. “ ajak Chris lalu dia berjalan keluar bar dan menuju ke mobilnya.
“ Aku rasa dia benaran sakit. “ ujar Ferga yang masih bingung dengan perubahan sikap Chris yang tiba-tiba.
Mulai sekarang Chris bertekad untuk perlahan melupakan Zarra dan berusaha untuk kuat, dia akan merelakan gadis itu. Namun untuk mencari siapa pembunuhnya Zarra akan tetap dia laksanakan, orang itu harus menerima ganjaran sesuai apa yang dia perbuat ke Zarra.
Pag-pagi Chris sudah bangun dan sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Dia sedang berkaca sambil measang dasinya dan memastikan kemejanya sudah rapi, lalu dia mengambil jas dan memakainya lalu mengambil tas laptop dan keluar dari kamarnya menuju ruang makan untuk sarapan. Chris langsung mengambil tepat duduk di sebelah kiri ayahnya. Nela dan Ares mengerutkan kening heran dengan sikap Chris hari ini, karena sejak kemarin Chris tidak pernah ikut sarapan bahkan makan bersama mereka.
Chris yang merasa terus di perhatikan pun menatap ayah dan ibunya bergantian, “ Mama dan papa kenapa liatin aku seperti itu? “
“ Ah gapapa kok, Cuma tumbenan saja kamu ikut sarapan dengan kami. “ jawab Nela.
“ Chris lagi pengen ma. Ohiya, papa hari ini gak usah ke kantor semua jadwal hari ini biar Chris yang handle. “ ujar Chris sambil mengunyah sandwichnya dan fokus ke tablet kerjanya.
“ Apa kau serius? “ kata Ares dengan mata terbelalak yang sangat terkejut mendengar anaknya yang tadinya dia mulai malas mengurusi perusahaan namun sekarang telah berubah drastis.
“ Aku serius pa. “ jawab Chris lalu menenggak susunya dan berdiri pamit kepada kedua orangtuanya berangkat kerja, “ Ma, Pa aku pergi dulu ya. “
“ Iya nak, hati-hati. “ jawab Nela yang langsung beranjak berdiri bersamaan dengan Ares dan melihat kepergian Chris dengan wajah yang masih heran juga bingung.
“ Baguslah kalau dia sudah berubah, kita tidak perlu khawatir lagi. “ kata Ares yang mulai merasa lega sambil merangkul bahu istrinya.
“ Sepertinya mama akan mencoba menjodohkan dia lagi dengan seseorang. “ ujar Nela mencoba berpikir dengan siapa lagi dia akan menjodohkan Chris.
Sesampainya di kantor, Chris yang sudah berada diruangannya pun mulai fokus terhadap apa yang disampaikan oleh sekretarisnya untuk bahan mereka nanti dan Chris mengangguk ngerti dan menanyakan jadwal dia hari ini, dia bertekad untuk menyelesaikan semuanya dan meluruskan masalah dengan klien-kliennya. Jam meeting telah tiba, segera bergegas Chris dan sekretarisnya langsung menuju ke ruang meeting dan ternyata kliennya sudah menunggu disana. Wajah kliennya agak murung karena sikap Chris yang agak tidak enak beberapa hari lalu, Chris menyadari semua itu dan langsung meminta maaf dan mereka pun memulai meeting mereka.
Kliennya mengangguk puas terhadap apa yang di presentasikan oleh Chris, dan akhirnya menyetujui dengan rencana-rencana pengembangan yang telah di terangkan oleh Chris. Selesai meeting Chris mengajak kliennya untuk makan siang bersama, dia telah mereservasi meja dan mereka pun langsung menuju ke restorannya. Chris mempersilakan kliennya duduk dan mulai memesan makanan, tanpa sadar dari meja seberang ada sepasang mata yang memperhatikan mereka.
“ Ternyata kau masih sama seperti dulu Chris. “ ujar Sinthya dengan senyum sinisnya.
“ Apa kau mengenalnya? “ tanya Tesla, rekan kerja Sinthya.
“ Ya, aku sangat mengenalnya. “ jawab Sinthya dengan raut wajah jahatnya.
Tesla merasa bingung bagaimana Lasya aka Sinthya bisamengenal Chris Stanford yang padahal dirinya sendiri sangat susah untuk bertemu dengannya. Tesla sangat mengagumi Chris dari dulu, namun karena dia tahu Chris sudah bertunangan dia memilih mundur tidak ingin jadi pelakor di antara hubungan mereka. Tesla tidak tahu bahwa Lasya adalah Sinthya, buronan yang sampai sekarang masih dalam pencarian polisi. Mungkin kalau tahu dia akan sangat terkejut, tidak bisa dibayangkan mungkin bahwa dia berteman dengan seorang buronan.
Tesla adalah keturunan dari keluarga Walfrice, keluarga terkaya nomor 5 se asia, keluarga Walfrice juga sangat dekat dengan keluarga Stanford juga Wagner. Tesla memiliki paras yang manis juga anggun, sikapnya yang kalem juga pemalu bahkan beberapa temannya sangat gemas dengan gadis ini. Dia mengenal Lasya saat acara lelang dan Lasya meminta untuk bekerja sama dengan perusahaannya, namun Tesla bukan orang yang mudah untuk menerimanya begitu saja. Dia harus tahu dulu seluk beluk perusahaan yang mengajak nya bekerja sama.
Karena dia telah melihat kemampuan Lasya yang merintis perusahaan sendiri, bahkan perusahan Lasya menjadi top tend hampir menyaingi perusahaan Stanford, Tesla pun menyetujui bekerja sama dengan Lasya. Karena sering bertemu dan makan siang bersama akhirnya mereka pun berteman dekat, Tesla merasa senang mendaoat seorang teman baru sedangkan Lasya merasa senang karena dengan berteman dengan Tesla, maka dia akan semakin gampang mencari cara mengambil keuntungan dari Tesla untuk perusahannya.
“ Habis ini kau mau kemana? “ tanya Tesla sambil menyantap makanannya.
“ Aku rasa aku harus balik ke kantor, karena aku ada jaji temu dengan klienku. “ jawab Lasya.
“ Kau sungguh rajin sekali, kebanyakan wanita muda seperti kita selesai makan siang pasti akan shopping dan melanjutkan pekerjaan besok. “ ujar Tesla.
“ Ya, itu mereka. Kita berbeda karena kita wanita muda berkarier dan rajin, dan kita punya tanggung jawab untuk menjaga perusahaan kita sendiri yang telah kita rintis. “ kata Lasya sambil menenggak minuman.
“ Ya kau betul sekali, btw apa kau tidak mau memberi tahu ku darimana kau mengenal Chris Stanford? “ ujar Tesla yang seperti ingin tahu.
“ Kapan-kapan deh ya. Oh ya, Aku balik duluan ya Tes takut kliennya udah nunggu. “ kata Lasya lalu beranjak berdiri dan mengambil tasnya dan pamit pergi.
“ Oh yaudah, hati-hati Sya. “ balas Tesla yang juga ingin pergi dan balik kekantornya. Dia memanggul pelayan dan meminta bill lalu membayar makan dan minumnya, sebelum keluar dari restoran dia sempat menatap Chris sekilas lalu pergi ke dalam mobil dan meminta supir mengantarnya kembali ke kantor.
Tingg!! Hp Tesla berbunyi dan mendapat pesan dari ibunya meminta dia pulang cepat karena akan makan malam dengan keluarga Stanford mala mini. Tesla merasa sangat senang karena bisa bertemu Chris, lelaki yang sangat di kagumi dan disukainya dari dulu. Tesla pun meminta sekretarisnya untuk membatalkan beberapa jadwal malam ini.