
6 bulan telah berlalu, dan Zarra masih terbaring koma di rumah sakit. Chris selalu setia menunggu Zarra sadar disampingya, dia mengambil cuti dan meminta Ferga untuk membantunya memimpin perusahaan sementara. Chris tidak pernah meninggalkan Zarra kecuali hanya untuk mandi, dia selalu disamping Zarra dan memandikan Zarra dengan kain basah. Marry dan Edison pun sering datang berkunjung melihat anaknya, berharap Zarra agar cepat sadar. Edison merasa masih sangat kesal dengan Chris, sehingga jika Marry dan Edison datang berkunjung Chris akann keluar sebentar. Nela dan Ares serta sepupu Zarra juga keluarganya sering datang berkunjung. Ragan dan Devan sangat merindukan ocehan nya Zarra begitu juga dengan Khanva sangat kangen mengadu dengan Zarra.
Teman-temannya Zarra juga sering datang berkunjung berharap sahabatnya ini cepat siuman agar mereka bisa berkumpul bersama lagi. Morphine dan Kavi datang bersama dengan membawa bayinya, Morphine menitikkan air mata saat melihat Zarra yang terbaring lemah. Dia mengingat Zarra yang dulu sering sekali usil padanya. Kean pun datang melindungi Zarra, dia tidak menyangka hal ini akan terjadi padanya.
“ Zarra, kenapa kau bisa berada disini? Bangunlah Zarra ini aku Kean. maaf aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku dan baru bisa melihatmu sekarng. Mulai sekarang aku akan berjanji untuk sering mengunjungimu. “ ucap Kean dengan mata yang berlinang air mata.
Kean pun keluar dan pulang setelah menjenguk Zarra, lalu Chris kembali masuk ke dalam kamar itu dan duduk kembali disamping Zarra. Dia memegang tangan kekasihnya dan mengecup tangan Zarra, Chris pun mentitikkan air mata tidak sanggup melihat kekasihnya yang masih koma sampai sekarang.
“ Sayang, apa kamu tidak capek tidur terus? Kamu gak kasian sama aku yang jadi kesepian gini sama kamu? “ ucap Chris dengan nada sendu, “ Zarra, sayang, bangunlah. Kenapa kamu betah banget sih tidur mulu, apa mimpi kamu sangat indah makanya kamu masih stay? Sayangg, semua orang menunggumu disini. “ lanjut Chris lalu dia menangis tersedu-sedu lalu keluar dari kamar itu dan menuju ke toilet.
Tiba-tiba Zarra menitikkan air matanya mendengar semua perkataan Chris dan jarinya pun mulai bergerak. Rasanya ingin sekali dia bangun namun seperti ada sesuatu yang menahannya entah apa itu dia tidak tahu. Dia selalu berusaha untuk bangun, ya dia harus bangun untuk membalas perbuatan Sinthya sendiri.
Ferga merasa kesal karena anak buahnya satupun tidak ada yang menemukan keberadaan Sinthya, dan tumben saja Sinthya tidak menghubungi Dion aka Ferga. Ferga sampai meminta temannya yang bekerja di dunia bawah untuk mencari Sinthya, namun sepertinya Sinthya sangat pintar bersembunyi. Ferga rasanya dibuat frustasi dan ingin pecah kepalanya memikirkan dimana Sinthya berada. Ferga sudah menghubungi semua orang yang akan dikunjungi Sinthya namun hasilnya masih nihil.
Jodes juga sudah meminta Xaven untuk melacak Sinthya melalui ponsel Sinthya bahkan sampai menyelidiki masa kecil Sinthya yang mungkin Sinthya mengalami hal buruk dulunya. Namun masih tidak ketemu juga.
Ferga sedang duduk sambil memegang ponselnya dan menutukkan pelan ke meja, dia coba berpikir apa yang telah ia lewatkan samapi dia bisa kehilangan Sinthya secepat itu. Tiba-tiba ponselnya pun berdering dan Ferga langsung melihat ID callernya siapa tau itu Sinthya, namun itu unknown number tetapi Ferga tetap mengangkatnya.
“ Halo, siapa ini? “ tanya Ferga langsung.
“ Halo sayang. Apakah kau merindukanku? “ kata Sinthya.
“ Sinthya? “ jawab Ferga.
“ Benar sekali. Bagaimana kabarmu Dion oh aku salah maksudnya Ferga Genio. “ kata Sinthya suara jahatnya.
“ Jadi kau sudah tau bahwa aku adalah Ferga? “ tanya Ferga lagi.
“ Hahahaha, kau pikir aku bodoh Ferga? Aku memang se,pat tertipu padamu, namun tidak semudah itu. “ jawab Sinthya dengan tertawa jahat.
“ Apa yang kau inginkan? “ tanya Ferga langsung.
“ Hm apa ya? aku juga tidak tau apa yang ku inginkan. Oh iya, bagaimana dengan kabar sepupu iparmu? Apa dia sudah mati? “ kata Sinthya dengan tersenyum sinis.
“ Kau!! Lihat saja Sinthya aku akan segera menangkapmu. “ bentak Ferga yang sudah sangat emosi.
“ Hahahah, kau tidak akan pernah bisa menangkapku Ferga. “ ujar Sinthya dengan sinis.
Sinthya pun menutup telpon dan meletakkannya hpnya di meja. Dia tersenyum sinis membayangkan kehancuran keluarga Wagner karena putrinya yang terluka. Dan dia sangat senang karena Chris akhinrya merasa menderita dan mungkin merasa sangat terpuruk sehingga bisa saja membuatnya gila. Anak buah Sinthya masuk dan memberikan info kepada Sinthya dan memberi tahu tempat diaman Zarra dirawat. Sinthya pun mulai memikirkan rencananya kembali dan berniat ingin membunuh Zarra karena yang dia tahu ternyata Zarra masih hidup dan terbaring koma dirumah sakkit.
“ Zarra sudah ku bilang suatu saat aku akan membalasmu, dan bersiaplah Chris untuk kehilangan Zarra. “ kata Sinthya lalu tertawa jahat dan menyesap winenya.
Ferga memutuskan untuk mengunjungi Riana ke penjara wanita, dia ingin bertanya ke Riana mungkin saja Riana tau dimana Sinthya akan bersembunyi. Ferga takut Sinthya akan muncul lagi melukai seseorang lagi, Ferga tidak ingin itu terjadi dan kali ini dia memperketat pengawasan dan bahkan sekarang sangat menyeleksi bawahannya akibat insiden penusukan Zarra karena Sinthya bisa masuk pasti dengan bantuan orang dalam.
Ferga baru saja sampai dan langsung masuk ke lapas dan mengisi formular untuk mengunjungi Riana. Setelah mengisi Ferga duduk menunggu penjaga membawa Riana ke ruang bertemu. Setelah beberapa enit Riana pun dibawa ke ruang kunjungan dan Ferga langsung duduk didepan kaca.
“ Hhh buat apa kau kesini? Apa kau tidak puas setelah memasukkan ku dalam penjara? Apa lagi yang ingin kau lakukan? “ ujar Riana langsung dengan wajahnya yang terlihat tidak suka sangat terganggu dengan keberadaan Zarra.
“ Seharusnya kau berterima kasih karena aku telah meringankan hukumanmu. “ jawab Ferga dengan ketus.
“ Kau hanya berpura-pura sok baik agar public menganggapmu orang yang berhati mulia. “ balas Riana dan tersenyum tipis.
“ Kau memang benar, baiklah aku tidak mau berlama-lama. Apa kau tau dimana tempat persembunyian Sinthya? “ tanya Ferga dengan sangat berharap Riana mengetahuinya.
Riana menatap Ferga dengan tatapan tidak percaya. Seorang Ferga Genio bisa kehilangan musuhnya? Sungguh tidak disangka. “ Kenapa kau menanyakannya padaku? Bukan kah kau orang yang sangat teliti? Kenapa kau bisa kehilangan dia? “
Riana menyilangkan tangannya didada dan tidak menjawab pertanyaan Ferga serta tersenyum sinis. Seorang Ferga Genio bisa dengan gampangnya lalai dan bahkan Sinthya bisa lolos darinya. Ferga merasa sangat geram melihat Riana yang tidak menjawabnya, dia pun berdiri dan ingin menerobos masuk ke ruangan Sinthya namun tangannya ditaan oleh Chris. Ferga menoleh ke arah Chris dan Chris menggelengkan kepalanya meminta Ferga untuk tetap bersabar. Chris melepaskan tangan Ferga dan melihat ke arah Sinthya.
“ Tante Riana, bagaimana kabarmu? “ tanya Chris dengan lembut.
“ Tidak usah sok baik kau Chris, aku tidak akan tertipu dengan wajahmu yang sok prihatin itu. “ jawab Riana.
“ Jika tante menjawab seperti itu, aku menganggap tante baik-baik saja. Oh iya aku hanya ingin mengantar ini untuk tante, dan mungkin Zarra ingin tante mengetahuinya. “ ucap Chris lalu menyodorkan buku ke arahnya lewat lubang kecil dibawah kaca itu.
Chris mengajak Ferga untuk pulang, sedangkan Ferga masih sangat bingung kenapa Chris tidak berusaha bertanya kepada Riana dan kenapa dia hanya memberikan semua buku? Namun Ferga yakin bahwa Chris mempunyai rencana sendiri.
Riana mengambil buku yang diberikan oleh Chris dan karena sudah selesai sesi kunjung Riana pun kembali dimasukkan ke dalam sel tahanan. Riana duduk di pinggir tempat tidurnya dan mengarah ke tempias.
Riana penasaran dengan isi buku ini, dia pun membukanya lalu membacanya. Riana tidak percaya dengan apa yang dibacanya di buku itu dan menutup mulutnya yang menganga serta dia meneteskan air matanya. Ternyata Zarra sudah memaafkannya dari dulu bahkan apapun perbuatan Riana terhadap Zarra, dia selalu memaafkannya. Bahkan Zarra juga menyayanginya sebagai bibi kandungnya, walau Zarra sempat kesal dengan perbuatan Riana tetapi Zarra berusaha bersabar karena yakin lambat laun tantenya itu pasti akan berubah.
Buku itu terjatuh dari tangan Riana, dan Riana pun menangis kencang karena tidak menyangka Zarra sebaik itu sehingga tidak memiliki dendam terhadapnya. Padahal Riana sudah banyak berbuat jahat terhadap Zarra namun gadis itu tidak pernah membalasnya bahkan malah berusaha sabar terhadapnya. Zarra sudah menulis buku itu sejak kuliah dan menyimpannya didalam laci didalam kamarnya. Riana merasa sangat bersalah sekali terhadap Zarra, rasanya dia sudah menyakiti keponakan tersayangnya.
Waktu Zarra kecil Riana dan Zarra sangat dekat sekali dan mereka sering bermain bersama. Riana memanggil penjaga meminta tolong untuk mengijinkannya menelpon seseorang,
Saat penjaga itu mendengar nama Ferga penjaga itu pun memberinya. Riana langsung memberi tahu kepada Ferga dimana Sinthya akan bersembunyi. Ferga pun langsung mengerahkan anak buahnya kesana agar tidak kehilangan Sinthya lagi. Namun saat mereka sampai hanya ada anak buahnya Sinthya disana sedangkan Sinthya sudah kabur.
Ternyata Sinthya sudah berada dirumah sakit di tempat Zarra di rawat, dia menyamar sebagai dokter dan telah membawa obat yang bisa membunuh Zarra. Saat sampai di ruangannya Zarra, Sinthya sangat merasa senang karena tidak ada yang berjaga di ruangan Zarra dan dia pun langsung masuk. Sinthya mengambil obat dan langsung menyuntik obat itu lewat selang infus, dan setelah selesai dia buru-buru keluar dari ruangan itu. Monitor Zarra pun langsung berbunyi, dan para dokter langsung buru-buru ke ruangan Zarra untuk memeriksanya.
Ragan dan Devan yang baru saja balik dari kantin mengerutkan keningnya melihat dokter dan suster keruangan adiknya dengan terburu-buru. Mereka pun panik dan ikut berlari dan berharap tidak terjadi apa-apa. Ragan dan Devan langsung menghubungi keluarga ereka, dan tak lama keluarga mereka pun datang. Dokter Rivan mengejutkan jantung dengan angka yang tinggi karena jantung Zarra mulai melemah. Dokter Rivan terus melakukannya namun Zarra tidak kunjung merespon. Chris dan Ferga yang baru saja sampai sangat panik, apalagi Chris yang langsung meneteskan air mata karena feelingnya sungguh sangat tidak enak hari ini.
“ Zarra bertahanlah, jangan tinggalin aku. “ ucap Chris dengan suara sendunya yang berat.
“ Sabarlah Chris, Zarra wanita yang kuat dan aku yakin dia akan bertahan. “ ujar Devan mencoba menguatkan walau dirinya juga lagi bersedih.
Titttttttttttttt…
Bunyi panjang dari monitor dan membuat semua orang disitu kaget serta langsung menangis histeris karena Zarra sekarang sudah tiada. Marry pun langsung terduduk menangis, begitu juga Edison tetapi dia harus berusaha kuat untuk istrinya. Chris tidak menyangka akan kehilangan Zarra sekarang, sungguh rasanya dia tidak bisa menerimanya. Teman-teman Zarra yang baru saja sampai pun sangat kaget karena sekarang mereka harus kehilangan teman terbaik mereka. Perawat pun keluar dan mendorong ranjang Zarra menuju kamar mayat, Chris pun menghampiri dan menahannya dan membuka selimut yang menutupi Zarra. Zarra terlihat sangat pucat dan tubuhnya juga sangat dingin, sungguh Chirs merasa belum ikhlas untuk kehilangan orang yang dicintainya untuk kedua kalinya.
“ Zarra sayang, kau menipuku kan? Kau tidak benar-benar meninggalkanku kan? Ayo bangun sayang!!! “ teriak Chris dengan histeris. “ Sayang, aku sungguh tidak sanggup kehilanganmu. Bangunlah Zarra, jangann main-main denganku aku tidak suka kau bercanda seperti ini!! “
“ Chris sudahlah ikhlaskan dia nak, biarkan dia pergi dengan tenang. “ ujar Nela dan memeluk anaknya.
“ Zarra, anak mama, putri mama tersayang. Hk hk sekarang kamu tidak sakit lagi ya nak? Beristirahatlah. Mama mengikhlaskanmu. “ kata Marry dengan suara sendunya.
“ Hai adik kecil, aku akan sangat merindukan ocehan dan ancamanmu. Tolong jangan lupakan kakak tersayangmu ini. “ ucap Devan memegang tangan adiknya yang dingin itu.
“ Maaf bapak ibu dan semuanya, kami harus segera membawanya ke kamar mayat. “ kata perawat itu, dan mereka pun membawa Zarra ke kamar mayat.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Setelah tiga hari keluarga Wagner memakamkan Zarra, suasananya masih sama penuh dengan dukacita dan tangisan yang berat. Tidak menyangka bahwa seorang Vozarra yang kuat meninggalkan mereka secepat ini. Setelah pemakaman selesai dan juga dengan doa, orang-orang yang menghadiri pemakaman itu pun pulang. Tersisalah Chris, juga Marry dan Edison yang masih berada di makamnya Zarra. Marry mengelus batu nisan Zarra dengan matanya yang sembab bahkan dia masih tidak menyangka putrinya akan meninggalkannya. Edison mengajak Chris untuk berbicara sebentar dan membiarkan Marry sejenak disana.
“ Chris, maafkan karena om menyalahkanmu kemarin. Om sungguh tidak bisa berpikir jernih saat itu. “ kata Edison dengan tulus.
“ Tidak apa-apa kok om, Chris sudah maafin om. “ jawab Chris dengan ramah.
Edison mengusap pundak Chris dan tersenyum dan menghampiri Marry mengajak Marry untuk pulang. Chris masih berada dimakam Zarra, dia berjongkok dan mengusap makamnya, mencoba untuk mengikhlaskan kekasihnya itu. “ I love you till the end Zarra, tidak ada yang bisa menggantikanmu. “