You Are My Life

You Are My Life
Wanita Paruh Baya



"Hallo?" ucap seseorang di seberang telfon.


"Dimana dia?" tanyanya singkat.


"Kau ini? siapa yang kau maksud? bicara lah yang jelas? ucapnya kesal mendengar pertanyaan tabu dari lawan bicaranya.


"Adik angkat mu? memang siapa lagi?" Jawabnya tak kalah kesal. Iya dia adalah Dirga dan Alfa yang sedang terlibat panggilan telfon.


"Ah,,, princess? Dia sedang bersama mom ke mall belanja dan mungkin bertemu dengan teman-teman mom? ada apa kau mencarinya.?" tanya Alfa sedikit penasaran.


"Bukankah sudah ku bilang kalau aku siap menjadi Ipar angkat mu?" Jawabnya dengan santai.


"Hei,,,,kau jangan macam-macam!! mom ingin dia bersama Thian. bukan bersama mu? kau terlalu tua untuk princess!!" duar. Ucapan Alfa membuat raut wajah dari Dirga merubah gelap. dia tak terima jika di katakan tua.


Cih,,, aku tidak tua!! aku hanya sudah mapan tahu.!!! kau saja yang sudah tua. dasar penikmat guling bekas. gerutunya dalam hati.


"Ck,, bahkan mom sudah menyetujui aku menjadi menantu angkatnya!!!" tetap tak mau kalah.


"Hei sejak kapan seorang Dirga menjadi pemburu perempuan muda. His,, menakutkan kau ini!!" Ujarnya lagi.


"Sudahlah katakan saja ke mall mana mereka sekarang.?" paksa Dirga pada Alfa karena merasa tak mendapat jawaban pasti.


"Aku tak tahu!! mom tak bilang. lagi pula Thian sudah meminta pada mom untuk mengantar mereka tadi!!" ucapan terakhir membuat Dirga semakin tak bisa berfikir jernih. Entahlah dia seperti seorang pejuang cinta saja. padahal mengucapkannya saja tidak. Dari pada panjang lebar mendengar ceramah dari Alfa, Dirga langsung mematikan sambungan telfonnya.


Dia langsung menuju tempat mamanya biasa berbelanja. Iya Dirga ingat kalau mamanya dan mommy nya Alfa kadang bertemu di mall hanya untuk duduk dan ngopi cantik.


πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Sedang di perusahan Dirga sedang terjadi keributan.


"Kau tidak tahu!! Aku ini adalah calon istrinya? kalian pasti di pecat jika sampai mas Dirga tahu aku diperlakukan seperti ini.!!" ucap seorang gadis yang tak lain adalah Devi. dia memaksa untuk masuk ke ruangan Dirga.


"Maaf nona,,, tuan Dirga sedang di luar ruangan. Anda bisa menunggu di kursi lobby atau kembali lagi besok!!" jawab resepsionis itu dengan tetap sopan.


"Aku bisa menunggu di ruangannya!! kenapa tidak langsung saja antar aku ke sana." pintanya lagi.


"Tidak bisa nona, itu menyalai aturan perusahaan ini"


"Kalian,,,!!! akan aku pastikan kalian di pec.." ucapannya terpotong kala mendengar suara seseorang dari arah lift yang baru saja terbuka.


"Tidak akan yang akan di pecat di sini. karena mereka sudah melakukan tugasnya.!! Silahkan pergi sebelum saya meminta security menyeret anda keluar!" dia adalah Leon yang sangat kesal mendengar keributan yang terjadi.


"Benarkah??? Seharusnya anda tahu dimana calon suami anda sekarang bukan? tapi nyatanya anda masih di sini!" Leon sama dengan Dirga dia juga irit bicara. tapi jika masalah pekerjaan dia lebih cerewet dari pada emak-emak yang tak dapat jatah belanja.


"Apa maksudmu? Kau tahu di mana Dirga?" tanya Devi.


"Tentu!!! Dia sedang bersama mertua dan juga calon istri sesungguhnya!!" ucap Leon dengan penuh penekanan.


"Heh,,,. dia tak akan bisa berpaling dariku. dia sangat mencintaiku.. mencintaiku!!"jawab Devi tak mau kalah.


"Hah,,, terserah padamu tapi yang pasti seorang Dirga tidak akan kembali pada orang yang telah mengkhianatinya!!" lalu Leon keluar dari lobby menuju parkiran. dia sengaja melewati lobby hanya untuk memberitahu pada si ratu drama jika Dirga sudah bisa lepas dari cinta palsunya.


Semua orang yang berada di sana melihat perdebatan itu sedari tadi. banyak yang mencibir pada Devi. tapi dia tidak peduli akan semua itu. baginya sekarang yang terpenting adalah Dirga. janji Dirga untuk membelikannya mobil.


Jangan sampai Dirga benar bisa melupakan aku dengan mudah. aku belum mendapatkan mobil darinya. batin Devi.


Devi memilih untuk pergi dari perusahaan Dirga dan akan kembali lagi besok. begitu pikirnya.


πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


"Mom Disti tidak ingin ini" ucapnya ketika dia di minta memilih beberapa pakaian yang tentunya dengan harga fantastis.


"kenapa sayang?" tanya mommy nya.


"Pakaian Disti masih bagus semua mom. lagi pula cukup hidup bersama mom saja itu sudah buat Disti bahagia" jawab Disti dengan kekeh nya. pada akhirnya mom menurutinya dan dia mencoba gaun yang sejak tadi dia pegang. sedang Disti memilih menunggu di sofa.


Netranya tak sengaja melihat sesuatu di luar butik . iya dia sedang menatap jalanan di luar butik, namun netranya tak sengaja melihat seorang wanita paru baya yang tarik menarik tas dengan seorang preman. bukan tidak ada yang menolong hanya saja mereka memilih menutup matanya. Dengan cepat Disti melangkahkan kakinya. melempar tasnya yang masih berisi beberapa barang terutama laptop dia satu-satunya.


"Kurang ajar!!" teriak preman tersebut. wanita paru baya itu langsung menghambur ke arah Disti.


"Bang,,, jangan hanya berani pada orang tua. kau penakut sekali!!" ucap Disti berlagak berani. sesungguhnya dia juga takut.


"Heh,,, Serahkan tas ibu itu atau kau akan mati!!" ucapnya kasar.


"Bang,,, masalah mati itu tergantung sang pencipta. bisa saja abang yang mati duluan ketabrak mobil misalnya!! " ucapnya pura-pura berfikir.


"Kau terlalu banyak bicara!!!! ucapnya sambil menghampiri Disti dan tiba-tiba sesuatu terasa menyentuh perut Disti. "Kau pilih mati atau serahkan tas itu!!!" tanyanya. orang-orang yang berkumpul malah tidak ada yang berani maju. Bukan karena apa, mereka tahu siapa preman itu. dia adalah ketua preman paling sadis di tempat itu jadi membunuh itu sudah biasa baginya. sedangkan wanita paru baya itu sudah ingin memberikan tasnya pada preman itu, namun dengan cepat Disti menendang bagian vitalnya. Naas sesuatu yang di yakini itu adalah sebilah pisau mengenai perut Disti hingga darah segar mengalir. wanita paruh baya itu meminta pertolongan. tangisnya pecah melihat Disti yang kesakitan.


"Tolong,,,,. tolong bawa dia ke mobil saya!!" ucapnya.


πŸ’ž You are my life πŸ’ž