You Are My Life

You Are My Life
Chapter 40. liburan



Hari ini Zarra pulang ke Indonesia tetapi dia tidak memberi tahu keluarga dan teman-temannya karena ingin memberi kejutan kepada mereka. Zarra mempercayakan perusahaannya di paris kepada Gino, karena kinerja Gino yang sangat bagus dan bahkan sering mengeluarkan ide-ide cemerlang.Zarra tidak sabar menemui keluarganya juga sepupunya, dia sangat merindukan mereka semua. Zarra sudah berencana untuk mengambil cuti sementara, ingin menghabiskan waktu beberapa hari bersama keluarganya, dan teman-temannya juga dengan Chris.


Zarra pun sampai dan turun dari mobil, serta supir telah menurunkan koper Zarra dan membantu Zarra mebawanya ke dalam. Zarra sangat merindukan suasana rumah ini apalagi keributannya dengan kakaknya itu, Zarra merasa heran karena rumah ini terasa sangat sepi. Zarra pun menuju keruang tamu, ternyata disitulah ayah, ibu dan kakaknya sedang berkumpul.


“ Apa kalian tidak akan menyambut tamu kesayangan kalian ini? “ ucap Zarra dan membuat Edison, Marry, juga Devan menoleh kebelakang melihat kea arah Zarra. Mereka terkejut dan langsung menghampiri Zarra. Marry memeluk anak gadisnya itu yang sudah sangat dia rindukan.


“ Oh Zarra, putri kesayangan mama. Akhirnya kamu pulang juga nak, kami semua sangat merindukanmu. “ kata Marry smabil merenggangkan pelukannya.


“ Zarra juga kangen mama dan kalian semua. “ jawab Zarra dengan tersenyum.


“ Kenapa kau tidak memberitahu kami bahwa kau akan pulang? Kami kan bisa menjemputmu. “ ujar Edison sambil mengelus kepala putrinya itu.


“ Aku ingin membuat kejutan kepada kalian. “ balas Zarra.


“ Selamat datang kembali nenek lampir, aku sangat merindukanmu. “ Devan memeluk erat adik kesayangannya ini dan Zarra tidak menolak melainkan membalas pelukan kakaknya.


“ Oh kakak Devan, apa kabarmu? Apakah kau masih menjomblo sampai sekarang? “ kata Zarra dengan nada yang sedikit mengejek.


“ Kau mengatai ku jomblo padahal kau sama saja. “ balas Devan.


“ Karena aku sudah mempunyai pasangan makanya kau mengataimu jomblo. Kakak ku yang tersayang, sekarang kau sudah semakin tua cepatlah mencari pasangan dan berikan cucu untuk mama dan papa. “ kata Zarra lalu dia menuju ke kamarnya untuk mandi dan beristirahat.


“ Apa yang dibilang adikmu benar, jika kau tidak mencari pasangan mu sendiri papa yang akan menjodohkanmu. “ ujar Edison lalu mengajak keruang keluarga unutk menonton bersama.


“ Dasar papa dan Zarra sama saja. Dikira nyari jodoh segampang metik daun apa hadehh. “ Devan menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Edison yang seperti Zarra lalu menuju kekamarnya.


Zarra baru saja selesai mandi dan langsung merebahkan dirinya ketempat tidur. Zarra merasa sangat lelah karena 16 jam di pesawat dan capeknya minta ampun. Zarra mengirim pesan ke Tian bahwa minggu depan dia akan kembali ke kantor. Tian melihat pesan dari Zarra merasa lega karena akhirnya kembali memimpin perusahaan dan dia bisa sedikit bebas.


“ Kamu kenapa kok kayaknya senang banget? “ tanya Nina yang sedang duduk disamping Tian.


“ Nona Zarra telah kembali dan minggu depan dia akan kembali memimpin perusahaan. “ ujar Tian dengan wajah senangnya.


“ Wah benarkah? Aku sangat merindukan nona Zarra. Apa dia sudah baik-baik saja? “ kata Nina mengingat Zarra waktu itu yang masih merasa patah hati meninggalkan Indonesia.


“ Nona Zarra itu sangat kuat sekuat baja. Bahkan dia saja bisa mematahkan besi. “ ujar Tian dan mendapat tatapan terkejut dari Nina, sedangkan Tian langsung tertawa.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~


“ Hatchimmmm. “ Zarra menggosok hidungnya karena bersin dan mengambil tisu untuk melapnya, “ Siapa nih yang gibahin aku malam-malam gini? “ pikir Zarra. Setelah lama bermain hp Zarra pun tertidur karena matanya daritadi juga sudah sangat mengantuk.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Pag-pagi Zarra sudah berada didapur membuat sarapan untuk keluarganya, dan hari ini dia sanagt semangat sekali karena akan mengajak keluarganya liburan ke kebun binatang. Zarra menata piring di di meja dan menyiapkan sarapan. Devan yang baru saja datang dari kamarnya merasa aneh melihat adiknya pagi-pagi sudah bangun dan bahkan menyiapkan sarapan.


“ Tumben sekali kau, ada angin apa hari ini? “ ucap Devan yang sedang menguap dan mengambil air putih lalu meminumnya.


“ Tidak ada, duduklah sarapan dan setelah kita bersiap-siap untuk pergi. “ kata Zarra lalu mengambil tempat duduknya.


“ Memangnya kita mau kemana Zarr? “ sahut Marry yang baru saja datang bersama Edison dari kamar.


“ Kita akan liburan bersama hari ini, sudah lama kan kita tidak berjalan-jalan bersama? Kak Devan ambillah cuti hari ini dan kabari kak Ragan untuk ikut juga bersama kita. “ ujar Zarra sambil memakan pancakenya.


“ Oke.” Jawab Devan singkat dan langsung menghubungi sekretarisnya bahwa dia akan mengambil cuti hari ini.


Setelah sarapan pun mereka bersiap-siap untuk pergi kekebun binatang dan sudah mengabari Ragan agar betremu disana saja. Setelah siap semua mereka pun berangkat menuju kekebun binatang, sungguh senang rasanya hari ini bisa liburan bersama setelah sekian lama. Karena dari dulu mereka semua sibuk mengurus perusahaan masing-masing tidak ada waktu luang untuk bersama.


Selang beberapa menitpun mereka sampai, dan membeli tiket masuk setelah itu mereka langsung masuk ke dalam dan melihat-lihat binatang yang ingin mereka lihat. Khanva langsung menghampiri Zarra dan memeluk kakak sepupu tersayangnya itu karena mereka sudah lama tidak bertemu. Zarra dan Khanva pun memisahkan diri untuk melihat-lihat binatang yang mereka ingin lihat.


“ Kak lihat rusa kecil itu sangat lucu. “ kata Khanva sambil menunjuk ke kandang rusa.


“ Iya, lucu sekali. Kau mau melihatnya? “ tanya Zarra menawari Khanva.


Zarra dan Khanva pun mendekati kendang rusa itu yang sudah ada penjaganya, jadi mereka akan aman. Khanva membelai rusa yang di gendong oleh pawangnya, rasanya Khanva sangat senang sekali karena sudah lama tidak ke kebun binatang. Dulu mereka datang kesini saat ibu kandungnya masih hidup, saat ibu kandungnya meninggal dan Anton menikah dengan Riana mereka tidak pernah lagi kesitu.


Setelah melihat rusa, Zarra dan Khanva pun berkeliling lagi melihat yang lain. Merek amleihat harimau, buaya dan jerapah lalu sampa ditempat terakhir melihat kadang gorilla.


“ Kau tau? Itu sangat mirip sekali dengan Zarra saat sedang marah. “ kata Devan mengejek Zarra saat melihat gorilla itu sedang menguap.


“ Wah jelek sekali wajah kalau begitu. “ sahut Ragan lalu terkekeh.


“ Kalian sudah bosan hidup ya? “ balas Zarra dan menatap datar kakak dan kakak sepupunya, sedangkan Khanva menahan tawa disamping Zarra.


“ Kau tau tidak? Ini masih siang tapi aku mendengar suara-suara aneh. Brrr merinding deh. “ kata Devan lagi sambil memeragakan tubuhnya menggigil.


“ Kau benar, aku juga mendengarnya namun tidak melihat ada orang disini. Masa siang-siang ada setan sih ckck. “ sahut Ragan lagi.


Zarra melepaskan sepatunya dan menghampiri kakak serta kakak sepupunya, Ragan dan Devan yang melihat Zarra ke arah mereka langsung lari dan Zarra pun mengejarnya. Khanva tertawa dari belakang melihat mereka bertiga saling kejar-kejaran. Marry, Edison dan Anton yang melihat mereka bertiga kejar-kejaran hanya menggelengkan kepala saja karena kelakuan mereka yang seperti anak-anak. Akhirnya merek aberdua pun tertangkap oleh Zarra, Zarra memukul punggung mereka deengan sepatunya sedangkan Ragan dan Devan meminta ampun.


Hari sudah siang dan sudah waktunya untuk makan siang, mereka pun menuju restoran yang berada disekitar situ. Mereka mulai memesan makanan yang mereka mau, dan langsung menyantapnya saat makanan sudah datang. Tenaga Zarra, Devan dan Ragan seperti terkuras habis karena berkejar-kejaran di kebun binatang tadi.


“ Kau makan apa Zarr di paris? Kenapa larimu sangat kencang? “ tanya Ragan dengan mulut yang penuh makanan dan muncrat sedikit.


“ Jorok sekali kau anoa, makan dulu baru ngomong. “ kata Devan yang jijik melihat Ragan makan nasinya berjatuhan.


“ Tau tuh kak Ragan udah kayak anak kecil. “ sahut Khanva.


“ Sudah-sudah jangan ribut, selesaikan dulu makan kalian. “ kata Anton.


Marry dan Edison hanya menggeleng saja melihat kelakuan anak-anaknya juga keponakan mereka. Akhirnya mereka bisa berkumpul kembali hari ini dengan lengkap setelah sekian lama. Semoga saja mereka semua bisa selalu seperti ini dan berharap tidak ada lagi kejadian buruk yang datang. Dari jauh ada yang memperhatikan dua keluarga itu dengan senyum jahatnya.


“ Jadi kau sudah kembali ya Zarra? Tunggu lah pembalasanku. “ kata Sinthya dengan senyum jahatnya dan wajah liciknya.


\~\~\~\~\~\~\~


Wagner dan Garson pun telah kembali dan mereka semua berkumpul di kediaman keluarga Wagner. Mereka menghabiskan waktu bersama dan bercengkerama bersama bahkan Edison meminta Anton dan anak-anaknya untuk menginap aja disini. Anton tidak menolak, dia meminta pengawalnya untuk membawakan pakaian mereka karena akan menginap disini.


“ Sungguh senang kita dapat berkumpul kembali. “ kata Edison dengan wajah haru.


“ Aku juga, andai saja istriku masih hidup rasanya keluarga kita akan sangat lengkap. “ ujar Anton dan menundukkan kepalanya dengan menitikkan air mata.


Sinthya sedang duduk santai di ruang tamu, dia masih bersembunyi di tempat yang diberikan Dion untuknya. Akhir-akhir ini dia merasa sangat senang karena Dion sering mengunjunginya dan sering sekali memberikan dia uang dengan jumlah yang besar. Sinthya telah membeli afrodisk untuk dia masukkan ke dalam minuman Dion nanti, dia ingin memiliki Dion seutuhnya.


Di lain sisi, Ferga sudah membeli obat penawar karena tahu bahwa Sinthya sudah merencanakan sesuatu. Ferga menaruh kamera kecil di sekitar rumah itu mengaca Ferga selalu tau aktivitas Sinthya dan Sinthya menghubungi siapa. Ferga bersiap dan menuju ke rumah Sinthya sebagai Dion dan mengetuk pintu saat dia sudah sampai. Sinthya dengan cepat langsung membukanya dan mempersilakan Dion untuk masuk.


“ Hai Dion, bagaimana harimu hari ini? “ tanya Sinthya yang sedang menyiapkan inuman dan memasukkan obat itu.


“ Nothing bad Sin, apa kau sudah makan malam? “ kata Dion dengan lembut.


“ Sudah. Ini minumlah, mungkin ini bukan wine mahal tapi semoga kau menyukainya. “ ucap Sinthya sambil menyodorkan gelas ke Dion.


“ Terimakasih Sin. “ jawab Dion dan mengambil gelas dari tangan Sinthya lalu meminumnya.


Ferga pun langsung meneguk wine itu, dan Sinthya pun juga dengan menunjukkan senyum liciknya. Setelah minum Ferga meletakkannya ke meja dan permisi untuk ke toilet. Ferga membasuh wajahnya berkali-kali dan membasahi sedikit rambutnya agar terasa segar. Namun tidak tahu kenapa tubuhnya masih saja terasa panas padahal dia sudah meminum penawar sebelumnya tidak mungkin dia mandi disini karena tidak membawa baju.


Sinthya sudah bersiap di kamar dengan menggunakan lingerie tipis untuk menggoda Dion dan membayangkan malam panas bersama Dion. Sudah lama Sinthya merencanakannya dan ingin Dion menyentuhnya lebih jauh namun Dion selalu saja menolak. Ferga keluar dari kamar mandi dan melihat Sinthya yang menggunakan lingerie membuat tubuh Ferga tambah panas. Ferga pun buru-buru keluar dari kamar itu dan hendak pulang, namun tangannya di tahan Sinthya lalu Sinthya mendorong Ferga ke tempat tidur. Sinthya menindih Ferga dan langsung ******* habis bibir Ferga, sedangkan Ferga yang gairahnya sudah sangat tinggi akibat afrodisk dengan dosis tinggi yang diberikan oleh Sinthya tidak menolaknya.


Sinthya memagut bibir Ferga sambil melepaskan kancing kemeja Ferga, lalu turun menciumi leher Ferga. Menaikkan lingerie Sinthya dan mengelus paha mulusnya Sinthya dan membuat Sinthya sedikit mendesah. Sinthya melepaskan kemeja Ferga dan mencampakkannya ke lantai dan menciumi leher Ferga, Sinthya pun melepas Lingerinya dan hanya menyisakan tubuh polosnya. Mendapat perlakuan dari Sinthya dia pun mendesah, dan membalikkan tubuh Sinthya sekarang Fergal ah yang menindihnya. Ferga menciumi leher Sinthya dan menggigit pelan sehingga meninggalkan tanda di lehernya Sinthya. Ferga menciumi tubuhnya Sinthya sampai kebawah lalu naik lagi dan melepaskan celananya lalu melakukan penyatuan. Sinthya mendesah puas karena miliknya dan Ferga telah menyatu lalu Ferga memulai percintaan mereka.


Untung saja Ferga sudah memakai pengaman jadi nanti tidak aka nada masalah, karena pasti dia tahu Sinthya akan menjatuhkannya dengan memfitnah bahwa dia telah menghamilinya. Entah sudah berapa lama mereka melakukannya dan akhirnya mereka berhenti karena kelelahan. Ferga menatap Sinthya yang sudah tidur dan bangun dari tempat tidurnya lalu memakai celananya. “ Sinthya, kau tidak akan pernah bisa menjebakku karena aku lebih pintar darimu. “