
Hari ini adalah hari yang di janjikan Thian pada Disti untuk mengajaknya jalan-jalan.
"Kak tidak usah jalan-jalan iya!!!" sungguh Disti tak ingin menjadi bulan-bulanan siswi kampusnya jika sampai mereka tahu maka bisa jadi Disti akan tinggal nama. siapa yang tidak mengenal seorang Fathian Saif Ezar pria tampan yang di puja seluruh gadis kampus, kecuali Disti. bukan masalah buta atau gangguan mata hanya dia sadar siapa dirinya dan siapa Thian.
"Apa yang kau takutkan.? bilang saja kalau kita sepasang kekasih?" dengan entengnya Thian mengumbar sifat play boynya.
"Kak !!! jangan macam-macam dengan kata kekasih. aku bisa saja mati di tangan mereka!! " iya memang Andin tak pernah menaruh hati pada pria tampan di depannya .
"Kenapa? asal kamu tahu aku belum pernah meminta seseorang untuk menjadi kekasihku. hanya kamu yang mendapat perlakuan itu!! meski ada satu orang yang tak pernah akan ku lupakan" sambungnya dalam hati.
"Dan aku tak meminta hal itu pada kakak. Apa kakak pikir aku serendah itu?" kini mereka terdiam sampai di mall. Thian meminta Disti turun dan mereka pun memasuki mall tersebut. berkeliling namun tetap dengan kecanggungan yang tercipta.
"Disti... maaf. aku bukan pria romantis tapi jujur saja aku hanya ingin kamu menjadi kekasihku. berbagi hari dan kisah bersamaku." ucapnya ketika mereka duduk di sebuah restoran di dalam mall tersebut. satu tangan Thian menggenggam tangan Disti di atas meja.
"Kak.. kita baru kenal sebulan yang lalu. bahkan kakak saja tidak tahu sifat dan karakterku. jangan memulai sesuatu hanya karena sebuah rasa penasaran. Maaf tapi aku tak secepat itu untuk memutuskan. aku hanya fokus untuk masa depan ku." ucap Disti seraya menarik tangan yang di genggam Thian.
"Apa aku buruk dalam penilaian mu? iya aku memang sering Gonta ganti kekasih tapi aku sungguh-sungguh sekarang hanya ingin bersamamu seorang. aku akan melindungi mu menjadi tumpuan saat kau rapuh." seketika Andin memandang wajah tampan bosnya. mata mereka beradu.
DEG
DEG
DEG
Ada apa dengan jantungku!! berdebar begitu hebat. pikirannya semakin bingung, ini kali pertama dia merasakan debaran jantung setelah sekian lama.
"Kita jalani saja kak !! tapi ku mohon jangan membuat gadis di kampus menjadi arogan aku hanya hidup damai dan belajar dengan tenang." bagi Disti hanya ingin lulus dan menggapai cita-citanya sebagai pekerja kantoran. sederhana namun sangat berharga untuknya.
Setelah obrolan mereka di mall itu, Thian semakin mengejar Disti. mengantar jemput nya walau tidak menampakkan diri. Thian yang menyukai mengendarai motor sekarang beralih ke mobil karena sesuai keinginan Disti yang tak ingin ada yang tahu kedekatan mereka. walau tak ada kata jadian diantara mereka.
Di kantin kampus Thian dan ke dua temannya sedang asyik bercanda.
"Loe serius sama si gadis muka datar itu Thian?" ucap Zoni yang memang selalu ingin tahu.
"Mau loe?" sahut Thian singkat.
"Hais loe ini, bisa tidak jawab yang pasti saja. lagian gue gak percaya tuh cewek mau ke loe. gue liat dia bukan pemuja pria tampan."
"Udah lah Zon, gak usah ikut campur kita jadi penonton yang baik saja. iya kan Thian?" sahut Bisma yang masih setia dengan kopi susunya.
πππππ
Di sebuah kantor tampak lah pria tinggi yang duduk santai dengan tangan menari-nari di papan keyboard. hidungnya yang mancung bibirnya yang tipis serta rambut yang belah miring membuat kharismanya bertambah.
Iya dia adalah Dirga Bayu Abimanyu. pewaris tunggal dari perusahaan ABM yang bergerak di berbagai bidang termasuk Hotel dan restoran.
"Hem" Jawabnya langsung berdiri dan keluar ruangan untuk menuju ruang rapat.
Setelah beberapa jam di ruang rapat Dirga keluar dan menuju ke ruangannya di ikuti oleh Leon.
"Jam berapa kita berangkat ke kota Y Leon?" tanya Dirga langsung duduk di kursi kebesarannya.
"setelah makan siang tuan. kita langsung ke bandara" ucap Leon sambil menunduk hormat. kali ini dia harus berhati-hati karena emosi dari sang bos bisa kapan saja meledak, mengingat masalah perusahaan yang terjadi di beberapa hotel dan restoran di kota Y. Tak lama telpon Dirga bergetar.
"Hallo ?" ucap Dirga.
"Sayang.!!! kita dinner iya nanti malam? " Iya yang di sebrang adalah Devi kekasih Dirga.
"Maaf sayang aku tidak bisa. aku harus ke kota Y. anak cabang di sana sedang mengalami Masalah sayang !!! Maaf" ucapnya dengan penuh rasa bersalah namun wajahnya tetap datar.
"Kau selalu saja seperti itu. kau memang tidak peduli kan padaku. bahkan meski aku di himpun kau tak kan peduli iya kan?" ketus Devi.
"Bukan sayang!!! Aku memang ada masalah di anak cabang di kota Y dan siapa yang berani menghinamu. katakan biar aku yang memberinya pelajaran" se cueknya Dirga tetap dia menyayangi Devi, tak rela jika ada yang menghina kekasihnya.
"Teman-teman ku mereka bilang aku berkhayal menjadi kekasihmu, bahkan mereka tak percaya, karena aku selalu naik angkutan umum ke kampus. kau tahu mereka sering mengolok-olok ku, hiks hiks"
"Sayang jangan menangis oke. aku janji setelah masalah perusahaan selesai akan mengantar jemput mu."
Cih... menangis, dia itu ratu drama tuan. kau belum tahu saja kebusukan ratu ular itu. bahkan hidupnya hanya jadi benalu saja - Leon membatin mendengar ucapan Dirga di telpon.meski dia tak tahu apa yang di ceritakan kekasih bosnya itu.
"Sayang,,, aku ingin mengendarai mobil sendiri. bisakah kau membelikan ku mobil?" ini yang di namakan di kasih hati malah minta jantung.
"Sayang aku akan penuhi semua yang kamu mau, tapi sekarang masalah perusahaan lebih penting. jadi setelah masalah ini selesai aku akan membelikan mu mobil seperti yang kamu mau"
"Benarkah? baiklah sayang aku tunggu loh. kau sudah berjanji.!!" girang Devi karena bisa memenuhi keinginannya. tak salah dia memilih kekasih yang sudah jelas bisa menjamin hidupnya. Setelah itu panggilan pun terputus.
"Maaf tuan jika saya lancang mendengar perbincangan tuan, tapi apakah tidak berlebihan jika sampai membelikan nona Devi sebuah mobil.?" jujur Leon sangat ingin memberi tahu pada Dirga siapa kekasihnya itu. tapi dia yakin Dirga tak akan percaya kecuali melihatnya sendiri tanpa ada rekayasa.
"Tak apa aku hanya ingin tak ada yang menghinanya, dia adalah calon nyonya Abimanyu."ucapnya tegas. setelah itu mereka kembali pada pekerjaan masing-masing.
Sedang Devi berada di apartemennya menunggu orang yang sudah memesannya. siapa lagi kalau bukan om om yang harus belaian. Iya Devi memang sudah tak perawan namun Dirga tak pernah tahu karena Dirga sendiri tak pernah menyentuh Devi. jangankan melakukan hubungan suami istri ciuman saja tidak pernah. laki-laki itu terlalu sibuk pada pekerjaannya dan tak pernah memperhatikan kekasihnya.
πYou Are My Lifeπ