
Hari ini adalah hari pertunangan Chris dan Sinthya, diadakan di hotel milik keluarga Stanford. Sinthya bersiap-siap dan meminta MUA meriasnya secantik mungkin, dia ingin tampil paling cantik mengalahkan wanita-wanita lainnya dan harus terlihat sempurna didepan Chris dan keluarganya.
Mama Sinthya pun menghampiri Sinthya dan menatap kagum anaknya yang cantik ini. “ Mama gak nyangka bahwa kamu akan bertunangan dengan anak dari keluarga Stanford. “ ucap Genita mamanya Sinthya.
“ Jelas dong ma, hebat kan anak mama ini bisa memikat seorang Chris? Dan akan banyak orang-orang yang meminta bekerja sama dengan kita, calon mempelai wanita keluarga Stanford. “ Sinthya menatap dirinya didepan kaca dan tersenyum puas. Lalu keluar dari ruangan itu menghampiri Chris yang sedang menyambut tamu.
Zarra sebenarnya sangat malas untuk datang namun Edison memaksanya agar hubungannya dengan keluarga Stanford bisa sedikit-sedikit membaik. Zarra pun meminta Kean untuk menemaninya dan dengan senang hati Kean menerimanya. Zarra datang terpisah dari orangtuanya, dan saat sampai mereka pun langsung masuk ke hotel dan menuju ballroom. Saat masuk Zarra menatap sejenak ke kolam renang dimana dia terjatuh karena di dorong oleh Sinthya.
“ Zarr.” Kean menyenggol bahunya Zarra yang heran karena daritadi Zarra hanya bengongng, “ kamu gapapa kan?” tanya Kean sdengan khawatir.
“ Eh aku gapapa kok. Ayo kita samperin mereka. “ ajak Zarra lalu mereka pun menghampiri Sinthy dan Chris.
“ Selamat untuk kalian berdua, aku harap kalian nanti bisa menikah dan bahagia untuk selamanya. “ Zarra mengulurkan tangannya ke Sinthya mengucapkan selamat atas pertunangan mereka, dan Sinthya pun membalasnya.
“ Selamat untuk kalian dan semoga tidak ada kejadian buruk nantinya. “ kata Kean sambil menyindir .
“ Terimakasih kalian sudah mau datang ya. Ah kalian sangat serasi sekali. “ ucap Sinthya.
Zarra dan Kean pun saling berpandangan lalu pergi meninggalkan mereka karena Zarra sangat muak melihat wajahnya Sinthya. Kean menghampiri rekan kerjanya yang hadir di acara ini juga dan mengenalkan Zarra.
Zarra pun mengenalkan dirinya ke rekan kerja Kean mereka pun berbincang bersama. Sedangkan Chris masih menatap Kean dan Zarra dengan tatapan cemburu dan dengan hati yang membara. Ingin rasanya dia menghajar Kean karena telah menyentuh Zarra, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa atau rencananya akan gagal.
Acara pertunangan pun di mulai dan MC memimpin acara pertunangan itu. Chris dan Sinthya yang sudah berada di panggung memasang wajah bahagia dan sampailah ke acara tukar cincin setelah itu mereka saling berpelukan dan mendapatb tepuk tangan dari tamu-tamu yang menghadiri acara itu.
“ Ehm, hey adikku kenapa kau tidak mencoba merebut Chris kembali? “ ucap Devan yang berdiri disamping Zarra.
“ Sepertinya mereka berjodoh, buat apa aku merebutnya. “ jawab Zarra seadanya.
“ Bukankah kau masih mencintai Chris? “ tanya Devan dengan hati-hati.
“ Kakaku sayang apa kau tidak mengenal adikmu ini? Aku tipe orang yang gampang move on, kalo belum pun pasti aku akan menangis melihat kemesraan mereka berdua. “ ujar Zarra lalu menyenderkan kepalanya di bahu Kean, Kean pun hanya tersenyum.
Devan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adiknya yang sangat manja dengan mantan pacar adiknya itu dan kelakuan Zarra yang tidak bisa ditebak. “ Tunggu, apa kalian sudah berpacaran lagi? Wah kenapa aku tidak diberi tahu.
“ Apa kau tidak capek mendengar ocehan kakakmu? “ bisik Kean namun terdengar oleh Devan.
“ Biarkanlah burung berkicau. Nanti juga dia diam sendiri. “ jawab Zarra sambil tertawa.
“ Kalian berdua selalu kompak dalam mengejekku ckckck. “ Devan pun meninggalkan mereka berdua dan menghampiri Ragan dan Khanva yang juga di undang di acara itu.
Zarra dan Kean pun menghampiri keuda orangtuanya Zarra yang tadi dipanggil Edison karena ingin mengenalkan ke rekan kerja Edison agar bisa menjalin kerja sama dengan perusahaannya. Melihat Zarra dan Kean yang daritadi berduaan membuat Chris makin panas dia pun pergi dan masuk ke kamar hotel yang sudah dipesannya, di ikuti oleh Sinthya dari belakang.
Chris melepaskan dasi pitanya dan membuangnya di lantai. Entah kenapa dia sangat emosi malam ini, sedangkan Sinthya yang baru masuk langsung menghampiri Chris dan memeluknya dari belakang.
“ Lupakanlah mereka, sekarang ada aku disini. “ Sinthya menyenderkan wajahnya di punggung Chris.
Chris melepaskan pelukan Sinthya dan menghempas kasar tangannya, “ Tinggalkan aku sendiri. “
Sinthya pun maju ke depan Chris dan hendak menciumnya namun buru-buru di dorong oleh Chris, Sinthya sempat emosi namun dia harus sabar menghadapi Chris. “ Kita sudah bertunangan, kau boleh menyentuhku jika itu bisa membuatmu melupakan Zarra. “
Chris tersenyum sinis dan merasa jijik melihat Sinthya mengingat bahwa dia sudah tahu Sinthya pernah tidur dengan banyak pria dan menyerahkan tubuhnya begitu saja, “ Aku hanya akan menyentuh wanita yang kucintai, bukan ****** sepertimu. “ ucap Chris lalau merebahkan dirinya di spring bed.
Mendengar Chris mengatainya ****** memancing emosi Sinthya, “ Chris apa maksud perkataanmu? Aku ini tunanganmu!! Dan kau harusnya minta maaf kepadaku. “
Chris bangkit dari spring bed itu dan berjalan ke arah Sinthya sampai Sinthya terpojok ke dinding. Chris mencengkeram dagu Sinthya dan menatapnya tajam dengan aura membunuh. “ Seharusnya kau yang minta maaf padauk karena telah menipuku, tapi simpanlah maafmu itu untuk nanti. “
tiba-tiba raut wajah Sinthya berubah khawatir, dan dia langsung meningkalkan Chris dengan tergesa-gesa dan rasa takut. Sinthya sangat panik apakah Chris mengetahui tentang dia yang pernah tidur bersama pria lain dan tentang kejahatannya? Sinthya mencoba positif thinking dan berusaha menenangkan dirinya. Dia pun kembali ke ballroom dan berbincang dengan rekan-rekan kerjanya.
Edison serta keluarganya pamit untuk pulang karena hari sudah sangat malam, Edison sangat lega karena keluarga Stanford sudah memaafkan mereka. Tidak ada lagi sekarang rasa khawatir dan sekarang mereka jalani hubungan seperti dulu, yaitu berteman kembali.
Zarra minta ijin ke Edison untuk menemani Kean mampir ke restorannya dulu dan karena suasana hatinya lagi baik Edison pun mengijinkannya. Zarra dan Kean pun pergi dan segera menuju ke restorannya Kean. Setelah beberapa menit mereka pun sampai dan langsung masuk ke dalam, saat melihat Danil, Zarra langsung menyalimnya dengan sopan.
“ Selamat malam om. “ ucap Zarra dengan ramah.
“ Eh malam Zarra. Kamu dulu pacarnya Kean bukan? “ tanya Danil seperti mengenal Zarra.
“ Mantan pa, bukan pacar lagi. “ sahut Kean yang berdiri disamping Zarra.
“ Hahaha om bisa aja, apa kabar om Danil? Lama tidak bertemu. “ ucap Zarra.
“ Om baik, bagaimana denganmu nak Zarra? “ tanya Danil.
“ Pa, kami gak diajak duduk nih? “ kata Kean dan membuatnya tersadar dan langsung mengajak mereka masuk dan mempersilakan duduk. Danil pun meminta pelayan untuk membuatkan minum.
Setelah minuman datang Zarra pun mengambilnya dan menyesapnya, dan melanjutkan pembicaraan mereka kembali.
“ Om dengar dari Kean sekarang kamu jadi pemimpin perusahaan ya? “ tanya Danil.
“ Iya om, sekarang Zarra mimpin perusahaannya papa yang kedua. “ jawab Zarra dengan tersenyum.
“ Om gak nyangka melihat kamu yang sudah dewasa dan menjadi Ceo. Dulu seingat om kamu yang masih manja-manjanya apalagi terhadap Kean. “ ujar Danil lalu terkekeh.
“ Selain manja dia juga hobi ngambekan pa. “ sambung Kean dan mendapat cubitan dipinggang dari Zarra.
Mereka pun asik bercerita dengan kejadian-kejadian dulu dan apa yang mereka alami, menceritakan bagaimana melewati masa-masa yang menyedihkan. Zarra sempat menangis mendengarnya kalau saja Zarra berusaha lebih lagi mungkin semua ini tidak akan terjadi.
Zarra meminta maaf kepada Kean dan Danil atas kejahatan tantenya, tetapi Danil dan Kean berkata Zarra tidak perlu meminta maaf karena dia tidak bersalah. Namun bagaimanapun Riana adalah tante dan bibinya dia tetap merasa sangat bersalah terhadap Danil dan Kean. hari pun sudah mulai larut, Zarra pamit pulang dengan diantarkan Kean. saat sampai Zarra langsung turun dari mobil Kean, dan Kean pun ikut keluar mengantarnya sampai didepan pintu rumahnya Zarra.
“ Kean, ada yang mau aku katakan. “ ucap Zarra.
“ Katakan saja Zarr. “ jawab Kean.
“ Sebelumnya maaf, aku tidak bisa menerimamu Kean, aku hanya menganggapmu sebagai sahabat dan kakak bagiku. Aku harap kamu mengerti. “ jelas Zarra dengan hati-hati tidak ingin menyakiti Kean.
Kean memaksakan senyumnya, bohong jika dia tidak merasa sakit nuamun dia harus menerimanya, “ Apa kamu masih mencintainya? “ tanya Kean tetapi Zarra tidak menjawabnya.
“ Maaf. “ ucap Zarra sambil menundukkan kepalanya.
“ Tidak perlu meminta maaf Zarr, aku mengerti dan aku menerimanya. Masuk lah udara di luar sangat dingin. “ ujar Kean dan menyuruh Zarra masuk.
“ Kean, besok aku akan berangkat ke paris dan aku akan memimpin perusahaan baruku disana. Mungkin hari ini adalah hari terakhir kita bertemu. “ ujar Zarra dan mengucapkan salam perpisahan.
Tanpa sadar Kean menitikkan air mata, baru saja dia bertemu Zarra dan sekarang dia harus berpisah lagi dengannya. Rasanya dia tidak sanggup dan merasa kehilangan namun dia harus mencoba kuat. “ Ijinkan aku mengantarmu ke bandara besok . “
Zarra pun mengangguk dan masuk kerumah, sedangkan Kean langsung menuju mobilnya masuk dan dengan cepat mobilnya melesat dari rumah Zarra. Saat dalam perjalanan Kean hanya menangis karena tidak bisa bertemu dengan wanita yang dicintainya lagi dan mala mini juga besok pagi adalah pertemuan terakhirnya. Kean pun bertekad untuk bekerja keras agar dia bisa membuka restoran di paris dan bisa bertemu dengan Zarra.
Zarra masuk kedalam rumahnya dan tidak menyangka ada teman-temannya menunggu dia ruang tamu. Zarra pun langsung menghampiri mereka semua dan langsung berpelukan dengan mereka. Zarra sangat sedih karena dia akan pindah ke paris dan tidak bisa bertemu dengan teman-temannya lagi. Maka mala mini mereka menghabiskan malam terakhir mereka bersama yang entah kapan akan bertemu lagi.
Pagi-pagi Kean sudah berada di ruang tamu di rumah Zarra menjemput Zarra dan mengantarnya ke bandara. Zarra keluar dari kamar dan membawa koper dan Kean pun meraihnya untuk memasukkannya ke dalam bagasi.
“ Wah aku akan sangat merindukan ocehanmu adikku. “ ucap Devan yang sedih karena adiknya yang akan pindah ke paris.
“ Bukankah kau senang? Tidak ada lagi yang mengancam untuk membunuhmu. “ ucap Zarra yang tidak sengaja meneteskan air mata.
“ Jagalah dirimu baik-baik sayang. “ Marry memeluk Zarra dengan erat melepas kepergian anaknya.
“ Mama dan papa juga jaga Kesehatan jangan sampai sakit. “ ujar Zarra.
Setelah berpamitan Zarra pun masuk ke mobilnya Kean dan begitu juga Kean yang sudah pamit ke Mar, Edison dan Devan langsung menyetir menuju ke bandara. Selama diperjalanan, sesekali Kean melirik Zarra, yang entah kapan dia akan bisa melihat wanita ini lagi.
Zarra sedang melap air matanya yang dari tadi menetes karena dia harus berpisah dengan keluarganya untuk memimpin perusahaannya yang baru saja opening di paris. Selang beberapa menitpun mereka sampai dan Zarra langsung check out.
“ Terimakasih Kean telah mengantarku. “ ucap Zarra sebelum menuju ke pesawat.
“ Jaga dirimu baik-baik, jangan telat makan dan jangan sampai sakit. Jika kau sakit aku akan langsung terbang ke pari. “ ujar Kean dan menatap lembut Zarra.
“ Kau juga jaga selalu kesehatanmu dan terima kasih karena selalu berada disisiku saat aku butuh. “ Zarra berjalan ke arah Kean dan memeluknya lalu menepuk punggung Kean dan melepasnya. Rasanya kean ingin menangis namun dia menahannya.
“ Pergilah, dan jangan lupa kabari aku jika sudah sampai. “ ujar Kean.
Zarra mengangguk dan dia pun pergi menuju pesawat dan dia membalikkan badannya sebentar melambai ke arah Kean lalu pergi. Kean pun balas melambai dan dia pun keluar dari bandara dan menuju restorannya. “ Aku akan sangat merindukanmu Vozarra. “ gumam Kean didalam hati yang tidak sengaja menitikkan air mata.