You Are My Life

You Are My Life
Chapter 42. Hukuman



Zarra terbangun dan buru-buru untuk mandi karena Tian mengabarkan ada klien penting yang ingin menemuinya. Selesai mandi Zarra langsung berpakaian dan memakai lipstick agar tidak terlihat pucat, karena kulit Zarra sudah putih tanpa memakai bedak pun tidak masalah. Zarra langsung keluar dari kamarnya dan mengambil roti lalu meneguk susu dan langsung pergi karena dia sudah telat. Marry dan Edison hanya geleng-geleng kepala saja melihat Zarra karena bahkan Zarra tidak sempat untuk berpamitan.


Saat sampai dikantor Zarra pun langsung buru-buru keruangannya dan langsung mengambil tablet dari Nina tentang pokok bahasan nanti. Zarra merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dan klien pun masuk keruangannya, Zarra mempersilakan duduk mereka dan mulai membahas tentang bisnis mereka. Zarra dibantu oleh Nina makana dia tidak kewalahan apalagi kliennya ini datang tiba-tiba membuat Zarra tidak sempat bernafas apalagi sepetinya akan memakan waktu setengah hari karena banyak bahasan serta untuk memantapkan bisnis mereka.


Meeting pun selesai Zarra mengantar kliennya sampai didepan pintu dan Tian lanjut mengantarnya sampai keluar dari perusahaannya. Zarra menyenderkan badannya di sofa, menghembuskan nafas lega entah kenapa kali ini dia merasa sangat lelah. Saat baru saja Zarra ingin memejamkan matanya, tiba-tiba ada suara kegaduhan yaitu disebabkan oleh Chris dan Tian. Tian melarang Chris untuk masuk karena Zarra sedang beristirahat dan tak ingin Chris mengganggu. Namun Chris bersih keras untuk masuk menemui kekasihnya. Kepala Zarra semakin sakit mendengar suara berisik itu dan membuat Zarra menjadi tersulut emosi.


“ SIAPA YANG BERANI MENGGANGGUKU TIDUR DAN MENYEBABKAN KERIBUTAN DI RUANGANKU!” teriak Zarra dan melirik ke arah pintu dan melihat kedua pria didepan pintu dengan pose yang sedang dorong-dorongan.


Chris dan Tian pun berhenti dan terdiam saat mendapat tatapan dengan aura membunuh dan membuat mereka berdua menelan salivanya. Mereka berduapun saling bertatapan seakan menanyakan bagaimana cara mereka melarikan diri. Zarra pun berdiri dan berjalan menghampiri dua pria itu dan membuat mereka berdua menegang.


“ Ferga aku titipkan mama dan papa padamu. “ batin Chris dalam hati dengan wajahnya yang sudah menegang.


“ Nina maafkan aku meninggalkanmu menjadi janda. “ batin Tian juga didalam hati.


Nina memegang keningnya dan menggelengkan kepala saja melihat Zarra sepertinya akan menghukum mereka berdua. Zarra pun sudah berada tepat didepan mereka dan menyilangkan kedua tangannya didepan dada dengan tatapan yang sangat marah. Tanpa sadar Chris dan Tian pun saling berpelukan karena takut terhadap Zarra berharap mereka masih hidup hari ini.


Untung saja nasib mereka baik-baik saja tetapi mereka harus mengikuti apa yang diperintahkan oleh Zarrra. Chris sedang memijat kening Zarra, sedangkan Tian memijit kakinya Zarra. Zarra merentangkan tangannya di sofa menikmati pijatan kekasih dan asistennya itu, sedangkan Nina menyampaikan jadwal-jadwal Zarra untuk besok. Chris dan Tian saling membalas dengan tatapan tajam kalau saja mereka tidak berisik dan membuat Zarra marah mereka tidak akan seperti itu.


“ Pijit yang benar Chris. Kau juga Tian atau aku akan memotong gajimu 20 persen. “ kata Zarra dengan nada yang datar.


“ Mampus kau Tian, rasakan itu akibat kelakuanmu tadi. “ kata Chris lalu memeletkan lidah ke arah Tian, Tian menatap Chris marah.


“ Awas saja kau tuan Chris, akan kubalas setelah ini. “ gumam Tian dalam hati.


“ Diam lah Chris jangan berisik kepalaku sangat pusing, jangan sampai aku memakanmu. “ kata Zarra yang terganggu dengan suara berisik Chris mengatai Tian.


“ Aku mau dimakan saja kalau begitu. “ jawab Chris dengan raut wajah yang penuh makna.


“ Baiklah aku akan meminta Nina menyuruh orang untuk mengulitimu. “ ujar Zarra dan membuat Chris langsung bergidik dikiranya mereka akan melewati malam panas, tapi ternyata hal yang sangat kejam.


Mendengar perkataan bosnya, Nina dan Tian pun tertawa pelan karena tidak ingin memancing emosi Zarra saat ini. Karena merasa sangat haus, Zarra meminta Tian untuk mengambilkan minum dan Chris untuk gentian memijat tangannya yang terasa sangat pegal. Tian merasa lega karena merasa bebas walau hanya sebentar.


“ Sayang, apa kau masih marah? Aku tadi hanya ingin menemuimu tetapi Tian melarangku masuk. “ ujar Chris memohon agar Zarra tidak marah lagi.


“ Seharusnya kau mendengarkan Tian. “ jawab Zarra datar.


“ Kenapa kau jadi membelanya? “ Chris berkacak pinggang dan berhenti memijit mendengar Zarra membela Tian namun saat mendapat mendapat tatapan tajam dari Zarra, Chris pun lanjut memijit.


“ Apa kau tidak ada kerjaan atau meeting penting? “ tanya Zarra sambil melirik Chris.


“ Aku ini Chris Stanford, jadi aku bisa bebas mau kemana saja. “ jawab Chris dengan nada yang sedikit disombongkan.


“ Kalau kau malas-malasan gini dan bangkrut, bagaimana kau akan menghidupiku dan anak-anak kita nanti? “ kata Zarra.


“ Jadi kamu mau menikah denganku? “ tanya Chris dan menatap Zarra sangat dalam.


“ Mau gak ya? “ jawab Zarra dengan nada menggoda.


Chris sangat gemas melihat Zarra lalu dia menggelitikinya sampai habis, dan Zarra pun mencoba menghindar dari gelitikannya. Melihat bos dan kekasih bosnya itu sedang bermesraan, Nina pun keluar diam-diam tidak ingin mengganggu mereka berdua. Chris mengejar Zarra dan Zarra berdiri di belakang kursi kerjanya agar Chris tidak dapat menggelitiknya. Chris pun melompat melewati meja untuk menangkap Zarra, namun Zarra lansgung berlari keluar dari ruangannya dan Chris mengejarnya dari belakang.


Semua pekerja yang berada di kantor melihat bosnya sedang berkejaran dengan kekasihnya itu hanya menggelengkan kepala saja. Zarra pun kecapekan dan melambaikan tangan tanda menyerah dan Chris langsung memeluknya dari belakang dan memutar-mutarkannya. Karena kecapekan mereka merasa lapar dan pergi ke restoran seberang dan mulai memesan makanan.


Denial yang sedang lewat disekitar situ langsung menghampiri mereka dan duduk disebelah Zarra dengan senyum tak bersalahnya yang sudah menggganggu dua sejoli itu sedang berkencan. Chris menatap dingin Denial namun Denial tidak menggubrisnya dan memesan makanan juga untuknya. Zarra tersenyum kecil melihat Chris yang sepertinya terganggu juga cemburu.


“ Wah kalian kenapa tidak mengajakku ikut makan siang juga? Untung saja aku lewat kan jadi kitab isa makan bareng bertiga. “ ujar Denial sambil menyantap makanannya.


“ Kau tau kalau datang disaat yang tidak tepat. “ jawab Chris dingin.


“ Maksudmu gimana bro? “ tanya Denial berpura-pura bodoh.


“ Ck kau ini. “ Chris menggelengkan kepalanya dan terlihat sangat geram sedangkan Zarra hanya menahan tawanya.


“ Sudah lah sayang jangan berantem di depan makanan, tidak baik. “ kata Zarra yang juga menyantap makanannya.


“ Kau dengar itu Chris? “ Denial menoleh ke arah Chris dengan senyum penuh kemenangan.


“ Sayang, dia mengganggu kita kencan. “ ujar Chris.


“ Memangnya tadi kamu ada bilang ini kencan? “ tanya Zarra berpura-pura tidak peka.


“ Pffftttt… “ Denial menutup mulutnya dan menahan tawanya sedangkan Chris langsung menatapnya tajam.


“ Zarr, btw katanya kau cuti sampai minggu depan. Kok sekarang udah masuk aja? “ tanya Denial sambil meminum lemon teanya.


“ Tadi ada klien penting yang tiba-tiba datang jadi ya hari ini harus masuk kerja. Besok juga aku udah masuk kerja karena menurutku nanggung. “ jawab Zarra.


“ Kenapa Denial tau tentang cutimu sedangkan aku engga. “ Chris mengerucutkan bibir, ngambek karena tidak diberi tahu.


“ Buahahaha, Chris sifatmu seperti bocil dan tidak cocok kau berekspresi seperti itu. Kau tau? Kau seperti tikus tanah. “ kata Denial sambil tertawa.


“ Kau .. “ geram Chris yang daritadi diledek oleh Denial.


“ Sudah-sudah, daritadi kalian berantem mulu deh. Aku pergi aja kalo gitu. “ Zarra beranjak hendak pergi, namun kedua pria itu menarik tangannya.


“ Jangannn. “ kata Denial dan Chris bersamaan.


“ Makanya yang akur dong. “ kata Zarra.


Chris dan Denial pun saling berjabat tangan dan berbaikan, Zarra tersenyum puas melihat kedua pria didepannya berbaikan. Walaupun ekspresi wajah mereka masing-masing masih setidak ikhlas setidaknya sedikit-sedikit mereka bisa belajar untuk akur. Sudah cukup bagi Denial mengganggu dua sejoli itu, dia pun pamit pergi karena ada janji dengan teman SMAnya. Zarra dan Chris pun mengantar Denial sampai keluar restoran dan Denial pun pergi. Zarra kembali kekantornya untuk melanjutkan beberapa pekerjaan, dan Chris mengikuti Zarra ke kantor dari belakang.


Chris menunggu Zarra di ruangannya sambil bermain game sampai Zarra selesai bekerja. Senang rasanya bagi Zarra ada yang menunggunya kali ini. Sungguh bersyukur rasanya dia bisa memiliki Chris, pria yang mencintainya dan dia cintai. Dia berharap semoga tidak berpisah lagi dengan Chris. Hari sudah mulai sore dan pekerjaannya pun selesai. Chris mengajak makan malam di rumahnya karena Nela mengundangnya. Zarra pun mengirim pesan ke Marry dan Edison agar mereka tidak kecarian.


“ Halo Zarra, senang bertemu denganmu lagi. “ sapa Nela terhadap Zarra yang baru saja sampai bersama Chris.


“ Halo tante, apa kabar tante? “ tanya Zarra.


“ Tante baik kok, kamu juga gimana? Maafin tante ya akan kesalahan tante dulu yang memisahkan kamu dengan Chris. “ kata Nela dan menundukkan kepalanya karena merasa bersalah dulu dia memaksa Zarra untuk menjauh dari Chris.


“ Tante, itu semua sudah berlalu. Lupakanlah, Zarra sudah memaafkan tante dari dulu. “ jawab Zarra dengan senyum tulusnya.


“ Pada bicara ap aini para wanita cantik. “ kata Chris yang baru saja dari kamar habis mengganti bajunya dan duduk disamping Zarra.


“ Kalau wanita pasti biasanya kalo ga menggosip biasanya menggibah. “ sahut Ares.


“ Wah menggibah itu dosa loh. Bagi tau dong apa yang digibah. “ kata Chris dengan wajah yang kepo.


“ Kamu mau tau? “ kata Zarra dengan menaikkan satu alisnya.


“ Mau dong. “ jawab Chris.


“ Gaboleh, ini rahasia wanita. “ kata Zarra dengan senyum usilnya.


“ Dasar nenek lampir pelit. “ kata Chris pelan namun terdengar oleh Zarra.


“ Apa kau bilang?! “ kata Zarra dengan nada yang sedikit tinggi.


Nela dan Ares tertawa melihat keributan kecil yang disebabkan oleh anak dan calon menantunya, suasana rumah itu jadi ramai karena mereka berdua. Tiba-tiba datanglah Ferga dan lansgung mengambil tempat duduk serta menyendokkan nasi dengan wajahnya santainya tanpa sadar bahwa sedang ada yang menatapinya. Ferga pun langsung menyantapnya tanpa menggubrisnya.


“ Kenapa kau disini? “ tanya Chris yang merasa terganggu dengan kedatangan Ferga.


“ Kau lihat kan aku disini sedang makan. Ya pasti untuk makanlah. “ jawab Ferga.


“ Perasaan aku tidak mengundangmu, kau juga kan bisa makan dirumahmu sendiri. “ kata Chris tidak suka dengan kehadiran Ferga, oh apa kali ini dia juga tidak bisa berduaan dengan Zarra?


“ Tante Nela yang mengundangku. Memangnya kenapa? Kau takut aku akan mengganggumu dengan Zarra? Tenang saja aku tidak segabut itu. “ jawab Ferga seakan tau apa yang dipikirkan oleh Chris sambil menyuap makanannya laggi ke dalam mulut.


“ Sudah lh Chris biarkan saja, lagian kan dia sepupumu juga tidak apa kan dia ikut makan juga? Benar kan tante? “ ujar Zarra membela Ferga.


Ferga tersenyum penuh kemenangan, dia dan Denial memang sudah bersekongkol untuk mengerjai Chris dan saat dia tau Zarra akan malam dirumah Chris, Ferga pun punya rencana untuk mengerjainya. Chris melihat Ferga yang tersenyum aneh begitu pun curiga karena Ferga seperti nya sengaja datang untuk mengusilinya, “ Tidak akan aku biarkan Ferga. “ batin Chris dalam hati.


Selesai makan Chris mengajak Zarra untuk duduk ditaman dan meminta pelayan untuk membawakan minuman kaleng untuk mereka berdua bersantai. Zarra menceritakan masa-masa dia di paris selama menjalankan perusahaan, Chris merasa bersalah karena tidak bisa menemani kekasihnya yang sedang mengalami masa sulit disana. Untung saja Zarra adalah wanita yang kuat dan cerdas jadi dia bisa melewati semua itu sendiri. Chris juga menceritakan tentang persidangan Riana, Zarra sempat kaget bahwa tantenya akan dijatuhi hukuman mati namun Zarra merasa lega karena Ferga meminta keringanan dan memberinya hukuman penjara seumur hdiup saja.


Chris dan Zarra berkeliling disekitar taman yang luas itu sambil memandang langit malam, rasanya mala mini sangat indah karena didampingi oleh orang yang sangat dicintai. Zarra memang bukan wanita pertamanya namun Chris berjanji dan menetapkan bahwa Zarra adalah wanita terakhir baginya, tiada yang lain dihatinya. Ingin rasanya bagi Chris untuk segera menikahinya, namun dia mencari waktu yang tepat untuk melamarnya.


“ Chris, berjanjilah kau tidak akan pernah meninggalkanku. “ ujar Zarra dan menoleh ke arah pria yang dicintainya.


“ Tanpa berjanji pun aku akan selalu disisimu wanitaku. “ jawab Chris sambil berjalan ke arah Zarra.


“ I’ll trust you my boy. “ balas Zarra dengan senyum manisnya.


Sungguh Chris sangat candu melihat senyumnya Zarra yang selalu membuat hatinya tentram dan nyaman selalu. Dia berjanji akan selalu membuat wanita tersenyum dan jika dia membuat wanita itu menangis dia akan menghukum dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga wanita dengan baik. Chris semakin mendekat dan memeluk erat Zarra. Zarra pun membalas pelukan Chris, dan tidak sadar dia menitikkan air mata, air mata bahagia. Rasa cintanya ke Chris lebih besar daripada rasa cintanya ke Kean dulu, dia sangat tidak ingin kehilangan Chris untuk kedua kalinya. Dia berjanji pada dirinya akan menjaga cinta ini tetap utuh dan tidak ada yang boelh merusaknya.