You Are My Life

You Are My Life
Chapter 27. Siapa pelakunya?



Edison dan Marry sedang duduk di meja makan untuk sarapan, tiba-tiba ponsel Edison berbunyi dan dia pun langsung membuka hpnya. Dia mengerutkan kening karena mendapat pesan dari unknown number, Edison pun langsung membukanya dan melihat pesan bergambar.


Pesan bergambar itu adalah foto Zarra tanpa busana yang sedang tidur dengan pria lain. Marry pun bingung melihat suaminya yang sepertinya terkejut lalu Marry pun melihat foto yang berada di hp Edison juga dia ikut terkejut melihat foto anaknya.


“ Apa ini benar ini Zarra? “ ucap Marry dengan khawatir dan tidak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya.


“ Tentu saja ini Zarra anak kita. Kita tanyakan saja langsung padanya apa maksud dari semua ini. “ kata Edison dengan nada marah.


Zarra baru saja selesai bersiap dan langsung menuju ke ruang makan dia pun langsung duduk begitu juga dengan Devan yang baru saja datang dari kamarnya. Marry dan Edison membiarkan mereka sampai selesai makan baru akan bertanya kepada Zarra. Devan merasakan aura yang aneh karena menatap ayahnya yang sepertinya sedang marah entah karena itu, sedangkan Marry dengan wajah yang khawatir menatap kea rah adiknya. “ Semoga tidak ada apa-apa. “ gumamnya dalam hati.


setelah selesai sarapan, Edison membuka suara dan tanpa basa basi langsung bertanya ke Zarra, “ Zarra apa maksud dari semua ini? “ Edison menyodorkan hpnya dan menunjukkan foto Zarra yang tanpa busana itu. Karena penasaran Devan pun ikut melihatnya.


Zarra terkejut melihat fotonya yang sedang terbaring tanpa busana dengan pria asing. Dia mencoba mengingat kejadian tadi malam tapi tidak bisa, saat mencoba mengingatnya kepalanya terasa pusing. “ Aku tidak tahu pa. apa papa percaya dengan foto ini? Bisa saja ini hanya untuk menjebakku. “


“ Tapi ini memang benar kamu Zarra, jelaskanlah pada kami. Kami tidak akan marah. “ ucap Marry dengan lembut.


“ Zarra jelaskan pada papa, jangan bikin keluarga kita malu. Kalau keluarga Stanford sampai mengetahuinya mau taruh dimana muka papa. “ ucap Edison yang sudah sangat emosi.


“ Pa beneran, Zarra gak tau apa-apa. Bahkan Zarra gak tau itu kapan, Zarra juga gak pernah berhubungan dengan pria lain. “ ucap Zarra berusaha menjelaskan agar kedua orang tuanya percaya. “


“ Pa, aku percaya pada Zarra. Tidak mungkin Zarra seperti itu, bisa saja memang ada yang ingin menjebak Zarra dan mempermalukan keluarga kita. “ Devan berusaha menengahi dan membantu Zarra agar orangtuanya percaya.


“ Kamu jangan terus-terusan bela adik kamu Devan. Kalau bukan Zarra lalu ini siapa? “ Edison sudah tersulut emosi dan tidak mempercayai kedua anaknya.


“ Aku gak tau harus jelasin gimana lagi ke papa. Aku pergi dulu. “ Zarra pun berdiri dan beranjak pergi masuk ke mobil dimana Tian sudah menunggu.


“ Anak itu ! “ geram Edison yang ingin menghampiri Zarra namun ditahan oleh Marry.


Zarra mencoba mengingat kembali hari kemarin tapi rasanya tidak bisa, kepalanya semakin pusing jika mnecoba mengingatnya terus. Dia sangat bingung foto itu darimana dan saat kapan. Ponsel Zarra pun tiba-tiba berbunyi dan Zarra langsung membuka pesan yang ia terima, pesan itu berisi “ prepare for your destruction “. Zarra mengerutkan kening dia bingung ini pesan dari siapa.


“ Tian, apa yang terjadi semalam? Setelah makan malam kita dengan pak Yabes? “ tanya Zarra yang ingin mengetahui apakah ada sebuah kejadian yang tak disangka.


sambil menyetir Tian pun menjawab, “ Semalam selesai makan malam kita langsung pulang dan anda diantar oleh Tuan Chris. “


“ Chris? “ gumam Zarra. Dia pun langsung menghubungi kekasihnya apa iya Chris memang mengantar dan menjemputnya.


“ Halo sayang, ada apa menelponku pagi-pagi gini? Kamu pasti kangen kan? “ ucap Chris yang sudah sangat merindukan kekasihnya.


Mendengar suara Chris membuat Zarra merasa tenang dan ingin rasanya mengambil cuti dan bertemu dengan kekasihnya namun tidak bisa karena dia harus menyelesaikan pekerjaannya sampai tuntas, “ Iya, aku kangen banget sama kamu. Sayang, aku mau bertanya sesuatu. “


“ Silahkan sayang. “ jawab Chris sambil memutar pena di jarinya.


“ Apa kamu kemarin datang ke restoran yang berada di hotel Crystal? “ tanya Zarra langsung.


“ Tidak, seharian aku di kantor dan langsung pulang kerumah. “ jawab Chris lalu dia berpikir sejenak dan merasa heran kenapa Zarra menanyakan itu. “ Ada apa sayang? Apa ada sesuatu buruk yang terjadi? “ tanya Chris dengan khawatir.


Zarra pun menjawab dengan tenang dan tidak ingin membuat Chris khawatir dan mengganggu kerjaan kekasihnya, “ Tidak sayang aku hanya bertanya karena aku seperti melihat dirimu disana saat makan malam dengan klienku. “


“ Sepertinya kamu sangat merindukanku ya sampai haluin aku? “ jawab Chris sambil terkekeh.


“ Iya nih aku emang kangen banget sama kamu. “ ucap Zarra yang sudah sampai di perusahaannya dan berjalan menuju keruangannya di ikuti oleh Tian dari belakang.


“ Sayang, aku tutup dulu ya telponnya, aku ada meeting sekarang. Nanti aku akan menghubungimu lagi. “ kata Chris pamit ke Zarra untuk pergi meeting.


“ Iya sayang. “ jawab Zarra lalu langsung mengakhiri panggilannya, Zarra kembali berpikir kalo Chris tidak menjemputnya lalu siapa? Dan apa benar di foto itu dalah dirinya?


“ Tian tolong selidiki soal kemarin, dan soal Chris yang menjemputku itu sama sekali tidak karena sepertinya ada seseorang yang ingin menjebakku. “ perintah Zarra lalu dia duduk di kursinya dan membuka laptopnya dan mulai bekerja.


“ Baik nona. “ jawab Tian singkat. Tian mengambil ponselnya dan menelpon anak buahnya, memerintah mereka untuk memeriksa cctv di hotel Crystal tentang apa yang terjadi kemarin. Dari awal pun dia memang sudah curiga saat mendapat pesan dari nona Zarra dan ternyata dugaannya memang benar.


Tak lama Zarra mendapat kirimin paket berupa amplop coklat besar, sekretarisnya pun mengantarkannya ke ruangan Zarra dan langsung memberikannya ke Zarra. Zarra yang sedang fokus mengerjakan pekerjaan langsung menerima amplop dari Nina dan langsung membukanya. Sebenarnya dia sangat bingung ini paket apa karena dia tidak pernah memesan apapun.


Zarra pun langsung merobek foto itu karena emosi, dia memijat keningnya yang sangat pusing karena masalah yang sedang dihadapinya entah siapa yang mencoba menjebaknya. Awalnya dia memikirkan bahwa ini adalah rencana Riana namun dia pun kurang yakin karena beberapa waktu ini Riana tidak mengganggunya.


Tian memberi informasi yang dia dapat dan langsung menyampaikan pada Zarra, Tian menunjukkan rekaman cctv kemarin bahwa ada beberapa orang yang menggotongnya ke kamar Presiden Suite. Namun orang-orang itu memakai masker dan orang yang mebukakan pintu membelakangi kamera karena itu wajahnya tidak terlijhat.


Brakk!! Zarra menggubrak meja melihat rekaman yang baru saja dilihatnya ternyata memang benar bahwa ada kejadian yang tidak disangka. Zarra pun tiba-tiba ingat sehabis makan kemarin dia langsung merasa pusing dan mungkin ada sesuatu di dalam minuman atau makanan itu.


Zarra meminta Tian untuk mendatangi restoran itu dan mencari tahu obat apa yang dimasukkan. Tiba-tiba Zarra memikirkan Chris, dia takut kalo Chris mengetahuinya dia pasti akan sangat marah. Zarra sedang dalam keadaan dilemma apakah dia akan memberi tahunya ke Chris atau tidak.


Riana baru saja sampai di perusahaan Zarra dan dia langsung menuju ke meja receptionis untuk menanyakan ruangan Zarra berada dimana. Recptionis itu pun menjelaskannya dengan ramah dan menawarkan untuk mengantarkannya keruangan Zarra. Dengan senang hati Riana mengikuti receptionis itu. Dia berjalan dengan senyum penuh kemenangan karena sekarang Zarra pasti sedang kebingungan dan sangat panik. Mereka pun sampai di ruangan Zarra, dan dia mengetuk pintunya Zarra menyuruh untuk langsung masuk saja. Receptionis itu pun membukakan pintu dan mempersilakan masuk lalu kembali ke tempatnya.


“ Halo keponakan ku, apa kabar? “ ucap Riana lalu langsung duduk di sofa.


Zarra menatap tidak suka terhadap tantenya dan menjawab singkat, “ Baik. “


“ Apa kau tidak menanyakan kabar tantemu? “ ujar Riana dengan nada sedih yang dibuat-buat.


“ Aku rasa itu tidak penting. “ jawab Zarra dengan cuek yang masih fokus menatap ke arah laptopnya.


Riana berdiri dan menghampiri Zarra, saat melihat amplop dia mengambil dan membukanya lalu berpura-pura terkejut, “ Foto apa ini Zarra? Dan bersama siapa kau ini? “


Zarra melirik ke arah Riana dengan cepat dia langsung merampas foto yang ternyata masih tersisa di dalam amplop. “ Bukan urusanmu. “


“ Bukan urusanku? Ini bisa membuat malu keluargamu, bagaimana jika orang lain tahu dan juga publik? Bagaimana jika tunanganmu mengetahuinya? Aku yakin dia pasti akan sangat marah. “ Riana menyilangkan kedua tangannya didada sambil menatap Zarra dengan berpura-pura sendu.


“ Tidak usah sok khawatir, aku tahu ini rencanamu tante. “ Zarra berusaha sabar dia tidak ingin tenaganya habis hanya karena meladeni wanita ini.


“ Apa kau ada buktinya menuduhku? “ kata Riana dan tersenyum sinis.


“ Cepat atau lambat aku menemukannya. Keluarlah aku sedang sibuk atau aku akan memanggil security? “ usir Zarra yang sangat terganggu daritadi dengan kedatangan Riana.


“ Wah santai sayang, tante akan pergi tanpa kau suruh. “ Riana pun berjalan keluar dari ruangannya, namun dia berhenti sejenak dan menoleh ke arah Zarra, “ Sebaiknya kau harus bersiap untuk sesuatu yang besar keponakanku. “ ucap Riana lalu pergi keluar dari ruangannya dan perusahaan Zarra. Dia pun masuk ke dalam mobilnya dan meminta supir untuk mengantarkannya ke cafe tempat dia dan Aldi akan bertemu kembali.


Tak sadar ternyata dari tadi Ferga mengawasinya langsung dan mengikuti mobil Riana sampai cafe itu. Saat Riana turun dia pun ikut turun, dia menyamar menjadi pengunjung cafe itu, Ferga sudah menyuruh orangnya juga untuk menyamar menjadi pelayan cafe dan berpura-pura menjatuhkan minuman untuk menaruh penyadap dengan cepat.


Ferga membuka laptop dan memasang headset untuk mendengarkan pembicaraan Aldi dan Riana di ruang vip yang tertutup yang sudah disewanya. Ferga hanya mengangguk ngangguk mendengar apa yang dibicarakan oleh Aldi dan Riana sedangkan Ragan dan Jodes hanya geleng-geleng saja melihat Ferga. Jodes memutarkan jari telunjuk disamping kepala mengeskpresikan bahwa Ferga sepertinya gila dan Ragan pun hanya tertawa saja.


“ Sepertinya kau sangat asik sampai berlagak seperti dj kepala ngangguk mulu. “ kata Ragan sambil menyantap roti sandwichnya.


“ Kau tahu? Bahkan ini lebih asik dari mendengar music. “ Ferga mengacungkan jempol ke arah Jodes dan Ragan.


“ Sepertinya kita harus memesan rsj buat jaga-jaga kalo kak Ferga beneran jadi gila. “ ucap Jodes sambil tertawa kecil.


“ Aku setuju. “ Ragan mengacungkan jempol ke arah Jodes lalu tertawa kemudian dia terbatuk karena sedang mengunyah makanan.


“ Itulah karma karena telah mengataiku. Lihat rotimu sampai keluar dari mulutmu. Ckck jorok sekali kau Ragan. “ Ferga mengejek Ragan karena roti yang keluar akibat Ragan batuk.


Jodes pun tertawa melihat Ragan begitu juga dengan Ferga, Ragan langsung minum untuk meredakan batuknya. Ferga pun fokus mendengar tentang pembicaraan Riana dan Aldi. Ragan yang sangat penasaran langsung menyopot satu headset dari telinga Ferga dan memasangnya ke telinganya dia pun agak terkejut mendengar rencana kotor Aldi dan Riana apalagi tau bahwa mereka mencoba menjebak adik sepupu yang sangat disayanginya itu.


“ Kak aku juga mau dengar dong. “ Jodes mendekatkan telinganya ke Ragan namun Ragan malah mendorongnya dan mendapat cubitan di perut dari Jodes, Ragan pun meringis kesakitan.


Jodes langsung menyopot headset dari telinga Ragan dan langsung mendengarnya, “ Wah mereka memang sangat jahat. Sampai kapan kita biarkan mereka terus menjalankan rencana mereka? “


“ Sampai mereka di titik tertinggi lalu setelah mereka merasakan kemenangan kita jatuhkan mereka dengan sekali tembak. “ jawab Ferga dengan senyum penuh arti karena dia sudah membuat rencana matang-matang dan Ragan mempercayai semuanya ke Ferga.


“ Aku tidak sabar akan hari itu. “ sambung Ragan.


Riana dan Aldi pulang sedangkan Jodes, Ferga dan Ragan baru saja keluar dari cafe itu dan menatap kepergian kedua orang jahat itu. Mereka tersenyum penuh arti dan berharap semoga rencana yang sudah mereka susun berhasil. Walau harus membiarkan Zarra untuk jatuh sementara sebenarnya tidak tega tapi ini semua juga demi menyingkirkan Riana.