You Are My Life

You Are My Life
Rasa Penasaran



Pada saat jam kuliah telah selesai, seperti biasa Disti berlalu pergi dari kelas menuju pohon di belakang kampus. tempat dimana dirinya mengerjakan tugas kampusnya, tempat yang menjadi temannya selama kurang lebih 2 tahunan. namun saat melintasi lorong yang menuju ke arah belakang kampus tiba-tiba,,,


Brughhh..


Badannya menabrak benda kokoh yang sangat keras hingga dia terpental ke belakang. iya dia memang tidak melihat ke arah depan karena sibuk mencari kunci kamar kosannya. dia lupa menaruhnya dimana.


"Maaf" lalu berdiri dan berlalu pergi tanpa melihat atau pun menengok orang yang dia tabrak. padahal dia sudah mendapat teguran. Ahhh. mereka mungkin tak mengenal sosok Disti yang bahkan tak peduli dengan yang ada di hadapannya.


Setelah kepergiannya orang tersebut masih berkutat dengan pikirannya.


Apa wajahku sudah tak tampan lagi, hingga gadis itu langsung berlalu pergi? Atau gadis itu buta? eh tidak mungkin dia masih bisa berjalan normal !! Lalu kenapa dia tidak tertarik melihatku. padahal dia sudah menyentuh dadaku, harusnya dia terpesona. Ah apa yang aku pikirkan? sudahlah.


"Hei,,,, Thian,,,, wah parah nih anak sudah berulang kali gue manggil loe?" ujar Bisma dengan hebohnya.


"emm" jawab Thian singkat. lalu mereka meninggalkan kampus itu menuju restoran milik Fathian.


Sedang di belakang kampus Disti sedang asyik menyelesaikan tugasnya hingga jam menunjukkan jam satu siang. dia pun bergegas menyerahkan tugas itu ke ruang dosen dan setelah itu dia langsung menuju tempat kerja.


Iya,,, sejak kematian orang tuanya dia bekerja hanya untuk menyambung hidupnya, syukur biaya kuliahnya dia dapat dengan beasiswa jadi tak perlu di pikirkan. gajinya hanya cukup membayar kos dan makan sehari-hari meski kadang dia harus berpuasa kala uang gajinya sudah tak mencukupi, akibat harus beradu dengan banyaknya tugas kampus.


Wajah cerianya dan sifat periangnya dulu kini hilang entah karena kehidupannya keras atau yang lain. dia seperti gadis tanpa ekspresi.


Perjalanan dari kampus ke restoran sekitar 45 menit, sebenarnya jika dengan transportasi hanya butuh 10 sampai 15 menit saja. namun Disti hanya bisa berjalan kaki. dia harus mengirit uangnya karena banyak kebutuhan yang kadang tak terduga. setelah lelah berjalan dia sampai di restoran tempatnya bekerja.


"Huft,,," menghembuskan nafasnya kasar. dia langsung. kemudian berjalan keruang ganti untuk memakai pakaian kerjanya. Disti sudah 6 bulan bekerja dan selalu masuk siang. karena dia ada kuliah pagi siang sampai malam dia free jadi dia gunakan untuk bekerja. jika dulu dia masih bergantung pada sisa tabungan yang dia miliki ,namun tidak senang sekarang dia harus bekerja keras demi cita-citanya.


Sejak kapan dia jadi karyawan di restoran ku. Ahhh.. gila,,, ini gila kenapa aku malah tertarik pada gadis itu? sedang dia tak tertarik padaku bahkan tak menatapku!! batin Thian.


"Disti kau di minta untuk membawakan makanan ini ke meja yang di pojok sana?" suara temannya membuatnya menoleh dan menatap lurus meja yang di tunjuk temannya yang kemudian di jawab anggukan oleh Disti.


Setelah mengambil makanan yang di pesan orang di meja pojok dia langsung menghidangkannya.


"Silahkan di nikmati !!!" ucap Disti setelah makanan terhidang. tak ada sahutan dari mereka bertiga. sehingga Disti langsung pamit undur diri.


Setelah kepergian Disti Zoni yang tersadar lebih dahulu langsung menjentikkan jarinya di udara. "Iya.. benar.. dia gadis di kampus yang bertabrakan dengan loe" sambil menunjuk Thian yang kebetulan di hadapan Zoni saat itu.


"Eh,, loe kalau mau bikin jantungan orang lihat-lihat dong. di sini semua pria tampan jangan sampai mati mendadak gara-gara loe" sahut Bisma dengan memukul lengan sahabatnya itu.


"Hehe.. sorry sorry. tapi yang gue heran dia bahkan gak histeris kayak gadis kampus kebanyakan. apa penglihatan dia agak kabur iya?" tanyanya entah pada siapa, Thian or Bisma yang jelas dia butuh jawaban.


"Kalian seperti perempuan saja, mau makan atau masih mau bergosip.?" ucap Thian dengan mode satu yang artinya mau tidak mau, suka tidak suka mereka harus berhenti membahas gadis itu.


"Ya ya baik lah!!! kau selalu saja mematahkan rasa penasaran kami" ucap Zoni dengan malas. sebenarnya bukan hanya Zoni dan Bisma yang penasaran pada gadis itu, tapi juga Thian yang juga penasaran sehingga dia tak bisa fokus dengan keadaan sekitarnya. makanan yang terhidang pun sama sekali tak iya sentuh.


💞 YOU ARE MY LIFE💞


di tunggu like dan komennya.!!!


terima kasih sudah mampir