
“Irene, kan?”
Tiba-tiba aku mendengar suara yang sangat familier memanggil namaku.
Benar saja, di hadapanku kini berdiri seseorang yang sangat kukenal dulu. Dia adalah salah satu teman dekat Alan.
“Gerald?”
Dia masih tersenyum ramah seperti dulu. Tapi penampilannya kini sudah banyak berubah. Tidak ada tindikan, warna rambut alami, dan pakaian yang rapi. Jauh dari kesan anak band. Seorang wanita berdiri di sampingnya, yang aku asumsikan adalah pasangannya.
“Oh, kamu masih ingat denganku rupanya. Bagaimana kabarmu dan Anya sekarang?”
“Kami baik-baik saja. Bagaimana denganmu?”
“Aku baik,” lalu tangannya merangkul pundak wanita di sampingnya, “Perkenalkan ini istriku, Lisa. Kami baru sebulan menikah.”
Aku pun berkenalan dengan istrinya dan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka berdua. Lalu pandangan Gerald mengarah pada Eric yang berada dalam gendonganku.
“Dia anakmu?”
“I-Iya,” aku hanya mengiyakan tanpa menjelaskan lebih jauh.
Aku melirik ke arah restoran, belum ada tanda-tanda Beny dan Anya keluar. Jujur aku kurang nyaman bertemu dengan Gerald yang merupakan teman Alan. Bisa saja dia memberi tahu Alan tentang pertemuan kami ini.
“Anya tidak bersamamu?” Gerald Kembali bertanya.
“Irene, siapa dia?”
Belum sempat aku menjawab, Beny sudah berdiri di sampingku dengan menggandeng Anya yang sedang memakan es krim.
Aku bernapas lega mengetahui Beny sudah berada di dekatku. Bukannya aku menganggap Gerald orang jahat atau sebagainya. Fakta bahwa dia adalah salah satu orang yang dekat dengan Alan cukup menggangguku.
“Dia teman lamaku. Namanya Gerlard. Gerald, ini Beny suamiku.”
“Halo, aku Gerald,” dia mengulurkan tangannya pada Beny, Beny pun menyambutnya, “Beny.”
Kemudian Gerald berlutut di hadapan Anya, “Oh, apa ini Anya? Sudah besar rupanya!”
Anya tampak kebingungan dengan perkataan Gerald. Dia melirik ke arahku lalu ke arah Gerald lalu ke arahku lagi. Aku hanya tersenyum dan mengangguk pada Anya, mengisyaratkan bahwa pria di hadapannya itu bukan orang asing.
“Om kok kenal Anya? Kita 'kan belum kenalan?” tanya Anya heran.
“Kata siapa? Om sudah kenal Anya sejak Anya masih kecil loh.”
“Oh ya?” dia semakin penasaran.
“Dulu Om itu–”
“Umm... Maaf, Gerald. Kita buru-buru harus pulang. Eric butuh istirahat,” buru-buru menyela sebelum Gerald berbicara lebih jauh. Aku takut dia akan menyinggung soal Alan di depan Anya.
Kudorong punggung Beny agar segera menjauhi tempat ini. Begitu pun juga Anya. Belum jauh kami berjalan, Gerald kembali memanggil namaku. Mau tak mau aku berhenti dan menoleh padanya.
“Aku lupa sesuatu,” kemudian dia menyodorkan sebuah selebaran, “Kami baru saja membuka kafe di dekat sini. Mampirlah kapan-kapan.”
Dengan ragu aku menerima selebaran itu.
Melihat gelagatku, Gerald kembali tersenyum, “Tenang, Irene. Aku sudah lama tidak berhubungan dengan Alan. Kamu tidak perlu merasa tidak nyaman denganku.”
“Ma-Maaf, Gerald. Aku tidak–”
“Tidak, apa-apa. Aku paham perasaanmu. Maka dari itu, kapan-kapan berkunjunglah bersama keluargamu. Oke?”
Aku membalas senyumnya, “Ya, tentu.”
...
Saat di dalam mobil, atmosfer masih terasa berat bagiku. Entah kenapa, kegelisahan masih membelenggu hatiku. Walaupun Gerald sudah menjelaskan bahwa dia sudah tidak berhubungan lagi dengan Alan.
“Lelaki itu, sebenarnya dia siapa? Kamu terlihat gelisah saat bertemu dengannya,” tanya Beny tiba-tiba.
“Kamu membencinya? Maksudku mantan suamimu.”
Kali ini aku benar-benar tak ingin menjawabnya. Tanganku mengelus rambut Anya yang sedang menatapku dengan penasaran, seakan ingin mendengar ceritaku. Mungkin dia masih belum mengerti masalah ini, tapi aku yakin dia akan mengingat perkataanku hari ini. Aku tak ingin membahasnya di depan Anya. Tidak sekarang.
“Maaf, mungkin kita bahas lain kali,” untungnya Beny mengerti maksudku dan menghentikan pembicaraan ini.
“Ya, terima kasih.”
...
Tiga hari kemudian, aku memenuhi janjiku pada Gerald. Aku mengajak Beny dan anak-anak untuk berkunjung ke kafenya.
Kafe itu berlokasi di dekat pusat perbelanjaan, sehingga suasanya lumayan ramai walaupun hari ini bukan akhir pekan. Menu di sini juga menarik. Tak hanya menyediakan kopi, tapi juga berbagai macam minuman olahan susu dan kue. Sehingga tak hanya orang dewasa yang bisa menikmati, tapi juga anak-anak.
Gerald dan istrinya menyambut kami saat kami datang, lalu mempersilahkan kami duduk. Sembari menunggu pesanan, Anya ingin melihat proses pembuatan waffle yang ia pesan, sehingga Beny beserta Eric menemani Anya ke kitchen counter untuk melihat juru masak membuat pesanannya.
Aku duduk di temani Gerald, sedangkan istrinya melayani pengunjung lain.
“Irene. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan,” nada bicara Gerald yang serius sedikit membuatku takut.
Kegelisahan juga tampak pada raut wajahnya, “Sebenarnya kemarin Alan datang ke sini.”
Mendengar kalimat Gerald, spontan aku berdiri dari dudukku. Napasku tersengal dan tanganku berkeringat. Kepanikan menyerangku. Ketakutanku perlahan mendekat.
“Irene, tenangkan dirimu,” Gerald kembali menyuruhku untuk duduk. Dengan lemas, aku kembali mendudukkan diriku, “Dia menanyakan tentangmu dan Anya. Tapi aku bersumpah, aku tak mengatakan apa pun tentang kalian.”
“Be-Benarkah?”
“Benar. Aku tidak akan mengatakan apa pun padanya jika itu maumu. Aku sudah cukup bersalah padamu karena kejadian empat tahun lalu,”
Aku hanya menggeleng lemah. Sebenarnya Gerald tak perlu merasa bersalah. Justru aku berterima kasih padanya, karena aku bisa segera mengetahui kebusukan Alan.
“Sebenarnya beberapa hari lalu aku juga dihubungi oleh pemilik apartemen tempat tinggalku sebelumnya. Dia bilang Alan mencariku dan Anya,” setelah diam beberapa saat, akhirnya aku angkat bicara, “Apa tujuannya mencari kami sampai seperti ini?”
“Kau sudah bicarakan ini dengan suamimu?”
Aku menggeleng, “Belum. Belum sama sekali.”
“Kurasa kau harus ceritakan ini padanya, Irene. Dia berhak tahu. Dialah satu-satunya orang yang bisa melindungimu dan Anya saat ini.”
Perkataan Gerald ada benarnya. Tapi apakah masalah ini penting bagi Beny? Bagaimana jika masalah ini hanya menambah bebannya? Aku tak ingin itu terjadi.
Tapi Beny lah satu-satunya orang yang bisa menolongku. Gerald mungkin bisa menolongku tapi dia tak bisa bertindak lebih jauh karena dia bukan siapa-siapa.
“Mama! Lihat, waffleku warna pink!”
Pikiranku terpecah oleh seruan Anya. Aku mencoba tersenyum melihatnya. Dia menunjukkan piring berisi waffle dengan satu skup es krim di tengahnya. Diikuti Beny yang sedang menggendong Eric di belakang Anya.
Kemudian Gerald pamit untuk melayani pengunjung lain. Kami pun menikmati pesanan kami yang sudah tersaji di atas meja.
Namun aku masih menimbang perkataan Gerald tadi. Tanpa sadar aku mengarahkan tatapanku pada Beny. Merasa ditatap Beny balik menatapku dengan heran.
“Ada sesuatu di wajahku?” tanyanya.
Tersadar dengan tindakanku, aku mengalihkan pandanganku, “Ah, tidak. Bukan. Aku hanya memikirkan hal lain.”
“Hmm...” dia pun melanjutkan kegiatan makannya.
Mungkin aku harus memberitahu Beny secepatnya.
.
.
.
Bab 9 ((END))