
“Hmm... Hmm... Hmm...”
Aku bersenandung kecil sambil menyiram tanaman yang ada di taman belakang. Eric dengan nyaman kugendong di punggungku. Hari ini dia sama sekali tidak mau ditinggal sedetik pun. Jauh dariku sebentar saja langsung menangis. Bahkan saat bersama papanya pun begitu.
Sehingga hari ini tak banyak yang bisa kulakukan seperti biasa. Pagi ini yang bisa kukerjakan dengan lancar hanya menyapu rumah dan halaman. Untuk memasak dan menyiapkan bekal Anya dibantu oleh Mas Beny. Mungkin sisanya bisa kulanjutkan jika Eric sudah tidur.
Sedangkan Mas Beny masih belum kembali setelah mengantar Anya sekolah. Berbicara tentang Mas Beny, aku kembali teringat dengan kejadian kemarin. Tak habis pikir aku bisa bertindak seperti itu. Tanpa pikir panjang aku menarik kepalanya dan menciumnya terlebih dulu. Wajahku kembali memanas mengingatnya.
Sejak kemarin kami belum ada kesempatan untuk berdua. Anak-anak selalu hadir di antara kami. Mereka tidak akan membiarkan kami berdua. Mungkin ini yang dirasakan pasangan suami istri yang sudah memiliki anak, waktu kebersamaan sebagai pasangan akan berkurang. Tapi aku paham bahwa menjalin kebersamaan dengan anak-anak sebagai keluarga memang jauh lebih penting dari apa pun.
Terlebih jika anak-anak masih kecil, mereka akan lebih banyak membutuhkan perhatian orang tua. Seperti Eric sekarang ini. Sejak bangun tidur, dia hanya mau kugendong. Dia juga akan menangis jika kutinggal sebentar saja. Biasanya tidak serewel ini. Entah apa yang membuatnya seperti ini.
Aku tidak bisa melihatnya sekarang, tapi aku bisa merasakan napasnya yang teratur dari punggungku. Mungkin Eric sudah tertidur. Hari ini Eric bangun lebih pagi dari biasanya, pasti dia sangat mengantuk. Syukurlah aku bisa segera mengerjakan pekerjaan yang tertunda.
“Kyaaa!”
Tiba-tiba sepasang tangan memelukku dari belakang. Aku sebenarnya sudah tahu siapa pelakunya, tapi aku panik karena Eric masih berada di punggungku. Khawatir jika dia terjepit di antara kami.
“Mas, Eric!”
Mas Beny kemudian melepaskan pelukannya sambil tertawa kecil. Aku berbalik dan memandangnya kesal. Untungnya Eric tidak terbangun dari tidurnya.
“Tenang, aku pasti berhati-hati, kok. Buktinya dia tidak bangun, 'kan?”
Aku sengaja mempertahankan memasang wajah kesalku, “Mas Beny sendiri tahu, 'kan? Eric dari pagi sudah rewel. Dia sama sekali tidak mau jauh dariku. Masih banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan. Sekarang dia sudah tertidur malah– hmmpp...”
Bukannya meminta maaf, pria ini justru menarik wajahku dan menciumku tiba-tiba. Ciuman itu hanya berlangsung selama beberapa detik. Dia kemudian melepaskanku, tapi kening kami masih saling menempel.
“Kalau kamu marah-marah seperti itu, justru Eric akan terbangun karena kamu terlalu berisik,” ujarnya masih dengan senyum usil.
Semakin kesal, aku memukul dadanya agak keras. Dia mengaduh kesakitan. Tapi aku tahu itu hanya pura-pura.
Kontak fisik sudah mulai menjadi hal biasa di antara kami sekarang. Jika dulu saling duduk berdekatan saja rasanya canggung setengah mati. Sekarang kami sudah tak sungkan untuk mencuri ciuman satu sama lain. Atau berpelukan di depan anak-anak. Anya pun tampak bahagia melihat kedekatan kami.
“Biar Eric kugendong,” aku kemudian berbalik untuk memudahkan Mas Beny menggendong Eric.
Saat berada dalam gendongan papanya, Eric sempat merasa terusik tetapi untungnya kembali tenang. Aku kembali bernapas lega. Kami akhirnya memutuskan untuk masuk ke rumah.
RIIING RIIING RIING
Ponselku berdering ketika kami hendak masuk ke kamar untuk menidurkan Eric. Aku berhenti di depan pintu dan melihat siapa yang menelepon. Senyumku langsung turun begitu melihat nama yang tertera di layar ponselku.
“Siapa?” tanya Mas Beny yang ikut berhenti.
“Alan. Aku akan mengangkatnya dulu.”
Sekilas raut wajah Mas Beny berubah, tetapi dia mengangguk lalu masuk ke kamar bersama Eric. Aku mengangkat panggilan dari Alan.
“Ada apa?” tak ingin berbasa-basi, aku langsung menanyakan tujuannya.
“Aku ingin bertemu Anya minggu ini. Boleh? Aku rindu sekali padanya,” rupanya dia ingin bertemu dengan Anya lagi.
Ini sudah ketiga kalinya dalam kurun waktu dua minggu Alan bertemu dengan Anya. Sebenarnya aku tidak suka jika Anya terlalu sering bertemu dengannya. Tetapi aku juga salah jika melarang mereka untuk bertemu. Terlebih Anya sangat senang ketika bersama ayahnya. Aku pun tidak boleh egois.
“Boleh. Tapi aku yang menentukan tempatnya.”
Dari suaranya dia terdengar senar, “Baiklah, terima kasih.”
“Akan kututup.”
“Satu lagi, Irene,” ujarnya buru-buru, “apa makanan ringan yang disukai Anya?”
Aku heran, kenapa dia bertanya tentang hal itu. Tapi aku tetap menjawabnya, “Dia suka semua makanan manis, terutama puding karamel.”
“Oh, dia masih suka dengan itu ternyata.”
Aku mengernyitkan dahiku, “Maksudnya?”
“Saat kau hamil dulu, kau suka sekali makan puding karamel, 'kan?”
“Untuk waktunya, besok akan kukabari lagi.”
Tak ingin membahasnya lebih jauh, buru-buru aku menutup telepon dari Alan. Bahkan setelah ponsel kujauhkan dari telingaku, aku masih berdiri terdiam di tempatku. Hingga Mas Beny keluar dari kamar.
“Sudah selesai teleponnya? Apa yang dia inginkan?” dia bertanya denganku dengan kekhawatiran di wajahnya.
Aku mencoba tersenyum untuk menghiburnya, “Dia hanya ingin bertemu dengan Anya di hari minggu.”
“Hanya itu?” Mas Beny tampaknya masih ragu dengan jawabanku.
“Ya, hanya itu.”
...
Hari Minggu yang ditunggu-tunggu oleh Anya akhirnya tiba. Pada hari itu setelah Anya pulang sekolah, aku langsung memberitahu Anya bahwa Alan ingin bertemu dengannya, dia langsung senang. Anya sendiri yang memutuskan tempat untuk kami bertemu, yaitu di taman kota.
“Anya ingin diajari bersepeda tanpa roda oleh Papa Alan.”
Itulah alasannya.
Dua hari setelah Anya masuk sekolah, Mas Beny membelikannya sepeda baru. Dan ternyata beberapa temannya sudah bisa menaiki sepeda tanpa roda bantu, Anya pun juga ingin bisa seperti teman-temannya.
Saat aku memberitahu Alan tentang hal itu melalui pesan, dia langsung meneleponku untuk berbicara dengan Anya. Entah apa yang mereka berdua bicarakan, tapi Anya jadi semakin tidak sabar menunggu hingga hari Minggu tiba.
Dan saat kami sampai di taman, ternyata Alan sudah menunggu di lapangan parkir. Begitu pintu mobil dibuka, Anya langsung berlari menghampiri Alan.
“Papaaaa!”
Alan berjongkok untuk menyambut Anya. Mereka berpelukan beberapa saat. Kemudian Alan menggendong Anya dan menghampiri kami yang sedang mengeluarkan barang bawaan, termasuk sepeda Anya dari bagasi mobil. Dia pun menawarkan diri untuk membawakannya. Tangan Mas Beny sudah cukup sibuk membawa tikar dan keranjang piknik. Sedangkan aku menggendong Eric yang masih tertidur.
Alan bisa membawa sepeda kecil itu sambil menggendong Anya tanpa kesulitan. Mereka lalu berjalan mendahului kami. Kulihat Anya sedang bercerita dengan antusias pada Alan. Sesekali Alan tertawa menanggapi celoteh Anya.
Alan saat ini sudah banyak berubah. Terutama sikapnya pada Anya. Itu artinya dia memang benar-benar menyesal dengan tindakannya di masa lalu. Awalnya aku meragukan penyesalannya. Kukira dia hanya beralasan agar kami mau kembali padanya. Tapi ternyata tidak. Dia tetap menyayangi Anya walau pun kami tidak bisa bersama lagi.
Aku tahu bahwa kasih sayangnya kepada Anya adalah tulus. Dan aku yakin Anya pun bisa merasakannya. Dia begitu bahagia dan nyaman saat bersama ayahnya. Walaupun mereka belum lama ini bertemu kembali, tapi kedekatan mereka seperti sudah terjalin selama bertahun-tahun. Ikatan batin antara orang tua dan anak memang tak bisa diragukan.
Kurasakan hangat melingkupi tangan kananku. Kulihat tangan Mas Beny menggenggam tanganku. Aku menoleh padanya dan dia juga tengah menatapku.
Dia lalu mengangkat telapak tanganku dan menciumnya, “Lihat aku juga.”
Aku tertegun sesaat mendengar ucapannya. Apa dia cemburu karena sedari tadi aku memperhatikan Alan dan Anya? Mas Beny cemburu?
“A- Apa-apaan sih, Mas? Kenapa tiba-tiba?” wajahku mulai memerah karena panik dan malu. Ingat, kami sedang di tempat umum.
“Dari tadi kamu hanya melihat ke arah mereka. Tapi kamu mengabaikanku,” dia berkata dengan nada memelas.
“Bukan begitu, Mas. Aku hanya memperhatikan Anya. Dia selalu tampak senang saat bertemu dengan ayahnya. Mereka sangat dekat seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka,” ujarku, “aku minta maaf jika sikapku ini membuat Mas Beny merasa tidak nyaman.”
Aku jadi merasa tidak enak padanya. Karena memang sejak tadi fokusku tertuju pada Anya dan Alan. Dan aku tidak terlalu memperhatikan Mas Beny.
Mas Beny lalu menghentikan langkahnya, aku pun ikut berhenti karena tangan kami masih bertaut. Dia kemudian melepaskan genggaman tangannya dan dia mengelus pipiku lembut, “Hei, itu hanya bercanda. Aku hanya mau menggodamu. Maaf, sepertinya aku kelewatan.”
Aku kemudian tersenyum dan mengangguk. Syukurlah jika itu hanya bercanda. Aku merasa lega mendengarnya.
“Mama, Papa, ayo cepetan. Nanti Anya tinggal loh!”
Teriakan Anya membuat kami menoleh ke arahnya. Rupanya Anya dan Alan sudah cukup jauh di depan kami. Aku hanya melambai padanya, mengisyaratkan bahwa aku mendengarnya. Lalu Mas Beny kembali menggandeng tanganku.
“Ayo!”
.
.
.
Bab 25 ((END))