
Seperti yang Anya inginkan, saat ini dia sedang belajar mengendarai sepeda dengan Alan. Karena ini masih pertama kali, Anya masih sering terjatuh dari sepedanya. Tentu saja Alan dengan sigap menolong dan membantunya untuk bangun kembali. Namun itu belum cukup untuk mengurangi rasa khawatirku.
Anya sendiri masih tetap ceria walau beberapa kali terjatuh. Dia sama sekali tidak menangis atau pun menyerah. Mungkin karena dia sudah menggunakan alat pengaman seperti helm serta pelindung siku dan lutut sehingga aman saat dia terjatuh.
Pandanganku tak lepas untuk mengawasi Anya. Dalam hati aku terus berdoa agar dia akan baik-baik saja. Namun aku tak henti-hentinya berteriak panik ketika Anya terjatuh.
“Anya, hati-hati!”
Teriakku cukup terdengar oleh Anya. Karena jarak kami tidak terlalu jauh. Anya menoleh ke arahku dan melambaikan tangannya, memberitahuku bahwa dia baik-baik saja. Masih memasang raut cemas, aku bahkan belum menyentuh makanan yang kami bawa dari rumah sama sekali.
“Kalau kamu khawatir, kamu temani Anya saja,” ujar Mas Beny padaku.
Aku ingin mengiyakan, tapi kuurungkan niatku. Jika aku ke sana dan bergabung bersama Alan dan Anya, mungkin saja itu akan membuat perasaan Mas Beny tidak nyaman. Bagaimana pun aku ingin menghargai perasaannya sebagai suamiku.
Aku menggeleng, “Tidak, aku lihat dari sini saja. Lagi pula sudah ada Alan yang menjaganya.”
Mas Beny tersenyum. Kemudian dia mengambil kue cokelat yang ada di hadapannya. Tanpa disangka, dia hendak menyuapkannya padaku, “Aaa...”
“Eh? A-Aku bisa makan sendiri, Mas,” tolakku dengan halus. Kuperhatikan orang-orang di sekeliling kami. Tapi untungnya mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Mas Beny masih menyodorkan sendok di depanku, “Sekali saja, ya?”
Masih memerhatikan sekitar, aku menerima suapannya dengan ragu. Kue coklat itu langsung melumer begitu masuk ke mulutku. Rasanya aku belum pernah memakan kue seenak ini.
“Hmm... Enak sekali!”
Mas Beny tertawa melihat reaksiku. Dia kemudian memberiku suapan sekali lagi. Kali ini aku menerimanya tanpa ragu.
“Aku membelinya kemarin bersama Anya, sepulang sekolah. Kamu bahkan tidak menyadari keberadaan kue ini di dalam kulkas,” dia kembali tertawa, tapi aku mengabaikannya.
Kini aku mengambil alih kue itu sepenuhnya. Aku memakannya dengan lahap. Tapi aku berusaha menyisakannya untuk Anya. Dia pasti suka.
“Pelan-pelan saja makannya,” dia mengulurkan tangan kanannya ke arah wajahku, lalu mengusap sudut bibirku dengan lembut.
Sontak tindakkannya membuat wajahku memerah karena malu, “Ma-maaf.”
Aku lalu mengambil sapu tangan dari tasku dan membersihkan area di sekitar bibirku, sekaligus untuk menyembunyikan wajah meronaku.
“Ma, Anya haus!”
Aku langsung mengalihkan atensiku pada Anya begitu aku mendengar suaranya. Dia berlari ke arahku, diikuti oleh Alan di belakangnya. Entah mengapa aku merasa tatapannya berbeda terhadapku. Tapi aku mencoba mengabaikannya dengan tersenyum menyambut Anya.
“Anya nggak apa-apa? Ada yang terluka? Mau Mama pijati kakinya?” begitu Anya duduk, aku langsung mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan.
Anya menggeleng sambil meminum air dari botol minum favoritnya, “Anya nggak apa-apa, Ma. ‘Kan sudah pakai pelindung, jadi enggak sakit pas jatuh. Tadi Mama lihat 'kan? Anya sudah bisa sedikit,” dia kemudian menoleh pada Alan, “nanti kita latihan lagi ya, Pa?”
Alan tersenyum lalu mengelus kepala Anya dengan sayang, “Iya. Sekarang Anya istirahat dulu. Makan dan minum yang banyak biar kuat latihan lagi.”
“Anya mau coba ini? Ini kue yang Anya beli dengan Papa Beny sepulang kemarin loh,” aku menyodorkan kue coklat tadi di depan Anya.
Anya langsung mencicipinya. Begitu kue itu masuk ke dalam mulutnya, wajahnya langsung berbinar, “Enaaakkk!”
Tiba-tiba Alan berdiri dari duduknya, kami semua sontak menoleh ke arahnya.
“Aku mau ke supermarket di seberang sebentar, ada sesuatu yang ingin kubeli,” pamitnya padaku. Sekali lagi dia menatapku dengan pandangan yang tidak biasa sambil menyunggingkan senyum.
“...Ya?” aku masih keheranan melihat perilakunya itu. Ia lalu berjalan setengah berlari menjauh dari kami.
Aku mencoba mengalihkan perhatianku kembali pada Anya, tapi tetap saja pikiranku kembali ke sana. Bukannya aku tidak mengetahuinya, aku tidak sebodoh itu. Aku tahu maksud dari tatapan mata Alan itu. Dia masih berharap padaku.
Dia masih keras kepala seperti dulu. Sudah berulang kali dengan tegas aku menolaknya. Rupanya dia belum menyerah. Terlebih dia dengan terang-terangan menunjukkan sikapnya yang seperti itu di hadapan suamiku. Aku takut jika terjadi kesalahpahaman di antara kami yang membuat Mas Beny terluka. Padahal aku sama sekali sudah tidak ada perasaan khusus pada Alan.
Apalagi hubunganku dan Mas Beny akhir-akhir ini semakin berkembang. Aku tak ingin merusaknya karena hal ini.
“Irene?” sentuhan tangan Mas Beny pada pundakku membuatku tersadar dari lamunan. Dia menatapku dengan heran.
“Huh?”
“Kamu lagi-lagi melamun. Ada apa?”
“Ti-Tidak ada apa-apa. Sungguh,” aku mengambil Eric yang berada di pangkuan ayahnya, “Eric makan sama Mama, ya?”
Aku mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Setidaknya aku tak ingin merusak suasana untuk sekarang. Tapi jika aku tak jujur dari sekarang, mungkin bisa terjadi kesalahpahaman antara kami. Maka dari itu, aku memutuskan untuk bercerita pada Mas Beny.
“Mas,” dia kembali menoleh padaku, “sebenarnya aku...”
“Maaf menunggu lama! Hah... Hah...”
Aku kembali menutup mulutku ketika melihat Alan sudah berada di depan kami. Napasnya terengah dan keringat membasahi dahinya. Sepertinya dia berlari menuju ke sini. Tangannya menenteng kantong plastik putih berukuran sedang.
Dia kemudian duduk di samping Anya dan membongkar kantong plastiknya. Benda pertama yang dia keluarkan adalah puding karamel kesukaan Anya.
Anya lantas meletakkan piring berisi kue coklat tadi untuk menerima pemberian Alan. Ia lalu membuka bungkusnya dengan semangat.
“Papa kok tahu kalau Anya suka puding ini?”
“Pasti tahu, dong! Sejak Anya masih di perut Mama, Anya suka sekali makan puding ini, loh,” jawab Alan dengan santai.
Mendengar jawaban Alan membuat perasaanku tidak nyaman. Inilah yang kuhindari jika bertemu dengan Alan. Aku tak suka membahas masa lalu kami. Meski aku sudah memaafkannya, tapi sulit bagiku melupakan luka yang disebabkannya.
“Oh iya?” Anya kini menoleh padaku meminta penjelasan, “beneran, Ma?”
Kupaksakan senyumku. Namun aku tak sanggup berkata-kata, alhasil aku hanya mengangguk menjawabnya. Mas Beny yang mengetahui gelagatku, kini menggenggam tanganku. Ibu jarinya mengelusku dengan lembut, seperti ingin menenangkanku. Aku pun menggenggamnya balik untuk memberitahunya bahwa aku baik-baik saja.
Meskipun mataku berfokus pada Anya dan Eric, aku tahu bahwa Alan sedang menatapku. Aku bisa merasakannya. Kurasa Beny juga tahu akan hal itu, dia juga tidak berniat untuk melepaskan tautan tangan kami.
“Ah, aku juga membeli ini untukmu, Irene. Ini buah kesukaanmu.”
Alan tiba-tiba mengeluarkan sekotak buah kiwi segar dan menyodorkannya padaku. Sebenarnya aku tidak ingin menerimanya, tapi aku tak ingin menolaknya di depan Anya. Dia akan mengira aku masih membenci papanya.
Aku menerimanya dengan ragu, “Terima kasih.”
“Makanlah.”
“Irene belum makan sejak pagi. Jika dia memakan buah yang masam ketika perutnya dalam keadaan kosong bisa membuatnya sakit perut,” Mas Beny yang sedari tadi diam akhirnya bersuara. Dia mengambil kotak buat dari tanganku dan meletakkannya di bawah.
“Irene biasa memakannya saat pagi sebelum sarapan, dan dia tidak pernah mengeluh sakit perut,” tak mau kalah, Alan mengambil kotak buah itu, dan meletakkannya kembali ke tanganku.
Mas Beny hendak menyentuh kotak itu lagi, tapi aku mendahuluinya dengan meletakkannya di bawah. Aku tak ingin terjadi keributan yang lebih panjang di sini.
“Aku akan memakannya nanti. Sekarang aku harus makan nasi dulu.”
Tanganku berusaha meraih nasi kepal yang sialnya terletak di dekat tempat Alan duduk. Dengan sigap dia mengambilkan nasi kepal itu untukku. Aku hendak menerimanya, namun lagi-lagi Mas Beny mencegahku.
“Irene, makan yang ini saja. Ini masih hangat dan ukurannya lebih besar,” dia memberiku nasi kepal yang sengaja kubuatkan khusus untuknya karena ukurannya lebih besar.
Aku hanya meringis. Nasi kepal itu dua kali atau tiga kali lebih besar dari ukuran nasi kepal biasa, tidak mungkin aku menghabiskannya.
“Kau gila?! Mana mungkin Irene bisa memakan sebanyak itu. Kau mau membuatnya sakit perut?” Alan kembali menaikkan suaranya, merasa kesal dengan tindakan Mas Beny.
“Mana mungkin aku berbuat seperti itu pada Irene. Aku tak memaksanya untuk menghabiskan semua ini!”
“Lalu apa bedanya dia memakan yang ini?”
“Hentikan kalian berdua!” tegurku tak tahan mendengar perseteruan mereka “bisa-bisanya kalian memperdebatkan hal sepele. Di depan anak-anak pula.”
Pandangan kami otomatis mengarah pada Anya yang memasang wajah bingung mendengar percakapan kami. Sedangkan Eric masih asyik menyantap biskuit bayinya.
Meski begitu, Alan dan Mas Beny masih saling menatap dengan pandangan yang seolah bisa membunuh satu sama lain.
“Hentikan atau aku akan benar-benar marah pada kalian!” ancamku untuk terakhir kalinya.
Akhirnya mereka berdua mau menurut dan menundukkan kepalanya masing-masing.
“Maaf,” Alan yang pertama meminta maaf.
Aku kemudian menoleh pada Mas Beny, menunggu permintaan maafnya.
Dia lalu mengangkat kepalanya dan memandangku, tiba-tiba muncul senyum jahilnya, “Maaf, sayang.”
Dengan sengaja dia mengucapkannya dengan keras dan penuh penekanan. Hingga Alan pun melihat ke arah kami.
“Ih, apa sih, Mas? Malu...” panik dan malu, aku mencubit lengan Mas Beny sebagai hukuman karena telah menggodaku
“Supaya istriku tidak marah lagi,” ujarnya masih dengan senyum jahilnya.
Wajahku mulai merona dibuatnya. Aku pun mengalihkan pandanganku.
“Ehm!” Aku berdehem untuk mencairkan suasana, aku kembali memperhatikan Anya, “lanjutkan lagi makannya, nak.”
Sekilas aku melihat ke arah Alan. Dia sedang memandangku, dengan tatapannya yang terluka. Dia mungkin cemburu melihat kedekatanku dengan Mas Beny. Lebih baik seperti itu. Supaya dia tahu kalau kami memang saling mencintai. Kurahap dia takkan berharap padaku lagi. Karena harapan itu memang sudah tidak pernah ada sejak awal.
Kisahku dengannya sudah berakhir sejak lima tahun yang lalu. Sekarang aku hanya menganggapnya sebagai ayah Anya. Tidak lebih. Karena aku sudah menemukan lelaki yang seribu kali lebih baik dari pada dia. Yang siap menerima diriku dan Anya apa adanya. Aku tak membutuhkan yang lain.
.
.
.
Bab 26 ((END))