SECOND LOVE

SECOND LOVE
Sandiwara



“Selamat tidur, Sam,” ucap Arcelio setelah melepaskan ciumannya. Dia membelai lembut pipi Samantha, yang hanya diam menerima semua perlakuan itu.


Sesaat kemudian, Arcelio mengalihkan perhatian kepada Chrissy. Dia mengecup kening Chrissy sekali lagi, sebelum berlalu dari sana dan kembali ke apartemennya. Arcelio meninggalkan Samantha yang termangu di tepian tempat tidur.


Sekian tahun berlalu, Samantha belum juga bisa terlepas dari bayangan Arcelio. Pria itu bahkan masih tetap berada di dalam hatinya hingga detik ini. Samantha berpikir bahwa dia sudah berhasil terlepas dari sosok pria di masa lalunya itu. Namun, ternyata dirinya keliru.


“Arcelio …,” gumam Samantha lirih seraya menyentuh permukaan bibir yang masih terasa basah.


Kegalauan yang dirasakan Samantha, tak berbeda jauh dengan Arcelio. Pria itu tengah duduk di tepian tempat tidur Aurora. Arcelio berkali-kali menyugar rambut gondrongnya yang sedikit acak-acakan. Angan sang pelukis tampan tersebut, masih tertuju pada adegan manis yang dilakukannya tadi bersama Samantha.


Tak ada yang berubah dari perasaannya. Niat hati untuk memulai hidup baru dengan melupakan masa lalu, malah membuat getaran dalam dada Arcelio justru semakin menggebu. Ada hasrat yang tak dapat dibendung lagi dalam diri pria itu.


Arcelio ingin sekali memiliki Samantha saat itu juga. Nalurinya sebagai seorang pria yang pernah merasakan indah dan manis kisah cinta bersama Samantha, kembali hadir dan memaksa agar dirinya kembali berjuang.


Akan tetapi, tiba-tiba bayangan Pierre masuk ke pikirannya. “Ya, Tuhan. Apa yang sudah kulakukan?” Arcelio berdecak pelan. Tak seharusnya dia mengkhianati persahabatan yang sejak lama terjalin. Arcelio tahu bahwa Pierre adalah pria yang baik. Pria itu bahkan sudah merencanakan pernikahan dengan Samantha, meski entah kapan bisa terlaksana.


Kepala Arcelio terasa semakin pusing. Ciumannya bersama Samantha, entah merupakan kesalahan atau justru anugerah. Arcelio hanya merasa bahwa hidupnya kembali sempurna, ketika dia dapat memeluk erat Samantha. “Ya, Tuhan."


Arcelio memutuskan berbaring di dekat Aurora. Tanpa sadar, dia terlelap hingga malam berganti pagi. Arcelio terbangun sebelum alarm digital berbunyi. Dia lalu beranjak ke kamarnya.


Setelah membersihkan diri dan menyiapkan sarapan, Arcelio membangunkan Aurora. "Ini sudah pagi, Sayang. Biasakanlah bangun lebih awal, karena bulan depan kau sudah mulai masuk sekolah,” ucap Arcelio lembut seraya membelai pucuk kepala putrinya.


“Aurora,” panggil Arcelio lagi, ketika gadis kecil itu tetap terlelap di bawah selimut. “Lihatlah. Chrissy sudah bersiap-siap,” ucapnya berbohong.


Seketika, Aurora membuka matanya lebar-lebar. Dia bahkan langsung bangkit sambil menyibakkan selimut.


“Di mana Chrissy, Papa?” tanyanya antusias.


Aurora tergelak saat melihat tingkah menggemaskan Aurora. Dia langsung menggendong sang putri, sebelum gadis kecil itu kembali berbaring. Arcelio segera membawanya ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, Aurora telah berganti pakaian. Arcelio begitu terampil menyisir rambut panjang putrinya. Dia sudah terbiasa melakukan hal itu. Arcelio bahkan sampai memutar video tutorial mengepang rambut secara berkali-kali.


“Itu pasti Nona Colbert,” ucap Arcelio, ketika mendengar suara ketukan di pintu. “Mari kita sambut dia,” ajaknya seraya menuntun Aurora menuju ruang tamu.


Arcelio membuka pintu. Dia sudah bersiap untuk memberikan jadwal yang harus dilakukan hari itu kepada Brigitte. Akan tetapi, ternyata Arcelio keliru. Bukan pengasuh Aurora yang datang ke sana, melainkan Samantha.


“Maaf, mengganggu. Namun, Chrissy sedang rewel. Dia tidak mau kuajak ke untuk latihan teater hari ini. Ditinggal pun tidak mau. Pierre ada jadwal operasi hari ini. Dia tidak bisa diganggu,” terang Samantha sebelum Arcelio sempat bertanya.


“Apakah Chrissy sakit?” tanya Arcelio khawatir.


Samantha tidak segera menjawab. Dia melirik pada Aurora terlebih dulu. Samantha akui bahwa wajah putri Delanna itu terlihat begitu lucu dan menggemaskan. Namun, bayangan tentang ibu dari gadis kecil tersebut lagi-lagi membuat dirinya tersiksa. “Um, tidak. Chrissy hanya sedang merindukan kakek dan neneknya,” jawab Samantha pelan.


“Ah, kasihan sekali.” Arcelio mengembuskan napas pendek. “Sebentar lagi aku akan berangkat mengajar. Ajak saja dia kemari. Di sini ada Nona Colbert yang akan menjaganya bersama Aurora."


“Maaf, karena harus merepotkanmu,” ucap Samantha dengan raut tak enak.


“Merepotkan?” Arcelio menautkan alisnya. Dia mendekat, lalu berbisik “Chrissy adalah putriku. Apa kau lupa itu?”


Samantha sudah hendak menanggapi, ketika Brigitte datang dan menyapa Arcelio. “Selamat pagi, Tuan Lazzaro."


Samantha langsung memundurkan tubuhnya agar menjauh dari Arcelio. Dia menoleh kepada Brigitte dengan sorot tidak nyaman. Samantha mengangguk, lalu memutuskan kembali ke apartemennya. Sesaat kemudian, wanita itu datang lagi bersama Chrissy. Gadis kecil seusia Aurora tersebut membawa tas ransel kecil berbentuk unicorn.


Seperti biasa, Chrissy langsung melompat kegirangan saat bertemu dengan Aurora. Dia langsung menghambur ke arahnya. Mereka terlihat begitu riang, ketika Brigitte membawa keduanya ke ruangan khusus.


“Aku akan latihan sampai pukul empat sore ini,” ucap Samantha.


“Aku juga akan pergi mengajar. Bagaimana jika kuantar sekalian?” tawar Arcelio. “Tunggu sebentar. Aku akan bersiap-siap dulu."


Samantha terlihat ragu saat hendak menjawab. Namun, pada akhirnya dia mengangguk. “Baiklah. Kutunggu di lobi,” putusnya.


“Kenapa tidak menunggu di sini saja?” Arcelio meraih tangan, lalu menuntun Samantha masuk. “Duduklah."


Samantha tidak banyak bicara. Selain karena tengah menghalau debaran yang semakin menggila, dia juga tertarik pada beberapa foto yang terpajang di atas tungku perapian. Di sana, terlihat Aurora sejak bayi hingga sekarang. Namun, tak satu pun foto Delanna ada di sana.


“Maaf. Aku belum bisa memajang foto Chrissy. Aku hanya mengambil gambarnya dengan kamera ponsel,” ujar Arcelio yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Samantha.


“Tidak apa-apa,” balas Samantha seraya tersenyum kikuk. “Kita sudah sama-sama memahami situasinya."


Arcelio tersenyum kalem diiringi anggukan. “Kita berangkat sekarang?” Dia mengulurkan tangannya.


Samantha sudah hendak melepaskan tangannya dari genggaman Arcelio. Namun, pria itu menahannya. Arcelio tak peduli, meskipun Joelene memandang ke arah mereka dengan tatapan aneh. “Hai, Arcelio,” sapa wanita muda itu dengan senyum terpaksa.


“Hai,” balas Arcelio seraya mengangguk. Dia tersenyum seperlunya, sebelum mengarahkan pandangan lurus ke depan.


Suasana menjadi begitu canggung, ketika Joelene berkali-kali melirik tangan Samantha yang digenggam Arcelio. Namun, Arcelio tak peduli. Dia malah mengecup punggung tangan Samantha yang terlihat semakin risi.


“Kau mau ke mana, Arcelio?” tanya Joelene setelah mereka bertiga tiba di lobi.


“Aku akan berangkat bekerja. Namun, aku harus mengantarkan Nona Bellucci terlebih dulu ke gedung teater,” jawab Arcelio.


“Apa kalian sudah saling mengenal sebelumnya?” tanya Joelene lagi. Wanita itu seakan ingin menuntaskan rasa penasarannya.


“Iya.”


“Tidak!”


Arcelio dan Samantha menjawab secara bersamaan. Mereka berdua lalu saling pandang, kemudian tertawa.


“Sudahlah, aku harus pergi. Aku tidak ingin terlambat,” ujar Samantha. Dia bergegas keluar dari lobi.


“Bukankah sudah kukatakan bahwa aku yang akan mengantarmu?” Arcelio langsung menyusul Samantha. Dia meninggalkan Joelene yang hanya terpaku.


“Dengan apa kau akan mengantarku? Kau tak punya kendaraan." Samantha berdecak pelan.


“Taksi," sahut Arcelio seraya tersenyum lebar.


Melihat hal itu, Samantha tak kuasa menahan tawa. “Terserah kau saja,” putusnya.


Mereka menaiki taksi yang sama, hingga berhenti di depan gedung teater tempat Samantha biasa melakukan latihan. Setelah itu, Arcelio melanjutkan perjalanan ke kampus yang berjarak setengah jam perjalanan. Dia tak peduli, meskipun dirinya datang terlambat.


Hari itu, Arcelio lalui dengan hati bahagia, hingga tiba waktu pulang. Namun, Pierre tiba-tiba menghubunginya dan mengajak bertemu di café langganan mereka dulu.


Arcelio menyanggupi. Dia tiba di sana, ketika Pierre baru saja duduk di meja yang sudah dipilih. Dia melambaikan tangan dan mengajak Arcelio agar duduk.


“Tumben kau mengajakku bertemu sepulang kerja. Ada apa?” tanya Arcelio dengan pikiran tak menentu. Tiba-tiba, terbesit perasaan bahwa Pierre telah mengetahui apa yang dilakukannya dengan Samantha. Ada setitik rasa bersalah dalam hati sang pelukis tampan tersebut.


“Aku ingin meminta saranmu sebagai sesama pria,” ujar Pierre tak bersemangat.


“Saran apa?” Arcelio berusaha bersikap setenang mungkin, agar sahabatnya tersebut tidak curiga.


“Tadi malam setelah mengantarkan Sam, aku kembali lagi ke apartemennya. Aku harus mengambil kunci mobil yang tertinggal. Namun, anehnya saat itu Sam seperti tak mengizinkanku masuk. Waktu aku hendak mendekat dan menciumnya, dia terkesan menghindar. Samantha tiba-tiba bersikap sangat berbeda dari biasanya,” ungkap Pierre.


“Apa kau yakin, Kawan? Apakah itu bukan hanya perasaanmu saja?” sahut Arcelio memaksakan senyum.


“Aku sangat yakin, Arcelio. Samantha terlihat berbeda malam itu. Aroma tubuhnya juga ….” Pierre menjeda kalimatnya sejenak. “Aku mencium aroma parfum pria. Aku seperti mengenal wangi itu, tapi entah kapan dan di mana,” jelas Pierre lagi yang membuat Arcelio seketika menahan napas.


Beruntung, hari itu Arcelio lupa tak memakai parfum karena berangkat terburu-buru untuk mengantar Samantha. Mungkin juga, dia akan mengganti wewangian yang biasa dirinya gunakan.


“Aku ingin Sam memandangku, sama seperti yang kulakukan terhadap dirinya. Namun, hingga detik ini aku belum melihat pancaran cinta dari sorot mata kekasihku, meskipun Sam berkali-kali mengatakan cinta,” terang Pierre lagi.


Arcelio memperhatikan sahabat lamanya itu. Dia tahu bahwa dirinya telah melakukan kesalahan. Akan tetapi, rasa cinta terhadap Samantha tak mungkin dia hindarkan begitu saja. “Hei, bersabarlah. Jika kau mencintainya, maka kau harus rela menunggu. Jangan dulu berpikiran buruk tentang kekasihmu. Percayalah padanya,” saran Arcelio. Dia harus hati-hati merangkai kata yang ditujukan kepada Pierre.


“Ya, kau benar. Sepertinya dari dulu kau lebih berpengalaman dalam hal percintaan,” sahut Pierre, yang berhasil membuat Arcelio tertawa.


“Tepatnya, pengalaman buruk,” sahut Arcelio diiringi senyum getir.


“Apakah kau pernah dikhianati?” tanya Pierre penasaran.


“Tidak. Justru sebaliknya. Akulah yang mengkhianati, sehingga diriku ditinggalkan. Hingga detik ini, aku masih menyesal atas kesalahan yang kulakukan. Saat dia pergi, aku sadar bahwa dirinyalah satu-satunya wanita yang kucintai,” jawab Arcelio lirih.


“Oh, aku ikut menyesal,” ucap Pierre. “Namun, apa yang terjadi di masa lalu, akan memberikan kita pengalaman dan pelajaran untuk mendewasakan diri, agar tidak terjebak dalam kesalahan yang sama.”


Arcelio tertawa pelan. Dia mengangguk sebagai tanda setuju atas kalimat sahabatnya tersebut.


“Ah, sudahlah. Cukup dengan cerita sedihnya. Sebagai tanda terima kasih karena kau telah bersedia mendengarkan keluh kesahku, aku akan mengajakmu menonton pertunjukan opera. Samantha yang akan menjadi pemeran utamanya. Kau harus datang minggu depan! Bawa serta putrimu!” tegas Pierre yang seakan tak menerima penolakan dari Arcelio.