
Arcelio bergegas menuju ke apartemen Delanna. Bagaimanapun juga, dia harus bertanggung jawab dengan janin yang ada dalam kandungan wanita itu. Arcelio tak ingin melakukan dosa yang kesekian kali, dengan mengabaikan calon bayinya. Dia harus menepiskan rasa bersalah dan kecewa, karena anak itu bukan berasal dari rahim Samantha.
Setibanya di apartemen tempat Delanna, Arcelio segera naik ke ruangan yang ditinggali wanita itu. Dia langsung masuk, berhubung pintunya tidak dikunci. Arcelio mendapati Delanna tengah berbaring di kasur dengan posisi menyamping. Dia memegangi perut sambil meringis pelan.
“Kau kenapa?” tanya Arcelio seraya duduk di tepian ranjang. Dia tak tahu apa yang harus dilakukan, saat menghadapi situasi seperti itu. Ini adalah pengalaman pertama bagi dirinya.
“Perutku benar-benar tidak nyaman. Sakit sekali, Arcelio. Aku takut terjadi apa-apa dengan janin dalam kandunganku,” resah Delanna sambil terus meringis menahan sakit.
“Astaga!” Arcelio bergegas mengeluarkan ponsel. Dia memesan layanan taksi online. Akan lebih baik jika dirinya membawa Delanna memeriksakan diri ke rumah sakit. Pria itu membantu calon ibu dari bayinya agar bangun. Arcelio juga merapikan pakaian serta rambut Delanna yang acak-acakan. Setelah itu, barulah dia membawa wanita yang berprofesi sebagai wedding planner tersebut ke luar untuk menunggu taksi di halaman depan apartemen.
“Kau kenapa Arcelio? Ada apa dengan wajahmu?” tanya Delanna yang melihat beberapa luka lebam serta robek di dekat bibir Arcelio. “Apa kau berkelahi lagi dengan ….”
“Tidak apa-apa. Ini bukan urusanmu,” jawab Arcelio datar. Dia terlihat malas berbasa-basi dengan Delanna.
Delanna mengerti dengan sikap dingin yang ditunjukkan Arcelio. Dia tak ingin memaksa pria itu agar lebih baik terhadapnya. terlebih, setelah sekian banyak hal buruk yang terjadi di antara mereka bertiga. Akhirnya, Delanna dan Arcelio saling membisu. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.
Beberapa saat kemudian, taksi online yang dipesan Arcelio telah tiba di halaman depan apartemen. Tanpa membuang waktu, keduanya langsung berangkat menuju rumah sakit terdekat. Namun, berhubung saat itu sudah cukup larut, maka yang ada di sana hanya dokter jaga. Akan tetapi, dokter tadi memeriksa keadaan Delanna dengan sangat baik dan teliti.
“Apa yang terjadi, Dokter?” tanya Arcelio. Dia tak peduli meskipun sang dokter terlihat kurang nyaman, saat melihat wajah Arcelio yang lebam.
“Istri Anda tidak apa-apa. Dia hanya mengalami kram perut biasa,” jelas dokter dengan usia yang masih terbilang muda tadi. “Apakah ini kehamilan pertama istri Anda?” tanyanya lagi.
“I-iya. Ini kehamilan pertamanya,” jawab Arcelio, meski dia tidak tahu seperti apa kehidupan Delanna sebelum ini.
“Oh, pantaslah,” ujar sang dokter sambil manggut-manggut. “Seperti yang telah kita ketahui. Saat menjalani kehamilan, ada banyak perubahan hormon dalam tubuh. Tak jarang, bahkan kebanyakan itu sangat memengaruhi kondisi fisik dan mental sang ibu. Rasa tak nyaman serta tidak biasa, pasti akan sangat mengganggu istri Anda. Sebagian besar wanita hamil juga mengalami hal seperti itu,” jelas dokter tadi.
“Sebagai seorang suami, sebaiknya Anda memberikan dukungan serta perhatian yang jauh lebih besar dari biasanya. Itu akan membuat istri Anda nyaman dan merasa disayangi. Dengan begitu, dia dapat lebih menikmati masa-masa kehamilannya.”
“Akan kutuliskan resep multivitamin yang bisa dikonsumsi oleh istri Anda selama masa kehamilan. Jangan lupa untuk memeriksakan kandungan secara rutin. Buat istri Anda senyaman mungkin, agar dia terhindar dari stress. Kehamilan pertama, akan menjadi momen tak terlupakan, Tuan.”
Arcelio memaksakan tersenyum, meskipun dalam hati rasa tak karuan itu belum juga sirna. Entah akan membaik atau tidak, sang pelukis tak tahu. Hidupnya sudah banyak berubah kali ini. Bukan karena pernikahan dengan Samantha yang mengubah kisahnya, tapi karena amarah dan kesalahpahaman yang seharusnya tak pernah terjadi.
Arcelio telah kehilangan banyak hal. Dia tak lagi diakui sebagai anak oleh Paolo Lazzaro. Arcelio pun tak tahu di mana Samantha berada. Seluruh dunia seakan menghakiminya, seakan dia adalah pria pertama yang melakukan perselingkuhan. Lamunan Arcelio berakhir, ketika taksi yang ditumpangi telah berhenti di depan apartemen tempat tinggalnya.
“Kenapa kita kemari?” tanya Delanna sambil mengikuti langkah tegap Arcelio memasuki gedung puluhan tingkat dan terlihat jauh lebih mewah, dibanding bangunan apartemennya.
“Selama kau hamil, aku ingin agar dirimu tinggal di tempatku. Dengan begitu, aku bisa lebih mudah mengawasimu. Di sini juga ada pelayan. Kau tak perlu susah-susah melakukan segala sesuatunya sendiri,” jelas Arcelio seraya masuk ke lift khusus yang akan membawa mereka langsung ke ruang apartemennya.
“Kau tidak perlu melakukan ini, Arcelio,” ujar Delanna tanpa menoleh pada pria yang berdiri di sampingnya.
Akan tetapi, Arcelio tak menanggapi. Dia juga tak menoleh sedikit pun pada Delanna, hingga pintu lift terbuka. Arcelio melangkah keluar diikuti wanita yang tengah mengandung tadi.
Delanna sempat terpukau melihat suasana apartemen milik Arcelio yang mewah. Namun, rasa tak nyaman kembali menghinggapi paras eksotis wanita dua puluh empat tahun tersebut, saat melihat ekspresi tak bersahabat dari Arcelio.
“Tuan muda,” sapa Adelina yang langsung menghampiri majikannya. Dia melirik sekilas kepada Delanna, sebelum kembali mengalihkan pandangan pada pelukis tampan itu. “Ada apa dengan wajah Anda?” tanya wanita paruh baya tersebut khawatir.
“Tidak apa-apa, Adelina,” jawab Arcelio seraya menoleh kepada Delanna. “Ini Delanna. Mulai sekarang, dia akan tinggal di sini. Layani dia dengan baik,” ucap Arcelio, seraya berlalu begitu saja setelah berkata demikian. Tak berselang lama, pria itu kembali sambil membawa bantal dan selimut.
“Tidurlah di kamarku, Delanna. Aku akan di sini.” Tanpa berkata apa-apa lagi, dia berjalan ke dekat sofa. Arcelio kemudian menata bantal di sana. Dia melepas sepatu, lalu berbaring dengan posisi membelakangi. Pria tampan itu menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut.
Delanna dan Adelina berdiri terpaku. Kedua wanita lintas usia tersebut memperhatikan Arcelio yang tak bergerak lagi. Beberapa saat kemudian, Adelina mengarahkan perhatiannya, kepada wanita muda yang sejak tadi hanya diam. “Mari, Nona. Kuantar kau ke kamar Tuan Muda Arcelio,” ucapnya sopan seraya berbalik.
Tak ada alasan bagi Delanna untuk menolak. Dia mengikuti Adelina, hingga tiba di ruangan yang dimaksud. Delanna kembali terpukau melihat segala hal yang ada di dalam kamar itu. Namun, perasaannya kembali teriris, saat melihat bingkai indah yang menghiasi foto Samantha Bellucci.