SECOND LOVE

SECOND LOVE
Perhatian Tiga Wanita



Samantha menutup pintu apartemennya perlahan. Dia mengembuskan napas panjang seraya menyandarkan punggung di daun pintu. Pikirannya begitu berkecamuk saat itu. Melihat putri dari Delanna, selalu mengingatkan Samantha akan pengkhianatan keji yang dilakukan oleh Arcelio.


Namun, mendengar orang lain memuji Aurora dan melihat betapa bahagianya wajah Arcelio saat itu, rasanya bagaikan menabur garam di atas luka hati Samantha.


“Kenapa kita harus bertemu kembali, Arcelio? Seharusnya ini tidak pernah terjadi, agar tak lagi saling menyakiti satu sama lain,” isaknya pelan.


Di satu sisi, Samantha merasa begitu jahat ketika bersikap tidak ramah, pada anak kecil yang bahkan tak tahu apa-apa. Sedangkan, di sisi lain Aurora merupakan buah cinta antara Arcelio dengan Delanna. Anak itu terlahir dari hasil pengkhianatan sang kekasih, meskipun Arcelio mengaku bahwa dirinya tidak pernah mencintai wedding planner tersebut.


“Kau menangis lagi, Bu?” Chrissy tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Samantha. Tangan mungilnya menarik pergelangan sang ibu agar mendekat ke arahnya.


Samantha segera mengusap air mata, lalu menurunkan tubuh hingga sejajar dengan putri semata wayangnya tersebut. “Aku hanya sedikit pusing, Nak. Setelah beristirahat, aku akan baik-baik saja,” ucap Samantha lembut, kemudian mencium pipi gembul Chrissy.


“Apakah ibu sakit? Kalau begitu, kau harus cepat-cepat menghubungi Paman Octopus untuk memeriksamu,” saran Chrissy yang bersikap sok dewasa. Gadis kecil itu juga mengetuk-ngetuk kening Samantha menggunakan ujung telunjuk.


“Malaikat kecilku.” Bibir Samantha bergetar saat berucap demikian. Dia memeluk erat Chrissy, lalu menggendongnya ke kamar. “Temani aku beristirahat,” pinta wanita itu sambil membaringkan Chrissy di sampingnya.


“Tidurlah, Bu. Aku akan menjagamu,” ucap Chrissy. Anak itu beringsut mendekat, lalu membelai rambut pirang Samantha hingga sang ibu tertidur.


Beberapa menit berlalu, terdengar dengkuran halus Samantha. Chrissy meyakinkan diri bahwa ibunya sudah terlelap, dengan cara memainkan kelopak mata wanita itu.


Samantha tak bereaksi sama sekali, yang artinya bahwa dia memang sudah tertidur.


Chrissy lalu tertawa cekikikan. Gadis kecil itu segera melompat turun dari ranjang. Dia berlari ke sofa ruang tamu. Anak berambut gelap tersebut merogoh ke dalam tas milik Samantha. Chrissy mencari ponsel milik sang ibu.


Namun, gadis kecil itu harus kecewa, karena tak menemukan telepon genggam ibunya di sana, sehingga dia kembali ke kamar Samantha dan mulai menggeledah di tempat lain. Akan tetapi, di sana pun dia tak jua menemukan telepon genggam yang dicarinya.


Tak putus asa, Chrissy berlari keluar apartemen. Dia bergegas menuju tempat Arcelio. “Paman! Paman berqmbut gondrong! Buka pintunya!” seru Chrissy. Dua tangan kecil anak itu tak berhenti menggedor daun pintu apartemen milik Arcelio.


Tak berselang lama, pintu terbuka. Tampaklah wajah tampan Arcelio yang terlihat sedikit khawatir. “Ada apa, Nak?” tanyanya dengan ekor mata melirik ke sekitar. Dia tengah mencari keberadaan Samantha.


“Paman, bolehkah aku meminjam teleponmu?” tanya Chrissy. “Aku tidak bisa menemukan telepon milik ibu,” imbuhnya.


“Memangnya ibumu ke mana, Sayang?” tanya Arcelio. Raut wajah pria itu tampak semakin cemas.


“Ibuku sedang tidur. Dia baru selesai menangis karena mengeluh pusing. Jadi, aku harus memberitahu Paman Octopus untuk memeriksa ibuku,” jawab Chrissy.


“Astaga. Masuklah dulu, Nak." Arcelio menuntun Chrissy dan mengarahkan gadis kecil itu agar duduk di sofa. Dia lalu mengintip ke dalam kamar Aurora, untuk memastikan bahwa putrinya sudah tidur.


Setelah dirasa aman, Arcelio meraih telepon genggamnya. Dia mengajak Chrissy kembali ke apartemen Samantha. “Mari kita lihat keadaan ibumu,” ajak Arcelio setengah berbisik.


Chrissy begitu bersemangat. Dia menarik tangan Arcelio menuju apartemennya. Pria rupawan itu sempat terkesiap, ketika Chrissy bermaksud untuk mengajaknya masuk ke kamar.


“Seharusnya, aku tidak boleh masuk ke mari,” ujar Arcelio. Dia berdiri gamang di ambang pintu. Akan tetapi, rasa khawatir telah mengalahkan segala rasa tak nyaman yang mulai hadir. Arcelio memantapkan diri untuk melangkah masuk, lalu duduk di tepian ranjang di mana Samantha tertidur.


Ragu, tangan Arcelio terulur menyentuh kening wanita yang tetap merajai hatinya tersebut. Suhu tubuh Samantha memang terasa lebih hangat dari kondisi normal. Tepat pada saat Arcelio hendak menarik tangan, saat itulah Samantha terbangun.


Wanita cantik itu langsung terduduk. Dia terkejut setengah mati, saat melihat Arcelio yang berada di dalam kamarnya. “Mau apa kau kemari!” sentak ibunda Chrissy tersebut dengan suara nyaring.


“Tenanglah, Nona Bellucci. Chrissy memintaku datang kemari untuk memeriksa keadaanmu, sekaligus menghubungi Pierre. Dia sangat khawatir. Chrissy berpikir bahwa kau sedang sakit,” jelas Arcelio.


“Chrissy?” Mata indah Samantha melotot. Dia mengalihkan perhatian sepenuhnya pada sang putri, yang duduk tepat di samping Arcelio.


“Kau tadi menangis dan mengeluh pusing, Bu. Aku jadi berpikir untuk menghubungi Paman Octopus supaya kau diperiksa olehnya,” terang Chrissy yang tidak dapat menyembunyikan rasa takut, saat melihat sikap sang ibu.


“Astaga.” Samantha menggeleng pelan. “Sudah kukatakan bahwa aku tidak apa-apa. Aku hanya butuh istirahat,” ujar Samantha setelah kembali tenang. “Maafkan aku karena telah membuatmu khawatir,” ucap wanita berambut pirang tersebut seraya merentangkan tangan.


Tanpa berlama-lama, Chrissy segera menghambur ke pelukan sang ibu.


Setelah berada di kamar, Arcelio langsung mengganti pakaiannya dengan T-shirt dan celana tidur. Dia lalu berbaring di samping Aurora. Entah kenapa, malam ini dia tak ingin tidur di kamarnya.


Arcelio menatap wajah Aurora yang terlihat begitu damai. Anak itu tertidur sangat lelap.


“Katakan apa yang harus kulakukan, Aurora? Apakah memang ada kesalahan yang benar-benar tak dapat dimaafkan? Tak adakah kesempatan kedua untukku?” Arcelio seolah sedang bertanya pada dirinya. Entah mengapa dia harus banyak bertanya, padahal dirinya sadar tak akan mendapat jawaban.


Suasana di sekitar Arcelio begitu hening, membuat pria itu didera rasa kantuk. Arcelio akhirnya tertidur. Putra bankir ternama Italia tersebut baru terbangun, ketika mendengar suara ketukan pelan di pintu. Pria tampan itu memicingkan mata untuk menyesuaikan dengan cahaya di sekitar ruangan kamar. Dilihatnya jam digital sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


“Astaga! Aku kesiangan!” Arcelio segera bangun, lalu berjalan ke pintu depan. Dengan membawa muka bantalnya, dia membuka pintu. Arcelio langsung terkejut, saat mendapati Joelene sudah berdiri di hadapannya.


“Ayo, bersiaplah. Aku akan mengajakmu menonton festival di bawah,” ajak Joelene.


“Festival?” ulang Arcelio. “Festival apa?” tanyanya.


“Ini adalah hari Minggu. Setiap minggu pertama, warga kompleks apartemen ini rutin mengadakan fetival kuliner di taman depan,” jelas Joelene.


“Tapi … putriku masih tidur,” sahut Arcelio ragu.


“Tidak apa-apa. Kutunggu kau di taman. Ajak juga istrimu,” sahut Joelene antusias.


Arcelio tiba-tiba tertawa. “Aku tidak memiliki istri, tapi baiklah. Aku akan menyusul jika Aurora sudah bangun,” putusnya.


Jawaban Arcelio tadi membuat Joelene ternganga tak percaya. Wanita itu menjadi salah tingkah.“Kau … tidak memiliki istri?” tanya wanita muda itu memastikan apa yang didengarnya. “Ah ... um, oke. Kutunggu kau di bawah." Dia mengangguk, kemudian berlalu menuju lift.


Setengah jam kemudian, Aurora terbangun. Arcelio cekatan membersihkan tubuh sang putri, lalu menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Setelah selesai, barulah Arcelio mengajak Aurora turun ke taman depan seperti yang telah diberitahukan oleh Joelene tadi.


Suasana di taman itu sudah penuh oleh orang-orang, ketika Arcelio dan Aurora tiba di sana. Pria yang hari itu mengikat rambutnya dengan gaya man bun tersebut, langsung mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Joelene.


Namun, Arcelio malah bertemu dengan Samantha yang tengah menggandeng mesra Pierre. Tampak pula Chrissy yang membawa beberapa balon beraneka warna. Gadis itu langsung bersorak kegirangan, saat melihat kehadiran Aurora di sana.


“Aurora!” seru Chrissy. Membuat Samantha dan Pierre ikut menoleh. Mereka melihat Arcelio berdiri tak jauh darinya sambil menuntun Aurora.


Berbeda dengan Pierre yang ikut menghampiri Arcelio, Samantha justru memilih memalingkan muka. Akan tetapi, dia kembali memperhatikan Arcelio, ketika Joelene berjalan mendekat.


Wanita muda itu menyapa Arcelio dengan bahasa tubuh yang tampak berbeda. Samantha dapat menilai dengan jelas, bahwa tetangganya itu mulai terpikat oleh pesona sang mantan tunangan.


“Aku mencarimu ke mana-mana,” ujar Joelene. “Kukira kau tak jadi datang.”


“Aku harus mempersiapkan Aurora lebih dulu,” sahut Arcelio kalem. Sementara, Aurora sudah berlarian ke sana kemari bersama Chrissy.


“Hei! Jangan terlalu jauh,” tegur Pierre pelan. “Nanti kalian tersesat!” Mau tak mau, dokter spesialis anak itu menyusul dua gadis kecil tadi.


Arcelio juga bermaksud untuk menyusul putrinya yang tengah bermain bersama Chrissy. Namun, langkahnya kembali tertahan, ketika terdengar suara lembut milik wanita lainnya menyapa pria itu.


“Selamat pagi, Tuan Lazzaro," sapa wanita yang tak lain adalah Brigitte. “Maaf, aku datang tanpa membuat janji terlebih dulu. Aku tahu hari Minggu adalah hari liburku. Akan tetapi, kupikir tak masalah jika aku hanya ingin mampir dan bermain bersama Aurora.”


Samantha berdecak pelan. Ada rasa bergemuruh dalam hatinya saat melihat Arcelio dikelilingi dua wanita muda dan cantik. Apalagi dua-duanya menunjukkan bahasa tubuh serta perhatian yang tak biasa terhadap Arcelio.


"Oh, tidak apa-apa," balas Arcelio. "Aurora pasti akan sangat senang. Terlebih, dia sudah mulai menghafal semua yang kau ajarkan, Nona Colbert." Arcelio tersenyum kalem, saat berbicara kepada Brigitte.


Namun, lain halnya dengan sang pengasuh cantik berambut cokelat itu. Dia sedikit risi melihat Joelene yang berdiri di sebelah Arcelio. Terlebih, saat Joelene menawari pria itu permen kapas. Brigitte segera mengalihkan perhatian ke lain arah.


Begitu juga dengan Samantha. Ada rasa tak suka dalam hatinya, saat menyaksikan itu semua.