
"Ronald, ada apa kamu ke sini?" tanya Nero sembari menautkan kedua alisnya.
Ronald tampak canggung seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Namun, sepertinya ia juga memiliki pertanyaan yang sama mengapa Vivi—pasien yang ditanganinya di rumah sakit jiwa berada di kediaman Nero?
"Oh, aku cuma mau main saja kok. Hmm ... maksudnya aku ada perlu dengan Nadine," jawab Ronald.
Nero mengangguk singkat. Ia lalu kembali menoleh ke arah Vivi sambil mengulas senyuman manis. Psikiater tampan itu bahkan menggandeng tangan Vivi dengan mesra sehingga membuat Ronald fokus ke sana.
"Kamu masuklah, Nadine ada di dalam. Aku mau mengantarkan Vivi pulang dulu," pungkas Nero.
"Saya duluan ya, Dokter Ronald," pamit Vivi ramah yang hanya ditanggapi anggukkan pelan oleh Ronald.
Mereka pun pergi meninggalkan Ronald yang masih mematung di depan pintu.
Mata Ronald masih tertuju pada Nero dan Vivi yang tampak mesra serta harmonis. "Aku tidak salah lihat 'kan? Ini bukan khayalan karena aku lelah bekerja 'kan?" gumamnya.
Jelas saja Ronald merasa heran. Ia pikir Nero sudah menyerah pada Vivi. Namun, ia seperti ditampar oleh kenyataan sebab temannya itu malah membawa Vivi ke kediamannya.
Ronald masih berada di tempatnya, padahal Nero dan Vivi sudah tidak ada lagi di sana. Tiba-tiba saja ia merasakan ada tangan yang menepuk pundaknya dan begitu menoleh ternyata ayah dari Nero yang melakukannya.
"Kamu sedang apa malah bengong di depan pintu? Ayo masuk!" ajak ayah Nero.
"Eh iya, Om. Tadi saya lagi melihat langit malam yang cerah penuh bintang," dalih Ronald sambil nyengir kuda.
"Ha-ha, ada-ada saja kamu ini," kekeh ayah Nero karena merasa jawaban Ronald agak konyol.
Akhirnya Ronald berjalan mengekor ayah Nero masuk ke rumah. Ia dipersilakan untuk duduk di ruang tamu. Kebetulan di sana juga ada ibu Nero yang tadi baru saja mengobrol dengan Vivi.
"Nadine ada di kamarnya. Kamu tunggu di sini saja, nanti aku panggilkan," ucap ibu Nero yang sudah paham tujuan kedatangan Ronald.
"Kamu ngobrol saja sama Om di sini sembari menunggu Nadine," celetuk ayah Nero sambil tertawa renyah.
Jelas Ronald dapat menangkap raut wajah semringah dari kedua orang tua Nero. Di dalam hatinya bertanya-tanya, apa mungkin semuanya karena kehadiran Vivi di rumah itu.
"Maaf, Om ... Tante ... saya mau tanya, wanita yang dibawa Nero barusan itu siapa ya?" tanya Ronald. Tentunya ia harus memastikan apa hubungan Nero dan Vivi dengan bertanya pada kedua orang tua temannya itu.
"Oh, tadi itu namanya Vivi. Dia calon istrinya Nero," jawab ibu Nero dengan penuh semangat.
"Kamu belum tahu, Ron? Om sangat bersyukur karena pada akhirnya Nero bisa melupakan trauma masa lalunya dan membuka hatinya untuk wanita lain," timpal ayah Nero penuh syukur.
"Saya tahu, Om. Dia itu salah satu mantan pasien saya di RSJ," kata Ronald tak sadar. Seketika ia membelalakkan kedua bola matanya sambil mengigit bibir bawahnya ketika tahu sudah keceplosan.
Kedua orang tua Nero tentu sangat shock saat mendengar Vivi adalah mantan pasien rumah sakit jiwa. Bagaimana bisa putra kebanggaan mereka ingin menikahi seorang wanita yang pernah depresi dan dirawat di rumah sakit jiwa? Tentu saja mereka menjadi geram dan tak terima.
"Kamu sedang tidak bercanda 'kan?! Maksudmu, Vivi adalah seseorang yang pernah mengidap gangguan kejiwaan dan Nero malah jatuh cinta kepadanya?" tanya ayah Nero mencoba memastikan.
"Ini tidak bisa dibiarkan, Pa! Mama tidak setuju kalau Nero kita menikahi wanita yang punya riwayat pernah gila," tegas ibu Nero.
"Papa juga tidak setuju. Nero bisa-bisanya jatuh cinta pada wanita tak berkelas seperti itu!" Kedua mata pria paruh baya itu berkilat. Tangannya mengepal erat, menunjukkan jika ia sedang marah besar.
***
Saat baru sampai di apartemennya, Vivi cukup kaget karena ada ayahnya di sana. Begitu juga Nero, ia tak kalah kaget dengan Vivi.
"Wah, anak Ayah baru pulang rupanya, diantar dengan pria tampan pula. Pantas saja tidak ada di apartemen," seloroh Jordy sambil memasang raut wajah sedikit meledek ke Vivi.
"Ayah! Tidak lucu loh. Aku bukan anak kecil lagi," protes Vivi.
Sementara Nero sendiri hanya mencoba memasang wajah cerah sambil terus tersenyum pada Jordy—ayah Vivi.
Saat ini mereka bertiga sudah duduk bersama. Ternyata di sana juga ada Dina—ibu tiri Vivi. Wanita paruh baya itu bersikap sangat ramah pada Vivi dan Nero. Tentu saja itu karena ada suaminya di situ.
"Silakan diminum tehnya. Ini spesial karena saya sendiri yang membuatnya," ujar Dina sambil mengulas senyuman.
"Terima kasih, Tante," sahut Nero.
Mereka berempat mengobrol santai sampai pada saat Vivi menceritakan lebih detail siapa Nero pada orang tuanya.
"Nero adalah orang yang merawatku selama di rumah sakit. Dia juga yang membantu aku bangkit dari keterpurukan dan trauma masa lalu. Karena Nero, aku bisa tersenyum lagi melihat dunia. Dia bahkan ingin menjadikan aku sebagai istrinya," terang Vivi dengan raut wajah semringah.
Wajah Nero bersemu merah karena perkataan Vivi. Ia malu karena wanita itu seperti tak sungkan lagi mengatakan semua hal yang terjadi kepada orang tuanya.
"Benarkah yang aku dengar ini? Kamu mau menikahi putriku?" tanya Jordy dengan mata berbinar cerah. Perasaan pria paruh baya itu senang tak terkira. Jelas ia merasa bahagia karena putrinya akan segera terbebas dari duka di masa lalu. Ia makin menyukai Nero karena pria itu terlihat tulus pada Vivi.
"Iya, Om. Saya benar-benar serius ingin menikahi Vivi." Nero tanpa ragu menggenggam erat jari jemari Vivi di depan Jordy dan Dina. Keduanya sekilas bertatapan lalu saling melemparkan senyuman.
Setelah banyak mengobrol, Nero akhirnya pun pamit pulang. Vivi mengantarkan kekasihnya itu sampai depan pintu apartemen saja karena Nero tak ingin ia capek jika harus mengantarkan sampai parkiran.
"Sepertinya ada orang yang masih kasmaran," ledek Jordy yang langsung membuat Vivi menoleh ke belakang.
"AYAH! Bikin aku kaget." Vivi langsung mengusap dadanya karena jantungnya terasa ingin copot.
Jordy hanya terkekeh kecil melihat ekspresi lucu sang putri. Sebenarnya ia datang ke apartemen Vivi itu mempunyai tujuan tertentu. Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengutarakannya.
"Vi, sebaiknya kamu ikut pulang sama Ayah ke kediaman utama. Daripada kamu tinggal sendiri di apartemen seperti ini. Ayah pikir kamu pasti akan kesepian," bujuk Jordy.
Vivi tampak tertegun sejenak memikirkan tawaran sang ayah untuk tinggal di kediaman utama.
"Bagaimana, Vi? Kamu mau 'kan pindah dan tinggal bersama Ayah?" tanya Jordy lagi mencoba memastikan.