
“Uuunggg....”
Aku mengangkat wajahku ketika kudengar suara Eric. Kulihat tangan kecilnya menggapai-gapai udara. Dengan segera aku berdiri dan menghampirinya di ranjang. Rupanya dia sudah bangun dari tidur.
Begitu melihatku, dia langsung terbangun dan merangkak ke arahku. Aku pun menyambutnya dengan tersenyum.
“Mmaa... Mammaaa...” dia memanggilku sembari menarik-narik lengan bajuku, seakan mengajakku ke suatu tempat.
Mengerti dengan maksudnya, kugendong dia lalu kami keluar dari kamar untuk menuju ruang keluarga. Tapi sebelum itu, aku memastikan bahwa Mas Beny sudah berangkat untuk menjemput Anya. Aku memeriksa meja di dekat tangga tempat dia biasa menyimpan kunci mobil. Akhirnya aku bernapas lega melihat tidak ada kunci mobil di sana.
Aku mendudukkan Eric di atas karpet bulu lembut, dia langsung bersemangat merangkak menuju kotak mainan miliknya. Aku hanya membiarkannya mengeluarkan semua isi kotak itu. Mainan mobil, dinosaurus, lego, dan lain-lain kini berserakan di atas lantai.
Sambil mengawasi Eric bermain, pikiranku kembali melayang pada kejadian tadi. Semakin kupikirkan, semakin aku merasa bersalah pada Mas Beny. Seharusnya aku tidak melarikan diri seperti itu. Sikapku justru akan membuat Mas Beny merasa tidak enak padaku. Atau yang paling buruk, bisa saja Mas Beny kecewa padaku.
Dia selalu berada di sampingku saat aku membutuhkannya. Dia sudah mau memahamiku dan mau menerimaku apa adanya dengan segala kekurangan dan masa laluku. Tapi aku belum bisa membalas perasaannya. Aku belum bisa menjadi istri yang baik untuknya. Bukannya aku sengaja menolaknya. Aku hanya belum siap menerimanya sebagai suamiku seutuhnya.
Pandanganku kini beralih pada foto pernikahan Mas Beny dan Clara. Seandainya Mas Beny bukan suami dari teman dekatku, mungkin tidak akan sesulit ini. Bahkan sampai sekarang masih sulit untukku menyebutnya sebagai 'suamiku'. Aku juga tak ingin membebani Mas Beny dengan perasaanku yang tak menentu.
Tapi bagaimana jika dia terlanjur kecewa padaku? Mungkin dia berpikir jika aku masih meragukannya. Padahal sejak awal aku selalu mempercayainya. Bahkan setelah pengakuannya tentang perasaannya padaku. Dia masih tetap menjadi satu-satunya orang yang paling kupercayai. Aku takut sikapku justru melukai hatinya.
“Awuuu...”
Tersadar dari lamunanku, Eric kini berdiri dengan bertumpu pada lututku. Dia memandangku dengan tatapan khawatir. Mata itu sama persis seperti ayahnya saat sedang menatapku. Sebelah tangannya menyentuh pipiku seperti sedang menghapus air mataku, padahal aku sedang tidak menangis.
Hatiku menghangat melihat tingkah laku Eric. Bahkan anak sekecil Eric mengerti bahwa perasaanku saat ini sedang tidak baik-baik saja. Dengan gemas aku memeluknya
“Eric, sayang! Kenapa kamu persis Papa, sih? Selalu tahu kalau Mama sedang sedih dan selalu bisa menenangkan hati Mama,” aku menempelkan keningku pada keningnya. Dia kemudian tertawa senang sambil menepuk-nepuk pipiku.
“Eric mau main sama Mama? Ayo main dinosaurus!”
Mengesampingkan pikiran itu sejenak, aku ingin bermain dengan Eric. Aku tidak ingin terjebak dalam lamunan dan mengabaikan anak-anakku. Karena tujuan utamaku berada di sini adalah demi Anya dan Eric. Sejak menerima lamaran Mas Beny dulu, aku sudah bertekad bahkan jika hubungan kami tidak terlalu baik, aku tak peduli. Yang terpenting aku harus bisa mengurus anak-anak dengan baik.
Meskipun aku belum bisa jadi istri yang baik. Tapi aku selalu berjuang jadi ibu yang baik bagi mereka. Begitu pula yang kuharapkan pada Mas Beny. Semoga perasaan di antara kami tidak jadi penghambat bagi kami untuk menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kami. Karena itulah yang menjadi dasar pernikahan ini.
Waktu santaiku dengan Eric harus berakhir ketika kudengar suara mobil memasuki halaman depan rumah. Mau tak mau aku harus berhadapan lagi dengan Mas Beny. Aku hanya akan membuat Anya khawatir jika mengurung diri di kamar.
“Wah, sepertinya Kakak dan Papa sudah pulang.”
Tak lama kemudian aku mendengar derap langkah kaki memasuki rumah. Aku berusaha untuk tersenyum saat melihat Anya sampai di ruang keluarga, disusul Mas Beny di belakangnya.
“Mama, Anya pulang!”
“Selamat datang, sayang. Bagaimana sekolahnya tadi?” Aku masih mempertahankan senyumku, walaupun aku tahu Mas Beny tengah memandangku.
“Anya punya sesuatu, Ma.”
“Apa itu?”
Anya kemudian menurunkan tas yang ada di pundaknya dan membukanya. Tangannya lalu mengeluarkan selembar kertas. Dia menunjukkannya padaku dan Mas Beny.
Pada lembar kertas itu terdapat coretan krayon, atau lebih tepatnya gambaran. Ada empat orang, dua orang dewasa dan dua anak-anak. Tubuh mereka saling menempel dan di sekelilingnya ada rerumputan dan bunga-bunga.
“Anya tadi menggambar di sekolah. Ini gambar kita berempat. Ini Papa peluk Mama, ini Mama peluk Anya, dan ini Anya peluk Eric. Kita duduk di taman belakang dan banyak bunga-bunga mekar. Bagus 'kan, Ma, Pa?” dengan ceria Anya menjelaskan maksud dari hasil karyanya itu.
Penjelasan dari Anya tidak membuat situasi menjadi lebih baik. Justru suasana menjadi lebih canggung. Pipiku kembali terasa panas, membayangkan Mas Beny memelukku dari belakang seperti pada gambar Anya. Menyadari apa yang kupikirkan barusan, aku menggigit bagian dalam pipiku.
Aku kembali memasang senyum, “Bagus sekali, Anya!”
Diam-diam aku mencuri pandang ke arah Mas Beny yang duduk di samping Anya. Dia mengalihkan pandangan ke arah lain. Tapi sekilas kulihat telinganya memerah.
Anya tertawa riang mendengar pujian yang ia dapat. Lalu ia berdiri dan berlari menuju meja di dekat tangga dan menaruh gambarnya di sana. Seperti teringat sesuatu, dia mengambil gambarnya lagi dan kembali ke tempatnya semula, di samping Mas Beny.
“Pa, apa Anya boleh memasang gambar Anya di situ?” ternyata dia ingin meminta ijin terlebih dahulu pada papanya.
Mas Beny tertawa kecil mendengar pertanyaan Anya, “Tentu saja boleh. Anya tidak perlu bertanya pada Papa.”
“Tapi di situ hanya ada foto Papa dan Tante Clara. Apa gambar Anya tidak mengganggu?”
Penuturan polos Anya membuat kami berdua terdiam. Memang benar, di meja itu terdapat beberapa bingkai foto kenangan Mas Beny dan Clara sejak mereka berpacaran hingga menikah. Mungkin Anya merasa tidak enak jika tiba-tiba meletakkan gambarnya di antara foto-foto itu.
Aku tak menyangka Anya memiliki pemikiran seperti itu dalam kepalanya. Aku tak tahu harus berkata apa untuk menjelaskannya pada putriku ini. Dia tampak sedih dengan menundukkan kepalanya dan memegang ujung kertas itu erat-erat.
“Anya,” Mas Beny akhirnya angkat bicara, dia mengelus rambut Anya untuk mendapatkan atensinya, “Anya ingat yang Papa katakan saat Anya datang ke rumah ini? Mulai saat itu, rumah ini juga rumah Anya dan Mama. Sekarang Kalian berdua adalah keluarga Papa dan Eric. Anya boleh melakukan apa saja di sini. Anya tidak perlu khawatir, ya?”
Anya mengangguk sebagai jawaban. Senyum kembali merekah di bibirnya. Aku pun lega melihatnya.
“Bagus. Nanti kita juga menaruh foto yang ada Mama dan Anya di sana. Foto Eric juga belum ada. Kalau diingat-ingat kita belum pernah foto bersama.”
“Pa, Anya mau kita foto seperti ini!” dia menunjuk pada gambarnya.
“A-Anya, kita bisa lakukan itu kapan-kapan,” dengan panik aku mencoba membujuknya agar dia mengurungkan niatnya.
“Tapi Anya ingin sekarang, Ma! Boleh 'kan, Pa?”
Mas Beny menoleh padaku tapi aku membuang muka, “Terserah Anya saja.”
“Yey! Asyik!” jawaban Mas Beny membuat Anya senang hingga meloncat kegirangan.
“Oh iya, Papa punya kamera, tapi sudah lama sekali tidak dipakai. Papa lihat dulu ya?”
Mas Beny pun beranjak dari duduknya. Dia menuju lantai dua untuk mencari kameranya.
Perhatianku kini kembali pada Anya, “Anya kenapa tiba-tiba ingin foto keluarga?”
“Anya ingin foto bersama Mama, Papa, dan Eric. Selama ini Anya cuma punya foto keluarga dengan Mama 'kan? Sekarang Anya punya Papa dan Eric.”
Aku hendak membuka mulut untuk menanyainya lagi, tapi kuurungkan begitu melihat Mas Beny sudah turun dari tangga. Di tangannya membawa sebuah kamera.
Tapi wajahnya menyiratkan kesedihan saat menghampiri kami, “Anya, maaf. Ternyata lensa kameranya berjamur jadi tidak bisa dipakai untuk mengambil gambar.”
“Yah...” Mendengar itu, semangat Anya langsung turun. Dia tampak kecewa. Di sisi lain aku justru bernapas lega.
“Tapi tenang! Papa bisa memperbaikinya, kok. Nanti kalau sudah bisa, kita foto bersama.”
“Yey! Terima kasih, Papa!” Anya kembali bersemangat karenanya.
Kini giliran aku yang kecewa.
.
.
.
Bab 23 ((END))