SECOND LOVE

SECOND LOVE
Tak Seperti yang Dibayangkan



“Kau? Ada apa lagi?” tanya Samantha seraya mengernyitkan kening.


Arcelio sedikit kehilangan konsentrasi, setelah melihat Samantha merapikan pakaiannya tadi. Namun, Arcelio kembali teringat dengan anak-anak yang ditinggalkannya di dalam kamar. “Um … Chrissy dan Aurora … mereka … um ….” Arcelio kebingungan harus berkata apa, karena Samantha terus menatapnya. Pria itu berusaha menguasai diri.


“Ini pakaian Chrissy yang basah. Aku sudah memandikannya. Namun, aku tidak berani memakaikan baju milik Aurora kepada putri … mu.” Arcelio menjadi serba salah, setelah mendengar suara Pierre yang memanggil nama Samantha. Pikiran pelukis tampan itu kian tak karuan.


“Tunggu sebentar,” ucap Samantha. Dia mengambil baju basah milik Chrissy yang disodorkan Arcelio. Samantha masuk dan membiarkan Arcelio menunggu beberapa saat di luar.


Sambil menunggu, Arcelio sempat melongok ke dalam. Di ruang tamu, dia tak melihat keberadaan Pierre. Lalu, di manakah pria itu? Arcelio mengembuskan napas dalam-dalam. Dia menggeleng pelan seraya menyugar rambut gondrongnya. “Apa urusanku?” gumam pria tampan tersebut.


Sesaat kemudian, Samantha kembali dengan membawa pakaian baru untuk Chrissy. “Sekalian saja pakaian dia piyama. Chrissy terbiasa minum susu sebelum tidur. Dia juga harus digaruki punggungnya terlebih dulu. Chrissy ….” Samantha tidak melanjutkan kata-katanya.


“Kenapa?” tanya Arcelio. Namun dia tak ingin berlama-lama di sana. Arcelio teringat pada kedua gadis kecil yang ditinggalkannya. Pria itu memutuskan segera berpamitan.


Arcelio berjalan tergesa-gesa menuju apartemennya. Dia langsung ke kamar, di mana dirinya meninggalkan Aurora dan Chrissy. Perasaan pria itu sudah was-was, takut jika kedua anak berusia lima tahun tersebut kembali berulah macam-macam. Namun, kali ini Arcelio dapat bernapas lega. Dia melihat Aurora dan Chrissy masih duduk di tempat mereka. Keduanya sedang asyik bermain jari.


“Ah, syukurlah,” ucap Arcelio lega.


“Apa itu baju untukku, Paman?” tanya Chrissy.


“Ya, Sayang. Ayo, turunlah.” Arcelio memberi isyarat dengan tangannya, mengajak kedua anak gadisnya agar mendekat. Dia menjajarkan Aurora dan Chrissy. Arcelio kemudian memakaikan pakaian secara bergantian. Pria itu terlihat sangat cekatan, karena Arcelio sudah terbiasa melakukannya terhadap Aurora.


“Rambut kalian sudah kering,” ucap Arcelio, setelah selesai menyisir rambut kedua anak gadis tadi.


“Apa yang akan kita lakukan sekarang, Papa?” tanya Aurora yang sudah cantik dan terlihat segar. Rambut hitamnya yang panjang, tergerai indah. Begitu juga dengan rambut Chrissy yang sama panjang.


“Kalian harus membantuku membangun tenda. Setelah itu, aku akan menyiapkan makan malam,” sahut Arcelio diiringi senyuman kalem.


Aurora bersorak riang. Sedangkan, Chrissy hanya menatapnya karena tak tahu dengan apa yang mereka perbincangkan. Akhirnya, Arcelio harus menjelaskan lagi kepada anak itu. Setelah mendengar rencana untuk berkemah, Chrissy ikut melonjak kegirangan.


Kedua gadis kecil tadi mengikuti langkah Arcelio ke ruang tamu, setelah pria itu sebelumnya mengambil tenda yang dia bawa dari Italia. Tenda itu biasa digunakan olehnya dan Aurora untuk berkemah.


Dengan antusias, Aurora dan Chrissy bertepuk tangan serta memberi semangat, saat Arcelio mendirikan tenda. Ya, tentu saja dia melakukannya sendiri. Arcelio tak dapat mengandalkan kedua gadis kecil tadi, selain untuk hal-hal yang sangat ringan dan sederhana.


“Papa hebat!” seru Aurora seraya menghambur ke dalam pelukan Arcelio, setelah tenda siap digunakan. Melihat hal itu, Chrissy tanpa merasa canggung ikut memeluk pria yang juga merupakan ayah kandungnya. Andai anak itu tahu, kebahagiaan Arcelio pasti akan jauh lebih lengkap.


Aurora, Chrissy, dan Ollie, asyik bermain di dalam tenda dengan ukuran cukup luas yang didirikan tadi. Sementara, Arcelio sibuk menyiapkan makanan. Dia memasak spaghetti beserta olahan sosis. Makanan yang simpel dan mudah dibuat, oleh seorang ayah super sibuk seperti dirinya.


Selama menyiapkan makanan, tiba-tiba pikiran Arcelio melayang kepada Samantha dan Pierre. Arcelio mengembuskan napas berat. Dia sudah mencoba menepiskan perasaan gelisah itu. Akan tetapi, entah mengapa dirinya tak bisa untuk bersikap tidak peduli. Bayangan-bayangan tak menentu, mulai merajai benaknya. Silih berganti membuat pria tampan itu tak bisa berkonsentrasi. Untungnya, Arcelio sudah menyelesaikan pekerjaan.


Senang rasa hati Arcelio melihat keceriaan dua gadis kecilnya. Akan tetapi, bayangan Samantha yang sedang merapikan pakaiannya tadi, kembali melintas di pelupuk mata sang pelukis tampan. Arelio menjadi sangat gelisah. “Silakan lanjutkan santap malam kalian. Bisakah menungguku hingga kembali? Aku ada urusan sebentar.” Arcelio mengatakan hal itu dalam dua bahasa. Sangat merepotkan.


Aurora dan Chrissy mengangguk. Mereka kembali makan, ketika Arcelio keluar dari tenda. Pria itu bahkan keluar dari ruang apartemen. Dia berjalan menuju tempat Samantha. Arcelio mengetuk pintu tanpa ragu.


Beberapa saat kemudian, Samantha membukanya. “Kau lagi. Ada apa?” tanya Samantha kecing.


Arcelio tak segera menjawab. Dia juga tak tahu untuk apa dirinya ke sana. “Um … apa kau sedang sibuk? Apa Pierre masih di sini?” tanyanya grogi.


“Memangnya kenapa?” tanya Samantha seraya menaikkan sebelah alis, sambil melipat tangan di dada.


“Tidak apa-apa, aku hanya ingin memastikan … ah, maksudku … aku … aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Namun, itu juga jika kau tidak merasa terganggu,” ujar Arcelio terbata. Dalam hati, dia merutuki diri yang telah bersikap sangat bodoh.


“Siapa, Sayang?” Terdengar seruan Pierre dari dalam sana.


“Tuan Lazzaro,” sahut Samantha setengah berseru.


Suara Pierre, membuat Arcelio kian kehilangan konsentrasi. Pria itu masih ada di sana, padahal waktu sudah menunjukkan hampir pukul delapan malam. Entah apa saja yang telah Samantha dan sahabat lamanya itu lakukan, dalam kebersamaan mereka yang cukup lama. “Astaga,” keluh Arcelio pelan.


“Ada apa? Kenapa kau mengatakan ‘astaga’?” tanya Samantha heran.


Namun, belum sempat Arcelio menjawab, Pierre lebih dulu menghampiri mereka. “Hey, Kawan,” sapanya. “Bagaimana acara berkemahmu bersama dua gadis cantik itu?” tanya pria berambut pirang tersebut. Seperti biasa, Pierre selalu terlihat ramah.


“Menyenangkan. Mereka sedang makan malam, tapi ….” Arcelio tak melanjutkan kalimatnya.


“Tapi apa?” tanya Samantha dan Pierre secara bersamaan.


Arcelio tersenyum kikuk. Dia juga tak tahu apa yang akan dikatakannya. “Jika kalian bersedia, maukah makan malam bersama di balkon apartemenku?” tawar Arcelio.


“Maafkan aku, Kawan. Bukannya menolak undanganmu, tapi Samantha baru selesai memasak makan malam untuk kami berdua. Aku juga sempat membantunya mengoleskan bumbu di ayam panggang tadi. Sayangnya, aku tak lihai melakukan hal itu. Bumbunya tumpah dan menciprati pakaian. Selain itu, mengenai wajah kami,” jelas Pierre seraya tergelak.


“Petang ini aku sudah berganti pakaian berkali-kali,” timpal Samantha sembari berdecak pelan.


“Maafkan aku, Sayang. Aku janji akan belajar menjadi asisten koki yang jauh lebih baik lagi,” kelakar Pierre. Tanpa ada rasa canggung, dia mendekat dan mengecup bibir indah Samantha.


Arcelio yang menyaksikan adegan tersebut, segera memalingkan muka. Dia merasa seperti orang bodoh. Arcelio hanya dapat menggaruk tengkuk. “Baiklah kalau begitu. Aku permisi dulu,” pamit pria yang kini menjadi dosen tersebut.


Arcelio berlalu dari hadapan mantan tunangan serta sahabat lamanya. Dia kembali ke apartemen sambil menghela napas panjang. Ada perasaan lega dalam hatinya, setelah mengetahui bahwa Samantha dan Pierre tak melakukan sesuatu seperti yang ada di dalam bayangannya.