
Aurora mere•mas pinggiran celana panjang Arcelio. Anak itu mungkin takut, karena Delanna merupakan orang asing baginya. Selama ini, tak ada foto atau apapun yang menunjukkan statusnya sebagai ibu dari Aurora.
“Tidak apa-apa, Nak. Aku tak akan menyakitimu,” ucap Delanna lembut. Dia merentangkan tangan, berharap agar Aurora bersedia mendekat padanya. Namun, Aurora malah meminta digendong oleh Arcelio.
Sedih bercampur kecewa, itulah yang Delanna rasakan. Wanita cantik tersebut kembali menegakkan tubuh, sambil menyeka air mata atas penolakan dari Aurora. Namun, dia tak bisa menyalahkan siapapun dalam keadaan ini.
“Beri Aurora waktu,” ucap Arcelio, saat Aurora dan Chrissy sudah kembali ke kamar mereka. “Kau yang meminta agar aku tak menyinggung apapun tentang dirimu. Karena itulah, dia tak pernah mengetahui bahwa ibunya masih hidup.”
“Bagaimana Sara bisa menghubungimu sehingga kau datang kemari?” tanya Samantha. Sorot mata wanita cantik itu terlihat aneh saat menatap Delanna. Entah memiliki keberanian dari mana, sehingga dia tak menghindar saat berhadapan langsung dengan wanita yang sebenarnya tidak ingin dia lihat lagi.
“Beberapa hari yang lalu, Sara menghubungiku. Entah bagaimana dia bisa memperoleh nomor teleponku. Sara mengatakan bahwa keadaan Aurora sangat mengkhawatirkan. Itulah kenapa aku langsung datang ke Italia dan menemuinya. Dia lalu menghubungkanku dengan Tuan Gilberto Bellucci,” terang Delanna.
“Wanita itu lagi,” geram Arcelio. Dia memukulkan kepalan tangannya ke paha, karena merasa kesal dengan segala hal yang sudah Sara lakukan.
“Dia benar-benar nekat,” timpal Samantha.
“Seperti itulah Sara. Dia memang sangat liar dan ….” Arcelio tak melanjutkan kata-katanya. Pria itu mengarahkan pandangan kepada Delanna. “Di hotel mana kau menginap?” tanyanya.
“Aku baru tiba beberapa jam yang lalu. Aku belum sempat mencari hotel untuk bermalam,” jawab Delanna.
Samantha yang mendengar hal itu, hanya menggaruk pelan keningnya. Namun, dia sudah benar-benar ingin berdamai dengan masa lalu. Samantha akan mencoba untuk kembali memberikan kepercayaan terhadap Arcelio. “Kenapa kau tidak menginap di sini saja, Delanna?” tawarnya.
Sontak, Arcelio dan Delanna menoleh kepada wanita itu. Terlebih, Arcelio. Dia tak menyangka bahwa Samantha akan memberikan penawaran demikian. “Sayang ….” Arcelio melayangkan tatapan protes terhadap istrinya. Namun, Samantha membalas dengan senyum penuh arti.
Seusai makan malam, Delanna mencoba untuk kembali mendekati Aurora. Dia hanya ingin memeluk gadis kecil itu. Namun, lagi-lagi Aurora menjaga jarak dengannya.
“Bibi Delanna menyukaimu, Sayang,” ucap Samantha, saat menemani kedua putrinya yang sudah bersiap akan tidur.
“Aku tidak mengenalnya, Ibu peri. Papa mengatakan bahwa aku tidak boleh bicara dengan orang asing,” jawab Aurora lugu.
“Apa katanya, Bu?” bisik Chrissy yang belum terlalu memahami Bahasa Italia, sehingga Samantha harus memberikan penjelasan padanya. “Aku langsung menyukai paman dari pertama kali bertemu,” ujar Chrissy seraya menautkan alis.
“Mulai sekarang, kau harus berhenti memanggilnya paman. Dia sudah menjadi papamu, Chrissy. Jadi, sebaiknya kau membiaskan diri untuk memanggil Paman Arcelio dengan ….”
“Jadi, aku harus memanggilnya ayah atau papa?” tanya Chrissy lagi.
“Terserah kau, Sayang. Kenapa kau tidak memanggil dengan sebutan papa. Sama seperti Aurora,” saran Samantha lembut.
“Baiklah,” sahut Chrissy antusias. Dia mencium pipi Samantha, lalu segera tidur. Terlebih, karena Aurora ternyata sudah lebih dulu terlelap.
Sekitar pukul sembilan, Samantha kembali ke kamar. Dia mendapati Arcelio tengah sibuk dengan laptop-nya. “Bagaimana pekerjaanmu?” tanya wanita itu seraya naik ke tempat tidur.
“Aku masih harus banyak belajar. Kau tahu bahwa ini bukan bidangku,” sahut Arcelio seraya menoleh sesaat kepada Samantha yang duduk di sebelahnya. “Aku adalah seorang pelukis. Sayangnya, diriku menjadi pewaris tunggal dari kerajaan bisnis Tuan Paolo Lazzaro.” Arcelio kembali mengarahkan perhatian ke layar laptop.
“Apa kau merasa terpaksa?” tanya Samantha lagi. Dia menatap lekat sang suami.
Arcelio tersenyum kalem. Dia menutup laptop, lalu meletakkannya di meja dekat tempat tidur. Pria tampan dengan rambut gondrong di atas pundak tersebut, merengkuh tubuh Samantha agar mendekat padanya. “Kau tahu, Sayang?” tanya Arcelio setelah mencium sang istri.
“Apa?” tanya Samantha manja.
“Jika kau tidak keberatan, aku ingin kita menambah satu lagi. Anak laki-laki,” jawab Arcelio.
Samantha tertawa renyah. Dia mencubit pipi suaminya dengan gemas. “Kupikir ada apa, ternyata … apa kau yakin?” Samantha kembali bertanya.
“Lalu, bagaimana jika ternyata aku melahirkan anak perempuan lagi?”
“Itu berarti kita akan terus mencoba sampai memiliki anak laki-laki.” Arcelio tertawa pelan setelah berkata demikian. Tawanya baru berhenti, saat dia dan Samantha saling berciuman. Adegan yang berlanjut pada aktivitas panas di tempat tidur.
Malam kian laut, ketika Samantha terbangun dari tidurnya. Dia meraba ke tempat di mana seharusnya Arcelio berada. Akan tetapi, pria itu tidak ada di sana. Seketika, Samantha terbangun. “Arcelio,” panggilnya pelan.
Karena tak ada jawaban, Samantha bergegas mengenakan kimono, lalu beranjak keluar kamar. Dengan perasaan was-was, dia menyusuri koridor yang menghubungkan kamar dengan ruang tamu. Samantha mencari suaminya di sana. Namun, Arcelio tidak ada.
Samantha kemudian beranjak ke dapur, lalu ke kamar anak-anak. Di sana pun, dia tidak menemukan Arcelio. Pikiran wanita cantik tersebut langsung tak menentu, saat teringat bahwa Delanna menginap di apartemen milik Arcelio. Haruskah dia mencari ke kamar yang ditempati wanita itu?
Dengan membawa perasaan was-was, Samantha memberanikan diri berjalan menuju kamar yang ditempati Delanna. Setibanya di sana, dia berdiri terpaku beberapa saat, sebelum memberanikan diri memutar gagang pintu hingga terbuka. Namun, di kamar itu tak ada siapa pun.
“Astaga,” ucap Samantha lirih. Detak jantungnya kian memacu, membayangkan Arcelio dan Delanna yang mungkin tengah berduaan di salah satu ruangan di apartemen itu.
Samantha bergegas keluar. Tujuannya saat itu adalah ruang kerja sang suami. Baru saja Samantha hendak memutar pegangan pintu, dia langsung mengurungkan niat tadi. Pasalnya, ibunda Chrissy tersebut mendengar suara Delanna ada di dalam sana.
“Arcelio.” Suara Samantha tertahan di tenggorokan. Dia tak kuasa membuka pintu, sehingga dirinya hanya mematung. Sayup-sayup, Samantha mendengar percakapan yang berlangsung di dalam.
“Aku sudah bertunangan. Rencananya, kami akan menikah musim panas depan,” ucap Delanna.
“Baguslah. Aku senang mendengarnya. Kau juga berhak memiliki pasangan hidup yang benar-benar tulus mencintaimu,” balas Arcelio.
“Ya, tapi jujur saja bahwa aku masih kerap memikirkan Aurora. Dia adalah anak pertama yang kulahirkan. Aku menyimpan rahasia ini selama bertahun-tahun dari ibu juga tunanganku. Mereka tidak pernah mengetahui bahwa diriku pernah melahirkan di sini,” ucap Delanna lagi. Dia tertawa pelan setelah berkata demikian.
Arcelio tak langsung menanggapi. Entah apa yang tengah dilakukannya saat itu, karena Samantha tak memiliki keberanian untuk melihat ke dalam. Dia bahkan seperti kehilangan kekuatan, sekadar untuk memutar gagang pintu.
“Tak apa jika kau tetap ingin merahasiakannya. Lagi pula, Aurora sudah hidup nyaman denganku. Dia tak pernah bertanya macam-macam.” Arcelio kembali terdengar berbicara.
“Sebenarnya, aku sangat menyesalkan hal ini. Kita bisa saja menikah dan merawat anak itu bersama-sama. Kau tahu bahwa aku sangat tergila-gila padamu,” uca Delanna lagi diakhiri tawa manja dengan suara parau.
“Astaga, Delanna. Kau ini ….” Arcelio tak melanjutkan kata-katanya. Tidak juga terdengar lanjutan percakapan antara mereka berdua untuk beberapa saat. Hal itu membuat gemuruh dalam dada Samantha kian menjadi.
Tanpa banyak berpikir, Samantha langsung berlari kembali ke kamar. Dia menangis di sana, membayangkan apa yang tengah Arcelio dan Delanna lakukan di dalam ruang kerja pada malam selarut itu. Samantha menggeleng kencang. Apa yang Gilberto katakan memang benar adanya. Pengkhianat akan tetap menjadi pengkhianat.
Samantha bergegas mengeluarkan koper dari dalam lemari. Dia tak memikirkan apapun selain ingin pergi meninggalkan tempat itu. Lagi-lagi, Samantha hanya dapat melarikan diri dari perasaan tersakiti yang dialaminya. Dengan tergesa-gesa, wanita itu memasukkan pakaian ke dalam koper tadi. Setelah itu, dia berganti pakaian.
Samantha terdiam sejenak di ujung tempat tidur. Saat itu, waktu baru menunjukkan pukul dua dini hari. Aurora dan Chrissy masih tertidur lelap. Tak mungkin baginya untuk mengganggu mereka. Akhirnya, Samantha membiarkan koper itu teronggok di dekat tempat tidur. Sementara, dia keluar menuju kamar yang ditempati Aurora dan Chrissy.
Mantan aktris ternama Italia tersebut menangis di sana. Dia meratapi hatinya yang kembali hancur atas sikap Arcelio dan Delanna. Keputusannya yang mengizinkan wanita itu menginap, ternyata membuahkan hasil. Dia dapat menguji kesetiaan seorang Arcelio yang ternyata belum berubah meski mereka telah terikat janji suci pernikahan.
Beberapa saat berlalu. Arcelio dan Delanna keluar dari ruang kerja.
“Terima kasih, Arcelio. Kau memang sangat pengertian. Aku senang dengan keputusanmu tadi,” ucap Delanna diiringi senyum lembut.
“Sudahlah. Ini sudah terlalu malam. Aku juga sangat lelah,” balas Arcelio. “Selamat malam, Delanna.” Arcelio berlalu meninggalkan wanita yang masih berdiri menatap langkah tegapnya hingga menghilang di balik dinding penyekat.
“Selamat malam, Arcelio,” balas Delanna seraya berbalik menuju kamar yang ditempatinya.
Setibanya di dalam kamar, Arcelio terkejut karena tak menemukan Samantha. Pria itu tertegun, saat melihat koper di dekat tempat tidur.