SECOND LOVE

SECOND LOVE
Bab 24 – Picture of Four (2)



...Aku sedikit bersyukur setidaknya setelah makan siang, Mas Beny kembali sibuk memperbaiki kameranya yang rusak. Dia mengurung diri di dalam ruang kerjanya. Saat makan siang tadi pun, kami tidak duduk di meja yang sama. Mas Beny di meja Makan, sedangkan aku makan di bangku taman bersama Anya dan Eric.


...


Aku sama sekali tidak marah padanya. Hanya saja sangat sulit untuk berhadapan dengannya lagi. Ingatanku masih segar dengan kejadian tadi. Aku tidak bisa lagi melihat Mas Beny seperti biasa. Aku butuh waktu untuk menenangkan hati dan pikiranku. Tapi tentu saja mustahil berharap tidak bertemu dengan Mas Beny di rumahnya sendiri. Yang bisa kulakukan sekarang adalah menghindari bertemu pandang, kontak fisik, dan percakapan dengannya.


Dan anak-anak selalu menjadi alasanku untuk menghindar darinya. Namun itu tak sepenuhnya bohong. Bermain bersama mereka setidaknya bisa membuatku sejenak melupakan beban pikiranku.


Hari sudah beranjak sore, tapi Mas Beny belum keluar sama sekali. Aku jadi khawatir. Apa dia benar-benar sedang sibuk dengan kameranya? Atau itu hanya sebagai alasan untuk menghindariku? Entahlah. Mungkin dia juga butuh waktu untuk sendiri sepertiku.


Aku pun memandikan anak-anak terlebih dulu. Di dalam kamar mandi, Anya tak hentinya bercerita tentang kegiatannya di sekolah. Tentang guru dan teman-temannya, tentang kelinci, tentang lagu yang diajarkan oleh gurunya tadi. Aku mendengarnya dengan penuh perhatian, sesekali aku menyelipkan pujian untuk membuatnya senang.


Setelah mandi, Anya bersikeras untuk memilih sendiri baju yang akan ia kenakan.


“Anya mau pakai baju yang bagus. Nanti kita 'kan foto bersama. Anya mau terlihat cantik. Mama juga harus pakai baju yang cantik, ya?”


Aku menggeleng melihat tingkahnya. Anya berdiri di depan lemarinya untuk memilah baju yang dianggapnya cocok. Anya selalu antusias dalam segala hal. Aku tak pernah mempermasalahkannya, tapi terkadang hal itu membuatku kerepotan menanggapinya.


Pada akhirnya membutuh waktu tiga puluh menit lebih bagi Anya untuk berganti baju.


Mas Beny sudah menunggu di ruang tamu ketika kami kembali ke sana. Di tangannya sudah ada kamera. Melihat itu, Anya langsung berlari menghampirinya.


“Pa, kameranya sudah selesai diperbaiki?”


“Sudah, sayang. Sekarang sudah berfungsi dengan baik lagi.”


Anya bersorak kegirangan mendengarnya.


“Sekarang Anya duduk di sofa bersama Eric, Papa akan memfoto kalian,” tanpa banyak bertanya lagi Anya langsung duduk manis di atas sofa.


Aku pun mendudukkan Eric di samping Anya. Eric tampak bingung dan ingin turun dari sofa, tapi untungnya Anya segera memeluknya erat.


“Nah, lihat ke arah Papa, ya? Senyum!” Mas Beny mulai membidikkan kameranya ke arah mereka. Anya memasang pose peace dengan senyum lebar sambil memeluk Eric. Sedangkan Eric justru sibuk berusaha untuk lepas dari pelukan Anya.


“1... 2... 3!”


CEKREK!


Mas Beny kemudian melihat hasil jepretannya. Aku yang berada di belakangnya, diam-diam ikut melirik ke arah kamera.


“Pa, ayo pindah ke taman!”


Suara Anya membuatku terkejut. Spontan aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Buru-buru aku mengambil Eric dan menggendongnya kembali. Lalu kami berpindah ke taman belakang.


Di taman hanya Anya yang antusias untuk berfoto, sedangkan Eric sama sekali tidak mau turun dari gendonganku. Kami berdua hanya duduk di bangku taman sambil melihat Anya yang bergaya bak model di depan kamera. Terkadang aku tertawa kecil melihat Anya membuat pose aneh.


Setelah puluhan atau bahkan ratusan jepretan, akhirnya Anya mulai bosan. Dia mendudukkan dirinya di rerumputan di susul Mas Beny di sampingnya.


“Anya mau coba?” Mas Beny menyodorkan kameranya pada Anya.


“Boleh, Pa?” tanyanya masih ragu, Mas Beny mengangguk, “Mau!”


Kamera itu pun berpindah tangan pada Anya. Kukira kamera itu agak berat, tapi sepertinya tidak. Buktinya Anya bisa memegang benda itu tanpa kesusahan.


“Nah, Anya tinggal memencet tombol ini jika ingin mengambil gambar,” dia memberikan petunjuk cara menggunakan kamera pada Anya. Anya mendengarkan dengan saksama penjelasan Papanya.


Dia lalu mempraktikkan apa yang sudah dijelaskan padanya. Mula-mula dia memfoto bunga-bunga yang ada di taman. Lalu dia mengarahkan bidikannya pada aku dan Eric yang masih duduk di bangku taman.


“Mama, Eric, lihat ke arah Anya, ya?”


Aku tersenyum ke arah kamera. Sebelah tanganku mengangkat tangan Eric. Dalam hitungan mundur dia mengambil gambar kami.


Setelah melihat hasilnya, Anya kemudian menoleh pada Mas Beny.


“Papa juga duduk di situ. Anya mau foto Mama sama Papa.”


Perkataan Anya membuatku panik dalam hati. Kulirik Mas Beny juga mematung sesaat. Tapi kemudian dia berjalan ke arahku. Aku menundukkan kepalaku, tak ingin bertemu pandang dengannya. Begitu dia duduk di sampingku, aku langsung menggeser posisi dudukku menjauh darinya.


“Mama, lebih jangan jauh-jauh. Lebih dekat lagi!”


Karena tidak ingin membuat Anya curiga, dengan ragu aku kembali bergeser mendekati Mas Beny.


“Nah, sekarang Papa peluk pundak Mama.”


Pundakku menegang seketika. Tanpa sadar aku menahan napasku. Kueratkan pelukanku pada Eric. Aku bahkan tidak berani melirik ke arah Mas Beny, jadi aku tidak tahu seperti apa ekspresinya sekarang.


Kemudian aku merasakan sentuhan pelan di pundakku. Spontan aku semakin meringkuk untuk menghindarinya. Padahal aku sudah mempersiapkan diri dan tak bermaksud untuk menghindar.


“Maaf, sebentar saja.”


Tak kusangka Mas Beny berbisik di dekat telingaku. Belum sempat aku menjawabnya, dia sudah merangkul pundakku. Bahu kami pun bersentuhan. Tiba-tiba kejadian tadi kembali berputar di kepalaku. Wajahku kembali memanas, jantungku berdetak kencang. Mungkin Eric bisa mendengarnya.


“Mama, hadap ke sini!”


Mau tak mau aku mengangkat kepalaku dan berusaha tersenyum ke arah Anya. Tiga detik kemudian, suara jepretan kamera terdengar.


Aku langsung berdiri dari dudukku, “aku mau mengambil minum.”


Eric yang sedari tadi berada di pangkuanku, kuserahkan pada ayahnya. Buru-buru aku memasuki rumah.


“Irene!”


Mendengarnya memanggil namaku, aku justru mempercepat langkahku menuju dapur. Tak lama kemudian, aku mendengar langkah kaki yang terburu-buru. Rupanya dia mengikutiku.


Tinggal beberapa langkah dari dapur, Mas Beny menarik tanganku untuk berhenti. Aku pun menghentikan langkahku. Kini kami berhadapan tapi aku masih menghindari tatapannya.


“Irene, kumohon lihat aku!”


Masih keras kepala, aku tetap menunduk. Mataku tertuju pada tangan kami yang masih bertaut. Tangannya yang besar menggenggam seluruh telapak tanganku. Meski begitu, genggaman tangannya sama sekali tidak menyakitiku, justru terasa nyaman dan hangat.


Entah mengapa memikirkan hal itu membuat mataku memanas. Aku menggigit bibir bawaku, untuk menahan tangis.


“Tak apa jika kamu tidak ingin melihatku lagi. Aku pantas mendapatkannya. Kamu berhak marah. Aku sudah kurang ajar padamu. Kumohon maafkan aku,” dengan suara lirih dia memohon maaf padaku.


Semakin besar rasa bersalahku padanya. Sejak awal aku tak marah padanya. Aku hanya terlalu malu. Tapi sikapku ternyata membawa kesalahpahaman. Justru membuat Mas Beny terluka.


Aku hendak menjawabnya ketika Anya tiba-tiba menginterupsi kami.


Kami sama-sama terkejut dan menoleh pada Anya. Dia sedang berdiri tak jauh dari kami. Mungkin yang dia lihat saat ini adalah Papanya yang memohon maaf pada Mamanya dan Mamanya yang sedang berlinang air mata. Tak heran dia berasumsi bahwa kami sedang bertengkar.


Mas Beny langsung berlutut di depan Anya. Dia memegang kedua tangan Anya, agar seluruh perhatian Anya beralih padanya.


“Papa sudah melakukan sesuatu yang membuat Mama marah. Papa ingin meminta maaf pada Mama,” jelasnya pada Anya.


“Papa nakal?”


“Iya, Papa sudah nakal. Makanya Mama marah pada Papa.”


Raut wajah Anya berubah menjadi sedih. Dia lalu berjalan ke arahku lalu memeluk kakiku. Kulihat bahunya bergetar. Dia lalu mendongak melihatku. Matanya kini basah karena air mata.


“Ma, hiks, tolong maafkan Papa, ya? Anya masih mau Papa jadi papanya Anya. Hiks...”


Aku terkejut dengan ucapan Anya, kemudian aku berlutut untuk menyamakan tinggiku dengannya, “Anya kok ngomong begitu?” Kuhapus air matanya yang masih mengalir di pipinya dengan ibu jariku.


“Papa Alan bilang, Mama pergi sama Anya karena Papa Alan nakal. Anya nggak mau pergi lagi, Ma.”


Hatiku seketika hancur mendengarnya. Ternyata dia masih mengingat perkataan Alan waktu itu. Dia takut jika aku juga akan pergi meninggalkan Mas Beny seperti aku meninggalkan Alan dulu. Aku tak menyangka jika hal itu membuatnya trauma.


“Nggak akan lagi, sayang. Mama tidak marah sama Papa,” aku memeluknya. Kuelus rambutnya dengan sayang, untuk menenangkannya, “semua akan baik-baik saja. Anya tidak perlu sedih. Mama sama Papa janji nggak akan bertengkar lagi.”


Kulirik Mas Beny masih dalam posisi berlutut, tapi kali ini menghadap kami. Dia memandangku dengan tatapan penuh rasa bersalah.


Setelah Anya agak tenang, aku melepaskan pelukan kami. Aku kembali menghapus air matanya. Kali ini tangisnya sudah mereda.


“Sekarang Anya jagain Adik Eric dulu. Mama mau bicara sama Papa. Anya bisa?”


“Iya, Ma.”


Setelah Anya sepenuhnya hilang dari pandangan kami, kami akhirnya kembali berdua. Aku pun berdiri dari posisiku sebelumnya, disusul oleh Mas Beny. Sekarang kami berhadapan.


Aku mencoba memberanikan diri untuk menatapnya. Dia masih memandangku dengan tatapan bersalahnya.


“Maaf, aku tidak bermaksud membuat Anya menangis. Aku tidak tahu jika kalimatku justru menguak luka lamanya.”


Tanganku terangkat untuk memegang pipinya. Membuatnya terdiam, dia terkejut. Tapi kemudian matanya melembut menatapku.


“Aku sudah mengatasinya. Mas tak perlu khawatir,” dia pun mengangguk.


“Mas tak perlu merasa bersalah padaku untuk kejadian di taman tadi,” wajahku kembali memerah, tapi aku mencoba untuk tetap tenang, “a-aku sama sekali tidak marah. Justru aku yang merasa bersalah karena telah menolaknya.”


“Kamu tidak marah? Sungguh?” dia terlihat lega mendengarnya, “lalu kenapa kamu terus menghindar dariku?”


“Itu karena aku terlalu malu untuk berhadapan dengan Mas Beny,” kututup wajahku yang semakin panas dengan kedua tangan, “setiap melihat Mas Beny, kejadian itu terus berputar di kepalaku.”


“Aku juga takut Mas Beny akan merasa kecewa padaku. Karena aku belum bisa jadi istri yang baik. Aku selalu berusaha untuk itu, tapi aku hanya belum siap.”


Tanganku masih menutupi wajahku. Aku tak bisa melihat ekspresinya. Tapi samar-samar aku mendengar dia tertawa kecil. Kemudian kurasakan tangannya menyentuh tanganku.


“Tak apa. Terima kasih sudah berusaha,” tangannya menarik tanganku, kami pun kembali bertemu pandang, “kita bisa lakukan dengan perlahan saja. Aku akan selalu sabar menunggu. Kamu tidak perlu memaksakan diri. Jika memang tidak suka, kamu bisa menegurku. Aku tidak akan marah.”


Dia tersenyum lembut sembari menyelipkan rambutku yang berantakan ke belakang telinga. Ada rasa hangat yang menyeruak dalam hatiku saat mendengarnya. Aku pun membalas senyumnya. Dalam hati aku berterima kasih pada Tuhan karena telah mempertemukanku dengan lelaki ini.


Dengan haru, aku memeluknya erat. Betapa bodohnya aku jika menyia-nyiakan cintanya. Baru kali ini aku merasa begitu dicintai, begitu dihormati sebagai seorang wanita oleh suamiku sendiri.


Sejak awal aku tak terlalu berharap pada pernikahan ini. Aku yang pernah gagal membina rumah tangga, tak ingin jatuh ke lubang yang sama. Tapi dia terus berjuang untuk meyakinkanku bahwa dia benar-benar mencintaiku. Pernikahan ini bukan untuk keuntungan semata, namun sebuah pembuktian bahwa dia ingin bersamaku.


Sekarang aku tidak akan lari lagi. Aku ingin menyambutnya. Aku tak ingin dia berjuang sendiri lagi. Karena aku juga ingin selalu bersamanya.


Tanganku kini beralih ke lehernya. Perbedaan tinggi badan kami membuatku kesusahan menggapainya, akhirnya aku menariknya agar dia menunduk. Tanpa memedulikan keterkejutannya, aku mencium bibirnya.


Kurasakan leher dan bahunya menegang. Tapi setelah itu dia mulai tenang dan membalas ciumanku. Tangan kirinya berada di pinggangku, sedangkan tangan kanannya berada di belakang kepalaku. Kami berciuman selama beberapa detik.


Bukan ciuman panas yang menggebu-gebu. Hanya ciuman lembut namun sarat kasih sayang. Tidak perlu kata cinta yang berlebihan. Seolah melalui ciuman ini, kami meluapkan perasaan masing-masing yang selama ini kami pendam.


Bahkan setelah berakhir, kami masih belum mau melepaskan satu sama lain. Kening dan tangan kami masih saling bertaut. Saling curi pandang, lalu tertawa bersama.


Perjalanan cinta kami baru saja dimulai.


...


“Anya, peluk Eric pelan-pelan saja. Jangan dipaksa, nanti dia marah.”


Kami berempat sedang bersiap-siap untuk sesi foto keluarga. Kami melakukan pose seperti yang diminta Anya. Duduk di taman dan saling berpelukan. Urutannya pun sama seperti yang digambarkan oleh Anya. Mas Beny, aku, Anya, dan Eric.


Aku sedikit khawatir dengan Anya yang mungkin membuat Eric tidak nyaman. Tapi untungnya kekhawatiranku tidak terbukti. Eric tampak nyaman duduk bersandar pada Anya.


“Mulai berhitung dari 5!” selesai mengatur timer kamera, Mas Beny langsung berlari kemudian duduk di belakangku.


“4!” Anya melanjutkan hitungannya.


Mas Beny melingkarkan kedua tangannya di perutku. Aku tersenyum ketika dia juga mencium kepalaku.


“3!”


Kali ini dia meletakkan kepalanya di pundakku. Aku mengangkat pundakku beberapa kali agar dia menyingkir, tapi dia keras kepala.


“2!”


Aku tertawa melihatnya bersikap manja padaku seperti ini.


“1!”


CEKREK!


.


.


.


Bab 24 ((END))