SECOND LOVE

SECOND LOVE
Bab 10 - Hug



Sekarang pukul sepuluh malam dan anak-anak sudah tidur dengan nyenyak. Seharian ini aku sudah mempertimbangkan untuk memberi tahu Beny tentang masalah Alan atau tidak. Tapi aku masih ragu.


Drrtt... Drrtt...


Kuambil ponselku di samping tempat tidur. Ternyata ada pesan masuk dari Gerald. Tanpa ada rasa curiga aku membukanya.


‘Irene, baru saja aku mendapatkan informasi dari Rey (kamu ingat dengan Rey mantan drumer band kita?). Dia selama ini masih sering berhubungan dengan Alan.'


Aku langsung mendudukkan badanku begitu nama Alan disebut. Pesan itu cukup panjang, jadi kubaca dengan perlahan.


‘Dia bilang, Alan pernah masuk penjara karena kasus penganiayaan pada kekasihnya dan baru bebas lima bulan yang lalu. Aku tak tahu dia wanita yang bersama Alan waktu itu atau bukan, tapi kejadian penganiayaan itu terjadi beberapa bulan setelah kalian bercerai.’


‘Menurut penuturan Rey juga, Alan mengalami depresi setelah bercerai denganmu. Dia semakin temperamental dan kecanduan alkohol. Mungkin itulah yang menyebabkannya bertindak seperti itu.’


Beberapa kali kubaca ulang pesan Gerald, aku masih tidak menyangka Alan bertindak seperti itu. Dia memang bukan pria yang baik dan sering mengabaikan keberadaanku dan Anya. Namun dia tak pernah memperlakukan kami dengan kekerasan fisik.


Mungkin saja jika aku bertahan lebih lama dengan Alan, aku juga akan mengalaminya.


Berarti selama empat tahun dia tak pernah menemui kami karena dia di penjara. Dan sekarang setelah bebas, dia baru mencari kami. Lalu apa yang dia inginkan jika bertemu kami nantinya?


PING


Gerald kembali mengirim pesan, 'Ini masalah serius, Irene. Bisa saja Alan berbuat sesuatu yang berbahaya padamu dan Anya. Kau harus membicarakan ini pada suamimu. Demi keselamatan keluarga kalian.’


Benar. Jika sudah seperti itu aku takkan bisa mengatasinya sendiri. Saat ini hanya Beny yang bisa kumintai tolong.


Dengan segera aku membalas pesan Gerald dan berterima kasih padanya. Setelah itu aku mengirim pesan pada Beny untuk memastikan bahwa dia belum tidur.


‘Mas, belum tidur? Bisa kita bicara sebentar?’


Beberapa detik setelah pesan terkirim, langsung terbaca oleh Beny.


‘Belum. Mau bicara soal apa?’


'Soal mantan suamiku.’


Setelah itu Beny belum membalasnya. Namun beberapa menit kemudian ia terdengar ketukan pelan di pintu kamarku.


Aku bergegas membuka pintu, dan kulihat Beny dengan baju piamanya sudah berdiri di sana.


“Maaf, Mas. Waktu tidur Mas Beny jadi terganggu.”


“Tidak, kok. Aku belum tidur. Kita bicarakan di ruang keluarga saja?” Beny menengok ke arah anak-anak yang sedang tidur dengan nyenyak.


“Ya.”


...


“Jadi, ada masalah apa?” Beny yang memulai percakapan begitu kami duduk di sofa ruang keluarga.


“Umm... Beberapa hari yang lalu, aku dihubungi oleh pemilik apartemen yang kutinggali sebelumnya. Dia mengatakan bahwa mantan suamiku mencariku dan Anya di sana,” aku memperhatikan raut wajah Beny yang duduk di hadapanku. Dia memperhatikanku dengan serius.


“Lalu saat kita ke kafe Gerald tadi, dia juga memberitahuku bahwa Alan, mantan suamiku, juga datang padanya untuk mencari informasi tentang kami. Tapi untungnya Gerald tidak memberitahu apa pun kepadanya.”


“Apa kamu tidak ingin bertemu dengannya?”


Pertanyaan Beny membuatku teringat dengan luka-luka yang telah ditorehkan oleh Alan. Luka yang masih membekas hingga sekarang.


“Tidak,” jawabku tegas, “terlebih aku tidak ingin Anya bertemu dengannya. Dia tidak pantas bertemu dengan Anya.”


Beny hanya berdiam mendengar jawabanku.


“Mungkin Mas Beny menganggapku ibu yang jahat karena telah memisahkan putriku dengan ayah kandungnya. Tapi itulah caraku untuk melindungi Anya,” emosi yang sudah kutahan belakangan ini akhirnya kuluapkan dengan air mata. Aku tak bermaksud untuk menangis, tapi entah mengapa pertahananku menjadi rapuh di hadapan pria ini.


“Sejak awal, sejak Anya berada dalam kandunganku dia tak pernah menganggap Anya ada. Bahkan menyebut namanya pun tak pernah,” isakku semakin keras, “lalu untuk apa sekarang dia mencarinya? Hiks... Hiks...”


Lalu aku bercerita tentang masa laluku bersama Alan. Mulai dari saat aku memberitahu Alan aku sedang mengandung, sikapnya yang berubah, dia yang suka marah saat Anya menangis, tidak pernah sekali pun mau menggendong Anya bahkan saat ia sakit, dan banyak hal lain yang kuceritakan.


Sepanjang bercerita, tangisku tak juga mereda. Justru pada titik tertentu, tangisku semakin keras. Beny hanya diam mendengarkan ceritaku dengan sabar. Sesekali dia menyodorkan lembar tisu padaku, untuk menghapus air mataku.


“Puncaknya adalah ketika aku memergokinya sedang bermesraan dengan wanita lain di sebuah kafe. Kesabaranku sudah habis saat itu dan aku meluapkan emosiku padanya,” tangisku kini sudah mereda walau pun masih terisak.


“Tapi sejak kejadian itu, Alan tidak pulang sama sekali. Jadi aku memutuskan untuk bercerai dengannya dan pergi bersama Anya.”


Keheningan kembali menyelimuti kami. Tenggorokanku terasa kering setelah bercerita panjang dan menangis. Bermaksud untuk mengambil air minum di dapur, aku berdiri dari sofa. Belum sempat aku melangkah, Beny menarik tangan kiriku.


“Kyaaa!” aku memekik karena mengira aku akan jatuh. Tapi ternyata kepalaku mendarat di dada Beny.


Beny memelukku erat dan meletakkan kepalanya di bahuku. Aku yang masih terkejut tak sanggup berkata-kata.


“Maaf, Irene. Sebentar saja.”


Tanpa perlawanan, aku justru memejamkan mataku. Hatiku terasa lebih tenang sekarang. Berada dalam pelukan Beny membuatku merasa aman. Tanpa sadar aku melingkarkan kedua tanganku ke punggung lebarnya, membalas pelukannya.


“Aku pasti melindungimu dan Anya. Percayalah padaku,” bisiknya di telingaku.


Aku kembali menangis mendengar kalimatnya. Kali ini air mata kelegaan. Lega karena telah dipertemukan dengan pria yang tepat.


.


.


.


Bab 10 ((END))