SECOND LOVE

SECOND LOVE
Tak Sesuai Harapan



“Dia menyukai papamu?” tanya Delanna meyakinkan apa yang didengarnya.


“Iya. Dia memaksa papaku, tapi papa tidak menyukainya,” jelas Aurora. Anak itu memiliki daya ingat yang sangat bagus, sehingga bisa bercerita dengan jelas kepada Delanna.


Delanna terdiam dan berpikir. Setelah mendengar apa yang Aurora katakan, pikirannya kembali terbuka. Kabut keraguan yang tadi sempat menyelimuti, perlahan tersibak dan memudar.


Delanna dapat menangkap sesuatu dari sikap Sara yang terus memprovokasinya. Dia manggut-manggut tanda memahami maksud yang tersirat dari sikap Sara. “Ya, sudah. Habiskan es krimmu. Setelah ini, kita akan membeli hal lain yang kau inginkan.”


“Apa kau juga akan membelikan untuk Chrissy?” tanya Aurora polos.


“Boleh. Kau tahu apa yang dia sukai?” tanya Delanna.


Aurora mengangguk dengan mata berbinar. Setelah menghabiskan es krim tadi, mereka melanjutkan rencana yang sudah disusun.


Lewat tengah hari, Delanna dan Aurora sudah kembali ke apartemen. Ibu dan anak itu sama-sama terlihat ceria. Arcelio yang melihat hal itu merasa tenang. Setidaknya, Aurora sudah terlihat nyaman bersama Delanna. Pria tampan berambut gondrong tersebut dapat sedikit bernapas lega, andai gadis kecil itu berada jauh darinya. Aurora bahkan tak menolak, saat Delanna mengajak tidur bersama di kamarnya. Hal itu terus berlangsung hingga dua malam.


“Aurora terlihat begitu bahagia,” ucap Arcelio dengan tatapan menerawang ke langit-langit kamar. Saat itu, dirinya tengah berbaring dalam posisi telentang di ranjang.


Samantha yang berada di samping Arcelio, langsung menoleh dan tersenyum.


“Ingatlah, Arcelio. Tak ada satu hal pun yang dapat memutuskan ikatan darah antara ayah dengan anak. Sejauh apapun jarak yang memisahkan kalian,” ujar Samantha. Jarinya terulur, saat bulir bening menetes di sudut mata Arcelio. Samantha mengusapnya penuh kasih. Dia lalu melingkarkan tangan di perut sang suami.


“Apa kau ingat, saat aku meninggalkanmu dalam kondisi yang sedang mengandung Chrissy? Bertahun-tahun, aku berusaha menyembunyikan anak itu agar tak pernah bertemu denganmu. Namun, lihatlah apa yang terjadi. Takdir malah menyatukan kalian dengan sangat mudah,” ujar Samantha lagi.


Mendengar ucapan Samantha, Arcelio langsung mengubah posisi jadi menghadap kepada Samantha. “Chrissy justru langsung akrab denganku, dari sejak pertama kami bertemu,” sahutnya diiringi senyuman lebar. Namun, sesaat kemudian senyum itu menghilang. “Bagaimana jika Aurora melupakan kedekatan kami?” tanya Arcelio tiba-tiba.


“Astaga, Sayangku.” Samantha tergelak mendengar pertanyaan suaminya. “Kau berpikir terlalu jauh. Tenanglah, Arcelio. Wajar jika kau terlalu khawatir, karena ini pertama kalinya kalian berpisah. Ingatlah, dia tidak akan menetap dengan Delanna. Aurora akan kembali,” hibur Samantha.


“Sebaiknya kau segera tidur, Arcelio. Besok kita harus bangun lebih awal. Aurora akan berangkat dengan penerbangan pagi,” ujar Samantha lembut.


......................


Pagi itu, terlihat aktivitas yang tak biasa di apartemen Arcelio. Semua orang tampak sibuk, tak terkecuali Chrissy. Gadis kecil itu memasukkan segala jenis aksesoris rambut ke dalam tas Delanna.


“Untuk apa benda-benda itu, Sayang?” tanya Samantha keheranan.


“Aurora sangat menyukai pita dan bando, Bu,” jawab Chrissy lugu.


“Ah, terima kasih sekali, Anak cantik. Kau sangat perhatian terhadap Aurora,” ucap Delanna seraya menurunkan tubuh hingga sejajar dengan Chrissy. Ibunda Aurora tersebut membelai lembut pipi Chrissy.


“Dia sahabatku, Bibi. Aku suka sekali dengan Aurora,” sahut Chrissy. Sesaat kemudian, raut wajahnya mulai sendu dengan mata berkaca-kaca. “Aku ingin ikut,” isaknya pelan.


“Hei, Sayangku. Kita sudah membicarakan tentang hal ini kemarin.” Arcelio yang membantu menyiapkan keperluan Aurora, segera menghampiri Chrissy. Dia menggendong putrinya, demi mengalihkan perhatian gadis kecil itu agar tak menangis. Sedangkan, Aurora sama sekali tak merasa terganggu. Dia malah asyik bermain dengan Ollie dan Leeloo.


“Sekarang kita antarkan Aurora dan Bibi Delanna ke bandara, ya,” bujuk Arcelio sambil menyentuh ujung hidung Chrissy. Dengan raut wajah yang masih cemberut, akhirnya Chrissy mengangguk setuju.


Setengah jam perjalanan dilalui tanpa ada hambatan yang terlalu berarti, hingga mereka tiba di bandara. Arcelio begitu berat saat harus melepaskan putri kecil, yang telah dia timang sejak lahir hingga sebesar itu. Perasaannya lebih dari sedih, saat teringat bahwa Aurora akan pergi ribuan mil jauhnya.


Walaupun perpisahan itu hanya sementara, tapi Arcelio tetap tak kuasa menahan rasa pilu yang tetap dia sembunyikan. Hatinya bagai teriris, ketika melihat Aurora berjalan menjauh sambil terus melambaikan tangan. Perasaan tak karuan dalam hati Arcelio semakin besar, ditambah dengan rengekan Chrissy yang kehilangan teman bermain. Satu-satunya yang menghibur Arcelio adalah wajah Aurora yang terlihat begitu bahagia.


Aurora memang terlihat sangat bersemangat. Apalagi, ketika Delanna menunjukkan awan berarak yang tampak jelas di luar jendela pesawat. Ibu dan anak itu pasti akan menikmati perjalanan panjang mereka selama kurang lebih dua puluh dua jam. Terlebih, karena Arcelio telah memesankan tiket untuk kelas satu yang pasti membuat perjalanan terasa nyaman.


“Apa kau menyukainya, Sayang?” tanya Delanna. Wanita berkulit eksotis itu tersenyum lembut kepada Aurora.


Delanna tertawa renyah mendengar ucapan putrinya. Tanpa terasa, perjalanan hampir sehari semalam berlalu begitu cepat, sampai pesawat mendarat dengan mulus di bandara internasional Luis Munoz Marin.


Wajah ceria yang selalu ditampakkan Aurora semenjak berangkat hingga berada di dalam pesawat, seketika memudar tatkala Delanna menggandengnya menuju terminal kedatangan. Ekspresi gadis kecil itu mendadak murung, apalagi ketika memperhatikan seorang wanita paruh baya yang antusias menyambut kedatangan mereka.


“Inikah cucu yang sering kau ceritakan padaku, Deli?” tanya wanita itu sambil tersenyum ramah pada Aurora. Wanita berambut putih itu hendak memeluk Aurora. Akan tetapi, putri Arcelio tersebut lebih dulu menghindar. Dia bersembunyi di belakang tubuh Delanna.


“Hei, Sayang. Tidak apa-apa. Dia Abuela (nenek) Caterina,” ucap Delanna lembut.


“Abuela?” ulang Aurora seraya mengernyitkan kening. Dia mengintip dari balik tubuh sang ibu.


“Ya, Sayang. Dalam Bahasa Spanyol, Abuela berarti nenek,” jelas Delanna.


“Dia adalah nenek?” ulang Aurora lagi.


“Ya, Aurora. Kau adalah putriku, dan dia adalah ibuku,” jelas Delanna mengarahkan tangannya pada Caterina.


“Lalu, bagaimana dengan ibu peri?” tanya Aurora ragu.


“Siapa itu ibu peri, Deli?” Caterina ikut bertanya dalam Bahasa Spanyol.


“Ah, sudahlah. Sebaiknya, kita pulang dulu, Sayangku. Nanti kita lanjutkan obrolan di rumah Abuela,” ajak Delanna sembari menuntun Aurora. Mereka berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir di area khusus.


Tak seperti di dalam pesawat, Aurora tak banyak bicara sampai mobil yang ditumpangi tiba di depan rumah mewah dua lantai. Bentuk rumah itu terlihat berbeda.


“Ayo, masuk,” ajak Delanna.


“Aku sudah menyiapkan kamar khusus untukmu, Sayang.” Caterina yang teramat bahagia dengan kedatangan Aurora, terlihat sedikit kebingungan. Dia mungkin tak tahu harus melakukan apa. Aurora adalah cucu pertamanya.


“Semoga kau betah di sini, Nak,” timpal seorang pria paruh baya berkepala botak dengan perut buncit. Pria itu baru muncul dari ruangan lain rumah tersebut. Dia adalah Adolfo Bonifacio, ayah tiri Delanna.


“Panggil dia ‘kakek’, Aurora. Ayo, berkenalanlah dengannya,” suruh Delanna.


Aurora awalnya terlihat ragu. Namun, dia memberanikan diri menyalami Adolfo yang tersenyum ramah padanya.


“Bawa putrimu ke kamarnya, Deli. Dia harus beristirahat. Jangan sampai dirinya sakit karena kelelahan,” ujar Caterina. “Aku akan menyiapkan makanan untuk kalian.”


“Iya, Bu.” Setelah berpamitan kepada Adolfo, Delanna mengajak Aurora ke kamar yang sudah disiapkan untuknya. Kamar yang terlihat sangat indah, dengan beberapa boneka di tempat tidur. Akan tetapi, keindahan kamar tadi justru membuat Aurora tiba-tiba menangis.


“Hey, kau kenapa?” tanya Delanna khawatir.


“Aku ingin tidur di kamarku, Bibi ibu peri,” isak Aurora. “Aku tidak bisa tidur tanpa teman-temanku, Chilly, Oriola, Mimi, dan Verde,” isak gadis kecil itu lagi.


“Astaga. Kenapa papamu tidak menitipkannya padaku? Bagaimana ini? Kita beli saja teman-teman baru untukmu,” cetus Delanna. Akan tetapi, Aurora masih terus menangis.


Hal seperti tadi terus berlanjut hingga beberapa hari berlalu. Aurora juga menjadi sangat murung. Dia bahkan tak jarang menolak makanan yang diberikan padanya.


Apa yang terjadi pada Aurora, tak jauh beda dengan Chrissy. Dia yang awalnya selalu lincah dan ceria, tiba-tiba menjadi sangat pendiam. Chrissy lebih sering berdiri dekat jendela kaca sambil memandangi langit.


Sikap Chrissy yang tak biasa, membuat Samantha dan Arcelio menjadi khawatir. Perasaan tersebut semakin bertambah, saat Arcelio menerima telepon dari Delanna.


“Aku sangat sedih, karena Aurora tidak menikmati hari-harinya di sini. Terlebih, sekarang dia sakit. Aurora terus memanggil-manggil namamu, Arcelio.”