
Seperti janji Beny pada Anya, hari ini kami akan pergi berbelanja keperluan untuk sekolah Anya. Tapi sebelumnya kami ke sekolah untuk mengambil seragam. Sejak bangun tidur dia sudah antusias dan bersemangat untuk mencoba seragam barunya dan membeli tas baru.
Saat di meja makan pun dia tak henti-hentinya menanyaiku dan Beny.
“Mama sudah nggak capek lagi 'kan?”
“Kita jadi beli tas 'kan, Pa?”
“Kita nanti ambil seragam dulu atau beli tas dulu?”
“Anya boleh main di sekolah sebentar?”
Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang Anya ajukan. Sedangkan aku dan Beny hanya tertawa dan mengiyakan. Kali ini aku tak memarahinya, karena itu hal yang wajar bagi semua anak merasa antusias saat akan memulai sekolah. Anya pun begitu. Aku tak ingin merusak kebahagiaannya untuk saat ini.
Setelah sarapan dan berberes, kami langsung bersiap-siap untuk memulai kegiatan kami yang lain. Tujuan pertama adalah sekolah Anya. Kami memutuskan untuk mengambil seragam terlebih dahulu, karena lokasinya yang lebih dekat. Baru setelah itu kami akan berbelanja perlengkapan sekolah yang dibutuhkan Anya. Kemudian kami juga berencana untuk mampir ke kafe Gerald untuk sekedar bersantai dan menyapa Gerald serta istrinya.
Dalam bayanganku, hari ini akan berjalan dengan menyenangkan. Menghabiskan waktu seharian di luar rumah bersama dengan keluarga. Menjadi obat bagi kegundahanku beberapa hari belakangan.
Yah, itulah yang kuharapkan untuk hari ini.
...
“Anya! Lihat ke sini, sayang!” seruku pada Anya. Dia pun menoleh ke arahku dan tersenyum.
CEKREK
CEKREK
Entah berapa kali aku mengabadikan gambar Anya yang sedang mencoba seragam barunya dengan kamera dari ponselku. Dia tampak bahagia saat mengenakan seragam barunya itu. Anya memutar-mutar tubuhnya membuat rok dari seragam berwarna biru muda itu jadi mengembang dan bergoyang-goyang.
“Apa ini cocok dipakai Anya?”
“Tentu saja, sayang! Anya jadi tambah cantik!” Pujiku dengan jujur dari lubuk hati yang terdalam. Putriku memang sudah cantik dari lahir.
“Benar. Anya yang paling imut!” timpal Beny yang membuat Anya semakin senang.
“Terima kasih, Mama, Papa! Hehehe...”
Pandanganku masih belum beranjak dari Anya yang mengenakan seragam sekolah. Rasanya baru kemarin bayi kecilku lahir ke dunia, menangis kencang dalam gendonganku. Kini ia sudah berusia lima tahun dan memulai babak baru dalam hidupnya.
Mungkin agak berlebihan karena Anya baru akan memulai tahap taman kanak-kanak. Tapi nantinya dia tahu lebih banyak tentang dunia luar, dia tidak akan lagi membutuhkanku untuk beberapa hal. Itu adalah hal yang bagus, artinya Anya sudah bisa mandiri. Tapi aku juga masih ingin dia bersikap manja padaku.
Apakah ini juga dirasakan oleh orang tua lain di luar sana? Kurasa semua orang tua akan memahami perasaanku juga saat pertama kali melepas anaknya di sekolah.
Perhatianku kini beralih pada Eric yang berada dalam gendonganku. Dia tampak ikut senang melihat Anya. Kuciumi helai rambutnya yang halus. Dia juga sama berharganya dengan Anya di mataku.
Jangan terlalu cepat dewasa, Eric.
...
Setelah Anya dan Eric puas bermain di taman bermain sekolah, Beny lalu membawa kami ke salah satu pusat perbelanjaan. Ini adalah saat yang paling ditunggu-tunggu oleh Anya. Karena di sanalah kami akan berbelanja perlengkapan sekolah untuk Anya.
Sesampainya di sana kami langsung menuju toko perlengkapan sekolah. Di sana aku sekuat tenaga menahan Anya agar tidak berlari di dalam toko. Hal pertama yang kami cari adalah tas sekolah, sesuai permintaan Anya.
Padahal sudah sejak jauh-jauh hari Anya membayangkan tas seperti apa yang ingin dia beli, tapi sesampainya di sini sepertinya akan sulit menentukan tas mana yang akan di pilih. Anya melongo melihat ratusan macam tas yang dipajang, terdiri dari berbagai warna dan motif yang cantik dan lucu.
Sebelumnya dia menginginkan tas yang berwarna merah muda dengan gambar mermaid atau unicorn. Mungkin akan berubah lagi.
Seperti dugaanku, barang pertama yang dia sentuh adalah tas berwarna biru muda dengan gambar ikan paus yang lucu. Biru muda adalah warna yang sama dengan warna seragam barunya.
“Ma, Anya mau yang ini, ya?” tanyanya padaku.
“Yakin Anya mau yang itu? Atau mau lihat yang lain dulu?”
Anya kembali tampak bimbang. Matanya menelusuri sekitar, memindai tas-tas yang dipajang. Tiba-tiba tubuh kecilnya terangkat. Beny mengangkat tubuh Anya dan menggendongnya di pundak.
“Uwaaa!”
“Kalau begini Anya bisa melihat ke tempat yang lebih tinggi 'kan?”
Aku hanya mendengus, pura-pura sebal mendengar ucapan Anya, “Hmm... Maaf karena Mama pendek.”
“Hei, tidak boleh berkata seperti itu. Mama sudah berjuang keras untuk menggendong Anya yang berat ini,” timpal Beny, “Itu artinya Mama adalah wanita yang kuat. Mama itu keren loh!”
“Oh, begitu...”
Telingaku terasa memanas mendengar ucapan Beny. Bisa-bisanya dia memujiku di depan anak-anak seperti itu. Ternyata Beny pandai berkata-kata. Apa dia juga seperti ini saat bersama Clara?
Mencoba mengabaikannya, aku dan Eric berjalan mendahului mereka, “Kalian ini bicara apa? Ayo kita lanjutkan belanjanya!”
Lalu kami pun melanjutkan perjalanan.
...
Setelah berbelanja selama hampir empat jam, kami memutuskan untuk mampir ke kafe Gerald yang tak jauh dari sana. Hari ini suasana kafe lumayan sepi tidak seperti saat akhir pekan. Hanya ada beberapa pengunjung. Kali ini hanya ada istri Gerald yang menyambut kami.
Kami memilih untuk duduk di meja yang dekat dengan etalase kue. Anya yang masih penuh dengan energi dengan riang memilih kue mana yang akan ia santap. Sedangkan Eric tampak sudah lelah dan agak rewel karena mulai mengantuk.
Beberapa saat kemudian, Gerald muncul dari balik pintu dapur menghampiri kami dengan senyum ramahnya seperti biasa.
“Selamat datang di kafe kami. Kalian sudah menentukan pesanan?”
“Sepertinya Anya sudah,” kami tertawa kecil melihat Anya yang masih berdiri di depan etalase.
“Oh ya, Gerald,” aku mencuri pandang pada Beny yang ternyata juga sedang memperhatikanku, dia hanya mengangguk padaku, “Apa ada kabar lain?”
Gerald tampak masih ragu-ragu untuk menjawab. Lalu aku tersenyum tipis padanya, “Aku sudah memberi tahu Mas Beny semua. Tenang saja.”
Sejenak raut wajah Gerald tampak lega, tapi kemudian kembali kaku.
“Beberapa hari lalu dia datang ke sini. Dia memberi tahuku bahwa dia mendapatkan informasi tentang kau yang sudah menikah lagi. Dan sepertinya dia masih berusaha mencari alamat rumah kalian,” penjelasan Gerald sontak membuat kami terkejut.
Tak kusangka Alan akan bertindak sejauh itu untuk mencari kami. Mungkin tidak butuh waktu lama untuk dia benar-benar menemukan kami. Bukan hanya aku dan Anya yang dalam bahaya, Eric dan Beny mungkin juga akan terkena imbasnya.
Aku merasakan sentuhan hangat di tanganku yang kuletakkan dia atas meja. Beny yang duduk di sampingku, menggenggam tanganku lembu. Seakan mengingatkanku bahwa aku tak sendirian, ada dia yang akan melindungi kami. Seperti janjinya.
“Apa kamu ingin melaporkannya ke polisi?” Tanya Beny padaku. Aku masih ragu akan hal itu, karena aku juga belum mengetahui secara jelas apa motif Alan melakukan ini semua.
“Maaf, tapi mungkin Alan tidak bermaksud jahat,” sela Gerald “aku berbicara seperti ini bukan karena aku memihaknya, tapi dia sudah banyak berubah. Kurasa dia hanya ingin meminta maaf padamu dan Anya.”
“Entah lah. Aku hanya tidak ingin bertemu dengannya.”
“Mama, aku tadi pilih kue yang ada stroberinya!”
Obrolan tidak bisa kami lanjutkan karena Anya sudah kembali ke meja kami. Aku berusaha mengubah ekspresiku yang tadinya terlihat tegang kini menjadi ceria menyambut Anya. Begitu pun dengan Beny. Sedangkan Gerald memutuskan untuk undur diri.
Aku pun kehilangan selera makanku.
...
Hari yang seharusnya menjadi hari terbaik berubah menjadi hari terburuk, karena ketakutanku selama ini terwujud. Andai saja aku tahu bahwa berkunjung ke kafe Gerald pada hari ini adalah pilihan yang tidak tepat, pasti semua ini tidak akan terjadi.
Seharusnya kami tak perlu mampir ke tempat ini. Seharusnya kami langsung pulang setelah belanja. Namun penyesalan tidak ada artinya. Nasi sudah menjadi bubur. Kita sudah berada di sini sekarang. Dia berdiri di hadapan kami.
Orang terakhir yang ingin aku temui, orang yang paling aku hindari selama ini justru kami dipertemukan di tempat parkir kafe Gerald.
“Irene, akhirnya kita bertemu!”
“Alan?!”
.
.
.
Bab 14 ((END))