SECOND LOVE

SECOND LOVE
Makan Malam Ceria



Arcelio tertegun beberapa saat, ketika melihat deretan angka yang tertera di layar ponsel. Prasangka buruk sudah memenuhi pikirannya. Dia mengira bahwa itu adalah nomor yang sama, dengan yang suka menerornya dulu.


Sesaat kemudian, Arcelio tersenyum samar. Dia baru ingat, bahwa dirinya sudah memasang iklan untuk mencari pengasuh anak, beberapa waktu setelah tiba di Paris.


Arcelio segera menerima panggilan tersebut.


Suara seorang gadis muda menyapa indera pendengarannya. Gadis itu menyanggupi untuk datang besok pagi. Arcelio mengiyakan, lalu mengakhiri panggilan telepon itu dengan perasaan lega.


Arcelio kembali pada aktivitas memasak makan malam. Semua hidangan siap di meja makan setengah jam kemudian. Arcelio memanggil serta mendudukkan Aurora di kursi khusus. Dia menyiapkan seporsi makanan kesukaan gadis kecil itu.


Namun, baru saja Arcelio memasukkan satu suapan ke mulut Aurora, dia tiba-tiba berhenti. “Nak, kau adalah gadis yang pintar.” ucap Arcelio lembut.


“Tentu, Papa,” sahut Aurora, diiringi anggukan kencang.


“Kalau begitu, kau harus belajar makan sendiri?” Arcelio menggeser piring Aurora menjadi lebih dekat pada putrinya.


“Kenapa Papa berhenti menyuapiku?” Aurora memiringkan kepalanya sambil mengernyitkan kening dengan lucu.


“Aku harus melakukan sesuatu. Sebentar saja,” sahut Arcelio. "Tetaplah berada di kursimu sampai aku kembali pesannya.


Aurora mengangguk lagi. Dia meringis kecil, menampakkan deretan gigi susunya. “Aku bisa makan sendiri, Papa,” ujar Aurora penuh semangat.


“Baiklah. Anak pintar." Arcelio tertawa pelan seraya mengusap pucuk kepala Aurora. Pria itu bangkit dari kursi, kemudian bergegas keluar. Tujuannya adalah apartemen Samantha, yang hanya terpisah satu ruangan dari apartemennya.


Arcelio mengetuk pelan pintu ruang apartemen itu. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Sosok Samantha muncul dengan mengenakan apron. Sedangkan, rambut pirang panjangnya disanggul asal-asalan. Arcelio harus menahan napas sejenak. Bagi dia, Samantha terlihat begitu cantik dan seksi saat itu.


“Ada apa lagi?” tanya Samantha ketus.


“A-aku …,” ucap Arcelio terbata. Sementara, mata abu-abunya terus memperhatikan sosok cantik yang kini melipat kedua tangan di dada, dengan raut tak sabar. “Aku hanya ingin bertanya,” ujarnya setelah berhasil menguasai diri.


“Apa?” tanya Samantha lagi.


“Apakah Chrissy memiliki alergi?” tanya Arcelio.


Samantha menjawab dengan gelengan kepala.


“Apakah ada makanan yang tidak dia suka?” tanya Arcelio lagi.


“Tidak ada. Dia suka semuanya,” jawab Samantha singkat dan tanpa basa-basi.


“Baiklah. Tunggu sebentar. Jangan tutup pintunya." Tanpa menunggu tanggapan Samantha, Arcelio langsung membalikkan badan ke apartemennya. Tak berselang lama, dia kembali sambil membawa semangkuk Ratatouille.


“Ini. Untuk Chrissy. Dia bisa menyantapnya dengan makanan apapun yang kau masak." Arcelio menyodorkan mangkuk porselen tadi pada Samantha. “Bolehkah aku melihatnya?” tanya Arcelio ketika Samantha hanya terpaku dan tak memberikan jawaban apapun. “Nona Bellucci?” sebut Arcelio untuk menyadarkan Samantha yang masih terpaku.


“Ah, iya. Terima kasih. Akan kuberikan pada putriku." Samantha menerima mangkuk itu. Dia bermaksud untuk menutup pintu.


“Tunggu!” cegah Arcelio. “Bolehkah aku melihat putriku?” pintanya.


“Kau sudah melihatnya tadi, dan itu sudah cukup,” tolak Samantha sembari berusaha menutup pintu.


“Kau boleh berpura-pura tak mengenal dan membuangku jauh-jauh dari hidupmu. Akan tetapi, Chrissy adalah putriku. Kau tak berhak menjauhkannya dariku!” tegas Arcelio.


“Aku sama sekali tak tahu bahwa kau sedang mengandung, Sam! Seandainya tahu, aku tak mungkin membiarkanmu pergi. Jika perlu, aku akan mengikat dan menyekapmu di dalam kamarku!” balas Arcelio dengan nada yang tak kalah tinggi.


“Tolonglah. Jangan jauhkan aku dari Chrissy. Biarkan aku mengganti sekian tahun yang terlewati tanpa kehadirannya,” pinta Arcelio. Intonasinya sedikit melunak, ketika Samantha tampak berkaca-kaca.


“Apa pedulimu, Arcelio?” desis Samantha. Suaranya bercampur isakan. Sesekali, dia menoleh ke belakang untuk melihat keadaan Chrissy.


“Tak perlu kujawab. Kau pasti mengetahuinya dengan pasti, bahwa aku sangat memedulikanmu." Iris mata abu-abu itu menatap Samantha lekat-lekat.


“Pernikahan yang kuimpikan selama bertahun-tahun harus kandas, setelah menerima kenyataan bahwa kau menghamili wanita lain! Itukah bentuk kepedulianmu, Arcelio?” Sindiran pedas, Samantha layangkan untuk mantan tunangannya tersebut.


“Kuakui kebodohanku, Sam. Aku memang tak berpikir panjang saat itu. Apa yang kulakukan padamu, memang tak termaafkan. Aku tak akan membela diri untuk kesalahanku." Arcelio tersenyum kelu, sambil terus memandang wajah cantik Samantha. “Aku mencintaimu. Sampai detik ini perasaan itu tak pernah berubah.”


“Omong kosong dengan cinta! Aku tak percaya lagi pada satu kata itu!” cibir Samantha sinis.


“Kau tak percaya akan cinta?” Arcelio menautkan kedua alisnya yang hitam.


“Bukan urusanmu!” sentak Samantha.


“Kalau kau tak percaya akan cinta? Lalu, bagaimana perasaanmu terhadap Pierre?” selidik Arcelio.


“Sudah kukatakan bahwa itu bukan urusanmu!” Suara Samantha terdengar semakin nyaring, sehingga membuat Aurora turun dari kursi. Dia berlari ke ambang pintu. Malu-malu, Aurora mengintip sang ayah yang tengah bersitegang dengan Samantha.


Chrissy pun demikian. Dia segera berlari menuju pintu. Gadis kecil itu melongok keluar, dan mendapati Arcelio yang tampak salah tingkah. “Paman?” sapa Chrissy


Belum sempat Arcelio menjawab, Chrissy sudah mengalihkan perhatiannya pada Aurora. “Hai!” sapanya riang seraya melambaikan tangan.


“Hai!” Aurora membalasnya dengan lambaian tangan yang tak kalah riang.


“Apa kau sudah makan malam, Sayang?” tanya Arcelio lembut. Dia menurunkan tubuhnya hingga sejajar dengan Chrissy.


“Ibuku belum selesai memasak,” jawab Chrissy polos.


“Apa kau mau makan malam bersamaku, Aurora, serta Ollie?” tawar Arcelio.


“Kau ….” Samantha hendak melayangkan protes keras. Akan tetapi, segera diurungkan ketika Chrissy melonjak kegirangan, dan langsung berlari menuju apartemen Arcelio. Wajah Samantha yang kini berusia tiga puluh tahun, merah padam menahan amarah. Dicengkeramnya kuat-kuat mangkuk berisi Ratatouille pemberian Arcelio tadi.


“Sekali lagi kutegaskan padamu, Nona Bellucci. Aku juga berhak atas Chrissy! Buah cinta kita dulu." Arcelio tersenyum kalem diiringi anggukkan pelan. Dengan langkah tenang, dia mengikuti Chrissy yang sudah lebih dulu tiba di depan pintu apartemennya.


Sebelum masuk ke dalam, Arcelio menoleh ke arah Samantha yang berdiri mematung.


“Makanlah Ratatouille-nya selagi masih hangat,” ujarnya setengah berseru.


Arcelio duduk di kursi makannya dengan senyuman lebar. Sudah lama dia tak merasakan kebahagiaan seperti ini. Dengan telaten, Arcelio menyuapi Aurora dan Chrissy secara bergantian. Aurora ternyata tak menghabiskan makanannya saat Arcelio sedikit berdebat dengan Samantha tadi.


Arcelio juga menjadi penerjemah untuk Aurora yang kebingungan mendengarkan celotehan Chrissy. Pelan-pelan, pelukis tampan itu mengajari Aurora Bahasa Perancis. Begitu pula Chrissy yang mendapatkan sedikit pelajaran Bahasa Italia darinya. Suasana makan malam yang hangat sekaligus menyenangkan itu harus berakhir, ketika Arcelio mendengar ketukan pelan di pintu depan. “Tunggu sebentar,” ucapnya pada dua gadis kecil yang hanya terpaut satu bulan itu.


Arcelio melangkah gagah melintasi ruang tamu, lalu membuka pintu. Dia tak dapat menyembunyikan rasa terkejut, ketika melihat Pierre berdiri di hadapannya. Dengan bahasa tubuh yang tampak canggung, Arcelio menyapa pria itu.


“Hei, Kawan," balas Pierre. "Aku baru kembali dari rumah sakit. Namun, Samantha memintaku agar mampir ke tempatmu,” jelas Pierre tanpa diminta. “Dia menyuruhku untuk menjemput Chrissy. Samantha ingin mengajak putrinya menginap di rumahku malam ini," terang Pierre kalem.