
Samantha mengurungkan niatnya yang sudah akan membuka pintu. Dia kembali menoleh ke arah Arcelio. “Apa pedulimu?” Nada pertanyaannya terdengar ketus dan tidak bersahabat sama sekali. Sepertinya, Samantha masih menyimpan amarah yang besar meski telah bertahun-tahun waktu berlalu.
“Sudah pasti aku peduli, Sam. Jika Chrissy putriku, maka ....”
“Jangan mengurusi hal itu lagi, Arcelio! Anggap saja kami berdua tak pernah ada dalam kehidupanmu! Berbahagialah bersama Delanna,” potong Samantha, sebelum membuka pintu. Dia kembali menarik tangan Chrissy agar ikut masuk dengannya.
Namun, belum sempat Samantha menutup pintu, tangan Arcelio sudah lebih dulu menahannya agar tetap terbuka. “Tolonglah, Sam. Katakan sejujurnya. Jangan membuatku semakin tersiksa oleh rasa bersalah,” pintanya..
“Ibu, jangan tutup pintunya. Nanti tangan paman ini akan terjepit. Kasihan dia, Bu.” Chrissy yang merengek, membuyarkan konsentrasi Samantha, sehingga Arcelio dapat mendorong pintu itu hingga terbuka lebar. Dia tersenyum kalem, saat melihat mantan tunangannya tersebut mundur beberapa langkah dengan wajah memucat.
“Bertahun-tahun aku mencoba lepas dari bayanganmu, Sam. Akan tetapi, selalu gagal. Sampai detik ini, hanya dirimu ....” Kalimat Arcelio terjeda saat memperhatikan Chrissy yang tampak begitu menggemaskan. Gadis kecil itu beringsut ke balik tubuh Samantha, saat pelukis tampan tersebut berjalan mendekat.
“Chrissy? Ini aku.” Sepasang mata abu-abu Arcelio mulai berkaca-kaca. Penyesalan yang begitu besar kembali hadir dalam hatinya, ketika membayangkan Samantha melalui masa-masa kehamilan seorang diri.
Arcelio menjaga Delanna dengan sangat baik sampai melahirkan, meski dia tak pernah memberikan sesuatu yang lebih kepada wanita itu. Sedangkan, Samantha harus melalui segalanya sendirian. Setitik air mata yang awalnya tertahan di pelupuk, kini menetes membasahi pipi. “Seandainya aku tahu bahwa kau juga tengah mengandung buah cinta kita … andai saja kau tak memutuskan pergi tanpa kabar, aku pasti akan memberikan yang terbaik bagimu. Namun, semuanya harus menjadi seperti ini.”
Sebesar apapun penyesalan yang menyiksa Arcelio, hal itu tak bisa memutar waktu dan membuat Arcelio dapat memperbaiki semuanya. “Kau pergi begitu saja, Sam. Aku mencarimu ke mana-mana seperti orang gila. Aku berkeliling setiap pagi hingga siang, berusaha menemukan keberadaanmu. Orang tuamu sampai bosan mengusirku, karena setiap hari aku datang ke rumah mereka,” tutur Arcelio.
“Mereka tak berniat memberitahukan keberadaanmu. Padahal, lututku sudah terasa pegal dan mati rasa karena terlalu lama berlutut,” sambungnya. “Namun, lihatlah takdir Tuhan. Dia mempertemukan kita di sini. Ternyata kau membawa putri kita bersembunyi di negara ini.”
“Chrissy bukan putrimu! Dia anakku! Chrissy hanya anakku!” tegas Samantha. “Sekarang keluarlah dari sini! Anak Delanna sudah menunggumu!” usir Samantha ketus. Dia melihat sekilas pada Aurora, yang berdiri di ambang pintu.
Gadis kecil itu terlihat ragu dan mungkin bingung, menyimak Arcelio dan Samantha yang tengah berselisih. Terlebih, saat itu mereka menggunakan Bahasa Italia. Walaupun Aurora tidak memahami perbincangan dua orang dewasa tersebut, tapi dia dapat menangkap raut sedih sang ayah, serta ekspresi penuh amarah dari Samantha.
Arcelio menoleh sejenak kepada Aurora. Pria itu tersenyum manis padanya. Setelah itu, Arcelio mengalihkan pandangan kepada Chrissy. Sang pelukis tampan tersebut menurunkan tubuhnya. “Hai, Chrissy,” sapa Arcelio dalam Bahasa Perancis.
Chrissy yang sesekali memperlihatkan wajahnya dari balik tubuh Samantha, tersenyum kepada Arcelio. “Ya, Paman,” sahutnya.
“Bolehkah aku memelukmu sebentar saja? Aku ingin mengucapkan selamat petang.” Arcelio tersenyum kalem.
Samantha sudah hendak mengatakan sesuatu. Akan tetapi, belum sempat dia melakukannya, Chrissy sudah lebih dulu menghambur ke dalam pelukan Arcelio. Tangan mungilnya melingkar erat di leher pria tampan itu. “Aku menyukaimu, Paman,” ucap Chrissy.
“Terima kasih, Nak.” Arcelio menoleh kepada Aurora yang berdiri dengan mata berkaca-kaca. Anak itu tak mengerti dan mungkin merasa diabaikan. Dengan segera, Arcelio merentangkan sebelah tangan kepada Aurora. “Kau juga. Kemarilah, Nak,” ajaknya. Aurora memberanikan masuk ke ruang apartemen milik Samantha. Dia ikut memeluk Arcelio bersama Chrissy.
“Jika ibumu bersedia, datanglah ke apartemenku. Aku akan memasak makan malam istimewa untuk kita berempat,” undang Arcelio. “Kita berempat,” ulang Arcelio, sebelum Samantha sempat membuka mulutnya.
“Tak ada siapa pun selain kita berempat,” tegas pria itu lagi, yang seketika membuat Chrissy melepas pelukannya. Gadis kecil itu melonjak kegirangan. Sedangkan, Aurora tampak kebingungan. “Kau harus belajar Bahasa Perancis, Sayang,” bisiknya seraya mencium pipi putri dari Delanna tersebut.
“Pergilah sebelum aku menelepon Pierre agar mengusirmu keluar!” Samantha masih berbicara dengan nada yang terdengar tidak bersahabat. Dia juga menarik tubuh mungil Chrissy, agar menjauh dari Arcelio. “Kumohon, Arcelio. Jangan mengusik lagi kehidupanku dan Chrissy. Kami sudah merasa bahagia dan tenang berada di sini,” ucap Samantha tetap terdengar ketus. “Satu lagi. Tetaplah bersikap bahwa kita tidak saling mengenal, ketika di hadapan Pierre.”
Arcelio terdiam mendengar ucapan serta penolakan keras dari Samantha. Namun, tak ada lagi yang dapat pria itu lakukan, untuk dapat meyakinkan Samantha. Arcelio tersenyum kelu. Dia mengangguk dengan terpaksa, lalu membalikkan badan meninggalkan ruangan apartemen Samantha. Tangan kanannya menuntun Aurora, yang menoleh lalu tersenyum manis meski tak berbalas hal sama dari Samantha. Kebencian justru terlihat jelas dari sorot mata wanita itu.
Arcelio melangkah gontai menuju apartemennya. Dia menyadari bahwa sudah seharusnya seperti ini. Niat untuk melanjutkan hidup dan melupakan bayang-bayang Samantha sepenuhnya, memang keputusan yang dirasa paling tepat. Terlebih, karena Samantha akan segera menikah dengan Pierre.
“Apakah ibu peri membencimu, Papa?” tanya Aurora polos seraya duduk di sofa. Dia meletakkan Ollie di pangkuannya.
“Tidak, Nak. Dia hanya sedang lelah,” jawab Arcelio sambil menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
“Apakah orang dewasa akan bersikap seperti itu saat lelah?” tanya Aurora lagi.
Arcelio menoleh sekilas, lalu tersenyum. “Kau tak akan mengerti, Nak. Suatu saat nanti, dirimu pasti dapat memahami dan mungkin merasakan sendiri," ucap Arcelio.
"Terkadang, kami sebagai orang dewasa memiliki beban yang seakan menyerang dari berbagai sisi. Kami jadi cepat merasa lelah dan tak jarang merasa bingung harus melakukan apa, untuk menyalurkan segala energi negatif dalam diri.”
“Kau bisa menangis sambil berteriak, Papa,” ujar Aurora polos.
“Sepertimu?” balas Arcelio seraya menaikkan sebelah alisnya.
Aurora tertawa. Dia menggendong Ollie sambil turun dari sofa. “Setelah ini, aku janji tidak akan menangis sambil berteriak-teriak lagi. Aku sudah memiliki Ollie,” ujarnya sambil berlari menuju kamarnya.
“Jadi, kau tidak akan membantuku menyiapkan makan malam?” seru Arcelio. Namun, yang terdengar hanya suara tawa Aurora. Gadis kecil itu tengah asyik bermain bersama Ollie. Arcelio hanya tersenyum sembari menggeleng pelan. Dia kembali pada pekerjaan yang tertunda, yaitu menyiapkan makan malam.
Namun, pekerjaan Arcelio kembali terganggu. Suara dering panggilan dari ponselnya telah membuat pria itu harus meletakkan sisa pekerjaannya untuk mengambil ponsel dari meja. Arcelio tertegun beberapa saat, ketika melihat deretan angka di layar telepon genggam sebagai pemanggil.