
Samantha, terpaku memandang foto yang baru diberikan Chrissy padanya. Sang mantan aktris ternama Italia tersebut, tak mengerti dengan apa dirinya lihat. Di sana, Arcelio tampak sangat mesra bersama Sara. Namun, Samantha yakin bahwa itu merupakan foto lama. Semenjak berhubungan dengannya, Arcelio tak pernah memotong rambut sependek seperti yang ada dalam foto tadi. Jika begitu, kapan gambar tersebut diambil?
“Sam? Sedang apa kau di sini?” Suara Sara membuyarkan segala tanda tanya dalam benak Samantha. Sara berjalan menghampiri. Dia tampak terkejut, saat melihat Samantha yang tengah memegangi fotonya bersama Arcelio. “Itu ….” Sara tak tahu harus memberikan penjelasan seperti apa kepada sahabatnya.
“Apa maksud semua ini, Sara?” tanya Samantha seraya membalikkan badan, hingga sepenuhnya menghadap kepada sang mantan manager selama dirinya masih aktif di dunia hiburan. “Kenapa kau berfoto semesra ini dengan Arcelio?” selidik Samantha seraya memperlihatkan apa yang dipegangnya ke hadapan Sara.
“Sam … itu ….” Sara kembali menjeda kata-katanya.
“Bicaralah, Sara!” desak Samantha. Dia menoleh sesaat kepada Chrissy yang masih ada di sana, dan menyimak perbincangannya bersama Sara. Meskipun anak itu belum mengerti Bahasa Italia, tetapi Samantha tidak ingin putrinya melihat dia beradu argumen dengan Sara. “Chrissy, temani Aurora di meja makan,” suruhnya kepada anak itu.
“Baik, Bu.” Tanpa banyak membantah, gadis kecil tadi berlari keluar dari ruang kerja.
Sepeninggal Chrissy, perhatian Samantha kembali pada Sara yang masih berdiri di hadapannya. Sorot mata wanita berambut pirang tersebut penuh selidik terhadap sang mantan manager. Samantha maju beberapa langkah, sehingga jadi semakin dekat pada wanita berambut sebahu itu. “Katakan sesuatu, Sara Toltse,” pinta Samantha dengan penuh penekanan.
Sara yang awalnya terlihat salah tingkah, mulai dapat menguasai diri. Wanita cantik berambut gelap tersebut bahkan cenderung lebih tenang dari sebelumnya. “Foto itu diambil sekitar satu tahun sebelum kau kuperkenalkan kepada Arcelio,” jelas Sara. Dia berpindah ke dekat meja kerja, lalu menyandarkan sebagian tubuh pada tepiannya.
“Bisa kau jelaskan dengan lebih detail? Aku tidak ingin menerka-nerka.” Samantha melipat kedua tangan di dada.
Sara tersenyum simpul sebelum kembali berbicara. Dia menatap sahabatnya beberapa saat. “Apakah Arcelio tidak pernah mengatakan apapun padamu, Sam?” tanya Sara, yang membuat rasa penasaran dalam hati Samantha kian bertambah.
“Tentang apa?” tanya Samantha. Raut wajahnya mulai menegang, saat menunggu jawaban dari Sara.
“Tentang kami,” jawab Sara enteng. “Aku dan Arcelio pernah menjalin hubungan selama kurang lebih dua tahun. Saat itu, kami menjalani kisah cinta yang … intens.” Sara tak melepaskan tatapannya dari sosok Samantha, yang tampak sangat terkejut dengan pengakuan tadi. “Ya. Intens. Kami melakukan banyak hal bersama.” Sara tersenyum kelu, saat melihat raut tak percaya yang ditunjukkan Samantha.
“Kau tahu, Sam? Aku tidak lagi berhubungan serius dengan pria manapun, setelah berpisah dari Arcelio. Sejujurnya, terkadang diriku menyesal karena hubungan kami harus berakhir di tengah jalan. Kau sangat mengenal seperti apa karakter Arcelio. Bagaimana cara dia dalam memperlakukan wanita yang menjadi kekasihnya,” tutur Sara. Entah apa maksud wanita itu mengatakan hal tersebut, kepada Samantha yang jelas-jelas akan segera menikah dengan Arcelio.
“Jadi, Arcelio bersikap sama kepadamu seperti cara dia memperlakukanku?” tanya Samantha memastikan maksud dari ucapan Sara.
“Haruskah kuperjelas?” Sara menaikkan sebelah alisnya. “Tidak usah. Kau tak akan suka saat mendengarnya, Sam,” ujar wanita itu lagi. Anehnya, Sara terlihat begitu tenang saat mengatakan semuanya kepada Samantha.
“Lalu, kenapa kau tak pernah mengatakan apapun padaku tentang hubunganmu dengan Arcelio?” protes Samantha penuh penekanan.
“Untuk apa? Lagi pula, Arcelio selalu mengingatkanku agar tak mengatakan apapun padamu,” balas Sara.
“Apa lagi yang ingin kau ketahui, Sam? Aku tak bisa mengatakan apapun selain itu. Sebagai sahabatmu, aku tidak ingin membuat kau kecewa padaku. Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali agar tidak terlalu memperjuangkan Arcelio. Sudah kukatakan bahwa Alessandro jauh lebih baik. Dia sangat menyukaimu. Arcelio adalah pria yang tidak bisa dipercaya! Salah satunya adalah saat kau berada di Paris selama bertahun-tahun.”
Samantha menatap tajam kepada mantan managernya tersebut. Dia belum melepaskan cengkramannya dari lengan Sara. “Katakan, ada apa selama aku berada di Paris?” tanya Samantha penuh penekanan. Wanita itu berusaha tetap berdiri dan terlihat kuat, meskipun debaran jantungnya sudah tak beraturan. Gemuruh dalam dada pun kian memuncak, menunggu jawaban dari Sara.
“Baiklah, Samantha. Kau ingin tahu apa yang terjadi selama dirimu berada di Paris?” Sara menepiskan tangan Samantha dari lengannya. Dia tidak suka dengan sikap putri dari Gilberto Bellucci tersebut.
“Katakan! Jangan berbelit-belit!”
Sara tersenyum sinis. Sekilas, dia melihat ke arah lain sebelum memusatkan pandangan lagi kepada Samantha. “Saat kau berada di Paris, aku dan Arcelio kembali menjalin asmara. Pria seperti kekasihmu itu tak akan bisa bertahan lama, tanpa ada wanita di dekatnya. Arcelio membutuhkan … kau pasti tahu sendiri seberapa hangatnya pria itu.” Sara melipat kedua tangan di dada. Dia lalu menggaruk kening setelah berkata demikian. Sara tampak sedikit kikuk. Terlebih, setelah melihat ekspresi lain dari Samantha.
“Jangan mengada-ada, Sara!” sergah Samantha penuh penekanan. “Bukan seperti itu yang kudengar dari Arcelio!” bantahnya tegas.
“Siapa yang lebih kau percaya, Samantha? Sahabat atau kekasih yang telah tega mengkhianatimu dengan keji, hingga kau begitu putus asa selama bertahun-tahun!” Nada bicara Sara tak kalah tegas. “Aku adalah seseorang yang selalu mendukungmu sejak awal! Kesalahanku hanya satu, yaitu mengenalkanmu kepada Arcelio! Kupikir, kau tidak akan tertarik padanya. Akan tetapi, aku telah keliru. Namun, lihatlah kenyataan yang kau dapatkan! Arcelio membuatmu terluka, lalu kembali padaku. Karena itulah, aku merasa begitu terkejut saat mendengar bahwa kalian akan menikah.” Sara terlihat sangat emosional.
“Apa kau tidak melihat seperti apa sikap kekasihmu kemarin, saat bertemu denganku tanpa sengaja? Dia seperti ingin menghindariku. Namun, aku yakin jika Arcelio tak mengatakan apapun padamu. Ya! Seperti itulah karakter putra Tuan Paolo Lazzaro yang terhormat!” Sara mendengkus kesal. Dia berbalik membelakangi Samantha. Kedua tangan wanita tersebut, berpegangan pada pinggiran meja kerja dengan kepala tertunduk.
“Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!” Samantha menyanggah keras pernyataan Sara tentang Arcelio. Tanpa banyak bicara lagi, wanita itu bergegas keluar dari ruang kerja. Samantha berjalan cepat menuju ke ruangan di mana Aurora dan Chrissy berada. Dia langsung mengajak kedua gadis kecil tersebut pergi dari sana. Samantha sepertinya tak ingin berpamitan terlebih dulu, kepada sang pemilik tempat itu.
Setibanya di apartemen milik Arcelio, Samantha langsung menyuruh Aurora dan Chrissy agar masuk ke ruang bermain. Mereka juga mengajak Ollie dan Leeloo. Sementara, dirinya duduk di sofa ruang tamu untuk menunggu Arcelio kembali.
Sekitar setengah jam kemudian, Arcelio baru pulang ke sana. Dia membawa wajah ceria, setelah kembali dari kantor sang ayah. Sebagai anak semata wayang Paolo, tentu saja dirinya menjadi pewaris tunggal dari kerajaan bisnis milik pria paruh baya tersebut.
Namun, Arcelio tak ingin berleha-leha menikmati warisan melimpah dari sang ayah. Dia sudah menyusun strategi untuk membuka pekerjaan sendiri. Ini akan dirinya jadikan sebagai batu loncatan ke depan.
“Kupikir kau belum pulang, Sayang.” Arcelio menghampiri Samantha yang langsung berdiri, saat dia melangkah keluar dari private lift. Namun, pria itu seketika tertegun, ketika melihat raut wajah sang kekasih yang teramat tegang dan tak berseri sama sekali. Samantha bahkan menunjukkan raut tak suka.
“Apa kau ada masalah?” tanyanya.
“Ya, Arcelio,” jawab Samantha. “Aku hanya ingin mengetahui, sampai di mana batas kejujuranmu padaku,” ucap Samantha dingin.