
Arcelio dapat merasakan sesuatu yang tidak beres, saat melihat koper milik Samantha, tergeletak di dekat ranjang. Tanpa pikir panjang, Arcelio bergegas mencari sang istri di kamar Aurora dan Chrissy. Arcelio dapat bernapas lega, saat menemukan Samantha tertidur dalam posisi meringkuk, di dekat kaki kedua putrinya.
“Hey, Sayang. Kenapa ada di sini? Ayo, kembali ke kamarmu,” ajak Arcelio. Hati-hati, pria itu membangunkan Samantha.
Perlahan, kelopak mata Samantha bergerak-gerak, lalu terbuka. Wanita cantik itu terbelalak, melihat Arcelio yang sudah berada begitu dekat dengannya. Samantha menepiskan secara kasar tangan sang suami, yang tengah membelai lembut pipi mulusnya.
“Jangan sentuh aku,” tolak Samantha ketus, dengan suara tertahan. Dia langsung bangkit. Samantha setengah berlari kembali ke kamar Arcelio.
Pria yang masih setia dengan rambut gondrong itu sempat tertegun. Arcelio juga berpikir untuk beberapa saat. Namun, dia segera tersadar dan mengejar Samantha. “Apa maksudmu, Sayang? Kau kenapa?” tanya Arcelio setelah tiba di dalam kamar. Dia menutup pintu kamar rapat-rapat.
“Aku mendengarnya, Arcelio!” sentak Samantha yang mulai kehilangan kendali. “Aku mengetahui kalian berduaan di ruang kerja! Apa yang kau lakukan dengan wanita itu? Aku membencimu! Tak salah diriku menawarinya bermalam di sini, sehingga aku tahu seberapa besar rasa setiamu padaku!" Samantha terus meracau seraya memukul-mukulkan tangannya di dada Arcelio.
“Ya, ampun, Sam." Arcelio segera memegangi pergelangan tangan istrinya, lalu memeluk erat tubuh sintal itu. Dia mendekap Samantha, hingga wanita cantik tersebut merasa tenang.
“Jangan berpikiran macam-macam, Sayang. Seharusnya tadi kau langsung masuk dan ikut bergabung. Kenapa kau hanya menguping? Akhirnya, dirimu dikuasai rasa curiga."
Samantha seketika tersadar. Dia mengurai pelukan, lalu menatap tajam pria yang telah sah menjadi suaminya. “Aku mendengar kau berbicara dengan Delanna. Astaga! Suara wanita itu begitu manja dan terkesan menggodamu. Apalagi kau terdengar lebih sering diam. Tadi aku sudah sangat yakin bahwa kau terbuai dan terjatuh lagi ke pelukan wanita itu, sampai-sampai aku tak berani membuka pintunya,” ungkap ibunda Chrissy tersebut sembari terisak.
“Seharusnya tadi kau buka saja pintu ruang kerjaku. Dengan begitu, kau bisa mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Namun, terlepas dari itu semua, seburuk itukah pikiranmu padaku, Sam?” Arcelio tersenyum kelu. Sorot mata yang terlihat kecewa, dilayangkan kepada Samantha.
“Aku adalah seorang suami. Diriku sudah memiliki dua anak. Tak pernah terlintas dalam benakku, untuk mengkhianati istri yang telah kuperjuangkan mati-matian,” ujar Arcelio lagi.
“Aku memang melakukan kebodohan di masa lalu. Kupikir kau sudah benar-benar memaafkanku. Namun, ternyata hukuman itu masih terus ada sampai sekarang. Kau jadi kehilangan kepercayaan padaku,” sesal Arcelio sembari memijat tengkuknya.
“Kalau begitu, jelaskan apa yang kalian berdua lakukan di dalam sana?” tanya Samantha sambil berurai air mata.
“Delanna ingin merawat Aurora. Kuberikan penawaran padanya agar membawa Aurora selama dia berada di Milan. Aku juga memberikan ide agar kami dapat merawat Aurora secara bergantian. Mungkin hal itu bisa mengembalikan ikatan batin antara ibu dan anak,” jawab Arcelio.
“Tapi … tadi aku mendengar Delanna ingin menikah denganmu,” sahut Samantha dengan wajah memerah.
“Aku tak peduli apa yang dia inginkan, Sam. Aku sudah memiliki seorang istri, yaitu dirimu. Selamanya akan tetap begitu. Sudah cukup kegilaan yang pernah kulakukan dulu. Aku tidak ingin kembali merusak hidupku. Lagi pula, Delanna sudah memiliki calon suami. Jangan terlalu dianggap serius." Arcelio menggeleng pelan. Mata abu-abunya terus memperhatikan wajah cantik Samantha, yang menghindari tatapan Arcelio.
“Lalu, bagaimana dengan dirimu? Kau begitu menyayangi Aurora. Apakah kau sanggup berjauhan dari anak itu?” Samantha mulai mengalihkan pembicaraan. Dia mulai memberanikan diri membalas tatapan Arcelio.
“Aku tidak boleh egois, Sam. Delanna juga berhak atas putrinya,” jawab Arcelio lirih.
Beberapa saat, keheningan menyelimuti pasangan pengantin baru itu. Tiba-tiba, Arcelio memukul pelan permukaan koper.
“A-aku ….” Samantha terdiam. Kata-katanya serasa tercekat di tenggorokan. Dia tak memiliki kalimat yang tepat, untuk menjelaskan keputusannya yang tergesa-gesa.
“Kita sudah mengikat janji suci di hadapan Tuhan. Keadaannha jauh berbeda dibandingkan dengan semasa masih bertunangan dulu. Kau dan aku sudah menjadi satu, Sayang. Itulah kenyataannya. Suka atau tidak, kau harus menerima,” ujar Arcelio.
“Seharusnya, kau juga belajar untuk lebih menahan diri. Terlebih kita sudah memiliki seorang putri. Lari dari masalah bukanlah solusi terbaik. Itu justru akan menimbulkan masalah baru yang jauh lebih besar.”
Samantha terdiam seraya menundukkan wajah dalam-dalam. Dia merutuki dirinya yang hampir saja bertindak bodoh, dengan meninggalkan Arcelio lagi. “Maafkan aku,” ucap Samantha beberapa saat kemudian. “Aku terlalu dibutakan oleh rasa cinta dan cemburu yang teramat besar.”
“Oh, Sayangku.” Arcelio merengkuh tubuh Samantha, lalu menuntunnya duduk di tepian ranjang. Arcelio, memeluk erat wanita yang telah berhasil membuatnya bertekuk lutut tersebut. “Ini semua salahku, Sam. Aku telah menorehkan luka dan trauma yang teramat dalam di hatimu. Entah bagaimana caranya untuk menebus kesalahan itu,” sesalnya.
“Tidak. Jangan berkata demikian. Aku sudah memaafkanmu. Namun, jangan menyakitiku lagi,” jawab Samantha pelan.
“Itu pasti, Sayang.” Arcelio mengecup kening istrinya berkali-kali.
“Tapi ….” Samantha tiba-tiba mengangkat kepala. Dia memandang Arcelio dengan sorot protes. “Kenapa kau bicara berduaan dengan Delanna? Kenapa kalian tidak berbincang selagi aku masih terjaga?” cecarnya tanpa jeda.
“Astaga, Sayangku." Arcelio tertawa atas tingkah menggemaskan Samantha. “Tadi, aku merasa begitu lelah setelah bercinta denganmu ….” Arcelio sengaja menghentikan penjelasannya, ketika melihat wajah Samantha yang tersipu.
“Aku berniat mengambil air minum di dapur, lalu tiba-tiba teringat pada pekerjaan rumah yang ayah tinggalkan untukku dan belum selesai dikerjakan. Aku bermaksud untuk melanjutkannya, sampai terdengar seseorang mengetuk pintu. Setelah kubuka, ternyata Delanna. Akhirnya kuajak dia berdiskusi di dalam,” terang Arcelio.
“Seharusnya kau tidak perlu menutup pintu ruang kerjamu,” protes Samantha lagi.
“Apa bedanya, Sayang? Di setiap ruangan apartemenku, telah dilengkapi dengan kamera CCTV. Kecuali kamar tidur kita dan kamar mandi,” jelas Arcelio seraya mengedipkan sebelah mata.
“Apapun yang kulakukan di dalam sana, terekam dengan jelas dalam kamera. Kau bisa mengeceknya besok pagi. Sekarang, beristirahatlah.” Setengah memaksa Arcelio membaringkan tubuh Samantha ke ranjang.
Samantha sempat menolak, meski pada akhirnya dia harus takluk pada keinginan sang suami. “Aku lelah, Arcelio. Besok kita harus bangun lebih awal,” tolak Samantha.
“Kau tidak perlu melakukan apa-apa, Sayang. Cukup diam dan nikmati,” sahut Arcelio diiringi tersenyum lebar. Rambut gondrongnya yang tak terikat, jatuh mengenai pipi Samantha.
Wanita cantik itu membelai lembut rambut gelap Arcelio, lalu menangkup paras tampannya.
Tak membutuhkan waktu lama bagi Arcelio untuk membuat Samantha melayang ke nirwana. Kamar luas bernuansa minimalis itu, telah dihiasi oleh suara manja dan de•sahan penuh gairah yang keluar dari bibir Samantha.
Sementara itu, Delanna yang diam-diam hendak mengunjungi kamar Aurora, langsung terpaku di tempatnya. Suasana malam yang sepi, menghadirkan suara sekecil apapun terdengar jelas. Delanna mendekat ke pintu. Dia hanya dapat menggigit bibir, membayangkan apa yang tengah berlangsung di dalam sana.