
“Nyonya Bellucci?” sapa Brigitte dengan tatapan setengah tak percaya.
Tubuh Samantha seketika menegang. Dia tak dapat menyembunyikan rasa terkejut, terlebih saat semua mata memandang ke arahnya. Termasuk Ollie. “A-aku ….” Samantha menjadi salah tingkah. Dia bahkan berniat kembali ke kamar Arcelio dan bersembunyi di sana. Namun, hal itu dirasa percuma, karena Brigitte sudah terlanjur melihat keberadaannya di sana dengan penampilan seperti itu.
“Tidak apa-apa, Sam.” Arcelio yang melihat gelagat tak nyaman dari Samantha, segera menghampiri wanita itu. Dia tersenyum kalem seraya meraih tangan ibunda Chrissy tersebut. “Lakukan apapun yang ingin kau lakukan di sini. Rumahku adalah rumahmu juga,” ucap Arcelio lembut.
Brigitte semakin terkejut mendengar apa yang Arcelio katakan. Kali ini, giliran wanita muda itu yang menjadi serba salah. “Um, apakah aku datang di saat yang tidak tepat?” tanya Brigitte ragu.
“Tentu saja tidak, Nona Colbert. Sesuai dengan tugasmu, kau datang setiap hari untuk memberikan kursus Bahasa Perancis kepada putriku. Selain itu, hari ini memang jadwalmu untuk menemaninya, karena aku harus bekerja,” sahut Arcelio tenang, sambil sesekali menyentuh belakang lehernya. “Kau tidak perlu merasa terganggu dengan keberadaan Nyonya Bellucci di sini.” Apa yang Arcelio katakan, dirasa cukup untuk menegaskan hubungannya dengan Samantha.
Brigitte terdiam. Dia tak berani bertanya apalagi membantah. Wanita muda itu hanya mengangguk sambil tersenyum kikuk. “Baiklah. Aku akan memulai pelajaran jika Aurora sudah siap,” ucapnya..
“Tentu. Aku akan membantu Aurora bersiap-siap.” Samantha yang sejak tadi tak bicara sepatah kata pun, kali ini bersuara. Dia mengarahkan dua gadis kecil itu menuju ke kamar mandi.
“Kalau begitu, aku yang akan menyiapkan sarapan,” ujar Arcelio. Dia sempat menyunggingkan senyuman yang terlihat begitu memesona di mata Brigitte. Pengasuh Aurora tersebut ditinggal sendiri di ruang tamu, berteman tenda kosong dan Ollie yang duduk manis di hadapannya. Brigitte hanya dapat mengembuskan napas pendek diiringi keluhan pelan.
Di dalam kamar mandi, Samantha telaten melepaskan pakaian Aurora dan Chrissy. Diam-diam dia memperhatikan Aurora yang memiliki postur sama dengan putrinya. “Apa yang pertama kali biasa papamu lakukan, Aurora? Apakah membasahi rambut atau badan terlebih dulu?” tanya Samantha lembut. Tak terlihat lagi sorot kebencian di matanya.
“Um ….” Aurora tak segera menjawab. Gadis kecil itu terdiam sejenak sambil memperhatikan paras cantik Samantha. “Biasanya, papa langsung memasukkanku ke bak mandi,” jawabnya lugu.
“Aku juga! Aku juga!” Chrissy menimpali sambil mengangkat tangan mungilnya tinggi-tinggi. “Aku selalu melompat sendiri, lalu menyelam.”
“Astaga.” Samantha tertawa geli. Dia yang biasanya memasang wajah tak bersahabat di hadapan Aurora, tampak sangat berbeda saat itu. Samantha kembali ke sifat aslinya yang ramah dan lembut. “Aku akan memandikan kalian secara bergantian. Karena Aurora lahir lebih dulu, maka dia yang mendapat giliran pertama kali. Baru kau, Chrissy,” ucapnya kemudian.
“Kau tahu ulang tahunku?” tanya Aurora. Nada bicara serta raut wajahnya terlihat masih ragu.
“Papamu yang memberitahuku,” jawab Samantha.
“Apa kalian bicara berdua?” tanya Aurora lagi masih dengan wajah polosnya.
“Ya, bisa dikatakan begitu.” Samantha kembali menjawab pertanyaan Aurora, sambil memandikan putri Delanna tersebut.
“Kalian tidak bertengkar lagi? Apa karena itu kau memakai baju papaku? Memangnya ke mana bajumu?” tanya Aurora polos.
Samantha terkesiap mendengar pertanyaan itu. Dia sempat kebingungan untuk menjawab. Namun, Samantha menyikapi rasa ingin tahu Aurora dengan kembali bersikap tenang. “Aku memang meminjamnya,” jawab Samantha. “Ah! Kau sudah bersih.” Dia langsung mengalihkan topik pembicaraan. Wanita itu menutupi tubuh Aurora dengan handuk, baru beralih pada Chrissy. Beberapa saat kemudian, kegiatan memandikan anak-anak selesai.
“Aku bisa menggambarmu, Ibu Peri,” celoteh Aurora, saat Samantha mengeringkan rambut dua gadis kecil itu secara bergantian. Dia mendudukkan Aurora dan Chrissy di meja wastafel, membelakangi cermin.
Sontak, Samantha menghentikan aktivitasnya. Dia mengernyitkan kening seraya memandang Aurora keheranan. “Kenapa kau memanggilku ibu peri?” tanyanya heran.
“Papa yang mengatakan bahwa kau adalah ibu peri. Dia menyimpan lukisanmu di studionya” jawab Aurora.
“Oh, ya?” Samantha tidak percaya dengan penuturan Aurora. Sambil terus mengeringkan rambut kedua gadis kecil tadi, perasaannya mulai tak menentu. “Papamu melukisku?” tanyanya memastikan.
“Benarkah?” Samantha tak dapat menahan air matanya. Dia begitu tersentuh dengan apa yang Aurora katakan.
“Papa mengatakan bahwa ibu peri akan selalu menyayanginya,” ungkap Aurora.
“Ah, Arcelio.” Kali ini, tak hanya air mata yang menetes. Isakan pelan juga terdengar dari bibir Samantha.
“Ya, ampun. Kenapa kau menangis lagi, Bu? Apakah kau pusing?” tanya Chrissy dengan gaya yang sok dewasa. Gadis kecil itu berdecak sambil menggeleng pelan, karena tak mengerti dengan sikap sang ibu.
Akan tetapi, belum sempat Samantha menanggapi ucapan putrinya, pintu kamar mandi lebih dulu dibuka dari luar. Arcelio menyembulkan kepala. “Apa kalian masih lama? Aku harus segera mandi. Jangan sampai diriku terlambat lagi ke kampus,” ujarnya.
“Kami sudah selesai. Aku akan memakaikan anak-anak baju.” Samantha segera menyeka air matanya sebelum berbalik kepada Arcelio.
“Tunggu di sini. Akan kuambilkan pakaian ganti.” Arcelio mengedipkan sebelah mata kepada Samantha. Tak berselang lama, dia kembali sambil membawa setelan baju untuk Aurora dan tas unicorn milik Chrissy yang berisi baju ganti gadis kecil itu.
Arcelio dan Samantha saling bantu memakaikan baju untuk Aurora dan Chrissy. Dalam waktu singkat, dua bocah yang hanya terpaut satu bulan itu sudah terlihat rapi dan menggemaskan. Arcelio lalu mengarahkan mereka ke ruang tamu, di mana Brigitte sudah menunggu dengan sabar.
Tiba saatnya giliran Arcelio untuk membersihkan diri dan bersiap-siap. Namun, di kamar mandi masih ada Samantha yang terlihat kebingungan di depan cermin wastafel. “Ada apa?” tanya Arcelio sembari melingkarkan kedua tangan di perut langsing Samantha. Dia memeluk wanita pujaannya dari belakang sambil sesekali menghirup aroma yang menguar, dari rambut indah berwarna pirang itu.
“Aku tidak suka keadaan ini,” jawab Samantha lirih dan seakan dipenuhi rasa sesal yang sangat besar.
“Keadaan yang mana?” tanya Arcelio lagi. Dia memegangi kedua lengan Samantha, lalu membalikkan tubuh wanita itu sehingga jadi menghadap padanya.
“Kau tahu bahwa tidak seharusnya kita bersikap seperti ini. Menjalin kedekatan secara sembunyi-sembunyi,” keluh Samantha. “Namun, aku juga tak kuasa untuk mengatakan semuanya kepada Pierre. Pria itu terlalu baik. Aku tak mau menyakitinya.” Samantha menggeleng kencang. Raut penuh penyesalan terlihat jelas di wajahnya.
“Lalu, apa yang kau inginkan, Sam?” Arcelio mundur beberapa langkah. Dia berusaha mengartikan kata-kata yang terlontar barusan dari bibir ibunda Chrissy tersebut.
“Entahlah, aku bingung.” Samantha kembali menggeleng sembari memijat pelipisnya. “Jika pada akhirnya kita ditakdirkan bertemu kembali, seharusnya waktu itu aku tak menerima cinta dari pria manapun,” ujar Samantha.
“Semua terlanjur terjadi. Jangan terlalu dijadikan beban. Kita harus terus melangkah ke depan,” ucap Arcelio mencoba bijaksana. Sebisa mungkin dirinya menyembunyikan perasaan tak nyaman di dalam hati. Dia menyentuh pipi Samantha. “Jangan menyesali kebersamaan kita saat ini. Kumohon,” pintanya.
“Sampai kapan kita harus terus sembunyi-sembunyi seperti ini?” Samantha mengembuskan napas pelan.
“Jika kau mau, aku akan menjelaskan semuanya pada Pierre,” tawar Arcelio.
“Tidak! Jangan!” cegah Samantha secara spontan. “Maksudku … jangan sekarang,” ralatnya.
“Lalu, kapan?” tanya Arcelio tetap bersikap lembut. “Jujur saja, setelah mengetahui bahwa kita masih memiliki perasaan yang sama, aku jadi mengurungkan niat untuk melajang seumur hidup,” ujarnya sambil terus membelai lembut pipi Samantha. Dia lalu menangkup paras cantik wanita itu.
“Aku ingin menikahimu, Sam. Mari kita lanjutkan rencana yang dulu tertunda. Aku akan mengikatmu dengan cincin pernikahan di hadapan Tuhan. Kau, aku, dan anak-anak kita. Tak ada lagi perselingkuhan atau pengkhianatan. Akan kubuktikan, bahwa diriku tidak main-main dengan semua yang kuucapkan tadi.”