SECOND LOVE

SECOND LOVE
SL- 29



Meski telah menerima kepergian Azzam dengan kerelaan hati, hal tersebut ternyata belum cukup untuk menenangkan batin Vivi. Dirinya tetap merasa gelisah. Beberapa minggu terakhir dalam hidupnya Vivi merasa tidak nyaman. Bukan karena Azzam, melainkan karena Nero. Pikirannya hanya tertuju kepada pria yang pernah menyelamatkannya itu. Vivi berpikir jika seharusnya ia memberikan kesempatan bagi Nero saat di makam Azzam kemarin untuk mengatakan apa yang perlu dijelaskan. Kini, penyesalan dan kegelisahan yang tersisa di hati Vivi karena tidak mengetahui penjelasan Nero.


Tidak dapat dipungkiri jika besar keinginan Vivi untuk memutarbalikkan waktu, bertanya kepada Nero apa yang ingin dikatakannya. Vivi merasa bersalah karena begitu terhanyut dalam amarah sehingga melewatkan kesempatan emas. Bagaimana jika ucapan Nero benar-benar penting dan berkaitan dengannya? Membayangkannya saja sudah membuat Vivi sakit kepala, begitu menyesali perbuatannya di masa lalu.


“Ugh ... apakah aku harus melakukan itu. Apa aku bisa melakukannya ... kita sudah berpisah cukup lama. Apakah dia akan memaafkanku. Tapi, aku pun rasanya tidak akan tenang jika masalah ini sudah selesai. Apakah dia berpikir begini juga? Bagaimana jika ... dia sudah melupakanku?”


Kini, di dalam kamar, Vivi berjalan mondar-mandir, memasang wajah berpikir. Saat ini, Vivi sedang memikirkan keputusannya untuk mencari Nero adalah benar atau tidak. Vivi juga merasa takut jika Nero tidak mau menerimanya lagi setelah dirinya pergi tanpa memberikan penjelasan apa pun.


“...tidak apa-apa. Aku akan tetap melakukannya.”


Selang lima menit Vivi berpikir keras, akhirnya ia menemukan solusinya. Langkahnya pun terhenti, kebingungan juga tidak lagi terlihat di wajahnya. Hanya ada keyakinan penuh terpancar di kedua matanya.


“Sudah kuputuskan. Entah Nero masih mau menerimaku atau tidak, aku akan tetap mencarinya. Aku ingin menemuinya,” ucap Vivi nyaring menyebutkan tujuannya sekarang. Kedua tangannya terkepal di udara, menandakan semangatnya untuk menjalankan rencananya. Namun, selang beberapa detik, semangat itu mulai meluntur.


“Tapi ... di mana aku harus mencarinya? Memang benar jika Nero bekerja di rumah sakit jiwa. Tapi aku tidak mau menemuinya di sana. Apa pun selain tempat itu.”


Usai berkata demikian, Vivi menggelengkan kepala kuat-kuat. Ia tidak ingin dihantui oleh masa lalunya saat dirawat di rumah sakit jiwa.


“Lalu ... bagaimana caranya aku mencarinya? Aku tidak mengetahui apa pun tentang Nero, termasuk alamat tempat tinggalnya ....”


Kini Vivi memutuskan untuk duduk di tepi ranjangnya. Kepalanya masih berputar keras, mencari cara agar dapat menemukan Nero.


“Oh, iya!”


Tiga menit berlalu, Vivi yang sejak tadi mencari solusi dari masalahnya mulai menemukan pintu keluar. Wajahnya tidak lagi berkerut dalam seperti tadi, tergantikan dengan semangat.


“Aku bisa menyewa detektif untuk melacak tempat tinggal Nero. Dengan begitu, aku bisa menemuinya tanpa perlu ke rumah sakit jiwa.”


Usai berkata demikian, Vivi bangkit dari posisi duduknya. Ia segera meraih jaket yang tergantung di gantungan baju, dan bergegas keluar. Karena Vivi telah memutuskan untuk mencari detektif yang akan membantunya menemukan keberadaan Nero.


***


Kini telah genap dua hari sejak Vivi mencari dan menemukan detektif yang diinginkannya. Namun, dua hari pula berlalu tanpa ada kabar, membuat Vivi kembali gelisah dan cemas. Ia merasa dirinya kembali terlempar ke langkah pertama dalam menemukan Nero.


Saat itulah Vivi mendengar ponselnya berdering, menandakan panggilan masuk. Ia pun langsung mengambil ponselnya yang tergeletak di meja, mengernyitkan kening tatkala mengetahui siapa yang memanggilnya.


“Pihak apartemen? Tidak biasanya.”


Meski sempat merasa heran, Vivi tetap menerima panggilan tersebut.


“Ada apa, Pak?”


“Ini, Nona Vivi, ada wanita yang ingin bertemu dengan Anda di pintu masuk. Apa Anda mengenalnya?”


“Maaf, Pak, tapi saya tidak ingat mengundang teman saya ke sini. Tolong katakan ke dia kalau saya tidak bisa menemuinya,” tolak Vivi.


“Apa karena Nona tidak mengenalnya? Wanita itu sudah menduga jika Nona akan menolaknya. Jadi, dia menitipkan pesan ke saya jika kedatangannya berhubungan Nero.”


Detik itu juga kedua mata Vivi melebar, telinganya tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Jantungnya langsung berdebar kencang, mulutnya terbuka tanpa mampu mengucapkan sepatah kata. Saat ini, Vivi merasa dirinya mendapat keajaiban yang begitu besar hingga dirinya tidak dapat berkata-kata.


Butuh sepuluh detik lamanya bagi Vivi untuk mendapatkan kesadarannya kembali. Itu pun dikarenakan pria paruh baya pemilik apartemen kembali bersuara.


“Nona Vivi? Apa Anda masih di sana?”


“A-ah, iya! Saya masih ada di sini, Pak. Maaf saya melamun sebelumnya. Tolong beritahu kepada wanita itu untuk menunggu. Saya akan bersiap-siap untuk turun.”


Setelah itu Vivi mematikan panggilan secara sepihak. Ia pun langsung bersiap, mengenakan pakaian yang pantas dan segera bergegas turun dari kamarnya. Dalam hati Vivi merasa tidak sabaran, ingin tahu siapa wanita yang mengaku tahu tentang Nero, dan bagaimana ia tahu tempat tinggal Vivi yang sekarang.


“Satu hal yang pasti, aku yakin kami akan berbicara banyak hal.”


***


Sesampainya di bawah, langkah Vivi langsung terhenti tatkala tatapannya menangkap sosok familiar tidak jauh dari posisinya. Sosok itu sedang duduk di kursi yang digunakan tamu untuk menunggu. Dari kejauhan, sosok itu adalah Nero di mata Vivi. Dan melihat seseorang yang telah membuat hatinya risau selama beberapa minggu silam, Vivi merasa tidak memiliki keberanian untuk menghadapinya langsung. Entah kenapa, ketakutan menyelimuti batinnya.


“Ah, Nona Vivi.”


Vivi tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara pria paruh baya dari sisi kanannya. Ia menoleh ke sosok itu, disambut dengan senyum hangat sang pria.


“Itulah wanita yang ingin bertemu dengan Anda. Apa Anda mengenalnya?”


Barulah saat pria paruh baya itu menunjuk ke arah sosok yang familiar tadi, Vivi sadar jika itu bukan Nero, melainkan seorang wanita yang memiliki perawakan yang begitu mirip dengannya.


“A-ah, kurang lebih begitu, Pak. Terima kasih sudah memintanya menunggu.”


Tidak ingin mendapat pertanyaan lebih jauh, Vivi segera menjauhi pemilik apartemen itu, lalu bergegas ke wanita yang mirip dengan Nero tadi. Dan sesampainya di depan wanita itu, Vivi memperkenalkan diri.


“Maaf membuatmu menunggu lama. Namaku Vivi,” ucap Vivi terhadap sosok wanita itu. Melihat kedatangan Vivi, wanita itu pun langsung bangkit berdiri, menatap Vivi dari ujung kaki hingga ujung kepala. Setelah itu, senyum merekah di wajahnya. Tangan kanannya juga terulur, mengajak Vivi bersalaman.


“Akhirnya aku menemukanmu! Aku Nadine, dan aku adalah adik Nero. Kau pasti mengenal Kakakku, kan?”


Saat itulah Vivi merasa jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat.


“Adik ... Nero?”