
Arcelio baru pulang mengajar. Berhubung apartemennya berjarak tidak terlalu jauh dari universitas tempat dia bekerja, maka Arcelio hanya cukup berjalan kaki. Namun, sebelum kembali ke apartemen, pria itu memutuskan untuk membeli sesuatu terlebih dulu. Dia membeli boneka barbie yang cantik, dan robot super hero. Arcelio juga membeli kue tart berukuran sedang, lengkap dengan lilin warna-warni berjumlah lima buah. Setelah itu, barulah dirinya pulang.
Setibanya di gedung apartemen, Arcelio bergegas menuju lift. Pria itu tak sabar untuk segera merayakan ulang tahun Aurora, yang jatuh pada hari ini. Akan tetapi, baru saja pintu lift akan tertutup, tiba-tiba ada seorang wanita muda menahannya. Dia langsung masuk dan berdiri di sebelah Arcelio.
“Ke lantai berapa, Nona?” tanya Arcelio.
“Lantai lima,” jawab wanita muda berambut pirang itu ramah.
“Baiklah.” Arcelio menekan tombol angka lima. Setelah itu, dia kembali berdiri dengan tenang.
Tanpa diduga, wanita muda tadi melirik ke arahnya, lalu pada kue tart yang Acelio bawa. “Siapa yang berulang tahun?” tanyanya.
“Putriku,” jawab Acelio diiringi senyum kalem.
“Oh.” Si wanita manggut-manggut.
Setelah itu, tak ada lagi percakapan antara mereka, hingga pintu lift terbuka. Arcelio mempersilakan wanita muda berambut pirang tadi keluar terlebih dulu. Barulah dirinya mengikuti. Arcelio melangkah gagah di belakang si wanita yang terlihat tak nyaman. Wanita muda itu sesekali menoleh kepada Arcelio, hingga dia berhenti di depan pintu ruang apartemennya. “Kau tinggal di sini, Tuan?”
“Ya. Aku menempati ruang apartemen ini sejak beberapa waktu yang lalu. Kupikir, ruangan itu kosong.” Arcelio mengarahkan matanya pada ruang apartemen yang berada di tengah-tengah, antara tempat tinggal Arcelio dan Samantha.
“Aku sudah tinggal di sini sejak satu tahun yang lalu. Namun, lebih sering pulang ke rumah orang tuaku dan menghabiskan banyak waktu di sana. Itu kulakukan setiap akhir bulan,” terang si wanita diiringi tawa renyah.
“Oh, ya. Aku bisa memahami hal itu,” balas Arcelio seraya tersenyum kalem.
“Perkenalkan. Namaku Joelene Moreau.” Wanita muda bernama Joelene tadi mengulurkan tangan, mengajak Arcelio bersalaman. Akan tetapi, Arcelio tak bisa membalasnya, karena kedua tangan pria itu tengah memegang sesuatu.
Joelene tertawa renyah. “Ah, sudahlah. Kau bisa membalas jabat tanganku kapan-kapan. Lagi pula, kita bertetangga,” candanya.
“Ya. Namaku Arcelio. Arcelio Lazzaro. Aku berasal dari Italia.”
“Ow, Italia?” Joelene menoleh ke arah ruang apartemen Samantha. “Sama seperti nyonya di sebelah. Dia juga berasal dari Italia. Namun, kami tidak terlalu akrab, meski kudengar dia adalah mantan aktris terkenal di negara asalnya,” celoteh Joelene.
“Apa dia bercerita sendiri padamu?” tanya Arcelio.
“Tidak. Bukan dia. Aku mendengarnya dari orang lain yang kebetulan mengetahui siapa Nyonya Bellucci. Kudengar, dia memiliki anak tanpa menikah. Namun, sepertinya itu bukan sesuatu yang aneh untuk kehidupan zaman sekarang.” Joelene membuka kunci pintu apartemennya. “Aku masuk dulu, Tuan Lazzaro. Selamat ulang tahun untuk putrimu.” Setelah berkata demikian, wanita muda itu menghilang di balik pintu.
Arcelio tertegun beberapa saat di depan ruang apartemennya. Dia sempat memperhatikan pintu ruang apartemen Samantha yang terlihat sepi. Namun, sayup-sayup dirinya mendengar suara riang dua gadis kecil di dalam. Itu berarti, Samantha ada di tempatnya.
Dengan susah payah, Arcelio mengetuk pintu. Tak berselang lama, seseorang membukanya. Wajah cantik Brigitte muncul dengan senyuman manis khas pengasuh muda tersebut. “Selamat sore, Nona Colbert,” sapa Acelio sambil melangkah masuk.
“Selamat sore, Tuan Lazzaro,” balas Brigitte. “Anda membawa banyak barang,” ucap sang pengasuh. Dia membantu Arcelio meletakkan kue tart yang dibawa pria itu di atas meja.
“Papa!” Aurora dan Chrissy berlari lalu menghambur ke dalam pelukan Arcelio, yang langsung menyambut mereka.
“Bagaimana kabarmu hari ini, Sayang?” tanyanya seraya mencium pipi Aurora. “Kau juga, Chrissy. Ada keseruan apa selama aku pergi?” Tak lupa, Arcelio menghadiahi putri Samantha tersebut dengan ciuman yang sama. Kedua gadis kecil tadi berceloteh dengan dua bahasa yang berbeda, sehingga membuat Arcelio menjadi pusing saat mendengarnya.
Sementara, Brigitte hanya tersenyum lembut menyaksikan kedekatan antara Arcelio dengan putrinya. Namun, satu hal yang membuat Brigitte merasa heran adalah sikap Arcelio, yang dinilai terlalu berlebihan kepada Chrissy. Terlebih, setelah pengasuh muda itu melihat Arcelio memberikan hadiah robot super hero kepada putri Samantha Bellucci tersebut.
“Aku tidak tahu pasti kapan tanggal lahirmu, Chrissy. Namun, kau memiliki usia yang sama dengan Aurora. Jadi, kalian bisa merayakan ulang tahun bersama.” Seusai berkata demikian, Arcelio mengecup pucuk kepala gadis kecil itu. Sementara, Aurora sibuk dengan boneka barbie-nya.
Brigitte memicingkan mata saat menyaksikan adegan tadi. Baginya, itu merupakan sesuatu yang di luar kewajaran. Ada rasa penasaran dalam hati pengasuh bermata hazel tersebut. “Anda sangat menyayangi putri Nyonya Bellucci, Tuan,” ucap wanita muda itu. “Apakah Anda tidak merasa khawatir hal itu akan menimbulkan kecemburuan dari Aurora?”
Arcelio menoleh, lalu tersenyum kalem kepada Brigitte. Pria tampan berambut gondrong tersebut terlihat sangat tenang dan tidak terusik sama sekali dengan pertanyaan sang pengasuh, yang terdengar cukup pribadi seperti tadi. “Aurora sudah tahu dan tidak mempermasalahkannya. Lagi pula, mereka harus terbiasa bersama-sama,” jawab Arcelio. Tatapan pria itu menerawang, pada kedua gadis kecil yang tengah sibuk dengan mainan masing-masing. Entah sadar atau tidak saat dia mengatakan hal itu.
“Maksud Anda, Tuan?” tanya Brigitte memastikan.
Arcelio terkesiap. Dia sedikit gelagapan, saat dirinya kembali tersadar. “Ah, tidak apa-apa. Lupakan, Nona Corbert,” sahutnya segera menguasai diri. Dia kembali mengajak kedua gadis kecil itu bermain, sebelum memotong kue tart. Aurora dan Chrissy sudah meniup lilin dan membuat permohonan mereka beberapa saat yang lalu.
Brigitte tak banyak bertanya lagi. Rasa ingin tahunya memang cukup besar. Namun, dia belum berani untuk masuk terlalu jauh. Wanita muda itu tahu sampai di mana batasan dirinya. Brigitte mencoba mengesampingkan perasaan tersebut. Dia ikut bahagia, dengan ulang tahun Aurora yang dirayakan secara sederhana.
Hingga waktu makan malam tiba, Arcelio baru mengantarkan Chrissy kembali ke tempat Samantha. Wanita itu baru selesai menata meja makan, saat dia membukakan pintu untuk Arcelio yang mengantar Chrissy.
“Bonne nuit, Chrissy.” Aurora melambaikan tangan setelah Chrissy masuk. Putri Samantha tersebut menoleh, lalu membalas hal yang sama.
“Pergilah ke kamarmu, Chrissy,” suruh Samantha. Setelah itu, dia mengalihkan perhatian kepada Arcelio dan Aurora yang masih berdiri di luar pintu apartemennya. “Apa lagi yang kau tunggu, Arcelio? Kenapa kau masih di sini? Silakan bawa putrimu kembali,” ucap Samantha ketus. Dia sudah hendak menutup pintu,
Namun, Arcelio mencegahnya. Dia memberikan potongan kue tart tadi kepada Samantha. “Aku tidak tahu tanggal berapa Chrissy dilahirkan. Karena itu, kurayakan ulang tahunnya bersamaan dengan Aurora hari ini.” Setelah kue tadi diterima oleh Samantha, Arcelio menoleh kepada Aurora yang menatap aneh kepada Samantha. “Ayo, Sayang,” ajaknya seraya berlalu dari hadapan wanita itu. Arcelio menuntun Aurora kembali ke ruang apartemennya. Dia melewati pintu tempat tinggal Joelene, bersamaan dengan wanita muda tersebut yang keluar dari sana.
“Tuan Lazzarro,” sapa Joelene ramah.
“Nona Moreau,” balas Arcelio seraya menoleh, lalu menghentikan langkahnya.
“Hey! Inikah putrimu yang berulang tahun hari ini?” tanya Joelene seraya mendekat. Dia menurunkan tubuh di hadapan Aurora.
“Iya,” jawab Arcelio diiringi senyum kalem.
"Cantik sekali,” sanjung Joelene. “Siapa namamu, Sayang?” tanyanya. Raut wajah Joelene terlihat sangat ramah dan bersahabat. Jauh berbeda dengan yang selalu ditunjukkan oleh Samantha.
“Aurora,” jawab gadis kecil itu diiringi senyuman.
“Ah, nama yang sangat indah,” sanjung Joelene lagi. “Namaku Joelene. Kau bisa memanggilku Joe. Seperti ayah, ibu, dan teman-temanku.” Dia terus berceloteh bersama Aurora. Sesekali, dirinya berbicara kepada Arcelio yang menanggapi dengan ramah, dan tak menyadari bahwa diam-diam Samantha memperhatikan mereka.