
Ini adalah malam pertama Arcelio kembali menempati kamarnya setelah beberapa bulan diambil alih oleh Delanna. Rasanya sungguh berbeda, karena dalam semalam saja Arcelio harus berkali-kali bangun untuk memberikan susu kepada Aurora yang lapar. Entah kegilaan apa lagi yang tengah Arcelio jalani saat ini, ketika dirinya bersedia merawat bayi yang baru berusia beberapa hari.
Jam digital di dekat tempat tidur menunjukkan pukul tiga dini hari. Baru beberapa saat yang lalu Arcelio terbangun saat mendengar tangisan Aurora. Kali ini, bayi itu telah tidur kembali. Namun, lain halnya dengan Arcelio. Dia duduk terpekur di tepian ranjang sambil menopang kepala. Kali pertama menjadi seorang ayah, dirinya harus berjuang sendiri.
Jika mau, Arcelio pasti akan mencegah Delanna untuk pergi. Wanita itu mungkin saja memilih tinggal dan mengesampingkan perasaannya. Namun, tidak demikian saat ini. Delanna belum siap menjalani segala hal yang terasa serba tak terduga. Tidak adanya cinta dari Arcelio, membuat mantan wedding planner tersebut merasa semakin putus asa. Sama halnya dengan Samantha. Dia lebih memilih pergi, meski harus meninggalkan tanggung jawab besar.
Beberapa saat kemudian, suara Aurora kembali terdengar. Arcelio yang tadinya hendak melanjutkan tidur, kembali mendekat ke dekat box bayi. Dia melihat bayi perempuan itu menggeliat. Dari rahim siapa pun bayi itu dilahirkan, kenyataannya Aurora adalah darah daging sendiri yang harus dirawat sebaik mungkin. Tak ada alasan bagi Arcelio untuk menolak hal itu.
“Kemarilah, Nak. Apa kau lapar atau ingin sekadar kutimang?” Arcelio meraih tubuh mungil Aurora. Dia menggendongnya, lalu menimang-nimang. “Perutmu masih kecil. Baru beberapa saat yang lalu kau minum susu. Jangan katakan jika kau sudah lapar lagi.” Arcelio terus berceloteh, mengajak Aurora yang bergerak-gerak tak nyaman dalam gendongannya.
Beberapa saat lamanya, pelukis tampan berambut gondrong tersebut mencoba menenangkan sang bayi. Namun, Aurora masih tak juga diam. Dia tetap mengeluarkan suara-suara khasnya, hingga terdengar ketukan di pintu.
“Masuklah, Adelina,” seru Arcelio tidak terlalu nyaring.
Adelina muncul dari luar kamar. Dia membawa botol susu yang baru. “Ini, Tuan. Mungkin dia lapar,” ucapnya seraya menyodorkan botol tadi kepada Arcelio.
“Terima kasih, Adelina,” balas Arcelio. Dia menerima botol susu itu, lalu mendekatkannya ke mulut Aurora. Akan tetapi, si bayi seperti menolak. “Aurora tidak mau minum susu,” ucap Arcelio lagi. Alisnya berkerut tanda keheranan. Dia tak tahu ada apa dengan bayinya.
“Apakah Anda sudah memeriksa popoknya, Tuan?” tanya Adelina.
“Oh, astaga. Kau benar.” Arcelio menidurkan kembali Aurora di dalam box. Dia memeriksa popok yang dikenakan bayi itu. Benar saja apa yang disarankan Adelina. “Ah, dia buang air besar,” keluh Arcelio.
“Boleh kubantu, Tuan?” Adelina menawarkan diri. Dia paham bahwa Arcelio pasti belum terbiasa dengan hal-hal semacam itu.
“Tidak usah. Biar aku yang melakukannya,” tolak Arcelio.
“Baiklah. Akan kubawakan air hangat,” ucap Adelina seraya berlalu dari dalam kamar. Dalam hitungan detik saja, Adelina telah kembali dengan mangkuk stainless khusus yang digunakan untuk perawatan Aurora. Adelina juga menyiapkan popok baru, selagi Arcelio membersihkan sisa-sisa kotoran yang menempel menggunakan kapas lembut dan air hangat.
“Aku harus sering-sering berkonsultasi tentang cara merawat bayi,” ujar Arcelio setelah selesai mengganti popok Aurora dengan yang baru.
“Aku pernah menjadi perawat bayi selama dua tahun, saat masih bekerja di Turin,” ujar Adelina. “Itu memang terjadi sudah lama sekali, ketika usiaku sekitar dua puluh lima tahun. Akan tetapi, aku belum lupa dengan pengalaman tersebut.” Adelina tersenyum, saat mengenang masa mudanya dulu.
“Itu bagus sekali, Adelina. Dengan begitu, aku bisa berkonsultasi langsung padamu.” Arcelio tersenyum kalem seraya kembali menggendong Aurora. Dia mulai menyusui bayi itu, hingga putri kecilnya kembali tertidur.
“Aku akan beristirahat sebentar. Bangunkan aku jika kesiangan,” pesan Arcelio, sebelum Adelina keluar dari kamarnya.
Hal seperti itu terus berlangsung hingga hari, minggu, dan tahun berlalu. Tanpa terasa, Aurora kini sudah berusia lima tahun. Ada rasa tak percaya dalam diri Arcelio, ketika dirinya bisa mengemban tugas sebagai ayah sekaligus ibu. Pria itu selalu membawa putri kecilnya ke manapun. Arcelio tak dapat meninggalkan Aurora terlalu lama. Begitu juga setiap kali dirinya hendak ke studio lukis. Gadis kecil tersebut akan menyertai.
“Memangnya kau bisa?” tanya Arcelio yang tengah menyelesaikan lukisannya.
Aurora tidak menjawab. Gadis kecil berambut gelap itu hanya tersenyum lebar. Sepasang matanya yang berwarna abu-abu terlihat sangat bercahaya, ketika mulai menggoreskan kuas di atas kanvas.
Sementara, Arcelio hanya tersenyum saat melihat hasil karya putrinya. Apa yang Aurora lukis hanya berupa garis-garis dan lingkaran tak beraturan. Namun, Arcelio melihat bahwa Aurora sudah tidak kaku lagi dalam memegang alat lukis tadi. Tak menutup kemungkinan, jika putrinya kelak akan mengikuti jejak sang ayah.
“Lihat, Papa! Aku menggambar matahari!" seru Aurora ceria.
“Lanjutkan, Nak. Aku harus membalas email dulu sebentar,” sahut Arcelio. Dia telah selesi dengan aktivitas melukisnya, kemudian duduk di meja tak jauh dari Aurora. Pria yang masih setia dengan rambut gondrong tersebut tampak sibuk berbalas email di laptopnya.
Namun, lama-kelamaan Aurora merasa bosan. Dia menoleh pada sang ayah yang tengah serius mengetik di laptopnya. Aurora lalu kembali mengalihkan perhatian pada kanvas, yang sudah penuh dengan gambar tak beraturan.
Diam-diam, gadis kecil itu beringsut turun dari kursi, lalu melangkahkan kaki kecilnya mengelilingi studio lukis. Sesaat kemudian, Aurora berhenti di depan pintu yang setengah terbuka. Karena merasa penasaran, gadis kecil berambut gelap tersebut membuka pintu tadi hingga lebih lebar. Dia melongok ke dalam, sebelum masuk ke ruangan tersebut.
Sepasang mata bulat Aurora terbelalak sempurna, saat melihat puluhan lukisan indah bergambar seorang wanita cantik berambut pirang. Aurora mendekat ke salah satu lukisan. Dia mengamati gambar wanita cantik memakai gaun pengantin berwarna putih. Perlahan, jemari mungilnya terulur, hendak menyentuh permukaan lukisan itu.
Namun, gerakan gadis kecil tadi seketika terhenti, ketika tiba-tiba terdengar suara sang ayah menegurnya.
“Sedang apa kau di sini, Nak? Bukankah kau tadi sedang melukis?” tanya Arcelio. Dia merasa heran, karena Aurora menemukan gudang rahasianya.
“Siapa dia, Papa?” Aurora balik bertanya.
“Dia ....” Tenggorokan Arcelio tercekat, saat memperhatikan wajah dalam lukisan tadi. Matanya berkaca-kaca membayangkan kilasan masa lalunya yang pahit. “Dia adalah ibu peri yang sangat menyayangi dan selalu menjagaku,” lanjut Arcelio kemudian.
“Apakah ibu peri memiliki nama, Pa?” tanya Aurora lagi.
“Ya. Namanya adalah Samantha,” jawab Arcelio diiringi senyum simpul.
“Ibu Peri Samantha!” ulang Aurora ceria. Dia berseru sambil melompat-lompat kegirangan, lalu berlari meninggalkan Arcelio yang masih terpekur di ruangan itu.
Pria yang selalu terlihat menawan dengan rambut ala man bunnya tersebut sedikit mendongak. Arcelio memperhatikan wajah cantik yang selalu dia lukis setiap malam, di saat dirinya kesulitan tidur.
Hingga lima tahun berlalu, Samantha masih tetap ada dalam hati Arcelio. Dia tak pernah berhubungan dengan wanita manapun sejak kehilangan wanita itu. Tak juga Delanna yang merupakan ibu dari Aurora.
“Anggap saja ini adalah caraku menebus segala kesalahan terhadapmu, sayang,” gumam Arcelio