
Hujan mengguyur dengan deras sejak sore hari. Suhu udara menjadi turun drastis, terutama saat malam tiba. Kami berempat duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton televisi. Suasana masih terasa suram mengingat kejadian tadi siang. Khususnya Irene yang masih murung dan lebih banyak diam.
Namun untungnya Anya sudah kembali ceria. Mungkin dia masih belum mengerti konflik yang terjadi di antara kedua orang tuanya. Tapi kurasa dia sedikit mengerti kesedihan ibunya. Anya seharian ini tidak menyinggung kejadian tadi. Padahal biasanya jika terjadi sesuatu yang berkesan baginya, dia akan membahasnya berkali-kali.
Kulirik Irene yang duduk di samping kiriku. Tangannya mengelus rambut Anya yang sedang tidur di pangkuannya. Namun kedua matanya menatap kosong pada layar televisi yang menampilkan film kartun kesukaan Anya. Ini adalah film ke empat yang kita putar malam ini. Anak-anak yang sudah bosan akhirnya tertidur lelap di pangkuan kami.
Nyala televisi menjadi satu-satunya sumber cahaya di ruang ini. Suara gemercik air hujan mendominasi semakin mendukung suasana untuk terlelap. Mataku mulai memberat tapi aku tidak tega meninggalkan Irene yang seperti belum menunjukkan tanda-tanda mengantuk.
“Irene...” tidak ada respons.
Mungkin karena aku memanggilnya dengan setengah berbisik agar tidak mengusik tidur anak-anak, sehingga dia tidak mendengarnya.
“Irene,” kali ini lebih keras, tapi dia masih belum menyahut, masih memandang kosong ke arah televisi.
Kucoba kembali dengan menyentuh bahunya, “Irene,” akhirnya dia menoleh padaku.
Raut wajahnya sangat lesu, menggambarkan dia sedang banyak pikiran. Masih terlihat jelas bekas air mata yang mengering di pipinya. Mungkin dia diam-diam menangis tadi.
Tanganku yang masih berada di pundaknya, kini berpindah menyentuh pipinya yang terasa dingin, “Tidurlah. Aku akan memindahkan anak-anak. Biar Eric tidur denganku supaya tidak mengganggu istirahatmu.”
Irene menggeleng lemah, “Aku tidak yakin malam ini bisa tidur dengan nyenyak. Aku terlalu takut memejamkan mata.”
Wajar jika Irene merasa seperti itu. Kenangan terburuk dalam hidupnya harus terungkit kembali. Luka yang ia pendam dalam-dalam dan susah payah ia sembuhkan terbuka lagi. Dia bisa saja berpura-pura baik-baik saja di depan kami, terutama Anya. Tapi aku yakin dia masih trauma dengan kejadian tadi.
“Mau bicara?” tanyaku padanya. Hanya inilah sedikit banyak yang bisa kulakukan untuknya. Setidaknya aku membuktikan pada Irene bahwa dia tidak sendirian menghadapi ini semua.
Irene terdiam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya. Aku senang dia menyambut niat baikku, artinya dia mulai mau terbuka padaku tentang apa yang dia rasakan.
Aku berdiri dari sofa dengan hati-hari karena sedang menggendong Eric yang tertidur, “Kalau begitu, aku akan pindahkan anak-anak ke kamar terlebih dahulu.”
Setelah memindah Eric ke kamar, aku kembali untuk memindahkan Anya. Lalu aku memastikan mereka tidur dengan nyaman dan hangat, karena udara semakin dingin.
Tapi aku tak langsung kembali ke ruang keluarga setelah dari kamar anak-anak. Aku menuju dapur untuk membuat dua gelas minuman hangat. Teh hangat untuk Irene dan kopi untukku. Kata orang teh hangat bermanfaat untuk menenangkan pikiran. Semoga dengan ini bisa membuat Irene lebih tenang.
Aku kembali ke ruang keluarga dengan membawa kedua cangkir di tanganku. Televisi kini sudah mati. Ruangan ini semakin gelap. Hanya ada sedikit cahaya dari jendela yang tertutup gorden transparan.
Kulihat Irene masih berada di sofa namun posisi duduknya berubah. Kedua kakinya ditekuk di depan dada. Kepalanya diletakkan di atas lutut, sehingga rambut panjangnya terurai di samping tubuhnya. Tubuhnya tampak semakin kecil dalam posisi itu. Membuatnya terlihat rapuh.
Sekuat apa pun Irene sebagai wanita, sebagai ibu, dia tetaplah seorang manusia yang punya banyak kelemahan. Namun sosoknya yang lemah ini justru membuatku semakin mencintainya. Aku ingin bisa menjadi orang yang bisa dia andalkan saat dia merasa lelah. Aku ingin melindungi orang-orang yang kucintai.
TAK
Aku meletakkan gelas keramik berisi teh hangat di hadapan Irene. Mendengar bunyi gelas diletakkan, Irene mengangkat kepalanya.
“Ini teh hangat. Minumlah.”
Irene mengambil cangkir itu dan meminumnya dengan perlahan. Aku pun duduk di sampingnya dan meminum kopiku. Beberapa menit berlalu masih belum ada obrolan di antara kami.
Bahkan suara hujan sudah tak terdengar lagi. Menandakan hujan sudah reda. Hanya sesekali suara tetesan air yang jatuh. Aku hanya diam, memberi waktu Irene untuk memulai pembicaraan. Lalu kurasakan beban di pundak kiriku. Rupanya Irene meletakkan kepalanya di sana.
“Sekarang aku harus bagaimana, Mas?” Irene akhirnya membuka suara.
Aku tak bisa langsung menjawab. Jika aku berada di posisi Irene aku juga pasti kebingungan dan merasa gelisah. Terlebih aku hanya orang luar yang tak bisa mencampuri urusan mereka lebih jauh. Apalagi jika menyangkut anak mereka.
“Kamu ingin menyelesaikannya dengan jalur hukum?” aku mengatakan apa yang terlintas di pikiranku.
“Mungkin tidak perlu sejauh itu. Alan hanya ingin meminta maaf. Tapi aku masih belum bisa memaafkannya. Ini hanya masalah perasaan pribadi,” setelah itu Irene kembali menyesap tehnya. Kami kembali terdiam beberapa menit.
“Menurut Mas Beny, apa aku salah jika tidak memberitahu Anya tentang ayahnya?” tanyanya tiba-tiba
“Mendengar ceritamu tempo hari, menurutku memang lebih baik Anya tidak tahu,” jawabku, “Tapi bagaimana pun suatu saat dia harus mengetahui tentang ayahnya. Terlebih dengan kejadian tadi, dia pasti bertanya-tanya mengenai pria lain yang mengaku sebagai papanya.”
Irene mengangguk memahami perkataanku, “Sebenarnya aku juga tidak tega melihat Alan seperti itu. Dia adalah orang dengan ego yang tinggi, tapi hari ini dia merendah di hadapanku untuk meminta maaf.”
“Tapi saat mengingat perlakuannya dulu pada kami, aku tidak bisa membuang kebencianku padanya,” lanjutnya.
Yah, aku bisa mengerti. Bahkan aku yang hanya mendengarnya dari cerita Irene ikut marah dan menyayangkan apa yang dilakukan oleh mantan suaminya itu.
“Aku bahkan tidak habis pikir dia memintaku untuk kembali,” tanpa sadar aku menahan napas mendengar penuturan Irene.
Aku sudah mengetahui hal ini saat mendengar percakapan Irene dan mantan suaminya. Sekuat tenaga aku mahan emosiku mendengar pria itu dengan mudahnya meminta Irene untuk kembali padanya.
“Kamu ingin kembali bersamanya?”
“Sama sekali tidak!” Irene mengangkat kepalanya dari bahuku, dia menatapku dengan sedikit kesal, “Bahkan jika aku tidak menikah dengan Mas Beny, aku tetap tidak akan kembali dengannya.”
Aku tersenyum mendengar jawabannya. Kuambil sebelah tangannya, lalu kubawa ke bibirku untuk menciumnya, “Terima kasih.”
“Tidak. Akulah yang berterima kasih pada Mas Beny karena sudah melindungiku dan Anya,” kali ini dia yang menarik tanganku dan menciuminya.
Aku terkejut dengan aksinya, tapi aku membiarkannya. Irene lalu tersenyum padaku. Akhirnya dia tersenyum lagi. Kali ini senyum yang sebenarnya. Bukan senyum yang dipaksakan.
“Terima kasih, Mas. Sudah mau mendengar semua keluh kesahku. Sekarang aku merasa lebih lega karena aku tidak harus menanggungnya sendiri lagi,” tanganku yang masih digenggamnya, kini ia letakkan di pipinya.
Aku lalu mengelus pipinya lembut dengan ibu jariku. Pipinya kini sudah terasa lebih hangat dari pada beberapa saat lalu. Hal itu mengurangi sedikit kekhawatiranku, “Tak masalah. Kamu bisa cerita apa saja. Aku pasti akan membantumu.”
Tanpa kami sadari hujan kembali turun dengan deras. Jam sudah menunjukkan pukul satu ketika kami memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing.
Mungkin hujan akan turun hingga esok hari. Dan matahari akan tertutupi oleh awan pekat. Tapi kuharap besok akan menjadi hari yang lebih baik dari pada hari ini.
.
.
.
Bab 16 ((END))