
Hari ini kami berencana untuk melakukan survey ke dua sekolah taman kanak-kanak! yang rencananya akan dimasuki Anya. Setelah kami berdiskusi menentukan pilihan sekolah untuk Anya, Beny menyarankan untuk mendatangi langsung sekolah-sekolah itu agar bisa melihat suasananya secara langsung.
Kebetulan hari ini adalah hari efektif, pasti para siswa sedang aktif belajar di sekolah. Jadi Anya bisa merasakan langsung bagaimana rasanya bersekolah di sana. Dan bisa menentukan mana sekolah yang dia suka. Aku pribadi lebih mengutamakan kenyamanan Anya dalam memilih sekolah. Karena menurutku jenjang pendidikan taman kanak-kanak harusnya lebih mengutamakan pembentukan moral dan latihan bersosialisasi. Terlebih Anya memiliki kemampuan sosial yang cukup tinggi.
Tapi sepertinya Beny tak sependapat denganku. Dia ingin Anya bersekolah di sekolah yang mengutamakan ilmu pengetahuan dengan kurikulum intensif dan pembelajaran bahasa asing. Kami sempat berdebat masalah ini, dan akhirnya Beny memberikan saran untuk survey, sehingga Anya bisa menentukan mana sekolah yang ia sukai.
Anya langsung antusias begitu aku memberitahunya bahwa kita akan mengunjungi (calon) sekolahnya. Selama di perjalanan dia tak berhenti bertanya ini dan itu.
Sekolah pertama yang kami kunjungi adalah TK Lily. Ini adalah sekolah rekomendasi Beny. Salah satu alasan sekolah ini menjadi salah satu pilihan adalah jaraknya yang lumayan dekat dari rumah kami. Sesampainya di lokasi, kami dibuat takjub dengan arsitektur bangunan yang megah dan mewah. Tak heran, karena selain taman kanak-kanak ada juga jenjang pendidikan lainnya seperti sekolah dasar hingga menengah atas di gedung sekolah ini. Tipikal sekolah mewah di kota besar.
Aku sudah sering melewati bangunan ini tapi ini pertama kalinya aku masuk ke dalamnya. Alasanku menolak usulan Beny menyekolahkan Anya di sini adalah masalah biaya. Untuk bersekolah di sini pastinya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tapi Beny meyakinkanku bahwa biaya tidak akan menjadi masalah karena pendidikan Anya adalah yang utama.
Kami bertemu dengan salah satu staff sekolah, ia menjelaskan berbagai hal tentang sekolah ini. Ternyata sekolah ini berstandar internasional. Tak heran jika banyak anak-anak pejabat atau selebriti yang bersekolah di sini. Walaupun masih TK, anak-anak sudah diajarkan dan dibiasakan untuk berbicara dalam bahasa asing.
Kami juga diajak berkeliling untuk melihat fasilitas dan aktivitas di sekolah ini. Kami mulai dari melihat ruang kelas. Karena pelajaran masih berlangsung, kami hanya melihat dari luar. Di dalam kelas hanya terdiri dari sepuluh orang siswa saja. Agar pelajaran lebih efektif katanya. Tapi anak-anak itu duduk dengan rapi dan tenang. Tidak ada yang tertawa, menangis atau gaduh seperti anak TK pada umumnya. Kurasa Anya tak akan suka jika bersekolah di sini.
Benar saja, selama tour Anya terlihat bosan. Dia hanya bersemangat saat melihat kolam renang. Kami melewati taman bermain, tapi sayangnya mereka tak mengizinkan orang luar untuk bermain di sana.
Setelah puas berkeliling kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju sekolah kedua.
Anya masih terlihat sebal saat di dalam mobil. Aku pun bertanya pendapatnya tentang sekolah itu.
“Anya nggak mau sekolah di sana, Ma!”
“Loh, kenapa, Anya? ‘kan ada kolam renangnya, ada taman bermainnya juga,” timpal Beny, masih berusaha membujuk Anya untuk mau bersekolah di sana.
“Nggak mau, Om. Orangnya jahat, Anya nggak boleh main.”
“Nanti kalau Anya sudah sekolah di sana, pasti boleh main.”
“Enggak mau!”
Aku tertawa melihat perdebatan mereka berdua, “Sudah-sudah. Kita hampir sampai di sekolah selanjutnya. Kita lihat dulu di sana.”
Sekolah kedua adalah TK Permai, lokasinya tak jauh dari sekolah pertama. Ini adalah sekolah pilihanku. Berbeda dengan sebelumnya, sekolah ini memiliki bangunan yang sederhana. Halamannya cukup luas, ada taman bermain dan kebun yang terdapat beberapa tanaman dan kandang kelinci.
Aku mendapat rekomendasi sekolah ini dari salah satu teman lamaku yang anaknya pernah bersekolah di sini. Katanya sekolah ini memiliki sistem pembelajaran yang bagus. Anak-anak tidak hanya diajarkan membaca, menulis, dan berhitung tapi juga belajar untuk bertanggung jawab dan mencintai alam.
Ilmu pengetahuan memang penting, tapi tetap harus diimbangi dengan moral yang bagus pula. Moral juga harus ditanamkan sejak dini, maka dari itu aku sangat mendukung jika Anya bersekolah di sini.
Di sana kami bertemu langsung dengan kepala sekolahnya. Beliau menjelaskan bahwa di sekolah ini satu kelas berisi dua puluh anak yang akan dibagi menjadi empat kelompok kecil. Setiap kelompok akan bergantian tugas untuk mengurus kebersihan kelas, kebun dan hewan peliharaan setiap harinya.
Tak hanya itu, setiap hari Sabtu, para siswa akan melakukan pembelajaran outdoor. Seperti di taman kota, stasiun atau terminal, pabrik, dan tempat umum lainya sebagai pengenalan dan pelatihan anak-anak untuk menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Mendengar hal itu, aku semakin yakin untuk Anya bersekolah di sini. Semoga Beny juga setuju dengan pendapatku. Anya pun tampak bersemangat sejak melihat kandang kelinci di halaman tadi.
Selanjutnya kami diajak untuk melihat kegiatan para siswa di kelas. Berbeda dengan di sekolah sebelumnya, di sini kelas tampak lebih hidup. Para siswa sekarang sedang bernyanyi bersama di dampingi dua orang guru. Mereka semua terlihat sangat bahagia dan bersemangat.
Melihat kedatangan kami, salah satu guru mengajak Anya untuk bergabung bersama mereka. Tanpa ragu dia menyambut ajakannya. Anya dengan ajaibnya langsung bisa berbaur dengan para siswa walaupun ini pertama kalinya mereka bertemu.
Senyum tak pernah luntur dari bibirku ketika melihat Anya dengan ceria ikut bernyanyi dan menari bersama teman-teman barunya. Selama ini Anya tak memiliki banyak teman seusianya. Di tempat tinggal kami sebelumnya, teman bermain Anya hanya seorang nenek berusia tujuh puluh tahun dan seekor kucing. Terkadang saat cucu Ny. Ely datang berkunjung, barulah Anya bisa bermain dengan anak seusianya.
Terlebih saat kami tinggal di rumah Beny, Eric lah satu-satunya teman bermain Anya. Tapi untungnya Anya tidak terlihat canggung saat bertemu anak-anak yang tidak dikenalnya. Bahkan aku melihat dia mengajak berkenalan beberapa anak perempuan.
Kemampuan bersosialisasinya itu yang jelas bukan dariku. Berbeda dengan Anya, aku justru tipe orang yang tertutup di lingkungan asing. Banyak yang bilang bahwa aku sangat pasif saat berinteraksi dengan orang lain. Mungkin kelebihan Anya ini turunan dari ayahnya. Memang Alan adalah orang yang supel dan mudah bergaul, sama seperti Anya. Setidaknya ada sisi baik darinya yang bisa diwariskan.
“Semua siswa wajib membawa bekal buatan rumah setiap hari. Jadi mereka bisa makan siang bersama-sama. Selesai makan, mereka bermain di luar untuk membantu mencerna makanannya,” jelas kepala sekolah pada kami.
Karena Anya tidak membawa bekal, ia memutuskan untuk keluar kelas dan sebelumnya sudah berterima kasih pada guru dan teman-teman barunya.
“Ma, apa Anya boleh bermain di sana?” tunjuk Anya pada taman bermain di halaman.
“Tentu saja boleh, Anya. Anya boleh main sepuasnya, tapi harus tetap berhati-hati,” sahut kepala sekolah.
Mendengar itu, senyum Anya melebar, “Terima kasih!” dia langsung berlari menuju ayunan.
“Aaaa... Aaaa...” Eric tampak tak mau kalah dengan kakaknya, juga ikut bersemangat. Ia mengulurkan tangannya ke arah Anya yang sedang melambai pada kami. Seperti ingin menyusul ke tempat Anya.
“Biar aku yang menemani Anya dan Eric,” Beny mengambil Eric dari gendonganku dan menghampiri Anya.
Aku kembali melanjutkan percakapanku dengan kepala sekolah. Kami berbicara mengenai biaya yang diperlukan untuk bersekolah di sini. Untungnya biayanya tak terlalu mahal.
Setelah itu, kepala sekolah pamit untuk mengurus hal lain. Aku pun bergabung bersama Beny, Eric, dan Anya yang sedang bermain pasir.
“Anya, bagaimana dengan sekolah ini?” tanyaku pada putriku.
Berbeda sebelumnya, kali ini Anya menjawab pertanyaanku dengan bahagia.
“Anya suka, Ma! Anya mau sekolah di sini!”
Aku pun menoleh ke arah Beny, meminta persetujuannya.
“Jika Anya menyukainya, maka tidak ada alasan bagiku untuk melarang,” jawabnya, “lagi pula kurasa sekolah ini lebih bagus dari yang sebelumnya.”
Aku tersenyum dan berterima kasih padanya karena sudah menyetujui pilihanku dan Anya.
Setelah anak-anak puas bermain, kami pun meninggalkan tempat ini.
...
Sebelum kembali ke rumah, kami mampir ke sebuah tempat perbelanjaan untuk makan siang. Saat makan, Anya tak henti-hentinya bercerita tentang teman-teman barunya. Tadi dia berkenalan dengan tiga orang anak. Yang pertama bernama Marry, kedua bernama Alice, dan terakhir bernama Anna.
Aku dan Beny hanya mendengarkannya dan sesekali menyahuti. Anya terlihat bahagia sekali hari ini. Dia memang tipe anak yang aktif tapi dia bukan anak yang banyak berbicara dan bercerita. Tapi saat ini dia sangat banyak berbicara. Karena takut mengganggu pengunjung lain, aku menyuruhnya untuk makan dengan tenang.
Selesai makan, kami pun akhirnya pulang. Aku dan Eric menunggu di depan restoran sambil menunggu Beny dan Anya yang menyelesaikan pembayaran.
Aku tak begitu memperhatikan orang yang berlalu lalang karena sibuk meminumkan susu untuk Eric.
“Irene, kan?”
Tiba-tiba aku mendengar suara yang sangat familier memanggil namaku.
.
.
.
Bab 8 ((END))