SECOND LOVE

SECOND LOVE
SL- 34



Usai lamarannya yang diterima Vivi, pada keesokan harinya, Nero segera menceritakan seluruh kejadian malam kemarin kepada kedua orang tuanya. Bak anak kecil, Nero bercerita dengan wajah bahagia dan senyum hangat merekah di wajah. Di hadapan ayah dan ibunya, Nero kembali seperti pemuda kasmaran yang baru saja merasakan indahnya jatuh cinta.


“Ayah, Ibu, akhirnya aku telah menemukan pengganti Azzura di kehidupanku,” ucap Nero kala pertama kali membuka percakapan di ruang tamu bersama kedua orang tuanya. Mendengar ucapan putra sulung mereka, kebahagiaan yang terpancar di wajah Nero menular kepada dua sosok paruh baya itu. Terbukti bagaimana senyum juga merekah di wajah satu sama lain.


“Benar, kah? Lalu, bagaimana hubungan kalian sekarang? Apa semuanya baik-baik saja?”


Pertanyaan pria paruh baya yang menjadi ayahnya itu tidak langsung dijawab Nero. Sebaliknya, justru senyum di wajah pria kasmaran itu semakin melebar. Ia begitu bersemangat dalam mengucapkan kabar bahagia tersebut.


“Tentu saja. Kami sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Dan kupikir hanya dalam hitungan hari saja kami akan resmi menjadi suami istri,” balas Nero dengan kebanggaan tersirat dalam suaranya.


Mendapatkan kabar bahagia tersebut, kedua orang tua Nero yang semula duduk di sofa langsung bangkit, kemudian memeluk putra mereka dengan bahagia.


“Ibu senang mendengar kabar bahagia ini, Nak! Ibu senang kamu tidak berlarut terlalu lama dalam kesedihan setelah ditinggal istrimu,” ucap wanita paruh baya itu tepat di telinga putranya.


“Ayah juga bangga padamu. Kapan kamu mau membawanya ke rumah? Kami ingin segera bertemu dan berkenalan dengan wanita yang membuatmu merasa dimabuk cinta seperti ini lagi.”


Setelah itu, pelukan hangat antar keluarga itu dilepas. Kedua orang tua Nero menatap putranya dengan tatapan menggoda sekaligus penasaran dengan sosok wanita yang dimaksud Nero. Tentunya Nero juga turut berbahagia karena hubungannya dengan Vivi disambut dengan tangan terbuka oleh orang tuanya. Tidak dapat dipungkiri jika sebersit keraguan sempat timbul di batin Nero, takut jika keputusannya untuk meninggalkan masa lalu dengan Azzura adalah kesalahan. Namun, sepertinya ayah dan ibunya tetap mendukung apa pun yang Nero lakukan.


“Kalau begitu, aku akan menghubunginya sekarang. Aku yakin Vivi juga akan senang bertemu dengan kalian.”


Setelah Nero berkata demikian, ia pergi dari ruang tamu dan pergi ke kamarnya untuk menelepon sang kekasih.


***


“Ayah dan Ibuku ingin bertemu denganmu. Apa nanti malam kau senggang?”


Sesampainya di kamar, Nero segera menghubungi Vivi. Memang benar jika sebenarnya Nero bisa saja langsung menjemput kekasihnya langsung nanti malam. Hanya saja, ia ingin memberikan waktu persiapan bagi Vivi.


“Tentu. Kebetulan nanti malam aku memang tidak memiliki kegiatan apa pun. Aku bisa ke rumahmu jika kau mau.”


Mendengar kesanggupan Vivi, senyum antusias langsung terukir di wajah Nero. Ia tahu jika Vivi tidak mungkin akan mengecewakannya.


“Tidak perlu. Aku akan menjemputmu nanti malam.”


“Begitu? Ya sudah. Kutunggu, ya.”


Setelah itu, keduanya sempat berbincang ringan tentang bagaimana Vivi yang merasa jantungnya berdebar kencang. Rasanya sudah lama sekali sejak ia bertemu dengan mertuanya dulu. Dan sekarang, ia akan bertemu untuk pertama kali dengan calon mertuanya. Mendengar kekhawatiran Vivi, Nero menenangkan kekasihnya, mengatakan jika kedua orang tuanya terlihat siap menyambut keberadaan Vivi.


Setelah menghabiskan waktu satu jam ditelepon, akhirnya Vivi yang memutus panggilan pertama, berkata jika dirinya hendak bersiap-siap. Tentu Nero langsung terkekeh saat mendengar itu. Namun, ia tetap mengiyakan permintaan Vivi. Kini, Nero hanya perlu menunggu waktu malam untuk acara utama.


***


Saat malam tiba, Nero tidak membuang waktu. Ia langsung menjemput Vivi untuk ke rumahnya. Dan untuk kedua kalinya, Vivi bercerita tentang kegugupannya karena ia akan bertemu dengan orang tua Nero.


“Tidak perlu khawatir. Aku ada di sini, bersamamu. Dan aku juga yakin mereka pasti akan menyukaimu. Jadi, tetap menjadi dirimu sendiri dan bersikap normal, oke?”


Itulah yang Nero ucapkan dalam upaya menenangkan Vivi. Tidak hanya sekali, berulang kali Nero mengucapkannya sembari menggenggam tangan kekasihnya, berharap dapat memberikan ketenangan. Dan untungnya usaha Nero membuahkan hasil, Vivi tidak lagi begitu gugup seperti sebelumnya.


“Kau sudah siap?”


Sebelum Nero membuka pintu, ia menatap Vivi, menatap sang kekasih yang terlihat jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.


“...ya, aku siap.”


Mendengar jawaban Vivi, Nero pun tersenyum. Kemudian ia mengetuk pintu di depannya tiga kali, menunggu dibukakan. Dalam hitungan detik, pintu itu terbuka, menampakkan sosok wanita paruh baya yang nampak bahagia.


“Oh, ternyata Nero! Dan wanita ini ... apa dia yang kau bicarakan tadi pagi, Nero?”


Kini tatapan wanita paruh baya selaku ibu Nero tertuju pada Vivi, menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Mendapati tatapan intens tersebut, Vivi sempat merasa gugup untuk sesaat. Namun, ia berhasil mengendalikan diri dengan menarik napas panjang dan mulai memperkenalkan diri.


“Selamat malam, Tante. Nama saya Vianli Caroline, biasa dipanggil Vivi,” ucap Vivi sembari membungkukkan badan, menunjukkan hormatnya. Hal tersebut membuat ibu Nero langsung mengibaskan kedua tangan lalu tertawa pelan.


“Tidak perlu bersikap formal seperti itu, Vivi. Bagiku, kau sudah menjadi bagian dari keluarga kami,” jawab wanita paruh baya itu sembari meletakkan tangan kanannya di pundak Vivi, lalu menatap matanya lekat.


“Aku merasa beruntung karena dirimu dapat membuat Nero kembali normal. Kuucapkan terima kasih untukmu.”


Kini bergantilah Vivi yang merasa sungkan dengan ucapan terima kasih yang diterimanya.


“Tidak, Tante. Saya tidak membantu banyak tentang itu. Sebaliknya, sayalah yang justru terbantu banyak oleh Nero,” ujar Vivi yang merasa sungkan dengan ucapan tulus ibu Nero.


Setelah itu, kedua perempuan itu menatap satu sama lain dalam diam. Selang tiga detik, ibu Nero terkekeh.


“Ternyata memang tidak salah pilihan Nero. Mari, masuklah. Aku yakin kalian sudah kedinginan.”


Kini wanita paruh baya itu memberikan gestur agar kedua insan itu masuk ke dalam. Nero dan Vivi sempat menatap satu sama lain, sebelum akhirnya mereka menerima ajakan ibu Nero. Setelah itu, muncullah Nadine yang tersenyum senang.


“Kak Nero! Dan juga ada Kak Vivi juga!”


Nadine berlari mendekati kakaknya dengan antusias, lalu menatap Vivi dengan tatapan serupa. Dalam hati ia merasa senang karena usaha mempersatukan Nero dan Vivi berhasil. Kini Nero seperti mendapatkan alasan hidupnya kembali, tidak muram seperti itu.


“Kita bertemu lagi, Nadine.”


Vivi berucap sembari mengusap pelan kepala Nadine, dan dibalas dengan kekehan.


“Hehe, dan aku yakin mulai hari ini kita akan sering bertemu, Kak.”


Mengerti maksud tersirat ucapan Nadine, Vivi tersipu malu.


Di saat kelima orang itu hendak masuk lebih dalam, terdengar suara ketukan pintu. Kala Nero membukanya, terlihat Roland yang langsung terkejut dengan keberadaan Vivi.


“...ah, ternyata ada Nona Vivi di sini. Apa aku mengganggu?”