SECOND LOVE

SECOND LOVE
Kembali dari Awan



Keesokan harinya, Arcelio mengajak Aurora dan Chrissy berjalan-jalan pagi sambil membawa Ollie dan Leeloo bermain di taman. Mereka juga menikmati sarapan di luar. Arcelio sengaja tak mengajak Samantha atau Delanna. Dia membiarkan kedua wanita itu berdua di apartemen.


“Kalian suka makanannya?” tanya Arcelio pada kedua putrinya, yang tengah asyik menikmati kudapan khas Italia untuk sarapan mereka.


“Aku suka ini, Papa,” sahut Aurora ceria.


“Bagaimana denganmu, Chrissy?” Arcelio mengalihkan perhatiannya kepada putri Samantha tersebut.


“Ibu menyuruhku memanggilmu ‘papa’,” jawab Chrissy, tak sesuai dengan maksud pertanyaan yang diajukan Arcelio. “Apa kau setuju jika kupanggil papa?” tanyanya lugu, sambil terus mengunyah. Bibir mungil gadis kecil itu bahkan terlihat dipenuhi makanan.


“Oh, aku justru sangat bahagia jika kau memanggilku demikian,” jawab Arcelio seraya mengecup pucuk kepala gadis kecil itu. Arcelio tersenyum lebar, saat Chrissy turun dari kursi taman. Gadis kecil itu berlari ke dekat Ollie dan Leeloo yang tengah bermain tak jauh dari tempat mereka duduk.


Selagi Chrissy asyik bermain dengan kedua anjing lucu tadi, Arcelio mendekat kepada Aurora yang masih menikmati kudapannya sambil duduk. Gadis kecil itu memainkan kaki dengan lucu, khas anak-anak seusianya. “Habiskan makananmu, Sayang,” ucap Arcelio lembut. “Lihatlah awan itu,” tunjuk pria tampan tersebut.


“Kenapa.Papa?” tanya Aurora yang tak melihat sesuatu di langit sana.


“Kau tahu, Sayang? Awan sudah mengembalikan ibumu,” ucap Arcelio tenang. “Ibumu telah kembali.”


Aurora terdiam, lalu menoleh pada sang ayah. Gadis kecil itu tak mengerti dengan apa yang Arcelio ucapkan. Dia menghabiskan makanannya, lalu mengelap mulut menggunakan punggung tangan. “Ibuku?” tanya Aurora memastikan.


“Ya, Sayang,” jawab Arcelio. “Bibi Delanna adalah ibumu yang telah kembali dari awan.”


“Bibi Delanna?” Aurora mengernyitkan kening tak mengerti.


Arcelio mengangguk. Dia merengkuh pundak gadis kecil, yang dirinya rawat dari bayi seorang diri. Arcelio memberikan penjelasan secara pelan-pelan, dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak itu. Dia mengatakan tentang siapa Delanna yang sebenarnya, hingga Aurora mengangguk-angguk. Entah apakah gadis kecil itu benar-benar mengerti, atau hanya sekadar mendengarkan tanpa bisa mencerna lebih dalam.


“Ibumu ingin mengajak kau berlibur bersama dengannya. Dia juga ingin kau ikut ke Puerto Rico selama beberapa waktu, sampai waktunya masuk sekolah nanti. Namun, itu adalah rencana jangka panjang. Untuk saat ini, dia hanya ingin mengajakmu jalan-jalan berdua," jelas Arcelio.


“Papa ingin aku pergi?” Pertanyaan lugu yang terlontar dari bibir Aurora, sontak membuat Arcelio merasa teriris. Dia yang awalnya sudah memantapkan hati untuk berbagi hak asuh bersama Delanna, tiba-tiba merasa bimbang. “Apa karena sekarang Papa sudah punya ibu peri dan Chrissy?” tanya Aurora lagi.


“Astaga, Sayangku.” Arcelio langsung memeluk tubuh mungil Aurora. “Jangan berkata seperti itu. Kau adalah putriku. Teman sejati yang selalu menemaniku sejak dulu. Mana mungkin aku rela kehilanganmu,” bantah Arcelio masih dengan cara bicaranya yang lembut.


“Ini bukan tentang apapun seperti yang kau pikirkan tadi. Ibu Delanna hanya merindukanmu. Dia ingin menghabiskan sedikit waktu dengan bermain bersama, membelikanmu pizza, es krim, dan mungkin baju-baju cantik seperti yang dikenakan boneka barbie. Aku rasa, dia juga lebih pandai mengepang rambut jika dibandingkan dengan diriku.” Arcelio tersenyum kelu. Sebisa mungkin, dia menyembunyikan perasaan yang berkecamuk dalam dada.


“Kau tahu sendiri, aku bahkan membutuhkan waktu yang lama hanya untuk mengikat rambutmu.” Arcelio tertawa renyah. Namun, tak lama kemudian pria itu menyentuh sudut matanya.


Sementara itu, Aurora tidak segera menanggapi. Dia malah memperhatikan Chrissy yang tengah asyik bermain bersama Ollie dan Leeloo. Tiba-tiba, gadis kecil tersebut beranjak turun dari kursi taman. Dia berlari ke dekat Chrissy, lalu ikut bermain.


Arcelio yang masih duduk di tempatnya, memperhatikan mereka yang terlihat sangat ceria. Rasa berat untuk memberikan Aurora kepada Delanna meski hanya beberapa hari, tiba-tiba hadir dan mulai membuatnya ragu. Akan tetapi, Arcelio terus menepiskan perasaan mengganggu tersebut, hingga mereka kembali ke apartemen menjelang makan siang.


“Kalian pergi lama sekali,” ucap Samantha, saat menyambut kedua gadis kecil yang terlihat cukup kelelahan.


“Kami pergi berjalan-jalan, Ibu,” ujar Chrissy antusias.


“Aku akan ke kamar. Aku harus memilih baju yang akan dibawa.” Aurora berlari ke kamarnya, yang segera disusul oleh Chrissy dan kedua anjing lucu mereka.


Arcelio berdiri mematung dengan tatapan kosong ke arah yang dituju kedua gadis kecil itu. Wajahnya tampak muram. Namun, pria itu tak mengatakan apapun.


Meski begitu, Samantha dapat memahami apa yang Arcelio rasakan. Dia mendekat, lalu menyentuh pundak sang suami hingga Arcelio kembali tersadar. “Apa kau baik-baik saja?” tanyanya.


“Iya, Sayang. Tidak apa-apa,” jawab Arcelio memaksakan tersenyum.


“Di mana Delanna sekarang?” Arcelio terlihat sedikit gusar.


“Kurasa, dia ada di kamarnya,” jawab Samantha.


Tanpa mengatakan apapun, Arcelio tiba-tiba meraih tangan Samantha. Dia menuntun sang istri menuju ke kamar yang Delanna tempati. Kali ini, Arcelio tak ingin lagi membuat Samantha merasa curiga hingga cemburu terhadapnya.


Di dalam kamar, tampaklah Delanna yang tengah mengemasi barang-barangnya. Kebetulan, dia membiarkan pintu ruangan itu terbuka, sehingga Arcelio dan Samantha bisa langsung masuk.


“Kau mengatakan akan berlibur sementara di Milan,” ujar Arcelio tanpa basa-basi terlebih dulu.


Delanna yang baru selesai menutup koper, langsung menoleh. “Tadinya begitu, Arcelio. Namun, tiba-tiba ibuku menelepon. Dia bertanya tentang Aurora,” jawabnya menjelaskan.


“Aku sudah menceritakan tentang Aurora kepada ibuku. Dia sangat antusias dan ….” Delanna tak melanjutkan kata-katanya. Wanita cantik berwajah eksotis dengan rambut gelap tersebut terlihat ragu. “Kau akan mengizinkan jika dia kubawa ke Puerto Rico untuk beberapa waktu?”


Arcelio tak segera menjawab. Sorot matanya menyiratkan rasa keberatan. Namun, dia sudah menyetujui untuk berbagi dalam pengasuhan Aurora. Arcelio sadar bahwa Delanna juga berhak atas kedekatan yang seharusnya terjalin antara mereka.


“Kau masih memiliki waktu jika merasa keberatan, Arcelio,” ucap Samantha mengingatkan.


“Aku tidak akan memaksamu, Arcelio. Namun, aku sangat berharap bisa mengajak Aurora meski hanya untuk beberapa waktu.” Delanna menatap penuh arti kepada ayah dari putrinya.


“Bagaimana jika dia tidak kerasan denganmu? Sementara, kau langsung membawanya pergi jauh dari Italia.” Samantha meragukan keputusan Delanna. “Aurora baru bertemu denganmu sekarang. Dia tak mengenal siapa pun di sana. Aku ragu jika ….”


“Aku ibunya, Samantha. Mana mungkin kami tak memiliki ikatan batin sama sekali. Walau hanya sedikit, tapi itu pasti cukup untuk membuat Aurora merasa nyaman berada di dekatku.” bantah Delanna dengan segera.


Samantha mengembuskan napas panjang. Dia tak ingin berdebat. Bagaimanapun juga, Delanna adalah ibu kandung Aurora. Samantha menghormati hal itu. Dia lalu menepuk pelan pundak Arcelio dan mengajaknya keluar kamar.


Setibanya di depan kamar Aurora dan Chrissy, Samantha tertegun. Pasalnya, Chrissy langsung menghambur seraya melingkarkan kedua tangan di pinggang ramping sang ibu. “Aku juga ingin pergi berjalan-jalan bersama Aurora, Bu,” rengeknya manja.


“Hei, Sayang." Arcelio langsung menurunkan tubuh. Dia menghadapkan Chrissy ke arahnya. “Aurora kali ini tidak bisa ditemani, karena Bibi Delanna hanya memiliki satu tiket yang digunakan untuk berjalan-jalan,” bujuknya lembut.


“Kenapa Bibi Delanna tidak membawa dua tiket?” protes Chrissy dengan wajah cemberut.


“Karena ….” Arcelio menggaruk-garuk kepalanya. Dia mulai kebingungan dalam memberikan alasan.


“Karena hari ini adalah giliran Aurora. Besok giliranmu, Sayang,” sahut Samantha seraya menyentuh ujung hidung Chrissy.


“Oh, jadi kami harus pergi secara bergantian?” pikir Chrissy sambil manggut-manggut.


“Ya, itu benar sekali. Sekarang giliran Aurora, sedangkan besok giliranmu,” jelas Arcelio diakhiri dengan hembusan napas pelan.


“Baiklah. Kalau begitu, aku akan menunggu sampai besok,” putus Chrissy dengan gayanya yang sok dewasa. “Aku akan membantu Aurora memakaikan pita dulu,” celetuknya kemudian, membuat Arcelio dan Samantha penasaran.


Mereka mengikuti Chrissy masuk ke kamar. Di sana, Aurora tampak kesulitan saat menaikkan resleting di belakang bajunya.


“Astaga. Kenapa kau tidak memanggilku untuk membantumu, Aurora?” Sigap, Samantha menaikkan resleting di belakang dress yang Aurora kenakan. Setelah itu, dia menyisir rambut panjang Aurora, lalu memasangkan pita di sana.


Arcelio memperhatikan interaksi antara Samantha dan Aurora, dengan sorot penuh arti. Dia sama sekali tak bisa membayangkan, harus berjauhan dengan putri kecilnya dalam waktu yang relatif lama. Rasa bimbang itu kembali hadir.


“Maaf. Apakah Aurora sudah siap? Aku akan mengajaknya pergi sekarang.” Terdengar suara Delanna yang membuyarkan lamunan Arcelio.