
Sejak perbincangan mereka di restoran, Nadine yang telah menyelesaikan tugasnya memilih berpisah dari Vivi, memberikan waktu bagi wanita itu untuk berpikir. Namun, Vivi tidak ingin waktunya terbuang lebih banyak lagi. Ia tidak perlu waktu untuk memikirkan apa pun. Hanya dengan perasaan bersalah dalam batin, Vivi telah menetapkan hati untuk bertemu Nero dan meminta maaf padanya. Dan ia akan melakukannya sekarang.
“Sudah kuputuskan. Aku tidak ingin dihantui perasaan bersalah ini lebih lama. Aku akan bertemu dengan Nero tidak peduli bagaimana caranya, dan aku akan minta maaf padanya. Meski dia tidak mau melihatku pun aku akan tetap mencobanya,” ucap Vivi pada dirinya sendiri saat duduk di kursi mobilnya sendiri. Tanpa membuang waktu, ia segera tancap gas, membawa kendaraannya ke tempat kerja Nero. Vivi tidak lagi memedulikan gengsinya yang sebelumnya tidak ingin kembali di rumah sakit jiwa, memutar kenangan buruk yang pernah dilaluinya di sana. Karena Vivi telah menetapkan hati untuk segera menemui Nero bagaimana pun caranya.
“Semoga saja aku tidak terlambat.”
***
Sesampainya di depan rumah sakit jiwa, Vivi segera turun dari mobilnya dan bergegas masuk. Saat di dalam, dirinya disambut hangat oleh resepsionis, namun Vivi tidak memedulikannya. Ia justru menggebrak pelan meja resepsionis, dan menatapnya lurus.
“Kumohon, katakan padaku di mana Nero sekarang!” ujar Vivi dengan suara keras hingga perempuan yang bertugas sebagai resepsionis mengerjap, terkejut.
“Pak Nero, dia—”
“Lho, Vivi? Kau kembali?”
Belum sempat resepsionis menjawab pertanyaan Vivi, suara familiar terdengar. Vivi langsung mengarahkan kepalanya ke sumber suara tadi, disambut oleh wajah terkejut Ronald saat melihat dirinya.
“Ah, Pak Ronald, kebetulan sekali. Nona Vivi sedang mencari Pak Nero. Apa Anda melihatnya?”
Sebelum keheningan menyelimuti mereka, resepsionis tadi langsung bertanya kepada Ronald yang baru saja datang itu. Saat itulah tatapan penuh harap Vivi mengarah pada Ronald.
“Apa kau tahu di mana Nero sekarang?!” teriak Vivi yang tanpa sengaja mengeraskan suara, membuat Ronald mengangkat kedua tangannya.
“Whoa, santailah, Nona. Jangan membuat keributan seperti itu.”
Ucapan Ronald menyadarkan Vivi jika dirinya baru saja mengeraskan suaranya tanpa sadar. Hal tersebut membuat dirinya langsung memasang wajah bersalah.
“...kau benar. Maafkan aku.”
“Ayolah, tidak perlu seserius itu, ya? Ah, iya, kau tadi mencari Nero, kan? Kupikir lebih baik kau segera mengejarnya sekarang, karena Nero baru saja pergi.”
Mendengar ucapan Ronald, Vivi langsung melebarkan kedua mata. Tanpa mengatakan apa pun, ia pun langsung berlari keluar, mengabaikan teriakan Ronald. Saat di luar, Vivi langsung menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri, mencari keberadaan Nero yang katanya sudah pergi. Namun hasilnya nihil, membuat Vivi langsung berlari ke mobilnya. Jika ia tidak dapat menemukan Nero di sini, ia mungkin masih bisa mengejarnya jika sudah di luar kawasan rumah sakit jiwa.
***
Setelah mengekori Nero cukup lama dan berusaha untuk tidak kehilangan dirinya, akhirnya semua itu berakhir. Tanpa Vivi sadari, dirinya ternyata mengikuti Nero hingga di suatu pemakaman. Saat itulah Vivi mengerutkan kening, mempertanyakan alasan Nero pergi ke tempat itu. Barulah Vivi teringat pada ucapan Nadine yang menjelaskan jika Nero juga kehilangan istri dan anaknya dalam insiden kecelakaan dulu. Saat itulah Vivi merasakan jantungnya berdebar kencang tanpa alasan.
“Huft ... tidak apa-apa. Aku pasti bisa melakukan ini,” ucap Vivi dengan suara pelan guna menenangkan diri. Setelah dirasa dirinya telah siap, Vivi keluar dari mobilnya yang terparkir tidak jauh dari motor Nero dan masuk ke wilayah pemakaman. Meski hari masih siang dan matahari bersinar terik, suasana di pemakaman saat itu begitu suram, menggambarkan kesedihan setiap pengunjung yang sedang berziarah di tempat peristirahatan sosok terkasih. Namun, Vivi tidak memedulikannya. Ia telah melewati masa berkabungnya pada Azzam, sehingga Vivi dapat mengabaikan kesedihan karena kehilangan seseorang yang dikasihi. Sebaliknya, rasa bersalahlah yang memenuhi batin Vivi saat ini. Dirinya seakan kembali ditampar kenyataan jika bukan hanya dirinya saja yang merasa bersedih setelah kecelakaan dulu. Namun Nero juga menderita hal yang sama.
Saat itulah Vivi tidak dapat menahan diri lebih lama. Ia yang telah menduga Nero hendak mengunjungi istri dan anaknya langsung berteriak.
“Nero!”
Sepinya pemakaman saat itu menyebabkan hanya suara Vivi yang terdengar. Saat itulah Nero yang semula diselimuti kesedihan langsung berbalik, menemukan sosok yang tidak pernah diduganya akan bertemu lagi.
“Vivi?”
Diselimuti keterkejutan, Nero tidak dapat mengucapkan apa pun selain menyebut nama sang wanita. Vivi yang menyadarinya langsung berjalan mendekati sang pria, menatapnya dengan penuh kelembutan, sama seperti saat mereka menghabiskan waktu bersama di rumah sakit jiwa. Saat itulah Nero melupakan tujuan awalnya berziarah. Ia langsung berlari ke arah Vivi, memeluknya erat. Mengabaikan kemungkinan dirinya dapat ditolak, Nero tetap melakukan apa yang ingin dilakukannya sejak perpisahan mereka dulu.
Merasakan pelukan hangat yang tiba-tiba tersebut, Vivi langsung melebarkan kedua matanya, terkejut. Namun, tidak butuh waktu lama baginya untuk kembali tersadar, membalas pelukan Nero dengan hal serupa. Saat itulah Vivi merasakan pelukan Nero semakin erat dibanding sebelumnya.
“Aku begitu merindukanmu, Vivi. Sejak perpisahan kita dulu, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Aku bersungguh-sungguh,” ucap Nero dengan suara pelan, namun masih dapat terdengar jelas di telinga Vivi. Hal tersebut memberikan kehangatan dalam hati Vivi. Ia tidak perlu takut lagi jika dirinya ditolak. Karena kenyataannya, perasaan mereka sama. Dan sekarang telah tersatukan.
“Maafkan aku yang telah meninggalkanmu tanpa mengatakan apa pun dulu. Seharusnya saat itu aku mendengarkan penjelasanmu, baru membuat keputusan.”
Usai berkata demikian, Vivi melepaskan pelukan mereka. Kemudian ia menggenggam erat kedua tangan Nero, lalu mendongak, menatap sang pria dengan tatapan tulus.
“Aku benar-benar salah tentang dirimu. Maafkan aku.”
Saat itulah Vivi dapat merasakan kelegaan di hatinya. Ia tidak lagi diberatkan oleh perasaan bersalah. Hatinya terasa dapat bernapas lega sekarang.
Nero menanggapi permintaan maaf Vivi dengan gelengan kepala. Kemudian ia kembali menarik perempuan itu dalam pelukan hangat.
“Tanpa perlu meminta maaf pun aku akan tetap memaafkanmu, menerimamu dengan senang hati,” ujar Nero di tengah pelukan mereka, membuat jantung Vivi berdebar kencang. Saat ini, Vivi tidak tahu harus berbuat apa selain menerima pelukan penuh kerinduan Nero yang tidak akan terlepas untuk beberapa saat waktu.