SECOND LOVE

SECOND LOVE
Potret Kebahagiaan



Arcelio kembali ke apartemennya dengan membawa senyuman lega, meski dalam hati masih merasa kesal. Jika yang memberikan pengakuan bukanlah seorang wanita, bisa jadi Arcelio sudah memukuli orang itu habis-habisan. Arcelio tetap menghargai Sara sebagai seseorang yang dulu pernah menemani hari-harinya selama dua tahun.


Setelah memarkirkan motor di tempat khusus, Arcelio bergegas naik ke ruang apartemennya di lantai teratas gedung puluhan tingkat itu. Saat masuk, dirinya mendapati Aurora dan Chrissy yang sudah duduk manis di meja makan. Sementara, Samantha tengah menyajikan makanan untuk kedua anak itu.


“Hallo, Papa,” sapa Aurora. Dia tersenyum ceria, saat melihat kehadiran sang ayah yang ikut duduk di sana.


“Hallo, Sayang,” balas Arcelio. Dia telah melepas jaketnya. “Apa kalian bersikap baik?” tanya pria itu seraya mengarahkan pandangan kepada Aurora dan Chrissy secara bergantian.


“Aku sudah berhasil membangun menara tinggi, Paman,” ujar Chrissy antusias.


“Sungguh? Aku akan melihatnya nanti,” balas Arcelio diiringi senyuman lembut. Dia lalu mengarahkan pandangan kepada Samantha yang tidak banyak bicara. Wanita itu bahkan hendak berlalu dari meja makan, andai pertanyaan Arcelio tak berhasil menghentikan langkahnya. “Apa kau tidak menyiapkan makanan untukku, Sayang? Kau pikir hanya nona-nona ini yang kelaparan?”


Samantha tertegun. Dia tak menjawab, tidak juga menoleh. Wanita cantik berambut pirang tersebut hanya mematung. Sementara, Arcelio masih menunggu tanggapan darinya.


“Ibu peri membuat makanan yang sangat enak, Papa. Lebih enak dari masakanmu,” celetuk Aurora tanpa beban.


“Apa?” Arcelio memasang raut galak. “Bukankah kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi kau mengatakan bahwa masakanku sangat enak dan juara?” Arcelio yang gemas, langsung mencubit pipi Aurora.


“Itu kemarin, kemarin, dan kemarin, Papa. Hari ini berbeda,” sahut Aurora. “Masakan Papa terkadang ada hitam-hitamnya,” ujar anak itu lagi. Membuat Samantha mengulum senyum, tapi masih dalam posisi membelakangi.


“Ah! Kenapa semua wanita di sini membuatku patah hati?” Arcelio memasang wajah memelas, lalu menoleh kepada Chrissy. “Apa kau juga akan membuatku patah hati, Chrissy?” tanyanya dalam Bahasa Perancis,


“Tergantung, Paman,” jawab Chrissy enteng.


“Tergantung apa?” tanya Arcelio seraya mengernyitkan kening.


“Tergantung apa kau bersedia mengajakku jalan-jalan atau tidak,” jawab Chrissy tanpa beban, sama seperti Aurora tadi.


“Baiklah. Aku akan mengajak kalian jalan-jalan, tapi sampaikan pada wanita cantik yang berdiri di sana bahwa aku sudah sangat kelaparan dan hampir pingsan,” ujar Arcelio seraya mengarahkan ekor matanya kepada Samantha.


Seusai makan siang, Aurora dan Chrissy masuk ke kamar untuk beristirahat. Samantha mewajibkan mereka tidur siang. Untunglah, karena kedua gadis kecil itu tidak banyak membantah. Setelah menidurkan mereka, Samantha bermaksud kembali ke kamar. Namun, dia harus mengurungkan niatnya, karena Arcelio memanggil.


Arcelio ternyata sudah menunggu Samantha di luar kamar. Pria tampan tersebut menyandarkan lengan kanan ke dinding, dengan tangan kiri di dalam saku celana. “Bisa bicara sebentar, Sayang?” tanyanya seraya menegakkan tubuh. Dia berjalan mendekat kepada Samantha yang hanya berdiri terpaku. “Kau masih marah padaku?” tanya pria itu lagi.


Samantha tidak menjawab. Dia memalingkan wajah, demi menghindari tatapan penuh rayuan dari Arcelio. Bagaimanapun juga, perasaan cinta jauh lebih besar dari kemarahannya.


“Aku punya sesuatu untukmu,” ucap Arcelio setengah berbisik. Tanpa menunggu jawaban Samantha, dia meraih pergelangan tangan wanita itu lalu menuntunnya menyusuri koridor. Arcelio membawa sang kekasih ke kamar yang kini telah menjadi milik mereka, meski belum terikat pernikahan secara sah.


Samantha pun tidak menolak. Dia mengikuti langkah Arcelio, yang terus menggenggam tangannya hingga tiba di dalam kamar.


Setibanya di sana, Arcelio mengajak Samantha duduk berdampingan di sofa dekat jendela. Dia mengeluarkan ponsel dari saku depan kemeja yang dikenakannya. Tak ingin membuang waktu, Arcelio langsung memutar rekaman percakapan antara dirinya dengan Sara hingga selesai.


Setelah mendengarkan rekaman tadi, Samantha tidak langsung berkomentar. Dia menundukkan wajah, karena tak kuasa melawan tatapan Arcelio yang terasa bagai hukuman baginya.


“Kenapa kau diam. Sayang?” tanya Arcelio pelan dan dalam. Namun, Samantha masih tak mengatakan apapun. Dia seakan malu hanya sekadar memperlihatkan wajah, kepada pria yang sejak tadi memandangnya penuh cinta.


“Aku sadar bahwa ini merupakan kesalahanku juga. Seandainya waktu itu diriku bisa lebih mengontrol emosi, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi. Namun, aku tidak harus menyesalinya, Sayang. Sekarang, aku memiliki dua gadis kecil yang sangat menggemaskan.” Arcelio mengarahkan tubuh ke depan, dengan posisi setengah membungkuk.


“Arcelio.” Samantha menyebut nama pria pujaan hatinya begitu lirih. Dia memberanikan diri menyentuh tangan sang pelukis tampan tersebut. “Maafkan aku,” pinta Samantha pelan. Rasa sesal mendalam, tergambar jelas di paras cantiknya yang terlihat sendu. “Aku hanya merasa takut. Aku benar-benar takut jika kejadian lima tahun lalu akan terulang kembali.”


“Sayangku ….” Arcelio setengah menghadapkan tubuh kepada Samantha. Dia merangkul wanita itu penuh cinta. Arcelio mendekapnya erat. “Kemarilah.” Ayah dua anak tersebut menarik pelan tubuh sintal Samantha ke pangkuannya. “Hanya seekor keledai yang jatuh pada lubang yang sama,” ucapnya seraya mengusap-usap punggung Samantha.


“Jujur saja, sebenarnya aku tidak bisa membayangkan saat kau berdekatan dengan Sara atau wanita manapun. Ah! Tidak ….” Samantha menggeleng kencang. Dia mendekap erat Arcelio yang membalasnya dengan hal sama.


Sejak hari itu, rencana pernikahan kembali dilanjutkan hingga benar-benar selesai. Hari membahagiakan yang dinanti akhirnya tiba. Pernikahan impian yang sempat tertunda hingga bertahun-tahun, dapat terwujud.


Walaupun terasa tidak sempurna karena ketidakhadiran kedua orang tua Samantha, tetapi semuanya berjalan sesuai rencana. Pesta kebun yang diadakan di kediaman Paolo, hanya dihadiri orang-orang penting dari kalangan tertentu. Namun, itu semua tidak mengurangi kesakralan serta kemeriahan acara yang dilangsungkan.


Arcelio tak henti-henti mencium pipi Samantha, demi mengungkapkan perasaan bahagia yang tak bisa dirinya utarakan dengan kata-kata. Begitu juga dengan Aurora dan Chrissy. Kedua gadis kecil itu terlihat begitu menggemaskan, dalam balutan gaun pesta berwarna putih. Rambut panjang mereka ditata sedemikian rupa hingga terlihat sangat cantik.


Ada banyak foto yang diambil dalam acara pesta pernikahan itu. Semua terlihat bahagia dengan senyum lebar yang menghiasi wajah para tamu, seakan ikut merayakan kebahagiaan dari kedua mempelai.


Keesokan harinya, Arcelio dan Samantha baru kembali ke apartemen. Rona bahagia belum juga sirna dari wajah sepasang pengantin baru tersebut. Senyum lebar keduanya semakin terpancar, ketika datang seseorang yang mengantarkan foto pernikahan mereka.


Ada tiga foto berukuran besar yang diterima Arcelio, yaitu saat dirinya berpose berdua dengan Samantha, bersama Paolo dan kedua putrinya juga. Sedangkan, satu lagi merupakan foto Aurora dan Chrissy yang berpose bersama Ollie dan Leeloo.


Ketiga foto dengan ukuran cukup besar tadi, langsung dipajang di dinding ruang tamu. Mereka tak puas-puas memandangi potret yang mengabadikan momen indah itu.


“Akhirnya, kau bisa menyandang nama belakangku,” ucap Arcelio seraya mencium mesra Samantha.


“Aku harap ini bukan mimpi,” balas Samantha diiringi senyum dengan rona tak percaya.


“Apa perlu kubuktikan bahwa ini memang kenyataan?” goda Arcelio. Dia hendak kembali mencium Samantha. Akan tetapi, pria itu harus mengurungkan niatnya, karena Aurora dan Chrissy datang sambil berlarian ke arah mereka.


“Hey! Hati-hati, Anak-anak,” tegur Arcelio seraya menggeleng pelan. Namun, Aurora dan Chrissy tak menggubris ucapan pria itu. Mereka terus berlari ke sana kemari sambil tertawa ceria.


“Astaga. Kalian bahagia sekali.” Samantha menangkap tubuh Chrissy, lalu Aurora yang juga menghambur ke dalam pelukannya. Dia menciumi pipi kedua gadis kecil tadi, bersamaan dengan Arcelio yang menerima panggilan dari penjaga keamanan. Dia memberitahukan ada seseorang yang ingin bertemu.


“Siapa” tanya Arcelio penasaran.


“Tuan Gilberto Bellucci,” jawab si petugas keamanan tadi. “Apakah anda bersedia menemuinya, tuan? Jika iya, aku akan memberikan akses masuk untuknya. Jika tidak ….”


“Izinkan saja,” sela Arcelio. Dia mengakhiri panggilan, lalu beralih kepada Samantha yang tengah bercanda bersama Aurora dan Chrissy. “Ini sangat luar biasa, Sayang,” ucapnya begitu antusias.


“Ada apa, Arcelio?” tanya Samantha seraya berdiri.


“Ayahmu datang kemari. Dia ….” Arcelio tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena terdengar pintu lift yang terbuka. Sontak, mereka menoleh secara bersamaan. Namun, alangkah terkejut mereka, karena ternyata Gilberto tidak datang sendiri. Dia ke sana bersama seorang wanita.