
Arcelio dan Delanna saling pandang dengan sorot tak percaya. Rasanya seperti mimpi, karena mereka telah menjadi orang tua. Bayi perempuan itu menangis keras, saat para perawat membersihkan tubuh mungilnya.
Beberapa saat kemudian, seorang perawat mendekat sambil membawa bayi yang sudah dibersihkan tadi. Dia meletakkannya di atas tubuh Delanna. Bayi itu bergerak perlahan, mencari sumber kehidupannya.
Saat itulah, naluri keibuan Delanna kian muncul. Bulir-bulir air mata mulai menetes, mengiringi rasa haru atas keajaiban terindah dalam hidupnya. Delanna membelai punggung bayi yang tengah berusaha mengisap air susu.
Sesekali, wanita itu menoleh kepada Arcelio yang masih terpaku tak percaya. Ya. Arcelio seakan tengah bermimpi. Dia belum berani menyentuh bayi tadi. Pria itu hanya diam memperhatikan. Arcelio tampak begitu kebingungan.
“Dia sangat mungil,” ucap Delanna penuh haru.
“Ya.” Arcelio mengangguk ragu, ketika perawat mengambil kembali bayi itu lalu membungkusnya. Arcelio diizinkan menggendong sebentar, sebelum sang bayi dibawa ke ruang observasi.
Mata Arcelio langsung berkaca-kaca. Segala perasaan gundah yang selama ini menggelayutinya, tiba-tiba sirna. Bayi itu seakan menjadi cahaya terang, yang menyibakkan kabut pekat dalam hati seorang Arcelio. “Putriku,” ucapnya seraya mencium bayi yang menggeliat pelan dalam gendongan.
Perawat yang tadi membungkus si bayi tersenyum lembut. “Kami akan membawa bayi Anda ke ruang observasi dulu, Tuan,” ucapnya. Dia meminta kembali bayi itu dari gendongan Arcelio.
“Hati-hati, Suster. Dia putriku,” ucap Arcelio masih dengan ekspresi tak percaya. Sesaat kemudian, pria itu tersadar dengan apa yang dirinya ucapkan. Arcelio tertawa pelan, ketika perawat tadi mengangguk seraya kembali tersenyum.
Delanna ikut tertawa. Dia merasa geli dengan sikap Arcelio yang terlihat tak biasa. “Kenapa kau begitu gugup, Arcelio?” tanyanya heran.
“Tidak apa-apa. Aku hanya tak percaya karena telah memiliki anak.” Arcelio menggeleng pelan. “Aku juga sudah menyiapkan nama untuknya.”
“Kau tidak pernah mengatakan apapun padaku,” ujar Delanna. Sesaat, wanita berambut gelap itu langsung diam. Delanna seakan ingin menarik kembali kata-katanya. Dia sadar bahwa selama ini Arcelio tak pernah mengajaknya berbincang, jika bukan untuk sesuatu yang teramat penting.
“Aku baru memikirkannya beberapa saat yang lalu,” sahut Arcelio kikuk.
“Ah, ya.” Delanna tersenyum simpul. “Boleh kutahu nama yang sudah kau siapkan itu? Setidaknya, aku bisa mengingat nama bayi yang pernah kulahirkan di sini,” ucap Delanna lagi, dengan raut wajah yang seketika berubah muram.
“Aurora. Aurora Stellina Lazzaro.”
......................
Beberapa hari telah berlalu. Kondisi Delanna sudah kembali normal. Dia sempat menyusui bayinya, sebelum beralih ke susu formula.
Siang itu, Delanna baru menidurkan Aurora di dalam box bayi yang sengaja diletakkan dekat tempat tidur. Dia berdiri memandangi bayi yang sudah tertidur lelap, diiringi alunan musik klasik dari salah satu komposer lawas Italia.
Setelah puas memandangi Aurora, Delanna kemudian mengalihkan tatapannya ke tempat tidur. Di dekat kasur berukuran besar itu, terdapat satu koper dan satu tas jinjing berukuran sedang.
Delanna mengembuskan napas dalam-dalam. Dia duduk di ujung tempat tidur dengan wajah tertunduk. Bulir-bulir bening mulai berjatuhan, mengiringi isakan pelan yang lama-kelamaan berubah menjadi tangisan pilu. Delanna seakan ingin melampiaskan segala keresahan, serta rasa sakit yang selama ini dirinya tahan.
Delanna mengangkat wajah. Dia segera menyeka air mata yang tak juga mau berhenti menetes. Namun, wanita berambut gelap tersebut tetap menoleh kepada Arcelio. Delanna tak peduli lagi. Dia tidak dapat menyembunyikan kepedihannya. Tak seperti beberapa waktu yang lalu.
Jika dalam bulan-bulan kemarin Delanna selalu diam dan terlihat baik-baik saja di hadapan Arcelio, tapi tidak kali ini. Delanna tak sanggup lagi. Namun, dia sadar bahwa Arcelio tak akan tersentuh, meski dirinya meneteskan air mata darah sekalipun.
Benar saja, Arcelio hanya terpaku memperhatikan ibu dari bayi yang merupakan putrinya. Arcelio bukan tak peduli. Akan tetapi, dia tak tahu harus berbuat apa. Sang pelukis tampan yang masih setia dengan rambut gondrongnya tersebut, tak ingin memberikan harapan semu kepada Delanna.
“Aku ingin berpamitan sekali lagi dengan Aurora,” ucap Delanna di sela isak tangisnya.
Arcelio tidak menjawab. Dia hanya mengangguk pelan. Tak ada alasan baginya, untuk melarang seorang ibu yang ingin sekadar mencium anaknya sebelum berpisah.
Delanna berjalan mendekat ke box bayi. Dia meraih tubuh mungil Aurora yang menggeliat pelan dalam gendongan sang ibu. Namun, beberapa saat kemudian Aurora kembali terlelap, setelah Delanna mencium serta menimangnya. Sementara, alunan musik klasik terus mengalun di dalam kamar berukuran luas itu.
Hingga beberapa saat, Delanna menggendong Aurora. Dia tak tahu, apakah dirinya akan dapat bertemu lagi dengan anak yang sudah dilahirkannya tanpa ikatan pernikahan tersebut. Delanna menerima dengan lapang dada, meskipun terasa begitu berat andaikata ini adalah terakhir kali dia mencium putrinya.
“Maafkan aku, Aurora. Anggaplah bahwa aku adalah ibu yang sangat egois. Namun, aku tak bisa untuk tetap berada di sini. Aku juga tak mungkin membawamu," isak Delanna.
"Ada terlalu banyak alasan yang tidak bisa kujabarkan satu per satu. Semoga jika kau sudah sudah dewasa nanti, setidaknya sebutlah namaku meski hanya satu kali. Aku, Delanna Verratti. Aku adalah ibumu. Aku ibumu ….” Delanna kembali menangis. Kali ini, tangisannya bahkan lebih memilukan dibanding beberapa saat yang lalu. Ratapan kepedihan yang berbalas lengkingan keras dari Aurora.
Bayi itu seakan tahu dan dapat merasakan bahwa dia akan ditinggalkan. Aurora terus menangis kencang, hingga Adelina datang dengan susu dalam botol khusus. Wanita paruh baya tersebut memberikan botol tadi kepada Delanna, yang menyusui Aurora sambil terus menangis.
Adelina tak banyak bertanya. Dia tahu mengapa Delanna menangis seperti itu. Delanna pernah bercerita, bahwa dia akan pergi setelah melahirkan. Wanita itu menitipkan bayi yang dilahirkannya kepada Adelina.
Beberapa saat berlalu. Aurora sudah kembali tenang. Bayi yang baru berumur beberapa hari itu kembali tertidur dalam box, dengan mainan yang menggantung di bagian atas. Kini, telah tiba saatnya bagi Delanna untuk pergi. Walau terasa begitu berat, tapi keputusannya sudah bulat. Delanna akan berangkat ke Puerto Rico, tempat di mana sang ibu berada.
Delanna akan menjalani hidup baru di sana. Dia sudah berniat untuk mengubur semua kisah kelam serta rasa sakitnya selama ini, meski mantan wedding planner tersebut tak dapat memastikan apakah dia sanggup melakukannya atau tidak.
Setibanya di bandara, Delanna langsung menyuruh Arcelio agar kembali ke apartemen. Dia tak ingin Aurora ditinggalkan terlalu lama. “Kau tidak perlu menemaniku hingga jadwal keberangkatan tiba,” ucap Delanna pelan. Kacamata hitam menyamarkan matanya yang sembap, karena terlalu banyak menangis.
“Kau tidak apa-apa kutinggal sendiri?” tanya Arcelio. Ada setitik perasaan tak nyaman dalam relung hatinya, setelah menyaksikan adegan mengharukan tadi.
“Jangan khawatir, Arcelio. Aku sudah menghabiskan waktu yang sangat lama hanya sendirian dalam beberapa tahun terakhir. Kali ini jauh lebih baik, karena aku menunggu pesawat yang pasti akan membawaku terbang. Bukan penantian tidak berujung dan tak pasti.” Ucapan Delanna terdengar seperti sindiran halus bagi Arcelio.
“Pulanglah. Kutitipkan Aurora padamu. Tolong jaga dia dengan baik,” pesan Delanna. Setelah berkata demikian, dia melepas kalung yang dikenakannya. “Simpan dan berikan ini kepada Aurora. Jika suatu saat dia menanyakan tentang diriku, maka jawablah bahwa aku meninggal dunia saat melahirkannya.” Air mata kembali menetes, meski tak terlihat jelas karena terhalang kacamata hitam yang Delanna kenakan.
“Jangan katakan apapun tentang kesalahan yang sudah kita lakukan. Aku ingin agar kau tetap menjadi ayah terbaik dan tanpa cela di mata Aurora.” Delanna meraih gagang koper. Dia menggeretnya menjauh dari Arcelio. Delanna, terus melangkah masuk ke bandara tanpa menoleh lagi.
Sementara, Arcelio masih berdiri terpaku. Dia memperhatikan wanita yang pernah menemani malamnya, hingga si pemilik tubuh ramping itu menghilang dari pandangan.