SECOND LOVE

SECOND LOVE
Mengusik Relung Hati



Arcelio kembali tertegun. Namun, dia tak segera menoleh. Pria tampan tersebut masih menggenggam pergelangan tangan Aurora, yang tak mengerti dengan perbincangan dua orang dewasa tadi. Arcelio menoleh kepada putrinya, lalu tersenyum. “Kita pulang sekarang,” ucap sang pelukis tampan itu. Dia melanjutkan langkah tanpa menoleh lagi kepada Sara.


Namun, ternyata wanita yang masih setia dengan potongan rambut pendek sebahu tadi, merasa tidak puas dengan sikap Arcelio. Sara bergegas menyusul pria itu. “Arcelio!” panggil Sara lagi. “Jangan berpura-pura tidak mendengarku!” serunya cukup nyaring, hingga mengundang perhatian beberapa orang yang berada di dekat mereka.


“Siapa dia, Papa? Wanita itu pasti bukan seorang peri,” ujar Aurora polos.


“Memang bukan, Sayang,” sahut Arcelio kalem. Dia mengembuskan napas pelan, lalu menoleh kepada Sara. “Apa yang kau inginkan?” tanyanya.


“Bicara denganmu,” jawab Sara, “hanya kita berdua!” tegasnya.


Arcelio tertawa pelan. Dia menggeleng tanda tak setuju, dengan permintaan wanita yang merupakan mantan kekasihnya di masa lalu tersebut. “Maaf, Sara. Aku tidak bisa meninggalkan Aurora sendirian. Jika ada yang ingin kau bicarakan, silakan utarakan di sini,” tolaknya dengan intonasi yang terdengar biasa saja.


Sikap Arcelio yang demikian, bertentangan dengan raut wajah Sara. Wanita cantik itu terlihat ingin melakukan protes. Akan tetapi, sahabat dekat Samantha tersebut mengurungkan niat tersebut, ketika melihat Aurora menatap aneh ke arahnya.


“Kenapa dia melihatku seperti itu?” tanya Sara ketus.


“Tidak apa-apa. Baru kali ini putriku melihat seseorang seaneh dirimu,” sahut Arcelio seraya mengulum senyum.


“Kauah yang aneh!” balas Sara. “Apa kau tak tertarik lagi dengan segala informasi yang kutahu tentang Samantha?” pancingnya.


“Apakah informasi itu tidak gratis?” Arcelio balas bertanya.


“Tidak ada yang gratis di muka bumi ini, Tampan. Makan malamlah di tempatku. Akan kuberitahukan sesuatu tentang Samantha,” ujar Sara dengan sorot aneh.


“Ibu Peri Samantha?” celetuk Aurora menyela perbincangan Sara dan sang ayah.


“Apa maksudmu?” Perhatian Sara seketika beralih pada bocah berusia lima tahun tersebut.


“Papaku memiliki banyak lukisan ibu peri di ruangannya. Dia ….”


“Mari kita pulang, Nak,” potong Arcelio, sebelum putrinya berbicara lebih banyak. Dia langsung menggendong Aurora, lalu meninggalkan Sara yang masih berdiri terpaku di tempatnya.


“Apa kau masih belum bisa melepaskannya, Arcelio?” Seruan Sara terdengar jauh lebih nyaring, karena jarak antara dirinya dan pelukis tampan itu kian menjauh.


Akan tetapi, Arcelio tak menjawab. Dia terus membawa Aurora pergi menjauh dari taman untuk mengajaknya pulang.


“Aku takut dengan orang tadi, Papa,” ujar Aurora, sesaat setelah mereka tiba di apartemen.


“Jangan khawatir, Sayang. Kita tidak akan menemuinya lagi. Kau tahu kenapa?” Arcelio menyentuh ujung hidung mungil Aurora.


Gadis kecil itu menggeleng pelan. “Kenapa, Papa?” tanyanya.


“Karena kita akan pergi jauh dari tempat ini. Kita akan terbang menembus awan. Seperti yang kau inginkan, Sayang,” ujar Arcelio diiringi senyuman lebar.


“Benarkah, Papa?” Mata abu-abu Aurora membulat sempurna. Anak itu menanggapi ucapan sang ayah dengan semringah. Terlebih, saat Arcelio segera mengangguk yakin.


“Hore!” Aurora melompat-lompat kegirangan. Gadis berkuncir kuda itu berlari menuju kamarnya. Di sana, dia berbicara kepada boneka-boneka yang berjajar rapi di ranjang kecil bernuansa pink.


Arcelio memperhatikan dari kejauhan sambil menggeleng pelan. Setiap gerak dan tingkah lucu Aurora menjadi hiburan baginya. Senyum gadis kecil itu adalah penyemangat di masa-masa terburuk yang Arcelio jalani.


Setelah puas memperhatikan Aurora yang sedang bercakap-cakap dengan boneka-bonekanya, Arcelio meraih telepon genggam. Dia mencoba menghubungi seseorang yang sudah membuangnya bertahun-tahun lalu. Arcelio menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Setelah berkali-kali menelepon, barulah seseorang yang tak lain adalah Paolo, ayah kandung Arcelio tersebut menjawab panggilan tersebut.


“Ada apa?” tanya Paolo dari seberang sana dengan nada bicara yang terdengar dingin. Setelah bertahun-tahun berlalu, tak ada komunikasi sama sekali antara ayah dan anak itu.


“Apa kabar, ayah?” sapa Arcelio lembut.


“Terus terang, aku merindukanmu. Tak terhitung berapa kali aku mencoba menanyakan keadaanmu. Akan tetapi, kau tak pernah bersedia bertemu,” ungkap Arcelio.


“Bukankah aku sudah menegaskan padamu dulu, bahwa kau bukan lagi putraku?” sahut Paolo. "Kau tahu bahwa aku tak pernah meralat keputusan yang telah dibuat."


“Ya, aku tahu itu. Namun, bukankah tidak perlu ikatan sebagai anak dan ayah, hanya untuk menanyakan keadaan?” sahut Arcelio, masih dengan nada bicaranya yang lembut dan sopan. Membuat Paolo terdiam beberapa saat.


“Aku hanya ingin berpamitan, ayah. Dua bulan yang lalu, aku mendapat tawaran untuk menjadi dosen fakultas seni di sebuah universitas ternama di Paris, Perancis. Gajinya lumayan besar. Cukup untuk tambahan biaya hidup sehari-hari. Aku juga bisa melanjutkan profesiku sebagai pelukis di sana. Prospeknya jauh lebih bagus daripada di Italia,” tutur Arcelio.


Paolo tak langsung menanggapi. Dia masih tetap terdiam, sehingga Arcelio mengira bahwa ayahnya telah mengakhiri panggilan. Tepat pada saat Arcelio akan menekan tombol merah, Paolo menyebut namanya. “Apa kau sudah mengurus segala surat-surat dan administrasinya, Arcelio?” tanya pria itu.


“Aku sudah mempersiapkan semuanya sejak jauh-jauh hari, ayah. Aku dan Aurora hanya tinggal berangkat,” jelas Arcelio.


“Hm, Aurora? Itukah nama anakmu?” Paolo tiba-tiba teralihkan pada nama putri semata wayang Arcelio.


“Kami akan pindah tujuh hari dari sekarang. Sebelum kami berangkat ke Paris, bolehkah aku menemuimu terlebih dulu?” tanya Arcelio hati-hati.


“Datanglah,” jawab Paolo beberapa saat kemudian.


Tak terkira betapa bahagianya hati Arcelio saat itu. Satu-satunya keluarga yang dia miliki, telah bersedia menjalin kembali hubungan dengannya. Setidaknya, satu dari sekian banyak beban Arcelio telah terangkat.


Pria yang setia dengan rambut gondrongnya tersebut tak memedulikan lagi rasa lelah, saat harus mempersiapkan segalanya untuk pindah negara. Dia mengurus sendiri mulai dari hal yang terkecil. Arcelio juga sudah menyewa jasa ekspedisi untuk membawa barang-barangnya menuju ke rumah baru di ibukota Perancis.


Sebelum berangkat ke bandara, Arcelio menyempatkan diri untuk bertemu Paolo. Bagaimana pun juga, dia adalah orang tua yang masih tersisa. Arcelio sudah menyiapkan diri, andaikata Paolo kembali menghajarnya. Apalagi saat itu dirinya mengajak Aurora.


“Ayah,” sapa Arcelio setelah pelayan membawanya ke ruang kerja. Saat Arcelio masuk, Paolo tengah mengisap cerutu sambil membaca harian bisnis langganannya sejak dulu.


Pria paruh baya itu mendongak. Dia cukup terkejut melihat sosok cantik yang berdiri di samping Arcelio, dengan tangan mungilnya yang digenggam pria itu. “Apakaj dia ….” Paolo tak melanjutkan kalimatnya.


“Ya, Ayah. Dia adalah Aurora. Cucumu.” Arcelio melepaskan tangan mungil Aurora, lalu mendorongnya pelan agar maju dan mendekati Paolo.


Ragu-ragu, gadis kecil itu melangkah maju sampai berada beberapa langkah dari hadapan Paolo. Aurora mendongak dengan raut polos, kemudian tersenyum lucu sambil melambaikan tangannya. “Halo. Namaku Aurora. Kata papa, aku harus selalu bahagia,” ucapnya.


Paolo diam terpaku untuk sejenak. Diperhatikannya anak yang terlihat lucu dan menggemaskan itu. Wajahnya merupakan perpaduan antara Arcelio dengan Delanna. Namun sepertinya, gen Arcelio sedikit lebih banyak.


Paolo lalu menurunkan tubuh hingga sejajar dengan Aurora. “Apa kau sudah sekolah?” tanyanya pelan.


Aurora tak menjawab. Dia menoleh lebih dulu pada Arcelio sebelum kembali memusatkan perhatian pada Paolo. “Kata papa, aku akan bersekolah di tempat yang jauh. Harus melewati awan terlebih dulu,” jawabnya.


“Oh! Begitu, ya?" Paolo manggut-manggut sambil terus memperhatikan Aurora. “Di mana ibumu?” tanyanya lagi.


“Ibuku sudah pergi ke surga,” jawab Aurora polos. Membuat Paolo terbelalak seraya menatap tajam kepada Arcelio.


“Sayang, bisakah kau duduk di sofa itu sebentar? Bermainlah di sana dulu." Arcelio menggandeng sang putri, lalu mendudukkannya di sofa. Setelah itu, dia mengeluarkan sebuah buku kecil dari saku daru saku jaket, dengan sekotak kecil crayon. Arcelio mengarahkan Aurora agar menggambar di sana.


Melihat Aurora mulai asyik, Arcelio beringsut perlahan. Dia mendekat kepada Paolo. “Delanna masih hidup. Dia hanya pergi menjauh sesaat setelah melahirkan Aurora,” terang Arcelio lirih.


“Kau tidak pernah berhubungan dengannya lagi?” tanya Paolo heran.


Arcelio menggeleng pelan. “Aku tidak pernah mencintainya. Apa yang kami lakukan di masa lalu adalah murni kesalahanku. Kami juga tidak pernah menikah. Aku hanya bertanggung jawab atas anak yang dikandungnya. Hanya sebatas itu, Ayah."


“Lalu, apa yang akan kau rencanakan untuk masa depanmu dan anak itu?” tanya Paolo.


“Aku hanya berpikir untuk memberikan yang terbaik bagi Aurora, dan ….” Arcelio menjeda kalimatnya. Tiba-tiba saja bayangan paras cantik Samantha hadir dan mulai mengusik relung hati Arcelio.