SECOND LOVE

SECOND LOVE
Bab 17 – Truth and Forgiveness (1)



Pagi ini langit masih dilingkupi awan mendung, tapi hujan sudah berhenti total. Mataku masih terasa berat saat aku mencoba membukanya. Mungkin karena aku terlalu banyak menangis kemarin. Seluruh tubuh juga terasa lesu. Seperti habis melakukan pekerjaan yang sangat menguras tenaga.


Tapi memang benar. Kejaian kemarin memang sangat menguras emosiku. Rasanya masih seperti mimpi. Namun sayangnya itu benar-benar terjadi. Mengingatnya saja langsung membuatku emosi lagi. Sepertinya aku harus menghentikan pikiranku ke arah sana. Karena aku harus bersiap-siap untuk memulai hari.


Aku sengaja tidak membangunkan Anya dan Eric. Hari ini aku ingin sedikit membereskan rumah dan memasak untuk sarapan. Aku merasa bersalah pada mereka khususnya Mas Beny, karena kemarin aku tidak melakukan apa pun. Bahkan memasak dan mengurus anak-anak semua dilakukan olehnya.


Belakangan ini aku sudah banyak merepotkannya. Terutama masalahku dengan Alan. Dia menemaniku sampai malam hanya untuk mendengarkan ceritaku. Aku bersyukur ada Mas Beny yang selalu ada di sampingku. Menuntunku saat aku bimbang. Menjadi sandaranku saat lelah.


Tanpa kusadari kini hidupku sudah banyak bergantung pada pria itu. Mungkin jika tidak ada Mas Beny, aku sudah hancur untuk yang kedua kalinya. Walau begitu, dia tetap menyadari batasannya. Dia tidak mencampuri urusan kami terlalu dalam, tidak juga menghakimiku ataupun Alan atas semua yang terjadi.


Sekarang yang harus kupikirkan adalah bagaimana cara menjelaskan semua pada Anya tanpa menyakiti perasaannya. Tentang siapa Alan sebenarnya dan mengapa dia tidak bersama kami selama ini.


Mungkin situasi ini akan sulit dimengerti oleh anak yang berusia lima tahun. Tapi dia pasti sedih mengetahui bahwa selama ini dia sebenarnya punya papa tetapi papanya tidak pernah memberikan perhatian padanya. Inilah yang menjadi alasanku selama ini menyembunyikan fakta tentang Alan dari Anya. Aku tidak ingin dia merasa tidak diinginkan oleh ayah kandungnya.


Aku terus memikirkan bagaimana cara menjelaskan pada Anya sampai aku selesai membereskan kekacauan yang ada di ruang keluarga. Kini sudah rapi dan bebas dari remah makanan, piring dan gelas yang berserakan, dan bantal sofa yang tidak berada.


Selanjutnya aku beralih ke dapur untuk membuat sarapan. Aku lupa, kami belum berbelanja untuk bahan makanan. Karena beberapa hari ini moodku sedang buruk, jadi aku tidak terlalu memperhatikan hal lain. Di dalam kulkas kini hanya tersisa beberapa sayur, sekotak daging, dan dua butir telur.


Aku menepuk dahiku sendiri, merasa gagal sebagai seorang istri dan ibu. Ini menjadi pelajaran bagiku untuk ke depannya. Akhir-akhir ini aku bersikap terlalu kekanakan dengan terlalu memikirkan perasaanku sendiri tanpa memikirkan orang-orang di sekitarku. Seharusnya aku tetap memperhatikan kebutuhan keluargaku apa pun kondisinya.


Akhirnya aku memasak dengan bahan seadanya untuk sementara. Aku tidak terlalu khawatir dengan Mas Beny, karena dia pasti tidak akan protes. Lain lagi dengan Anya. Terlebih dia tidak terlalu suka dengan masakan olahan daging. Jadi kuputuskan untuk membuat nasi goreng omelet untuk Anya.


Aku tengah menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak ketika Mas Beny memasuki dapur. Dia tampak terkejut melihatku sudah di dapur mendahuluinya. Aku hanya tersenyum dan menyapanya.


“Kamu sudah tidak apa-apa, Irene? Biar aku saja yang memasak,” rupanya dia masih mengkhawatirkanku.


“Tidak apa-apa, Mas. Aku sudah baik-baik saja. Justru aku ingin banyak melakukan aktivitas agar tidak terfokus pada masalah itu,” aku mencoba meyakinkannya.


Mendengar penjelasanku, dia tampak lega, “Mau kubantu?”


“Boleh.”


Kami pun memulai memasak bersama. Mas Beny bertugas untuk mencuci sayuran sekaligus memotongnya. Sedangkan aku membumbui daging untuk diolah.


Sembari memasak, kami berbincang tentang banyak hal. Mulai dari tentang apa saja yang perlu kita beli saat berbelanja nanti, tentang cuaca akhir-akhir ini, sampai tentang sekolah Anya.


Berbicara tentang Anya, aku jadi teringat sesuatu.


“Menurut Mas Beny, kapan waktu yang tepat untuk memberitahu Anya?”


Tangannya yang sedang sibuk mencuci beras berhenti sejenak, “Aku juga tidak yakin. Tapi kamu pasti tahu jika telah tiba waktunya. Persiapkan dirimu”


“Aku sudah siap untuk itu. Yang aku belum siap adalah ketika Anya bertanya mengapa papanya tidak bersama kami selama ini,” ungkapku. Mataku mulai memanas, tapi aku berusaha menahannya, “Aku masih tidak sanggup untuk memberitahu yang sebenarnya. Tapi aku juga tidak mau terus berbohong pada Anya.”


“Kurasa itu memang bukan tugasmu untuk menjawab. Pertanyaan itu seharusnya dijawab oleh ayahnya. Dia harus mengakui semua kesalahannya pada Anya jika ingin mendapatkan maaf.”


“Maksudnya kami harus bertemu Alan lagi?”


Aku terdiam sejenak, memikirkan perkataan Mas Beny. Memang benar, pertemuan kami tempo hari tidak berlangsung dengan baik. Aku bahkan mengakhirinya secara paksa. Tanpa memberi Alan kesempatan untuk menjelaskan. Buntutnya, kejadian itu masih terbawa oleh pikiranku hingga membuatku gelisah. Mungkin Alan juga merasakan hal yang sama denganku.


“Akan kupikirkan lagi.”


Lalu kami melanjutkan kegiatan memasak kami hingga selesai. Setelah itu aku pergi ke kamar untuk membangunkan anak-anak dan memandikan mereka sebelum membawa mereka ke ruang makan untuk sarapan bersama.


...


Selesai sarapan, seperti biasa Anya dan Eric bermain di ruang keluarga. Mengawasi mereka saat sedang bermain adalah tugasku. Sedangkan Mas Beny sekerang sedang mengurus kebun karena ada beberapa tanaman yang rusak karena hujan kemarin.


Saat ini kedua tanganku sedang sibuk menata rambut Anya. Dia ingin rambutnya dikuncir kepang dua seperti boneka kesukaannya. Sesekali mataku melirik Eric yang sedang bermain agak jauh dari tempat kami duduk.


“Ma?” Anya tiba-tiba memanggilku.


“Hmm?” masih fokus dengan rambut Anya, aku hanya menjawab sekenanya.


“Anya boleh tanya sesuatu?”


Perasaanku mulai tak enak, mungkin dia ingin menanyakan soal itu, “Tanya apa?”


“Tapi Mama janji jangan menangis lagi ya?” kali ini dia menoleh padaku dengan tatapan memohon.


“Iya, sayang. Mama janji.” Sepertinya memang benar.


“Ma, orang yang kemarin itu siapa? Kenapa dia bilang kalau dia papanya Anya? Papanya Anya cuma Papa Beny 'kan, Ma?”


Akhirnya pertanyaan ini keluar dari mulut Anya. Mungkin dia sudah menahannya sejak kemarin karena melihat kondisiku yang menyedihkan. Aku pun sudah menyiapkan hati untuk menjawab pertanyaan Anya ini.


“Anya, dengarkan Mama,” aku mengangkat Anya, dan kududukkan dia di pangkuanku, “Orang itu... Juga papanya Anya. Dia adalah papa pertamanya Anya. Namanya Papa Alan. Sedangkan Papa Beny itu papa keduanya Anya.”


“Papa pertama?” Anya masih kebingungan mendengar penjelasanku.


“Iya. Karena Papa Alan lebih dulu bersama kita dari pada Papa Beny,” aku berusaha untuk menggunakan kalimat yang mudah ia mengeri.


“Lalu kenapa dia tidak bersama kita lagi, Ma?” Seperti yang kutakutkan. Pertanyaan ini juga muncul.


“Maaf, Mama belum bisa menjawab pertanyaan itu sekarang,” Anya tampak kecewa dengan jawabanku, “tapi nanti pasti Anya akan tahu semuanya.”


.


.


.


Bab 17 ((END))