
Setelah puas melepaskan kerinduan dengan pelukan hangatnya, Nero mengajak Vivi keluar dari kawasan pemakaman. Ia tidak ingin pertemuan mereka sejak lama dilakukan di tempat yang suram. Karena itu, Nero mengajak Vivi duduk di sebuah bangku yang berada di luar pemakaman. Di bawah pohon yang rindang, mereka berteduh dari sinar panas mentari siang. Ditambah pula semilir angin yang berhembus pelan memberikan kesejukan tambahan.
“Kau tahu, sebelumnya aku bertemu dengan adikmu, Nadine.”
Vivi-lah yang membuka percakapan pertama kali. Dan Nero yang mendengar pernyataan Vivi langsung memasang wajah terkejut.
“Nadine? Kenapa dia menemuimu? Apa yang dilakukan? Apa dia membuat masalah untukmu?”
Pertanyaan beruntun Nero sempat membuat Vivi terkejut, tidak menduga sisi protektifnya muncul begitu saja. Saat itulah Vivi mengerti jika kedua bersaudara itu memiliki hubungan darah yang begitu erat dan tidak terpisahkan. Wajar saja jika Nadine menghabiskan waktu hanya demi bertemu Vivi dan mengembalikan kakaknya seperti semula. Mengerti hal tersebut, senyum hangat merekah di wajah Vivi. Ia juga menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Nero barusan.
“Tidak, Nero, bukan begitu. Sebaliknya, dialah yang menceritakan semuanya padaku. Menyadarkanku pada kesalahan jika dunia tidak hanya berputar di sekelilingku. Masih banyak orang lain yang juga merasakan kesedihan setelah ditinggal sosok terkasih,” jelas Vivi sembari meraih satu tangan Nero, menggenggamnya erat, menunjukkan penyesalannya. Setelah itu, ia memejamkan mata. Vivi kembali teringat bagaimana Nadine yang menceritakan semua cerita Nero dari awal sampai akhir. Bagaimana Nero yang benar-benar mencintai istrinya hingga maut menjemputnya di saat yang tidak terduga, menyebabkan dirinya terjatuh dalam jurang kesedihan tak berdasar. Serta bagaimana usaha Nero yang jatuh dan bangkit dalam mengatasi kesedihannya tadi, berusaha kembali seperti semula setelah dihadapkan kenyataan pahit bahwa dirinya tidak akan pernah bertemu istri dan anaknya lagi. Semua itu Nadine jelaskan dengan harapan dapat membawa Vivi kembali menerima Nero dengan tangan terbuka. Dan usaha Nadine membuahkan hasil yang manis, Vivi berhasil disadarkannya dan mencari Nero untuk meminta maaf. Bagaimana pun, Vivi dapat membayangkan rasa sakit Nero ketika ditinggal istrinya. Mereka memiliki perasaan senasib karena kejadian yang sama. Bahkan Vivi berpikir jika hanya dirinyalah yang dapat mengerti Nero tentang perasaan itu.
“Jika kupikirkan kembali, rasanya aku benar-benar egois, ya. Kau sudah pernah menyelamatkanku di rumah sakit. Tapi ketika tahu kecelakaan yang membuat kita dipisahkan oleh kekasih kita itu sama ... aku tidak mau tahu penderitaanmu, merasa hanya diriku yang menjadi korban. Aku bertindak seperti seseorang yang paling menderita, mengabaikan perasaanmu.”
Vivi mengucapkannya dengan tawa canggung, menertawakan dirinya di masa lalu yang tidak memedulikan Nero di sisinya. Ia merasa beruntung karena Nadine telah menyadarkannya. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi pada Vivi sekarang.
Saat itulah Vivi merasakan genggaman tangannya pada Nero mengerat. Ia yang semula menundukkan kepala langsung menoleh pada sang pria, mendapati dirinya yang tersenyum hangat.
“Setiap orang pernah melakukan kesalahan, Vivi. Dan aku tidak masalah dengan apa yang kau lakukan padaku dulu. Semua itu sudah di masa lalu. Tidak perlu mengungkitnya kembali.”
Ucapan Nero memberikan kehangatan tersendiri bagi Vivi yang merasa terpuruk sebelumnya. Ia merasa memiliki keberanian untuk merasa layak kembali. Dirinya telah dimaafkan oleh Nero.
“Sebaliknya, yang kuinginkan sekarang adalah masa depan. Dan masa depanku itu bersamamu, Vivi.”
“Setelah kepergianmu dulu, aku menyadarinya. Aku sadar jika aku tidak ingin kehilanganmu lagi, Vivi. Aku mencintaimu. Dan aku tidak dapat hidup tanpamu. Dan aku bersungguh-sungguh dalam mengucapkan ini.”
Tidak memedulikan Vivi yang masih tercengang hingga tidak mengucapkan apa pun, Nero tetap mengutarakan apa yang dirasakan hatinya sekarang. Nero berpikir jika saat inilah waktu yang tepat untuk mengucapkan semuanya sekarang. Dan dia tidak malu untuk mengakuinya.
“Sejak bertemu denganmu, kekosongan di hatiku sejak istriku meninggal terisi kembali. Karenamu, aku juga merasa hidup kembali.”
Kata demi kata manis yang diucapkan Nero membuat Vivi begitu malu. Itu adalah pernyataan cinta yang pertama kali didapatkannya sejak kepergian Azzam. Dan orang yang menyatakannya juga orang yang juga dicintai Vivi. Ia memang malu dengan pernyataan cinta Nero. Namun ia tidak malu untuk mengakui perasaan mereka sama.
“Aku ... juga begitu, Nero. Aku juga ... karenamu, aku kembali merasakan rasanya dicintai dan mencintai. Aku pun mencintaimu,” ucap Vivi dengan malu-malu. Namun itu sudah lebih cukup bagi Nero untuk mengerti jika cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ia yang semula telah bersiap pada penolakan Vivi langsung dipenuhi kebahagiaan. Jantungnya berdegup kencang, menunjukkan dirinya yang bersemangat karena perasaannya terbalas. Senyum pun merekah lebar di wajahnya, dan itu tidak akan luntur untuk beberapa waktu.
Saat itulah Nero mendekatkan tubuhnya pada Vivi, mengangkat tangan kirinya dan mengusap pipi sang wanita. Kehangatan dan kelembutan seorang wanita dirasakan tangan Nero, sesuatu yang sudah lama tidak diterimanya. Dan Vivi tidak mempermasalahkannya, ia justru menyukai setiap sentuhan yang dirasakannya sekarang. Terlebih itu dari sosok yang dicintainya.
“Sudah lama aku ingin melakukan ini padamu,” gumam Nero dengan suara pelan, namun masih terdengar oleh Vivi. Kemudian Nero mengikis jarak di antara mereka, dan memejamkan mata. Mengerti apa yang hendak dilakukan Nero, Vivi pun ikut menutup mata, menanti sang pria melakukan hal yang diinginkannya. Namun sebelum itu terjadi, Nero berhenti, menatap wajah Vivi yang semakin dekat dengannya. Hidung mereka kini bersentuhan, membuat napas mereka beradu, dan menggelitik Vivi.
“Ah—maaf, apa boleh aku melakukan ini? Aku takut jika kau tidak menyukainya,” ucap Nero ketika sadar dirinya hendak mengikis privasi Vivi sepenuhnya. Dirinya tiba-tiba merasa ragu meski sebelumnya Vivi telah membalas perasaannya. Saat itulah Vivi kembali membuka mata, menatap lekat Nero yang terlihat ragu. Dalam hati ia merasa geli, dan berakhir tertawa pelan. Sifat Nero yang begitu lembut dan memikirkan dirinya membuat Vivi semakin jatuh hati kepada pria itu.
“Tidak apa-apa. Lanjutkan saja apa yang ingin kau lakukan.”
Mendapat izin dari Vivi, Nero kembali memejamkan mata, lalu menempelkan bibirnya ke milik wanita itu. Sebuah ciuman singkat namun menyalurkan kehangatan dan perasaan cinta yang menggebu kepada satu sama lain. Sebuah ciuman sederhana dan berlangsung singkat, namun lebih dari cukup untuk membuat keduanya merasa malu ketika semua itu berakhir. Keduanya menundukkan kepala, namun tangan keduanya tergenggam erat, seakan tidak ingin terlepaskan. Setelah menyalurkan perasaan cinta yang sama, keduanya ragu, tidak tahu cara menghadapi sesama. Mereka memilih diam, mendengar degup jantung yang berdebar kencang masing-masing. Membiarkan waktu berlalu.