SECOND LOVE

SECOND LOVE
Bab 15 – Too Late (2)



“Irene, akhirnya kita bertemu!”


“Alan?!”


Aku berharap pria yang berdiri di depanku ini hanya lah ilusi yang tercipta dari ketakutanku.


“Aku tahu. Gerald pasti berbohong tentangmu. Kalian pasti sering bertemu di sini 'kan?”


Tapi sayangnya ini bukan ilusi seperti yang kuharapkan. Ini memang benar-benar terjadi. Karena bukan hanya aku yang melihatnya. Beny yang mendengarku menyebut nama Alan, langsung menurunkan Anya dari gendongannya dan menyembunyikan putriku di belakang tubuhnya.


Kami terdiam beberapa saat, saling mengamati satu sama lain. Alan tidak terlalu banyak berubah sejak terakhir kali kami bertemu. Hanya saja dia terlihat lebih kurus dan rambutnya agak panjang. Tapi aku masih takut melihat matanya. Aku takut bertemu pandang dengan mata dingin itu lagi.


“Irene, aku mencarimu ke mana-mana...” tiba-tiba Alan mengulurkan tangannya dan mencoba mendekatiku.


Spontan aku melangkah mundur dan merengkuh Eric yang masih dalam gendonganku. Aku takut dia berbuat sesuatu yang tidak diinginkan.


Namun rupanya Beny dengan sigap memasang badan di depan kami. Sehingga sekarang pandanganku terhalang oleh punggung lebar Beny.


“Maaf, ada perlu apa dengan istri saya?”


Saat ini aku tak bisa melihat seperti apa ekspresi yang ditunjukkan oleh Beny, namun suara dan nada bicaranya sangat asing di telingaku. Dia tak pernah berbicara dengan nada sedingin itu pada kami. Walau pun Beny bukan tipe orang yang ekspresif, dia selalu berbicara dengan lembut.


“Hei, ini tidak ada hubungannya denganmu. Aku hanya perlu bicara dengan Irene,” sudah kuduga Alan tidak akan menyerah dengan mudah.


“Irene dan Anya sekarang adalah tanggung jawab saya. Jika Anda memiliki keperluan dengan mereka, saya juga harus tahu.”


Kurasa ini tidak akan berakhir bagus jika aku membiarkan dua pria ini berdebat lebih panjang. Aku menyentuh punggung Beny untuk mengalihkan perhatiannya padaku.


“Tak apa, Mas. Biar aku bicara dengannya. Mas Beny tolong jaga Anya.”


Beny menatapku dengan ragu. Namun dia menuruti perkataanku. Dia menggendong Anya kembali dan mundur beberapa langkah dari dariku. Tapi aku masih merasakan tatapannya yang tak lepas mengawasiku.


Berkat keberadaan Beny di dekatku, membuatku memiliki keberanian lebih untuk berdiri di hadapan Alan dan menatap matanya secara langsung. Dalam hati aku meyakinkan diriku bahwa aku sekarang lebih kuat. Aku bukan lagi Irene seperti lima tahun lalu.


“Apa maumu mencari kami? Dan kenapa baru sekarang?”


Jika di masa lalu aku tertunduk ketakutan di hadapan Alan. Sekarang Alan lah yang berada di posisi itu. Tubuhnya yang lebih tinggi dariku, kini merendah di hadapanku. Matanya menunjukkan penyesalan dan rasa bersalah. Namun tak ada setitik iba yang kurasakan saat melihatnya.


“Irene, aku tahu aku tidak pantas mengatakan ini. Tapi aku ingin meminta maaf padamu dan Anya atas segala perlakuanku pada kalian di masa lalu. Aku sungguh menyesal, Irene. Aku hancur tanpa kalian.”


“Aku mohon kalian memberiku kesempatan kedua.”


“Kesempatan kedua?!” seketika aku naik pitam mendengar perkataannya. Dia berkata seolah-olah aku lah yang kejam di sini.


“Jangankan kesempatan kedua. Aku sudah memberimu ribuan kesempatan, Alan. Tapi kau mengabaikannya. Kau menutup mata dan telingamu saat kami membutuhkanmu.”


“Aku tahu itu, Irene! Maka dari itu aku ingin memperbaikinya. Aku ingin kita kembali menjadi keluarga. Aku berjanji akan menjadi lebih baik untukmu dan Anya.”


“Apa? Kau sudah gila?!” amarah semakin menyulut hatiku, “Sudah terlambat, Alan. Sangat terlambat. Pada akhirnya kami menemukan kebahagiaan kami dan Anya bisa merasakan kasih sayang seorang ayah! Sekarang kau ingin kami kembali bersama orang yang telah menghancurkan hidup kami?”


Aku meluapkan seluruh emosiku dengan air mata. Marah, kecewa, sakit hati. Tak peduli orang-orang yang berlalu lalang di sekitar melihat kami keheranan. Aku sudah mencapai batasku.


Adu mulut di antara aku dan Alan rupanya membuat Eric tak nyaman. Dia mulai memberontak dari gendonganku dan menangis. Aku mengalihkan perhatianku pada Eric sejenak untuk menenangkannya, “Maafkan Mama, sayang.”


Mata terbelalak mendengarnya. Kepanikan menyerangku. Rahasia yang selama ini kusimpan rapat dari Anya harus terungkap dalam situasi seperti ini. Aku tak berniat untuk menyembunyikan fakta ini selamanya. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu semua pada Anya tentang siapa ayahnya agar dia tidak terluka.


Tapi tindakan bodoh Alan merusak semuanya.


“Alan! Berani-beraninya kau menyebut dirimu sebagai ayahnya setelah apa yang kau lakukan padanya selama ini?!” dengan satu tangan aku berusaha mendorongnya menjauh tapi Alan tetap bergeming.


“Om bukan Papanya Anya! Papa Anya cuma Papa Beny!”


Teriakan Anya membuat kami semua terkejut. Anya yang masih berada dalam gendongan Beny memeluk leher papanya erat. Matanya sudah berkaca-kaca menahan tangis.


“Bukan, Anya. Ini Papa Anya yang sebenarnya!” Alan masih keras kepala.


Anya menggelengkan kepalanya dan mulai menangis, “Enggak mau! Om jahat sudah buat Mama menangis. Papa nggak akan buat Mama menangis! Huwaaaa!!!”


Tangis Anya yang semakin kencang menarik perharian lebih banyak orang. Bahkan orang-orang dari dalam kafe termasuk Gerald ikut keluar melihat kegaduhan yang kami sebabkan.


Beny pun mencoba menenangkan Anya dengan mengelus kepalanya, “Shhh... Anya, jangan menangis. Papa di sini jagain Anya sama Mama.”


“Sudah cukup, Alan! Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi,” merasa tak nyaman menjadi pusat perhatian, aku ingin segera pergi dari tempat ini, “Ayo kita pergi, Mas.”


“Jangan pernah dekati kami lagi!”


Kami berjalan melewati Alan yang masih tertegun di tempatnya. Namun dia masih berusaha mengejar kami.


“Tidak! Tunggu, Irene. Sebentar saja, kumohon dengarkan aku! Anya!”


“Coba mendekat atau akan kupanggil polisi!” ancamku padanya. Dia langsung terdiam dan membiarkan kami masuk ke dalam mobil yang untungnya terparkir cukup dekat.


Secepat mungkin kami meninggalkan tempat itu.


...


Sejak masuk mobil hingga sampai di rumah Anya terus memelukku yang masih menangis. Dia tak berkata apa pun tentang kejadian tadi. Hanya memelukku dan sesekali memintaku untuk berhenti menangis.


Begitu pun dengan Beny. Dia duduk di sampingku dan menarik kepalaku agar bersandar pada bahunya. Tangannya yang besar dan hangat menggenggamku dengan lembut. Bahkan Eric yang masih berada di atas pangkuanku sesekali menepuk-nepuk dadaku dan memanggilku seakan ingin menenangkanku.


Pertemuanku dengan Alan sangat mengguncangku. Kukira luka itu sudah sembuh dan hilang. Sehingga aku sanggup menghadapinya. Tapi aku salah. Luka itu masih ada dan membekas. Bahkan terbuka kembali saat aku melihatnya lagi.


Namun perhatian orang-orang di dekatku ini membuatku merasa dicintai. Lebih dari luka yang diberikan Alan. Dulu aku selalu menanggung luka ini sendirian, tanpa ada yang memelukku, atau sekedar menghapus air mataku.


Kini ada mereka yang memberiku cinta dan perhatian. Tak peduli sebanyak apa pun air mata yang kutumpahkan, mereka akan menghapusnya untukku. Alan hanya sebuah kenangan buruk dari masa lalu. Sekarang aku hanya ingin bahagia bersama mereka.


“Terima kasih.”


.


.


.


Bab 15 ((END))