SECOND LOVE

SECOND LOVE
SL- 28



Berbanding terbalik dengan Nero yang mulai berangsur membaik dan kembali melanjutkan kehidupannya seperti sedia kala, hal sebaliknya terjadi kepada Vivi. Sosok itu selalu memasang wajah murung setiap harinya. Duduk di dekat jendela sembari menatap pemandangan di luar, itulah rutinitas yang selalu dilakukan Vivi ketika dirinya telah keluar dari rumah sakit jiwa. Hal tersebut menyebabkan dirinya memilih pindah ke apartemen untuk hidup sendiri. Vivi tidak ingin keadaan mengenaskannya itu disadari Jordan atau pun Dina. Ia tidak ingin kembali dikembalikan ke rumah sakit jiwa seperti dulu, menyebut dirinya yang kembali gila tanpa alasan. Dan lebih buruknya lagi, Vivi tidak ingin kembali bertemu Nero jika dirinya memang benar-benar gila.


Memikirkan kemungkinan tersebut, Vivi pun memilih untuk melakukan pencegahan. Jika dia tinggal sendiri, maka tidak akan ada yang mengganggunya. Meski kepergiannya sempat dihalangi Jordan, untungnya Vivi berhasil memenangkan perdebatan. Terlebih Dina yang juga sempat membantu Vivi agar dirinya pergi dari rumah, memudahkan Vivi tinggal di apartemen seorang diri.


Dengan kekayaan yang dimiliki kedua orang tuanya, Vivi yang sekarang tidak perlu melakukan pekerjaan apa pun untuk menghidupi kesehariannya. Ia pun selalu menghabiskan hari di kamarnya, menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Meski begitu, kepala Vivi tidak pernah berhenti memutarkan fakta bahwa Nero adalah orang yang membuatnya celaka dulu.


“Nero adalah orang jahat ... karena dia, aku berakhir seperti ini ... sendirian, tidak ada Azzam. Karena Nero, Azzam telah tiada, meninggalkanku sendirian ... Azzam, ya. Benar juga. Kapan ... terakhir kali aku memikirkannya? Aku bahkan tidak dapat mengingatnya.”


Kala Vivi mengajukan pertanyaan itu pada dirinya sendiri, barulah ia tersadar pada satu kenyataan. Sejak Nero menghampiri Vivi di makam Azzam, sosok pria yang dicintai Vivi sepenuh hati tidak pernah lagi terlintas di benaknya. Tidak seperti dulu, kenangan indah Vivi bersama calon suaminya tidak lagi menghantui kehidupannya. Hal tersebut memberikan udara segar bagi Vivi sehingga tidak terikat pada masa lalu yang tidak dapat diulang. Saat itulah Vivi menyentuh dadanya, mempertanyakan apa yang terjadi pada dirinya.


“Azzam, apakah salah jika aku ... mulai melupakanmu? Maksudku, bukan melupakanmu sepenuhnya. Kenangan indah kita tentu akan selalu tersimpan di hatiku. Melupakan yang kumaksud adalah ... aku merasa sudah bisa melepaskan kepergianmu, menerima kenyataan bahwa kita tidak akan dapat bersama seperti dulu. Takdir telah memisahkan kita, namun aku ... seperti sudah menerimanya.”


Sembari berkata demikian, Vivi memejamkan mata. Kepalanya menggali ingatannya tentang Azzam, pria yang pernah bersinggah di hati Vivi, pria yang berniat mempersuntingnya sebagai pasangan seumur hidup. Namun, sebelum semua itu terjadi, maut telah memisahkan mereka. Menyisakan takdir kejam bagi Vivi hingga berakhir kehilangan akal sehatnya dan harus mendapat perawatan khusus.


Azzam yang berada di ingatan Vivi adalah sosok yang murah senyum, yang mengulurkan tangannya kepada Vivi agar mengikuti kepergiannya. Namun dalam sekelebat mata, sosok Azzam tergantikan dengan pria lain. Seorang pria yang berteriak, berusaha menjelaskan sesuatu padanya.


“...jika kuingat kembali, sebenarnya apa yang ingin Nero sampaikan padaku? Saat itu, dia terlihat begitu menderita, ingin mengatakan hal penting. Tapi ... aku tidak memedulikannya. Entah kenapa, hatiku mulai menyesal, merasa jika apa yang ingin dikatakannya benar-benar penting.”


Kini Vivi menundukkan kepala, mengepalkan kedua tangannya di pahanya. Ia merasa bingung, kenapa di saat ia berusaha mengingat Azzam, justru Nero-lah yang terlihat di ingatannya? Ketika Vivi ingin memutar ulang kenangan indahnya dengan mantan calon pasangan hidupnya, ia justru mengingat perjuangan Nero yang selalu memberikan perawatan terbaiknya? Di saat semua orang di rumah sakit jiwa memperlakukannya dengan sebelah mata, Nero berbeda. Sosok itu menerima Vivi dengan sepenuh hati. Selalu datang membesuk Vivi dengan senyum hangat di wajah, bahkan tidak jarang juga membawakan hadiah tangan.


Tidak peduli seberapa keras keinginan Vivi ingin melihat Azzam di ingatannya, hanya ada Nero yang terlihat.


“Sebenarnya, apa yang terjadi padaku ....”


Usai berkata demikian, Vivi bangkit dari posisi duduknya, beranjak ke meja riasnya. Di sana ada cermin yang menampilkan wajah Vivi yang sembab, ada garis hitam mengitari kantung matanya. Namun, sepercik cahaya kehidupan juga terlihat di kedua matanya. Cahaya itu sebelumnya redup ketika menyadari Azzam tidak lagi bersamanya. Namun, cahaya itu juga telah kembali setelah Vivi mengenal Nero dalam kehidupannya.


“Sejak Nero menyelamatkanku di atap, pandanganku terhadapnya berubah. Ia bukan hanya dokter yang merawat pasiennya. Dia ... dia adalah penyelamatku. Dia juga yang menghangatkan hatiku yang membeku karena kepergian Azzam ....”


Tidak seperti sebelumnya, kali ini Vivi berucap lebih mantap. Tidak ada lagi keraguan di hatinya. Karena Vivi telah menerima kenyataan bahwa Nero telah menjadi sosok yang tidak tergantikan di hidupnya.


“Maafkan aku, Azzam. Tapi aku sekarang sudah mengerti. Tidak peduli seberapa keras keinginanku menggenggam cinta kita, semua itu tidak akan pernah terjadi kembali.”


Vivi memejamkan mata, dan kali ini dia dapat melihat bayangan Azzam yang membelakanginya.


“Aku sudah sadar jika aku tidak lagi mencintaimu seperti dulu. Kehidupan rumah tangga kita telah berakhir bahkan sebelum dimulai, dan kisah cinta kita telah mencapai akhirnya. Namun, aku tidak menyesalinya. Aku sudah menerima itu.”


Bayangan Azzam yang membelakangi Vivi kini berbalik, menatap wanita yang dikasihinya dengan senyum hangat. Bahkan Vivi dapat samar-samar mendengar suaranya yang pelan.


“Tetaplah berbahagia meski tanpa diriku.”


Detik itulah air mata menetes dari mata Vivi. Itu bukanlah air mata kesedihan, karena segaris senyum justru terukir di wajah sang wanita.


“Terima kasih, Azzam.”


Kini Vivi kembali membuka matanya. Detik itulah ia benar-benar terlepas dari rantai perasaan bersalah masa lalu. Apa yang terjadi di hari lalu memang tidak dapat diperbaiki, atau pun diulang kembali. Namun Vivi masih memiliki masa sekarang dan masa depan. Dan Vivi tahu jika Azzam akan ikut bersedih ketika melihat wanitanya selalu dihantui masa lalu.


“Sekarang, aku sudah melepaskan kepergianmu. Terima kasih sudah pernah mengisi kehidupanku. Namun, sekarang aku sudah memiliki kehidupan yang menantiku. Mungkin, suatu saat, kita dapat bertemu kembali. Tetapi, sebelum itu terjadi, aku akan kembali berjalan maju.”