SECOND LOVE

SECOND LOVE
Bab 6 - Meeting His Parent



Tiga hari telah berlalu. Kondisi Eric semakin membaik. Dia sudah tidak demam, tapi suhu tubuhnya agak naik saat malam hari. Dia tetap terbangun di tengah malam, tapi tidak menangis.


Selain itu, pertumbuhan giginya juga sangat bagus. Kini kedua gigi di gusi bawahnya semakin terlihat saat ia membuka mulut. Kadar keimutannya semakin bertambah ketika Eric tersenyum atau tertawa.


Untuk menu makannya pun kusesuaikan dengan pertumbuhannya. Lebih diutamakan makanan padat yang mudah dikunyah, seperti sayuran rebus, daging ikan, hati ayam atau sapi, daging giling, dan lain-lain. Untungnya Eric juga menikmati perubahan menu makannya.


Kami baru saja selesai makan malam ketika ponsel Beny berdering, menandakan ada panggilan masuk. Biasanya jika ada telepon urusan pekerjaan, Beny akan keluar atau pindah ke ruangan lain untuk menerimanya. Tapi kali ini ia menerimanya langsung di sini.


“Halo, Ibu? Ada apa?”


Ternyata panggilan itu dari ibunya Beny. Aku pun melanjutkan kegiatanku membereskan peralatan makan kami. Sedangkan Anya dan Eric masih duduk di kursi meja makan sambil memakan puding mereka.


“Eric sudah sehat, Bu.”


Samar-samar aku mendengar pembicaraannya. Namun tak begitu jelas, tersamarkan suara gemercik air karena aku sedang mencuci piring. Ketika aku berbalik, rupanya Beny sudah menutup ponselnya.


Aku kembali duduk di kursi samping Eric menyuapkan puding yang tersisa. Sedangkan Anya sudah menghabiskan pudingnya. Beny juga belum beranjak dari tempat duduknya, masih sibuk dengan ponselnya.


Tak lama kemudian, dia meletakkan ponselnya dan mengalihkan perhatiannya padaku, “Irene, aku mau berbicara sesuatu.”


“Soal apa ya, Mas?” Tanyaku penasaran.


“Besok orang tuaku akan berkunjung ke mari. Mereka ingin menengok Eric juga... bertemu denganmu dan Anya.”


Hampir saja aku menjatuhkan sendok puding Eric mendengar perkataan Beny. Aku sama sekali belum bertemu dengan orang tua Beny, yang sekarang menjadi mertuaku. Cepat atau lambat aku pasti bertemu dengan mereka. Tapi jika secepat ini, aku belum sepenuhnya siap mental.


Aku khawatir dengan penilaian mereka tentangku. Aku notabene wanita yang pernah gagal membina rumah tangga dan memiliki anak dari pernikahan sebelumnya. Lalu bagaimana tanggapan mereka tentang Anya? Apakah mereka bisa menerima kami? Apakah mereka akan membandingkanku dengan Clara?


“Mereka hanya berkunjung, tidak menginap. Besok pagi aku akan menjemput mereka di stasiun dan mereka akan pulang setelah makan malam.”


Aku hanya mengangguk, setengah memperhatikan perkataan Beny. Tapi pikiranku masih penuh dengan hal lain. Hingga aku merasakan sentuhan di tanganku. Aku tersadar dan melihat tangan beni di atas tanganku.


Tanpa sadar aku membeku selama beberapa detik. Lalu kutarik tanganku perlahan. Beny yang merasa bersalah buru-buru meminta maaf. Tapi aku hanya menggeleng. Sejujurnya aku juga tak ingin menarik tanganku.


“Jangan khawatir. Mereka hanya berkunjung. Justru mereka merasa tak enak hati padamu karena baru berkunjung sekarang,” lanjutnya, “jika kamu merasa tidak nyaman, aku akan memberitahu mereka untuk berkunjung lain waktu.”


“Oh, tidak perlu. Bu-Bukan itu maksudku, Mas!” rupanya kekhawatiranku terbaca oleh Beny.


“Tapi kamu terlihat cemas dan seperti memikirkan sesuatu.”


“Iya, tapi aku hanya memikirkan besok aku harus masak apa untuk mereka. Itu saja, kok. Sungguh,” jawabku setengah berbohong. Yah, tidak sepenuhnya berbohong juga.


Beny masih tampak ragu mendengar jawabanku. Tapi sepertinya ia tak ingin membahasnya lebih jauh, sehingga ia mengalihkan topik pembicaraan.


...


Pagi yang dinanti pun datang. Beny sudah pergi ke stasiun kereta sejak empat puluh menit yang lalu untuk menjemput orang tuanya. Eric dan Anya sudah rapi dan siap menyambut kedatangan kakek dan nenek mereka.


Begitu pula denganku yang berpenampilan lebih rapi dari biasanya. Hari ini aku mengenakan rok krem selutut dan atasan blus polos berwarna ungu muda. Rambut panjang yang biasanya kugulung asal-asalan sekarang kuikat poni.


Setidaknya aku ingin memberikan kesan pertama yang baik di mata mertuaku. Bahkan aku sempat bertanya pada Beny pakaian apa yang seharusnya kupakai nanti.


“Pakailah pakaian yang membuatmu nyaman.”


Sungguh jawaban yang sama sekali tidak membantu!


Akhirnya aku memutuskan untuk mengenakan pakaian yang lebih bagus dan terlihat 'pantas' tapi tetap nyaman saat kukenakan.


Kami bertiga sudah duduk di ruang tamu menunggu datangnya tamu istimewa. Berbeda denganku yang penuh kecemasan, Anya dan Eric tampak ceria seperti biasa.


Semalam aku telah memberi tahu Anya bahwa hari ini kakek dan nenek Eric, yang juga kakek dan neneknya, akan datang berkunjung. Jadi dia harus menjaga sopan santun di hadapan mereka.


Masih di tengah kegelisahan ketika ponselku menampakkan pemberitahuan adanya pesan masuk dari Beny. Buru-buru kubuka dan kubaca isi pesannya.


Kami sudah di jalan.


Semakin panik, aku melihat sekeliling rumah. Sejak pagi aku sudah sibuk untuk merapikan rumah dan taman. Namun aku masih perlu memastikan semua benda berada di tempat yang semestinya. Aku juga menyuruh Anya untuk merapikan kembali mainannya.


Perjalanan dari stasiun hingga sampai di rumah paling tidak membutuhkan lima belas menit. Aku kembali memeriksa penampilanku dan anak-anak. Tak ada yang berubah dengan penampilanku, masih rapi. Tapi tidak dengan Anya dan Eric yang sedari tadi asyik bermain tanpa memedulikan penampilan mereka.


Rambut Anya yang diikat dua terlihat berantakan dengan banyak anak rambut yang keluar dari ikatan. Sedangkan Eric wajahnya dipenuhi air liur. Sejak giginya tumbuh, memang produksi air liurnya jadi berlebih.


Batinku menjerit melihat pemandangan ini. Segera aku mengambil beberapa lembar tisu untuk membersihkan wajah Eric dari air liurnya. Aku juga merapikan rambutnya. Lalu aku beralih untuk menata kembali rambut Anya. Karena rambut Anya yang panjang, jadi membutuhkan waktu untuk merapikannya.


Tepat setelah aku selesai merapikan rambut Anya, terdengar suara mobil memasuki halaman depan. Itu pasti mobil Beny.


Sambil menggendong Eric, aku mengajak Anya keluar menuju teras untuk menyambut mereka. Benar saja, Beny dan kedua orang tuanya sudah turun dari mobil dan menghampiri kami.


Melihat wajah orang tua Beny yang tersenyum ramah, mengurangi sedikit kecemasanku. Aku pun berusaha untuk tersenyum. Tatapan mereka sangat lembut, bukan tatapan yang mengintimidasi atau menghakimi.


Ibu Beny terlihat tidak terlalu tua. Beliau masih tampak anggun dan cantik walau kerutan menghiasi kulit wajahnya. Tatapannya juga sangat lembut dengan senyum keibuan yang tak pernah lepas dari bibirnya. Sedangkan ayah Beny terlihat jauh lebih tua dari istrinya. Namun garis ketegasan masih jelas tergambar dari wajahnya yang menua. Kurasa Beny banyak memiliki kemiripan dengan ayahnya.


“Oh, Eric cucuku... Nenek rindu sekali,” Ibu Beny langsung menghampiri Eric dan mencium pipinya. Kemudian beliau menoleh padaku, “Bolehkah?”


“Ah, silakan,” aku langsung mempersilahkan neneknya untuk menggendong Eric.


“Ayo, kita masuk,” ajak Beny.


Kami pun berkumpul di ruang tamu. Eric masih berada dalam pangkuan neneknya. Sang kakek juga duduk di sampingnya, sambil memainkan tangan Eric. Mereka tampak bahagia. Terlebih saat melihat dua gigi Eric yang baru tumbuh.


Ibu Beny tiba-tiba mengalihkan perhatiannya padaku, masih dengan senyumnya, “Terima kasih, Irene. Kamu telah mengurus Eric dan Beny dengan baik.”


Aku tertegun mendengar kata-katanya. Bukan kritikan atau pun perkataan yang mengintimidasi, justru kata terima kasih lah yang beliau lontarkan padaku. Seketika aku merasa malu dan bersalah karena sudah berpikir yang tidak-tidak tentang mereka. Mereka ternyata orang yang sangat baik dan tulus.


“Ti-Tidak, Ibu. Justru Mas Beny lah yang sudah banyak mengurus saya dan putri saya,” jawabku masih tergagap. Ternyata kegugupanku belum hilang sepenuhnya.


“Oh, lalu siapa putri kecil ini?”


Anya pun berdiri dari duduknya untuk memperkenalkan diri, “Nama saya Anya. Senang bertemu dengan Nenek dan Kakek!”


“Wah, pintar sekali. Apa Anya sudah sekolah?”


Anya tampak bingung untuk menjawab, kemudian ia menoleh padaku seolah meminta bantuan.


Namun Beny yang berinisiatif menjawab, “Anya baru akan masuk sekolah tahun ini, Bu. Kami masih mencari sekolah taman kanak-kanak yang cocok di dekat sini.”


“Maaf, Ibu dan Ayah ingin minum apa? Biar saya buatkan,” hampir saja aku lupa untuk membawakan minuman untuk mereka.


“Tidak perlu repot, Irene. Biar Ibu bantu. Ayo!” belum sempat aku menjawab, aku sudah diseret menuju dapur.


Saat melewati ruang keluarga, langkah kami sempat berhenti. Rupanya Ibu melihat foto pernikahan Beny dan Clara yang masih terpasang di dinding.


“Kenapa foto ini masih dipajang? Malah foto pernikahan kalian tidak ada sama sekali. Apa yang dipikirkan anak itu sebenarnya?”


Aku hanya tertawa kecil, “Tidak apa-apa, Bu. Saya lah yang meminta Mas Beny untuk tetap memasang foto ini. Supaya Eric bisa melihat Clara setiap saat dan terus mengingat ibu kandungnya.”


Mendengar penuturanku, Ibu menatapku dengan terharu. Ia lalu memegang kedua tanganku, “Kamu sungguh wanita berhati besar, Irene. Eric sangat beruntung memiliki ibu seperti kamu.”


Aku hanya menggelengkan kepala, tak sanggup berkata-kata. Aku merasa tak pantas dengan pujian itu.


Untuk menghindari pembicaraan lebih lanjut, aku mengajak Ibu untuk segera menuju dapur.


Kami membuatkan kopi untuk Beny dan Ayahnya, susu untuk Anya dan Eric, juga teh untukku dan Ibu. Saat menunggu seduhan kopi, Ibu kembali melemparkan pertanyaan-pertanyaan padaku. Sebenarnya hal itu agak membuatku tidak nyaman, tapi beliau menanyakan dengan sopan dan sangat menghargai perasaanku. Jadi aku berusaha menjawabnya dengan baik pula.


“Maaf jika pertanyaan Ibu menyinggung perasaan Irene. Sudah berapa lama kamu bercerai dengan suami pertamamu?”


“Sudah empat tahun, Bu. Kami bercerai saat Anya belum genap satu tahun.”


“Kalau boleh tahu, apa penyebab kalian bercerai? Ah, maaf jika itu menyinggung. Kalau kamu tidak mau menjawab tidak apa-apa.”


“Tidak apa-apa, Bu. Saya justru senang karena jarang ada orang yang bisa saya ajak bercerita,” jawabku, “kami bercerai karena ayah Anya meninggalkan kami. Dia tidak mau bertanggungjawab atas keluarganya. Dan saya rasa tidak ada gunanya mempertahankan rumah tangga seperti itu.”


Ibu kembali merai tanganku dan mengelusnya dengan kembut. Matanya menatapku dengan berkaca-kaca.


“Sekarang kamu tidak perlu berjuang sendirian. Ada Beny dan kami di sini. Kamu bisa percayakan semua pada Beny, ya?”


“Terima kasih, Ibu.”


Kami pun kemudian melanjutkan kegiatan kami yang sempat tertunda.


...


Selama seharian kami banyak berbincang tentang berbagai hal. Tentang masa kecil Beny, tentang kampung halaman mereka, tentang saudara dan keluarga mereka, dan hal lainnya.


Mereka juga sangat senang bermain bersama Eric dan Anya. Bahkan Ayah mengajari Anya berhitung. Rupanya beliau adalah pensiunan guru matematika.


Hingga tiba saatnya untuk makan malam. Menu makan malam hari ini sangat spesial karena dimasak oleh ibu, dan semuanya adalah makanan kesukaan Beny. Ibu juga memberikan resepnya padaku, supaya aku bisa memasaknya kapan saja.


Suasana makan malam kali ini sangat hidup, berbeda dengan biasanya yang canggung. Hari ini kami benar-benar menjadi keluarga. Saling memperhatikan satu sama lain. Tidak ada tembok kecanggungan sama sekali. Beny sangat beruntung dibesarkan dalam keluarga seperti ini.


Seusai makan malam, kami kembali berbincang-bincang sebelum Ayah dan Ibu pulang.


“Oh iya, Irene. Kami minta maaf karena kami tidak hadir saat pernikahan kalian. Saat itu, sakit punggung Ayah kambuh. Jadi kami tidak bisa bepergian jauh,” kata Ibu.


“Tidak apa-apa, Bu. Lagi pula kami hanya menyerahkan dokumen pernikahan ke lembaga. Tidak ada upacara atau pesta,” jawabku enteng.


“APA?! Hanya menyerahkan dokumen? Tidak ada gaun dan bertukar cincin?” Nada bicara Ibu seperti kaget bercampur marah, “Beny, apa-apaan kamu ini? Seharusnya kamu mengerti perasaan Irene. Tidak ada wanita yang menginginkan pernikahannya tanpa gaun dan cincin!”


Seketika suasana yang tadinya ceria dan hangat berubah menjadi tegang. Bahkan anak-anak yang sedari tadi bermain dengan ceria ikut terdiam memperhatikan para orang tua yang sedang bersitegang.


“Ibu, tenang dulu. Anak-anak sedang memperhatikan,” Beny mencoba menenangkan Ibu, “kami punya alasan atas itu semua. Kami hanya ingin menghargai perasaan keluarga Clara, Bu.”


“Belum setahun sejak Clara meninggal, tapi aku sudah menikah lagi. Lagi pula sejak awal aku dan Irene sudah sepakat tidak akan mengadakan upacara atau pesta pernikahan,” lanjutnya.


“Tapi setidaknya berikan cincin kawin untuk Irene.”


“Tidak perlu, Ibu. Toh tanpa cincin kawin, saya tetap menjadi istri Mas Beny.”


Ibu hendak membuka mulut lagi, tapi Ayah menyelanya, “Sudah, Bu. Itu urusan pribadi mereka. Kita tidak bisa ikut campur lebih jauh dalam keputusan yang sudah mereka buat.”


Pembicaraan pun sampai di situ. Mereka pun bersiap-siap untuk pulang. Karena sudah malam, Beny akan mengantarkan mereka sampai rumah.


Sebelum masuk ke dalam mobil. Ayah dan Ibu berpamitan padaku dan anak-anak.


“Irene, ini nomor telepon Ibu. Jika kamu butuh teman bicara atau ingin mengeluh tentang Beny, kamu bisa telepon Ibu kapan pun, oke?” Ibu memberikan kertas berisi nomor ponselnya padaku.


“Iya, Bu. Terima kasih banyak.”


“Oh, kapan-kapan giliran kalian yang mengunjungi rumah Kakek dan Nenek, ya?”


“Iya, Nek!” jawab Anya antusias.


“Kalau begitu, sampai jumpa!”


“Sampai jumpa!”


“Hati-hati di jalan!”


Aku masih memperhatikan mobil Beny yang menjauh hingga mulai menghilang dari pandangan. Lalu aku mengajak anak-anak masuk lalu bersiap-siap untuk tidur.


Hari ini kami sangat bahagia dengan kedatangan orang tua Beny. Aku senang mereka bisa menerima kami dengan tangan terbuka. Ini juga pertama kalinya Anya bertemu dengan Kakek dan Neneknya. Walau pun bukan kakek dan nenek kandung. Tapi mereka menyayangi Anya seperti cucu mereka sendiri.


...


Aku bersiap untuk memejamkan mata ketika ponselku berdering menandakan ada panggilan masuk. Kulihat nama yang tertera di layar adalah nama pemilik apartemen tempat tinggalku sebelumnya.


Dengan ragu aku menerimanya, "Halo? Ada apa Ny. Ely? Tidak biasanya menelepon saya?"


"Irene, tadi ada pria yang mengaku sebagai mantan suamimu mencari kamu dan Anya ke sini."


"Apa?!"


.


.


.


Bab 6 ((END))