
“Jadi, kau berniat untuk menetap lama di sana?” tanya Paolo lagi, setelah beberapa saat terdiam.
“Aku rasa begitu, Ayah. Aku ingin mencari suasana baru. Siapa tahu, itu akan berpengaruh pada perkembangan Aurora.” Arcelio menoleh kepada sang putri yang tengah asyik menggambar. Aurora begitu tekun. Dia tak terganggu sama sekali, jika dirinya sudah memegang alat-alat melukis.
“Dia sama sepertimu,” ujar Paolo seraya ikut mengarahkan pandangan kepada Aurora. “Ketika kau seusianya, dirimu juga kerap dibelikan alat-alat menggambar oleh Antonia. Sejak saat itu, ibumu berpikir bahwa kau memang berbakat dalam seni lukis,” tutur Paolo diiringi senyuman nanar, saat mengenang sosok sang istri tercinta yang telah lama tiada.
“Aku merindukannya. Aku sangat merindukan ibumu,” ucap Paolo lagi. Dia mengalihkan perhatiannya dari Aurora. Paolo menatap foto berukuran besar, yang terpajang di salah satu dinding ruang kerja. Dia memandang wajah cantik wanita yang berdiri di sampingnya dalam potret tersebut.
“Aku juga sangat merindukan ibu." Arcelio melihat sejenak pada foto sang ibu. Sesaat kemudian, dia mengalihkan pandangan kepada Aurora. “Apa kau sudah selesai, Nak?” tanyanya. “Kita harus segera pulang,” ucap pria itu lagi.
Aurora menoleh, lalu tersenyum. Dia memperlihatkan hasil karyanya kepada sang ayah. “Bagaimana, Papa? Apa menurutmu ini bagus?” tanyanya.
Arcelio tersenyum seraya mengangguk. “Ini sangat luar biasa, Sayang,” sahutnya seraya mengelus pucuk kepala gadis kecil itu. “Tuliskan namamu di sini, lalu berikan padanya.” Arcelio menuntun Aurora agar menuliskan namanya di belakang gambar corat-coret tadi. Aurora sudah pandai menuliskan nama sendiri, karena Arcelio sudah mengajarkan sejak dulu. Walaupun tulisan itu belum berbentuk selayaknya huruf abjad.
Paolo terdiam dengan tatapan tak dapat diartikan kepada Aurora, ketika gadis kecil itu sudah berniat menyerahkan hasil lukisannya yang hanya berupa garis-garis dan lingkaran berbagai warna. Tak lama kemudian, pria paruh baya tersebut mengulurkan tangan. “Berikan padaku,” pinta Paolo.
Aurora tersenyum manis. Dia menyodorkan kertas kecil tadi kepada Paolo. “Apa kau juga menyukainya, Tuan?” tanya gadis kecil bermata abu-abu itu. Aurora tak pernah mengetahui, bahwa pria tua di hadapannya adalah seseorang yang seharusnya dia panggil dengan sebutan ‘kakek’.
Tanpa memberikan jawaban kepada gadis kecil itu, Paolo langsung menariknya ke dalam pelukan. Pria paruh baya tersebut mendekap erat Aurora yang tak mengerti. Dia bahkan terus menoleh kepada Arcelio, seakan meminta tolong sang ayah. Namun, Arcelio justru tersenyum bahagia melihat adegan tersebut.
“Kau adalah cucuku. Kau adalah cucuku.” Paolo mengulangi kata-katanya hingga dua kali. “Panggil aku ‘kakek’, Nak,” ucapnya lagi.
Ini merupakan momen yang sangat langka. Jarang sekali Arcelio melihat sang ayah bersikap demikian. Selama yang Arcelio tahu, Paolo adalah tipikal orang yang keras dan tegas. Namun, kali ini semua itu diruntuhkan oleh kehadiran Aurora. Selain itu, mungkin karena usia Paolo yang sudah bertambah tua.
“Aku punya sesuatu untukmu. Kuharap, kau menyukainya,” ujar Paolo. Dia lalu memanggil salah seorang pegawai, melalui alat pemanggil khusus. Paolo menyuruh si pegawai itu datang dengan membawa sesuatu yang sudah disiapkan sebelum Arcelio berkunjung ke kediamannya.
Beberapa saat kemudian, pegawai yang ditunggu akhirnya datang. Pria muda seusia Arcelio tersebut membawa kandang anjing berukuran tidak terlalu besar. Di dalam kandang tadi, terdapat seekor anjing berjenis Bichon Frise. Anjing kecil berbulu putih dan lembut, dengan tampilan mirip boneka.
“Apa kau suka anjing, Aurora?” tanya Paolo, setelah pegawainya yang tadi keluar dari ruang kerja.
“Aku belum pernah memeliharanya,” jawab Aurora polos. Dia menoleh sejenak kepada Paolo. Namun, tak berselang lama perhatiannya kembali teralihkan pada anjing lucu tadi. Sepasang mata Aurora berbinar indah, saat memandangi hewan peliharaan tersebut.
“Kalau begitu, ambilah anjing ini. Aku sengaja membelikannya untukmu. Semoga, dia bisa menemani serta membuat dirimu terhibur,” ucap Paolo lagi.
“Hey! Aku tak akan memberikan anjing ini, jika kau masih memanggilku dengan sebutan ‘tuan’. Panggil aku ‘kakek’, Nak,” protes Paolo.
“Kakek?” Aurora mengernyitkan kening. Dia kembali menoleh kepada Arcelio. “Apakah sekarang aku memiliki seorang kakek, Papa?” tanyanya polos, yang seketika membuat Arcelio tersenyum nanar.
Teriris hati Arcelio mendengar pertanyaan sederhana, tapi terasa menyakitkan itu dari Aurora. Selama ini, mereka hanya hidup berdua, seakan tak memiliki siapa pun lagi. Arcelio merasa terasing di kota kelahirannya. “Iya, Sayang. Sekarang, kau memiliki kakek,” jawab pelukis yang terlihat semakin tampan dan matang, di usia tiga puluh lima tahun tersebut.
“Baiklah. Terima kasih, Kakek,” ucap Aurora diiringi senyum menggemaskan. “Bolehkah anjing ini kubawa ke Paris?” tanyanya.
“Bawalah, Nak. Dia milikmu,” jawab Paolo tersenyum haru.
Beberapa saat berlalu. Tiba waktunya bagi Arcelio untuk berpamitan. Dia harus segera ke bandara, karena jadwal keberangkatannya hanya sekitar dua jam lagi. Sebagai seorang ayah yang sudah terbiasa mengurus putrinya seorang diri, Arcelio tahu betul bahwa persiapan akan lebih panjang, jika melibatkan seorang anak yang belum memahami istilah tepat waktu.
Dengan perasaan lega, Arcelio melangkah keluar dari kediaman megah sang ayah. Tangan kanan pria itu menuntun pergelangan Aurora, yang sesekali melompat-lompat kecil karena terlampau bahagia. Sedangkan, tangan kirinya menjinjing kandang anjing yang belum memiliki nama.
Sementara itu, Paolo masih berdiri di ambang pintu. Dia terus memperhatikan putra dan cucunya, yang berjalan semakin menjauh ke arah gerbang keluar. Jika pintu besi tinggi menjulang itu terbuka, maka Paolo tak dapat lagi menyaksikan keakraban Arcelio dan Aurora.
Paolo tersenyum nanar. Kenangan puluhan tahun silam kembali hadir di pelupuk matanya. Momen terindah, ketika Arcelio masih kecil. Paolo selalu mengajak sang putra bermain bersama. Kali ini, dia melihat sisi mudanya dalam diri Arcelio, yang tampak begitu menyayangi Aurora.
“Semoga kalian selalu berbahagia,” gumam Paolo. Dia menutup pintu rapat-rapat, setelah gerbang depan terbuka, dan menelan Arcelio dengan putrinya hingga tak terlihat lagi.
Kehidupan baru akan segera menanti Arcelio dan Aurora di Perancis. Entah apa yang akan terjadi di sana, tak ada yang tahu. Arcelio pun tak ingin menebak-nebak. Dia hanya akan menjalani setiap waktunya yang berharga, dengan membahagiakan dan mencukupi segala kebutuhan Aurora.
Arcelio tak memikirkan apapun lagi. Tak ada keinginan dalam dirinya untuk mencari pasangan, atau memberikan ibu bagi sang putri. Dia sudah merasa cukup dengan semua wanita dari masa lalunya.
Arcelio terlalu mencintai Samantha. Hal itu pula yang membuatnya menjadi tidak terkendali. Rasa cemburu yang membutakan logika, membuat pelukis tampan tersebut justru terjatuh dalam lubang menyakitkan yang membuatnya tersiksa sekian lama. Namun, kehadiran Aurora menjadi obat bagi pria tiga puluh lima tahun tersebut.
Harapan indah itu seakan berada di depan mata, ketika dia menginjakkan kaki di Bandara Internasional Charles de Gaulle. Setelah menempuh perjalanan menggunakan taksi, barulah Arcelio tiba di pusat kota Paris.
Di salah satu sudut kota, tampak seorang pria yang rentang usia dan perawakannya hampir sama dengan Arcelio. Pria berambut pirang tadi melambaikan tangan, saat menyambut sahabat lamanya tersebut. “Arcelio!” panggil pria itu dengan semringah.