SECOND LOVE

SECOND LOVE
Provokasi



Delanna menuntun Aurora keluar dari bangunan apartemen tempat tinggal Arcelio. Dia yang pernah menetap lama sebagai warga Italia, tentu masih hafal dengan seluk-beluk Kota Milan. Tempat di mana dirinya menjalani hari-hari sebagai seorang wedding planner, hingga dia harus terjebak dalam kisah asmara terlarang dengan Arcelio.


“Kita akan ke mana, Bibi?” tanya Aurora sambil terus berjalan menyusuri trotoar jalanan Kota Milan.


“Kau ingin ke mana, Sayang?” Delanna balik bertanya. Suasana hati wanita itu benar-benar gembira, karena Aurora bersedia menerima ajakannya. “Bagaimana jika kita membeli semua makanan yang kau sukai?” cetus Delanna seraya menjentikkan jari.


“Aku mau,” sahut Aurora antusias.


“Baiklah. Namun, sebelum itu aku harus menemui seseorang terlebih dulu. Setelah itu, baru kita habiskan waktu dengan wisata kuliner.”


Aurora mengangguk. “Aku setuju, Bibi,” ujarnya.


Delanna yang sudah tersenyum lebar, kembali mengatupkan bibir. Dia menoleh kepada gadis kecil yang dituntunnya. “Kenapa kau masih memanggilku ‘bibi’? Bukankah papamu sudah mengatakan siapa diriku yang sebenarnya?” Delanna menghentikan langkah, lalu berpindah ke hadapan Aurora. Wanita itu menurunkan tubuh sambil menatap lekat sang putri yang baru ditemui.


“Papa mengatakan bahwa kau adalah ibuku yang kembali dari awan,” ujar Aurora polos


“Iya, Sayang. Aku baru kembali dari awan untuk menemuimu.” Delanna mengangguk.


“Apa kau seperti ibu peri?” tanya Aurora lagi.


“Terserah kau mau menganggapku apa,” sahut Delanna seraya mencubit gemas pipi Aurora. Dia kembali berdiri, kemudian melanjutkan langkah sambil menuntun tangan gadis kecil itu, hingga mereka tiba di depan cafètaria yang berada di pusat Kota Milan. Delanna mengajak Aurora masuk.


Di sana, rupanya telah menunggu seseorang yang membuat Aurora seketika menghentikan langkah. Gadis kecil itu tampak ragu untuk maju, saat melihat seorang wanita yang tak lain adalah Sara.


“Kenapa, Sayang?” tanya Delanna. Dia sedikit memaksa Aurora agar kembali melanjutkan langkah, hingga tiba di meja tempat Sara berada. “Maaf menunggu lama,” ucap Delanna seraya mendudukkan Aurora. Setelah itu, barulah dirinya memilih kursi.


“Tidak apa-apa. Lagi pula, aku baru berada di sini beberapa menit yang lalu,” balas Sara. Dia mengalihkan perhatian kepada Aurora. “Hai, Anak manis. Kau terlihat semakin cantik saja,” sapa Sara sok akrab. Namun, sikapnya yang demikian tak berbalas hal sama dari Aurora.


Sara tersenyum simpul. Dia tak peduli dengan tanggapan dari Aurora. Wanita berambut gelap tersebut kembali mengarahkan perhatian kepada Delanna. “Bagaimana? Kau senang setelah bertemu secara langsung dengan putrimu?” tanya mantan kekasih Arcelio tersebut.


“Tentu saja,” jawab Delanna. “Akan tetapi, kenapa kau harus melebih-lebihkan dan berbohong dengan mengatakan bahwa putriku disia-siakan oleh Arcelio. Kenyataannya, kulihat dia sangat menyayangi Aurora.”


Sara tertawa sinis. Dia mengeluarkan sebatang rokok, lalu menyulutnya. Asap tipis mengepul dari tembakau yang terbakar, ketika Sara mengisap rokok itu dalam-dalam. “Setidaknya, kau tahu bahwa orang tua Samantha tidak pernah menerima keberadaan putrimu. Pikirkan itu baik-baik, Delanna. Arcelio memiliki anak dari Samantha, wanita yang dinikahinya secara sah. Lalu Aurora? Ibunya berada jauh. Kau pikir Samantha akan memperlakukan putrimu seperti anak kandungnya? Tidak mungkin, Sayang.” Sara menggeleng seraya kembali mengisap rokok yang diapit telunjuk dan jari tengah.


“Ah! Kau terlalu berlebihan, Sara,” cibir Delanna. “Entah apa maksudmu melakukan hal ini. Satu yang pasti, aku melihat Samantha juga bersikap baik kepada Aurora.” Delanna membantah ucapan Sara.


“Satu bulan, dua bulan … itu tidak akan menjadi masalah. Lalu, bagaimana jika sudah satu, dua, atau tiga tahun? Rasa bosan, Delanna.” ucap Sara penuh penekanan.


“Maksudmu?” Delanna menatap tak mengerti, kepada wanita cantik berambut gelap di hadapannya.


“Ingatlah bahwa Samantha pergi bertahun-tahun untuk mengobati luka hatinya. Lalu, sekarang kau memercayakan anak dari hasil hubungan gelapmu dengan Arcelio kepada wanita yang sudah kau sakiti?” Sara kembali menunjukkan raut wajah penuh cibiran.


Kata-kata yang dilontarkan mantan manager Samantha itu, terdengar sangat provokatif. Akan tetapi, ucapan Sara memang masuk akal. Delanna menjadi bimbang. Ada keraguan yang tiba-tiba muncul dalam hatinya.


“Arcelio adalah seorang pria yang … kau tahu sendiri seperti apa dia. Arcelio jatuh cinta lagi kepada Samantha. Bagaimana jika wanita itu berhasil menghasut ayah putrimu tersebut untuk … ah! Aku tidak bisa membayangkannya. Aku tak tega memikirkan anak sekecil ini harus terombang-ambing tanpa ada yang merawat, serta memperhatikan dengan baik. Sementara, kau selaku ibunya berada sangat jauh di benua yang berbeda,” ujar Sara lagi, semakin mempertajam hasutannya kepada Delanna yang sudah mulai dilanda kegalauan.


“Lalu, apa yang harus kulakukan?” tanya Delanna ragu.


Sara mengisap sisa rokok yang tinggal sedikit. Dia lalu mematikannya di dalam asbak. “Kau jauh lebih berhak atas diri Aurora, karena dirimu adalah ibu kandungnya. Saranku, sebaiknya bawa dia pergi sebelum terlambat. Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari.” Sara meneguk kopi yang telah dipesan beberapa saat sebelum Delanna datang.


“Aku memang akan membawa Aurora berlibur ke Puerto Rico, karena ibuku ingin bertemu dengannya. Namun, aku dan Arcelio sudah membuat pembagian jadwal pengasuhan Aurora. Kami ….”


“Astaga.” Sara berdecak pelan seraya menggelengkan kepala. “Kau benar-benar bodoh, Delanna. Aku hanya memperingatkanmu agar kau tidak menyesal. Jangan pernah memercayai orang yang sudah kau sakiti. Kita tidak tahu seberapa besar dendam yang masih tersimpan dalam hatinya.”


Delanna kembali berpikir. Wanita cantik berambut gelap tersebut mulai merenungkan segala ucapan Sara, bahkan hingga dirinya keluar dari cafetaria tadi. Semua yang Sara ucapkan, telah memengaruhi pikirannya dengan begitu cepat.


Delanna menuntun Aurora berjalan menyusuri trotoar jalanan kota. Dia berhenti di kedai es krim sesuai permintaan sang putri. Setelah membeli apa yang Aurora inginkan, mereka duduk untuk menghabiskan es krim tadi.


“Kau menyukainya, Sayang?” tanya Delanna lembut.


“Iya, Bibi ibu peri,” sahut Aurora dengan mulut dan sekitarnya yang sudah dipenuhi es krim.


“Astaga. Kau lucu sekali,” ujar Delanna seraya mengelap mulut Aurora menggunakan tisu. “Setelah ini, kita akan pergi ke Puerto Rico. Apa kau pernah terbang ke langit dengan pesawat, Sayang?”


“Papa pernah mengajakku ke Paris. Dia bekerja di sana,” jawab Aurora.


“Baguslah. Itu artinya, kau tidak takut naik pesawat.” Delanna terdiam sejenak, sebelum kembali bertanya, “Apakah selama ini Ibu Samantha bersikap baik padamu?”


Aurora yang tengah menjilati es krimnya, menoleh. “Aku menyukai Ibu Peri Samantha, tapi aku tidak menyukai bibi yang tadi berbicara denganmu, Bibi ibu peri,” ujar gadis kecil itu lugu.


Delanna mengernyitkan kening, setelah mendengar ucapan Aurora. Dia membetulkan sikap duduknya, sebelum kembali menikmati es krim. “Bibi Sara? Kau tidak menyukainya? Kenapa? Apa kalian pernah bertemu?” cecar Sara penasaran.


Aurora mengangguk sembari mengayun-ayunkan kaki yang menggantung, dengan lucu. “Aku pernah bertemu dengan bibi tadi, sewaktu habis bermain di taman bersama papa. Dia bicara kasar dan berteriak-teriak. Aku rasa, papa juga tidak menyukainya. Karena itulah papa tidak ingin bicara dengan dia,” tutur anak itu.


“Memangnya kenapa?”


“Bibi tadi menyukai papaku, Bibi ibu peri.”