SECOND LOVE

SECOND LOVE
Di Paris



“Astaga! Pierre!” Arcelio tak kalah bahagia, saat berjumpa kembali dengan sahabat lamanya tersebut.


Pierre Laurent. Pria berambut pirang itu merupakan teman kuliah Arcelio. Meskipun berasal dari fakultas berbeda, tetapi mereka kerap menghabiskan waktu bersama di luar kampus. Keduanya menjadi akrab, karena memiliki hobi yang sama. Pierre dan Arcelio menyukai skateboard. Jika sudah berseluncur menggunakan papan beroda itu, mereka pasti akan lupa waktu.


“Bagaimana perjalananmu, Kawan?” tanya Pierre hangat. Sekian lama mereka tidak bertemu, sikap Pierre masih tetap seperti dulu. Dia ramah dan murah senyum.


“Luar biasa, karena aku ditemani gadis cantik ini.” Arcelio mengarahkan ekor matanya kepada Aurora yang tengah sibuk mengedarkan pandangan ke sekitar tempat mereka berada.


“Ow! Gadis manis,” sapa Pierre seraya menurunkan tubuhnya di hadapan Aurora. “Siapa namamu?” tanyanya.


Aurora tak segera menjawab, karena dia tak mengerti dengan bahasa yang Pierre gunakan. Gadis kecil itu menoleh sesaat kepada sang ayah, seakan memberi isyarat bahwa dirinya tak memahami apa yang Pierre katakan.


“Namanya Aurora,” jawab Arcelio seraya tersenyum kalem. “Aku belum sempat mengajarkannya Bahasa Perancis.”


“Kau harus segera mengajarinya, Arcelio. Kupastikan bahwa kau akan tinggal lama di sini,” ujar Pierre. Pria bermata abu-abu itu kembali tersenyum.


“Ya, semoga saja putriku betah,” balas Arcelio seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sekian lama dirinya meninggalkan Paris. Sejak lulus dari universitas, Arcelio tak lagi menginjakkan kaki di negara dengan landmark Menara Eiffel tersebut.


Beberapa belas tahun yang lalu, Arcelio kuliah di Universitas Sorbonne. Dia menimba ilmu di Fakultas Ilmu Budaya jurusan Seni Rupa. Sedangkan, Pierre di Fakultas Kedokteran. Namun, takdir menjadikan mereka sahabat dekat.


Akan tetapi, setelah Arcelio menjalin hubungan dengan Samantha, dia menutup semua akun media sosialnya. Arcelio juga mengganti nomor ponsel dan segala hal yang berkaitan dengan masa lalu. Saat itu, dia benar-benar menjadi seperti orang baru. Arcelio sempat merasa heran. Setelah sekian lama waktu berlalu, Pierre dapat menemukan dirinya lagi.


Sebelum menuju ke apartemen yang sudah disiapkan oleh Pierre, mereka sempat berbincang beberapa saat di sebuah cafetaria. Arcelio bercerita banyak hal tentang kehidupannya selama menjadi ayah tunggal. Namun, dia tak sedikit pun menyinggung kisah masa lalu bersama Samantha. Sepertinya, Arcelio memang sudah berniat mengubur semua yang berkaitan dengan wanita itu. Dia ingin fokus menata masa depan.


“Jadi, kau akan tetap melajang?” tanya Pierre setelah meneguk minumannya. Sesekali, dia melirik Aurora yang terlihat sangat menggemaskan. Gadis kecil itu asyik bermain dengan anjing pemberian sang kakek yang belum diberi nama.


“Kurasa begitu,” jawab Arcelio kalem. “Aku sangat bahagia. Rasanya memang melelahkan, tetapi semua itu terbayar setelah melihat keceriaan Aurora. Dia benar-benar seperti pancaran cahaya bagiku.” Arcelio mengusap pucuk kepala gadis kecil, yang tengah asyik bermain bersama anjingnya.


“Ah! Aku jadi ingin cepat-cepat menikah dan punya anak,” ujar Pierre menanggapi. Dia mengalihkan perhatiannya beberapa saat ke layar ponsel, ketika ada pesan masuk.


Selagi Pierre tengah sibuk berbalas pesan, Arcelio menyuapi Aurora dengan kudapan yang telah dipesan. “Jadi, kapan kau akan menikah?” tanya Arcelio beberapa saat kemudian, setelah Pierre meletakkan kembali ponselnya.


“Aku berharap dalam tahun ini. Namun, entahlah,” sahut Pierre ragu.


“Kenapa memangnya?” Arcelio menaikkan sebelah alis karena tak mengerti.


Pierre mengembuskan napas pendek. Dia kembali meneguk minumannya. “Kekasihku sudah memiliki seorang anak. Masalahnya adalah aku belum berhasil merebut hati hati anak itu. Aku sudah melakukan segala cara, tapi tetap gagal,” keluhnya.


Mendengar penuturan sahabatnya, Arcelio tak kuasa menahan tawa. Namun, dari raut wajah Pierre dapat dilihat jelas bahwa pria berambut pirang tersebut tengah serius. “Segala cara? Seperti apa?” tanya Arcelio.


“Aku membelikannya boneka beruang. Ternyata dia menyukai robot superhero. Itu sangat tidak masuk akal, untuk seorang gadis kecil seperti putrimu. Dia sangat manis,” keluh Pierre lagi seraya berdecak pelan.


“Astaga. Kalau begitu bukan kejutan namanya,” sahut Pierre.


“Bukankah kau adalah Dokter Spesialis Anak? Kedengarannya sangat konyol, jika kau mengatakan bahwa dirimu tidak dapat menaklukan hati anak kekasihmu itu.” Arcelio menggaruk keningnya, “atau … bisa jadi karena wajahmu terlihat kurang tulus.” Arcelio tergelak setelah berkata demikian.


“Ah, yang benar saja!” Pierre mendengkus pelan. Sesaat kemudian, sahabat Arcelio tersebut melihat arloji di pergelangan kirinya. “Sebaiknya, kita segera melihat apartemen yang akan kau tempati. Kau tidak perlu khawatir, karena beberapa perabot penting sudah tersedia di sana. Kau hanya perlu melengkapinya,” ujar pria itu lagi seraya berdiri.


“Apakah kita akan pergi, Papa?” tanya Aurora.


“Iya, Sayang. Kau harus beristirahat. Lihatlah, anjingmu juga sudah kelelahan.” Arcelio membersihkan mulut Aurora dengan tisu, sebelum memasangkan topi kepada gadis kecil itu. Setelah selesai, mereka meninggalkan cafetaria tadi.


Perjalanan menuju apartemen yang akan ditempati oleh Arcelio, hanya sekitar sepuluh menit dengan berjalan kaki. Mereka akhirnya tiba di tempat yang dituju. Ruang apartemen itu memang tidak terlalu luas. Tidak juga mewah seperti apartemen Arcelio di Milan. Namun, tempat tersebut dirasa cukup jika hanya ditinggali oleh Arcelio dan putrinya. Dengan begitu, Arcelio juga tak terlalu kerepotan dalam membersihkan setiap ruangan.


“Beristirahatlah dulu. Besok akan kuhubungi lagi untuk membahas masalah pekerjaan. Kau bicara saja langsung dengan orang yang bersangkutan. Dia yang akan membantumu mengurusi segala sesuatunya,” ujar Pierre. Pria itu terlihat sudah bersiap akan pergi lagi.


“Apa kau tidak tinggal dulu untuk ….”


“Ah, tidak. Aku harus menjemput kekasihku. Dia baru selesai latihan opera,” tolak Pierre.


“Oh, baiklah. Hati-hati, Kawan.” Arcelio menyalami Pierre yang pergi terburu-buru. Arcelio mengembuskan napas pelan. Dia masih memiliki pekerjaan, untuk merapikan barang-barang yang akan tiba beberapa saat lagi.


“Apa kau akan membantuku, Aurora?” tanya Arcelio.


“Membantu apa, Papa?” tanya gadis kecil, yang sedari tadi asyik bermain dengan anjingnya.


“Merapikan barang-barang …,” sahut Arcelio dengan nada tak yakin. Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, Aurora sudah berlarian dengan anjing pemberian Paolo. Arcelio kembali mengembuskan napas pelan. “Oh, baiklah,” lanjutnya. Dia sudah mendapatkan jawaban.


Beberapa saat kemudian, truk ekspedisi telah tiba. Para petugas mulai menurunkan barang-barang yang sebagian besar adalah alat-alat melukis, serta hasil lukisan yang sudah jadi. Untuk perabotan sendiri, Arcelio tidak terlalu banyak membawanya. Semua sudah disiapkan oleh pihak apartemen.


Selesai merapikan rumah, Arcelio mengajak Aurora dan anjingnya yang diberi nama Ollie, untuk membeli makanan. Sebelum kembali ke apartemen, mereka bermain sebentar di taman. Seperti kebiasaan sewaktu di Italia, mereka akan menghabiskan senja di taman.


Arcelio duduk tenang sambil sesekali tersenyum, saat mengawasi Aurora yang tengah bermain dengan Ollie. Sesaat kemudian, ada gadis kecil lain yang menghampiri Aurora. Gadis kecil itu sepertinya tertarik dengan kelucuan serta kelincahan Ollie. Dia tertawa dan sesekali bertepuk tangan, sambil terus memperhatikan Aurora dan anjingnya.


Entah mengapa, pemandangan itu terlihat sangat indah dan membuat hati Arcelio terasa damai. Dia betah menyaksikan dua gadis kecil, yang tak membutuhkan waktu lama untuk saling mengakrabkan diri. Namun, segala perasaan nyaman itu tiba-tiba sirna, ketika Acelio mendengar suara seorang wanita yang memanggil putrinya.


“Chrissy!”


Arcelio tersentak. Dia mengenal betul suara itu.