SECOND LOVE

SECOND LOVE
asal kau tidur bersamaku



“(kamu sungguh polos put, aku gak tega buat nyakitin kamu, kamu harus tegar yah put dan doakan semoga aku baik2 saja dan secepatnya pulang untuk melaksanakan pernikahan kita, aku pasti akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa hidup menua bersama mu)”batin ricky.


“kak.. sayanggg.. kak ricky sayngg haloooo” putri yang sedari tadi melambaikan tangannya didepan wajah ricky karena sudah tak bergeming lagi.


“ehh iyah sayang, maaf aku melamun, aku janji janji” dan keduanyapun saling mengaitkan jari kelingkingnya untuk mengisyaratkan janji mereka masing masing.


“baiklah ini sudah mau malam, sebaiknya aku mengantar kamu pulang ke apartement kamu yah.” Sambungnya lagi.


“okee, asal kak ricky harus nginap di apartement aku”


“iyh iyh ok aku akan menuruti permintaanmu sebelum aku pergi”


“yeyyy horeeeeee ayo kita pulang sayang..” saut putri wajahnya berubah menjadi senang dan menggandeng kak ricky untuk menuju mobilnya.


000


Tibalah di apartement putri, mereka berdua berniat menghabiskan malam sebelum ricky pergi besok.


“sayang, bolehkan aku pulang ke apartementku dulu? Ada yang harus aku lakukan sebelum pergi besok siang.” tanya ricky meminta izin kepada putri saat mereka sedang menonton tv.


“apa tidak bisa ditunda? Aku masih ingin bersama kak ricky sekarang.” Jawab putri memelas sambil menggelayutkan tangannya ke leher ricky.


“tidak sayang, lagian apa kau lupa? apartementku berada 1 lantai dibawahmu”


“tetap saja tidak boleh, apa tidak bisa menunggu besok pagi saja sayang?” putri masih memelas dan kini ditambah dengan raut wajah yang sudah seperti kucing yang sedang memelas juga.


“baiklah, aku tidak bisa memaksakan kehendakmu, yasudah sekarang sudah hampir tengah malam, lebih baik kita tidur agar besok bisa terbangun lebih awal”


“asal kau tidur bersamaku” pinta putri.


“tidak bisa sayang, kita belum menikah, begini saja bagaimana kalau aku menemanimu sampai kamu tertidur saja yah?” tawar ricky.


“cehh, kamu ini tinggal dinegara maju dan dizaman modern tapi pikiranmu masih kolot saja, baiklah ayo” dengus putri sambil berjalan pergi menuju kamar.


SEOLAH SEDANG BERPIKIR


“sayang, dengarkan aku. Aku hanya takut tak bisa menahan diri saja, kau tahu aku laki2 normal” saut ricky membujuk putri sambil menghampirinya.


“sudahlah” sambungnya lagi yang tak mendenar jawaban putri tadi.


“aku gak bisa tidur kak, aku takut gak bisa lihat kak ricky saat bangun nanti”


“(bagaimana ini? Aku harus jawab apa? Apa putri mengetahuinya? Tidak, itu mungkin hanya kecemasannya saja)” batin ricky karena tidak bisa menjawab perkataan putri tadi.


“kenapa kak riky diam saja? Apa ada sesuatu?” tanya putri penasaran yang melihat ricky terdiam seolah2 sedang berpikir.


“tidak ada, hanya memikirkan apa asistenku sudah menyiapkan keberangkatanku besok” kilah ricky.


“ouhh, pasti asistenmu sudah menyiapkannya dengan sempurna. Pasti tidak akan ada yang terlewatkan.”


“ahh yah” jawab ricky singkat karena tak bisa lagi membalasnya.


Namun tiba2 benda pipih milik ricky berdering menandakan panggilan masuk.


“ahh ada telpon aku harus mengangkatnya, kamu tidurlah duluan sayang”


“siapa sayang?”


“ouhh ternyata asistenku” kilah ricky lagi. “sepertinya ada yang penting, tidurlah duluan jangan menungguku. Cupp..”sambungnya lagi sambil mengecup kening putri.


“baiklah” ucap putri tidak bisa menyanggah lagi sambil menutup matanya.


Ricky kini sudah berada dibalkon kamar putri untuk mengangkat telponnya.


“halo ada apa?”


“....”


“tenang saja aku tidak akan terlambat”


“....”


“sudah aku paham, aku tutup telponnya sekarang”


Saat ricky sudah menutup telponnya dan kembali menuju putri berada, ternyata putri sudah tertidur lelap lalu menyelimuti putri dengan benar. Kini ricky mengecup kening putri dan menatapnya dengan lekat wajah yang sedang tidur itu dengan membawakan ketenangannya.


“cehh siapa tadi yang bilang tidak bisa tidur? Ternyata, baru saja aku tinggal sebentar kau sudah tertidur dengan wajah polosmu itu. Cupp...maaf sayang” gumam ricky kini mengecup bibir putri dan pergi meninggalkan kamar itu.