
Samantha menjadi begitu tegang. Dia menoleh kepada Pierre yang terpaku mendengar ucapan wanita tadi. Pria itu mengerti apa yang dikatakan si wanita. Mengenal Samantha dalam waktu yang terbilang lama, membuatnya tak asing lagi dengan Bahasa Italia.
Raut wajah Pierre menyiratkan rasa tak mengerti. Dia hendak meyakinkan apa yang didengarnya barusan. Namun, dengan segera Samantha menarik tangan dokter spesialis anak tersebut, lalu membawanya menjauh. Sementara, Arcelio mengikuti dengan langkah tenang.
“Apa maksud ucapan wanita itu, Sayang?” tanya Pierre memastikan. Dia menghentikan langkahnya, lalu menahan Samantha agar tidak terus menariknya pergi.
Samantha tertegun. Dia menoleh kepada Pierre tanpa melepaskan genggaman tangannya. “Tolong jangan meminta penjelasan di sini,” ucap Samantha dengan raut yang sudah terlihat gusar.
“Kenapa?” tanya Pierre. “Aku hanya bertanya. Kau tinggal menjawab iya atau tidak,” desak Pierre.
“Tolonglah,” pinta Samantha dengan tatapan sayu.
Pierre tak menjawab. Dia menatap lekat Samantha. Cintanya terhadap ibu satu anak itu sungguh luar biasa, meski pada kenyataannya tak berbalas serupa dari Samantha. Namun, melihat gelagat Samantha yang terlihat tak nyaman seperti saat ini, rasanya Pierre tak membutuhkan jawaban lagi. Dia sudah bisa mengambil kesimpulan sendiri.
“Kau … apa lagi yang dirimu sembunyikan dariku, Samantha?” tanya Pierre. Dia tak lagi memanggil kekasihnya tersebut dengan sebutan ‘sayang’. “Rahasia apa lagi yang tak kau beritahukan padaku selain hubunganmu dengan Arcelio di masa lalu?” desaknya. Pierre memegangi kedua lengan Samantha. Dia bahkan mencengkramnya erat, hingga membuat wanita itu meringis kesakitan. “Katakan Samantha Bellucci!” sentak Pierre tiba-tiba.
Arcelio yang menyaksikan adegan tadi, tak tinggal diam. Melihat sikap Pierre yang mungkin saja akan semakin tak terkendali, pelukis tampan itu segera mendekat. Dia menarik tangan Pierre agar terlepas dari lengan Samantha. “Hentikan, Pierre! Aku tidak akan membiarkanmu berbuat kasar kepada Samantha!” sergah Arcelio.
Pierre mengalihkan perhatiannya kepada Arcelio. Sorot tajam penuh amarah mulai menguasai dan sedikit lagi akan melumpuhkan akal sehat pria itu. Si pemilik rambut pirang tersebut menghadapkan tubuh sepenuhnya kepada ayah dua anak tadi. “Arcelio! Sahabat macam apa kau ini? Kenapa kau tidak pernah mengatakan bahwa Samantha merupakan mantan kekasihmu?” protes Pierre tegas.
Arcelio tak segera menjawab. Dia menoleh sekilas kepada Samantha yang tak tahu harus berkata apa. Setelah itu, pria tampan berambut gondrong tersebut kembali mengarahkan perhatian pada Pierre yang menatap tajam padanya. “Samantha bukan hanya kekasihku. Dia adalah calon istriku lima tahun yang lalu.” Arcelio mengatakan hal itu dengan penuh keyakinan. Niatnya untuk berkata jujur kepada Pierre, akhirnya terlaksana juga.
“Apa? Jadi, kalian memang sudah saling mengenal? Lalu, kenapa kau tak mengatakan apapun padaku?” Nada bicara Pierre meninggi, membuat orang-orang yang lewat di dekat mereka sontak menoleh. “Apa maksud kalian dengan menyembunyikan hal ini dariku?” sentak Pierre lagi tepat ke hadapan Arcelio.
“Cukup, Pierre!” Samantha mencoba menarik tubuh kekasihnya. Dia takut jika salah satu dari kedua pria itu bertindak di luar batas.
Namun. Pierre tak menggubris ucapan Samantha. Dia malah semakin maju ke hadapan Arcelio. “KIta ini teman lama. Aku percaya padamu, karena itulah kupanggil kau kemari untuk bekerja di sini.”
“Kenapa kau sangat sensitif, Pierre?” Nada pertanyaan Arcelio terdengar lain.
“Bukan itu yang kuinginkan, Sam!” Pierre berbalik menghadap Samantha. Tatapan tajam pria itu belum sirna, justru terlihat semakin menakutkan. “Selama ini aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu, meski diriku merasa bahwa kau hanya setengah hati dalam menjalani hubungan kita! Aku selalu berharap kau bisa bersikap dan menganggap diriku sebagai pasangan yang kau inginkan, walau harus menunggu sekian lama untuk bisa merasakan hal itu! Lalu, apa yang kini kuterima? Ternyata kau menutupi banyak hal dariku!” Pierre meluapkan segala unek-uneknya selama ini.
“Aku bisa menerima statusmu, Samantha! Aku tidak peduli meski kau telah memiliki anak, yang bahkan hingga saat ini belum bisa menerima kehadiranku sebagai kekasihmu! Aku mencoba untuk tetap menerimanya dan menunggu waktu akan berbaik hati padaku! Namun, lihat apa yang kudapatkan?” Pierre mendengkus kesal.
“Tidak. Bukan itu maksudku, Pierre,” bantah Samantha.
“Lalu apa yang kau inginkan, Samantha?” sentak Pierre membuat Samantha mundur beberapa langkah. Terlebih, karena Arcelio langsung berdiri di depannya. Dia seakan hendak menjadi tameng bagi wanita itu.
“Jangan ikut campur, Arcelio! Ini adalah urusanku dengan Samantha!” sergah Pierre tegas.
“Aku tidak suka kau bersikap kasar terhadap Samantha,” kilah Arcelio. Dia tak gentar berdiri di depan wanita itu, menghalanginya dari kemarahan Pierre.
“Aku tahu apa yang kulakukan, Arcelio! Minggirlah, karena kau tidak berhak ikut campur dalam urusan ini!” sentak Pierre. Dia bermaksud menyingkirkan tubuh tegap Arcelio dari depan Samantha.
Akan tetapi, Arcelio bergeming. Dia tak akan menuruti permintaan Pierre. Pria itu lebih memilih berkelahi, daripada harus membiakan Samantha dibentak oleh sahabat lamanya tersebut. “Silakan singkirkan aku jika kau bisa, Pierre Laurent. Namun, aku tak akan beranjak ke manapun. Samantha adalah wanita yang berharga bagiku. Aku tak akan membiarkanmu memarahi atau membentaknya seperti tadi.” Arcelio berkata dengan penuh penekanan.
Pierre tertawa sinis penuh cibiran terhadap Arcelio. “Samantha adalah kekasihku! Aku berhak menegurnya dengan caraku, jika dia melakukan kesalahan! Kau memang pernah menjadi kekasihnya. Akan tetapi, itu hanya di masa lalu!” Telunjuk Pierre lurus tertuju ke wajah Arcelio.
“Aku tidak akan mempermasalahkan hubungan kalian selama masih berada di Italia. Aku hanya ingin meminta penjelasan dari Samantha, kenapa dia selalu saja menutupi segala hal dariku?” Nada bicara Pierre kembali meninggi. “Jadi, minggrilah! Jangan ikut campur, Arcelio Lazzaro! Aku masih menghargaimu sebagai sahabat lamaku!” Pierre kembali mengarahkan telunjuknya kepada Arcelio, yang sepertinya tak berniat menyingkir.
Tersungging senyuman kecil di sudut bibir Arcelio. Sang pelukis tampan itu menatap lekat Pierre yang sudah dibalut amarah tak terbendung. “Aku memang hanya bagian dari masa lalu Samantha. Akan tetapi, kau harus tahu satu hal. Hingga saat ini, perasaanku terhadapnya tidak pernah berubah. Samantha akan tetap menjadi wanita yang istimewa bagiku. Seandainya yang dia pacari bukanlah dirimu, aku pasti akan langsung membawanya pergi tanpa permisi. Beruntung, karena aku masih menghargai persahabatan kita, meskipun ….”
“Meskipun apa?” tanya Pierre sinis.
“Hentikan Arcelio! Kumohon jangan memperburuk keadaan,” cegah Samantha. Dia tak ingin jika Arcelio mengatakan semuanya kepada Pierre.
“Pria yang kau curigai sebenarnya adalah diriku,” ungkap Arcelio.